Cherophobia Swan

Cherophobia Swan
Bab 8 Awal Berpisah dan Bersama


__ADS_3

..."Aku terpisah dari dirinya,...


...Namun aku bertemu denganmu....


...Sebenarnya, apa yang sedang direncanakan oleh takdir?"...


Pagi hari,


Jaro dan Deniz sedang berjalan-jalan ke tengah sawah bersama Paman Lovi. Mereka menyusuri jalan kecil yang diapit oleh padi-padi yang lebat dan masih hijau.


Jaro menikmati pemandangan sawah ini sembari menghirup udara pagi yang segar, dan sandal biru di kakinya terus melangkah dengan hati-hati.


"Ini adalah tujuh petak sawah nenek, Niz, Ro. Semuanya Paman yang mengurusnya, dibantu oleh para petani lainnya. Kalau ada salah satu petani yang mau panen, biasanya memang Paman dan para petani lainnya akan membantunya," jelas beliau.


Walaupun rumah nenek dan paman sangat besar hingga memiliki Orbifly, di sini mereka tidak berganti pekerjaan dari pengelola hasil pertanian.


Paman Lovi memang pintar dalam urusan berbisnis, menggantikan kakek. Sedangkan Ayah Awi memang pintar dalam politik dan pendidikan, menggantikan nenek.


Jaro maupun Deniz tersenyum kepada Paman Lovi, tapi sedetik kemudian Jaro menghilangkan senyumannya dan menahan rasa terkejutnya.


"Hasil dari sawah ini, Paman jual di seluruh penjuru kota Metropolitan. Termasuk di pasar Techsophistic Farm. Sehingga gudang penyimpanan di rumah tidak pernah terisi penuh, karena sudah habis terjual semua," lanjut paman.


Apa? Techsophistic Farm? Itu, itu adalah perusahaan milik ayahnya Ansa. Memangnya ayahnya Ansa kurang apalagi sih di mata ibunya Ansa? Kekayaannya pasti melebihi kekayaannya ayahku, pikir Jaro.


Sebelumnya, Jaro telah mencari-cari informasi tentang keluarga Ansa. Dia masih merasa heran dengan ibunya Ansa yang melakukan perselingkuhan dengan ayahnya, karena ayahnya Ansa adalah pengusaha yang cukup sukses.


Berarti ini bukan tentang kekayaan, harta atau tahta. Ada hal lain yang dirahasiakan oleh mereka. Tapi rahasia apa yang sedang mereka sembunyikan? pikir Jaro.


Di vila,


Ansa telah bangun dan agak terkejut dengan terangnya sinar mentari yang telah memasuki kamarnya. Dia segera ke luar dari kamarnya, sembari mengedarkan pandangannya ke ruang keluarga dari lantai dua.


Ternyata ibu melihatnya. "Ansa!! Kenapa kamu bangun kesiangan sih?!" protes beliau dengan mata melotot.


Ansa menggaruk tengkuknya. "Hehe, maaf Ma," jawabnya dari atas.


"Tolong bangunkan Ranu, Sa. Dia sama saja sepertimu, bangun kesiangan. Terus segera turun ya! Mama sudah siapkan sarapan di meja," titah ibu.


"Mama ngga pergi kerja hari ini?" tanya Ansa.


"Iya, setelah ini Mama berangkat kerja. Oh ya, nanti tolong berikan ini kepada papa ya? Tadi papa belum sempat minum jus ini. Mama mau mandi dulu, kamu cepat bangunkan Ranu ya!" lanjut ibu.


Ibu telah meletakkan botol jus milik ayah di meja ruang keluarga. Ansa mengulang-ulang perintah ibunya sembari berjalan ke kamar Ranu.


Kriett!


Ansa mengendap-endap ke dalam kamar Ranu. Di sana, terlihatlah Ranu yang masih memejamkan mata. Ansa terpana melihat pria idamannya tersebut, dan duduk di sampingnya.


Tampan sekali dirinya. Ansa segera mengguncang tubuh Ranu. "Mas, bangun! Oi! Bangun! Sudah pagi loh!"


