Cherophobia Swan

Cherophobia Swan
Malaikat Tanpa Sayap_3


__ADS_3

Di sisi lain,


Ansa duduk di ruang keluarga bersama pembantunya. Sebenarnya dia ingin menemui ibunya, tapi apa dayanya. Beliau sedang beristirahat, dan dia hanya sekedar mengintip dari balik pintu kamar ibunya.


"Bu. Mama sudah makan, ya kan?" tanya Ansa.


"Sudah, Non."


Ya sudah. Ansa membiarkan malaikatnya sedang beristirahat bersama calon adiknya. Semoga mereka baik-baik saja dan bermimpi indah.


Suara handphone-nya berdering, dirinya segera mengangkatnya dengan wajah sumringah. Ya! Sambungan telepon tersebut dari Ranu!


"Hai Mas!"


"Hai Sa! Apa kabar? Maaf ya, aku baru bisa menghubungimu. Dari kemarin aku lumayan sibuk," ujar Ranu.


Ansa bangkit dari sofa, lalu melangkah pergi ke ruang tamu. Kakinya terus maju menuju pintu rumah yang sangat besar dan sedang terbuka lebar.


Mereka mengobrol dan senyuman terus mengembang di wajah cantik milik Ansa. Di keadaan pelik seperti ini, setidaknya Ranu bisa membawa sedikit kebahagiaan untuk dirinya.


"Iya. Di sekolah Mandraguna aku bertemu dengan teman yang pintar berbisnis loh! Aku terus saja diberi kue gratis karena mau membantunya berjualan di kantin, haha!" ucap Ansa.


"Semoga tetap betah di sana ya! Terus, terus ... gimana kabar sanggar, Sa? Sekarang kamu lagi di sanggar, ya kan?" balas Ranu.

__ADS_1


"Oh ngga, Mas. Aku ijin ngga latihan hari ini. Karena mamaku sedang sakit. Aku harus menjaganya," jawab Ansa.


Bukk!


Mulut Ansa menganga. Kedua netranya menangkap hal yang mengerikan sedang terjadi di luar rumah, tepat di depan rumahnya dan tidak jauh dari dirinya yang berdiri tegak.


"Sa? Sa? Ansa?" tanya Ranu.


Ansa membuang handphone-nya, dan berlari keluar dari pintu rumah. Melewati teras, dan menuju halaman depan. Dia tak peduli dengan alas kaki.


Dia hanya peduli satu hal :


Ibunya jatuh dari entah lantai berapa. Kondisinya sangat mengenaskan, membuat Ansa bergetar.


Ansa mengguncang tubuh ibunya yang penuh cairan merah. Tentunya disertai tangisan dan raungan miliknya.


"Mama!! Ma!! Mama jangan pergi!! Huaa!"


Malaikat yang Tuhan kirimkan untuknya, kini pergi. Andai malaikat miliknya ini memiliki sayap, mungkin tak akan mudah jatuh dan terluka seperti ini.


Tidak, ini bukan terluka. Tapi hancur!


Ansa melihat ibunya yang hancur tepat di hadapannya. "Mama? Ma? Mama cuma pingsan, 'kan? Ya kan? Mama! Jawab Ma!"

__ADS_1


Para pelayan di rumah tersebut segera berkumpul, termasuk pembantu yang sering melayani dan menemani Ansa.


"Non. Non. Sudah Non. Ibu sudah ngga ada," lirih beliau.


"Ngga Bu! Mama cuma pingsan! Nih lihat, nafasnya masih ada." Namun, Ansa tidak merasakan bahwa jari telunjuknya ditiup oleh nafas dari hidung ibunya.


Pembantunya tersebut memeluk erat Ansa, dan membiarkan Ansa menangis dalam pelukannya. "Non yang sabar ya ...."


Beberapa menit kemudian,


Datanglah ambulance dan beberapa polisi ke rumah istana milik Ansa. Lebih mengejutkan lagi, muncullah ayah dengan raut cemas.


Ansa melihat ayahnya yang mendekati ibunya di dalam kantung jenazah. Setelah itu, barulah kantung tersebut ditutup dan dibawa naik ke mobil ambulance.


"PAPA!!" pekik Ansa yang berlari dan memeluk ayahnya.


Mereka berpelukan dan saling menumpahkan tangisnya bersama. "Pa. Ma-ma. Mama ngga ninggalin kita, 'kan?" lirihnya.


"Mama ngga ninggalin kita ...," lirih ayah disertai isakannya. "Mama cuma pindah alam, Sa."


Pelukan Ansa semakin kuat. Takut jika ayahnya akan pergi meninggalkan dirinya, menyusul ibunya.


***

__ADS_1


__ADS_2