Cherophobia Swan

Cherophobia Swan
Gosip Hangat_2


__ADS_3

Di kantin,


Lagi-lagi bisikan dan tatapan para murid diarahkan kepada Ansa yang tengah mencari tempat duduk di sana. Mei mempererat pegangannya ke lengan Ansa, supaya Ansa tak merasa sendiri.


Akhirnya mereka menemukan tempat duduk yang kosong. Namun tempat tersebut memang untuk mereka, karena di sebelah mereka telah ada sekumpulan gengnya Sari yang menyeringai.


“Wah, ada si pacar anak pemilik sekolah ini,” ucap salah satu anggota geng tersebut.


Ansa melotot ke arahnya. Itu orangnya yang kemarin pura-pura tak sengaja menyenggolku!


“Selera anak pemilik sekolah ini ternyata bagus ya?” sambung anggota yang lain.


“Oh ya? Kayaknya kalian salah deh. Dia memang dikenal sebagai model. Tapi kalian tahu ngga sih? Dulu ibunya itu pernah bermesraan dengan pria lain. Hi~” balas Sari.


“Ya! Dan sekarang anaknya belajar menjadi penggoda juga.” Tiba-tiba suara Jaro menggema, dan ikut mengolok Ansa.


Ansa tak menoleh ke arah mereka yang sedang mengoloknya. Dia justru bercerita kepada Mei, dengan suara yang sengaja dikeraskan.


“Mei. Kalau ada gosip kayak gini, rasanya aku tambah semangat deh. Banyak fans yang iri kepadaku, karena berhasil mendapatkan hati anak pemilik sekolah ini!” ujar Ansa.

__ADS_1


“Oh ya?” tanya Mei yang ikut mendukung temannya berpura-pura.


Suara Mei lebih keras, dan perkataannya lebih menusuk. “Bagus Sa. Kamu memang sang multitalent, so pasti banyak yang ingin sepertimu.”


“Bahkan ada fans yang menyukai kecantikanku, hingga dia berani menciumku! Haduh ya ampun! Malunya diriku!” sambung Ansa, sembari melirik ke arah gengnya Sari.


Itulah rencana Ansa.


Dia menggunakan gosip tersebut untuk berbalik mengejek haters-nya. Ya! Ansa menganggap mereka sebagai fans-nya yang terus saja memperhatikan gerak-gerik dirinya.


Jaro menunduk dan nafasnya memburu. Dia merasa kalah dari Ansa karena justru dirinya yang terlihat menyukai Ansa. Padahal dirinya hanya ingin membalas kedipan mata Ansa dengan menyosor wajah Ansa.


Kita harus bicara nanti di sanggar, Sa!! pekik Jaro dalam hati. Tangannya terkepal untuk menahan amarahnya.


“Itulah yang namanya penggoda, Sar.” Jaro menimpali perkataan Sari.


Mereka ber-6 kembali tertawa, meramaikan suasana kantin yang sedari tadi telah asyik berbisik-bisik.


Bagus Sar. Terima kasih, batin Jaro.

__ADS_1


“Sayangnya, adik dari pacarmu itu ngga mau kamu di sini.” Sari menoleh kepada Ansa, sembari menopangkan dagunya dan tersenyum.


“Berarti dia siap untuk kejutan berikutnya,” sambung salah satu anggota gengnya.


Ansa juga menoleh, dan mata mereka saling bertemu. “Kalian juga harus siap untuk kejutan berikutnya. Oke?”


Suasana kantin sejenak menjadi lengang. Para pengantar makanan berkeliling ke meja-meja untuk menyerahkan makanan kepada pemesannya. Mereka semua fokus melahap makannya masing-masing.


Mungkin bagi mereka, urusan perut harus nomor satu!



Di sanggar,


Jaro sengaja mendaratkan diri di pelataran, untuk menunggu kedatangan rivalnya. Kedua netranya mengawasi pintu gerbang, disertai kesabarannya yang mulai terkikis. Kemudian matanya menangkap sosok Ansa yang melangkah dengan menunduk.


Beberapa menit kemudian, mereka telah saling berhadapan. Ansa tak menghiraukan kehadiran Jaro, dan memilih untuk melewati saja sosok dengan tinggi yang mirip sepertinya.


Jaro mendengus kesal karena pengabaian Ansa. Dia menarik tangan Ansa dan memaksa untuk mengikuti langkahnya.

__ADS_1


Ansa memberontak, “Eh, apaan sih?! Lepas! Ro, lepasin!!”



__ADS_2