"Em ... bentar lagi," balas Ranu.


Tampan tapi pemalas, huh. Ansa segera menindih tubuhnya, dan mengecup pipi hingga bibir Ranu. Ayo bangun! pikirnya.


Ranu menggeliat, lalu membuka matanya perlahan. Dirinya melihat wanitanya sedang duduk di atasnya.

__ADS_1


Dia tersenyum. "Selamat pagi, Sa."


"Sudah telat, Mas!! Ini sudah siang!" pekik Ansa.


Ranu mencoba bangkit, membuat Ansa segera turun dari perutnya. Namun Ranu mencegatnya lalu memangku wanitanya. "Kamu mau ke mana?" bisik Ranu.


"A-aku, aku mau sarapan. Aku sudah lapar!" jawabnya dengan gelagapan.


Ranu justru memeluknya, dan mengelus punggung Ansa. Lalu dia menggigit sedikit leher Ansa, terus menjalar hingga di belahan empuk yang begitu indah. Ansa berpegangan pada bahunya, sembari menyandarkan kepalanya di atas kepala Ranu.


Dia memejamkan kedua matanya. "Hari ini Mas Ranu akan berangkat ke luar negeri ya?" lirihnya.


Ranu mulai menyandarkan kepalanya di atas jantung Ansa. "Iya sayang. Nanti siang aku sudah harus di bandara," jawabnya.


Ansa mendorong Ranu, lalu dia menatap netra Ranu. Apakah dirinya harus meninggalkan ku? Mengapa Mas Ranu yang selalu mendukungku, kini harus menjauh dariku? Mengapa? pikirnya dengan menatap lekat wajah pria idamannya tersebut.


"Mas. Apakah di sana nanti, Mas tidak merindukanku?" tanyanya.


"Aku akan selalu merindukanmu, Sa. Kamu, sanggar, vila ini, semuanya membuatku nyaman dan ngga bisa aku lupakan. Nanti di sana, mungkin aku merasa kurang nyaman. Tapi tak apa, hal itu bisa membuatku ingin cepat-cepat menyelesaikan kuliahku, dan pulang ke kota ini," jawab Ranu.


"Iya, Mas. Terserah," balasnya singkat.


"Aku ngga tahu takdir ku ke depannya. Tapi yang aku tahu, kita masih bersama saat ini. Jadi, aku ingin bilang ...," tutur Ranu sembari memegang kedua pipi Ansa.


"Aku mencintaimu, lebih dari sekedar adik. Kalau suatu saat aku memang ngga kembali, jangan salahkan dirimu ya? Karena—" sambungnya, tapi diputus oleh Ansa.


Ansa mulai sesegukan. "Maksudnya apa? Apa Mas akan pergi selamanya? Mas kenapa sih?" cecarnya.


"Aku ngga akan bisa melawan takdir, Sa. Itu masih hanya kemungkinan yang ada di pikiranku," jelas Ranu.


Namun Ranu menggelengkan kepalanya. "Ngga bisa. Inilah caraku, sama seperti ayah kita yang bekerja di perusahaan ini. Om Hardi dan ayahku sama-sama berkuliah, wisuda, kerja, akhirnya menikah."


Apakah aku terlalu manja? Tapi tanpanya, hatiku kembali redup, batin Ansa sembari meneteskan air mata.


"Jangan nangis. Aku mau punya adik yang manja, tapi ngga boleh cengeng. Sudah dong, senyum lagi yuk!" bujuk Ranu yang jempolnya mengusap air mata Ansa.


Ranu mencium kening, kedua pipi Ansa dan tersenyum ke arahnya. "Jaga dirimu, Sa. Kakakmu ini masih harus lanjut mengejar ambisinya," tuturnya.


"Ansa!!" panggil ibu dengan suara menggelegar, mengguncangkan seisi vila.


"Iya Maa!" jawab Ansa.


"Ayo Sa," lirih Ranu yang mengajaknya ke luar dari kamar.



Di dekat sawah,


Paman Lovi mengajak dua keponakannya tersebut untuk berkunjung ke rumah salah satu petani di sini. Saat sampai di depan pintu, paman mengucapkan salam sembari mengetuk pintu rumah tersebut.


Cklek!


Seorang perempuan membuka pintu tersebut dan melihat dengan malu-malu. "Iya, dengan siapa ya?" tanyanya.


"Apakah ayahmu sedang berada di rumah? Saya adalah Pak Lovi, teman ayahmu. Saya ingin membahas perihal hasil panen," tutur paman.

__ADS_1


Perempuan tersebut segera mempersilakan para tamunya untuk duduk, lalu memanggil ayahnya. Beberapa menit kemudian, teman paman tersebut telah hadir di hadapan mereka.


"Oh, selamat pagi Pak Lovi!" sapanya dan menyalami paman, Deniz, Jaro.


"Ini saya bawakan laporan-laporannya. Silakan dicek, Pak," lanjutnya.


Muncullah seorang perempuan yang membawakan empat minuman kepada para tamunya. Jaro melihat perempuan tersebut dan mencoba memperkirakan umur dari perempuan tersebut.


"Deniz, Jaro ... perkenalkan, ini anak sulung saya yang mau naik kelas satu SMA. Ayo, salaman Nak," titah beliau.


"Saya Oriza," ucapnya dengan pelan sembari menjabat tangan Deniz, hingga Jaro.


Deniz dan Jaro juga menyebutkan nama mereka masing-masing serta membalas jabatan tangan Oriza.


"Wah, berarti Oriza sebaya dengan Deniz, keponakan saya yang ini!" ucap paman yang tersenyum lebar dan menepuk-tepuk pundak Deniz.


Jaro hanya melihatnya dengan senyuman. Mungkin setelah ini, mereka akan menikah, haha! pikirnya.



Siang hari,


Ansa telah berada di bandara. Dia mengantar Ranu yang telah membawa koper dan beberapa tasnya. Selama menunggu, tangan mereka saling menggenggam cukup erat.


Kemudian muncullah seorang wanita dan satu anak perempuan yang menghampiri mereka. Ansa menoleh ke arah Ranu. Mengapa dirinya tersenyum kepada mereka? Apakah mas Ranu mengenal mereka?


"Mama! Naida!" panggil Ranu dengan melambaikan tangannya.


Oalah, mereka keluarganya. Aku baru tahu hehe, batin Ansa.


Ranu dan Ansa menyalami mereka, hingga ibu mengalihkan perhatiannya kepada Ansa. "Wajahmu mirip dengan model terkenal itu. Siapa ya? Oh! Roro Kinanti!" ucap ibunya Ranu.


"Iya, Tante. Saya anaknya ibu Roro. Nama saya Ansa," jawabnya dengan malu-malu.


"Wah! Ansa yang model muda itu?! Kenalin, aku Naida, adik kesayangannya Mas Ranu!" serunya.


"I-iya Mbak Naida," jawab Ansa.


Bahkan adiknya mas Ranu lebih tua dariku. Memang benar, untuk saat ini aku cukup dikenal sebagai adiknya mas Ranu saja. Nanti, aku akan diperkenalkan sebagai pendamping hidup mas Ranu, batinnya.


"Ini ibuku, Sa. Ibu Sela," jelas Ranu.


"Kalian sekarang pacaran?" tanya Ibu Sela secara tiba-tiba.


Kedua mata Ansa terbuka lebar dalam sedetik. Namun, Ranu segera menjawab pertanyaan ibunya.


"Ngga, Bu. Ansa dikenal sebagai adik keduaku, setelah Naida. adik kedua yang lebih manja lagi dibandingkan Naida. Haha," dalihnya.


Bu Sela dan Naida hanya mengangguk dan tersenyum. Sedangkan Ansa menunduk dan merasa ada yang menusuk dadanya.


Beberapa jam kemudian,


Ranu telah menghilang dari hadapan ketiga wanita kesayangannya. Ansa memaksakan senyumannya untuk membalas senyuman milik Bu Sela dan Naida. Akhirnya Ansa masuk ke mobilnya dan sopir segera mengantarnya pulang.


__ADS_1


__ADS_2