
Malam hari,
Jaro menggebrak pintu ruang kerja, dan mengejutkan ayah dan kakaknya. "Ayah!"
Spontan ayah melotot ke arahnya. "Ngga perlu memanggil Ayah dengan keras seperti itu, Ro! Telinga Ayah masih sehat!"
"Akal Ayah yang sudah ngga sehat!" bentak Jaro.
Deniz memberi gestur berupa meletakkan jari telunjuk di depan bibirnya. Seakan dirinya menyuruh Jaro untuk diam. Untunglah, Jaro menurut dan duduk di dekat kakaknya.
"Ada apa?" tanya beliau dengan suara berat.
"Yah!! Aku ngga mau sekolah lagi, kalau Ayah ngga sampai rumah pukul delapan malam!" ancamnya.
"Ngga mau. Terserah kamu, Ro. Ayah ngga peduli!" balas ayah. Beliau kembali fokus bekerja lagi.
Mengapa Jaro melakukan itu?
Karena sebelumnya dia mendapatkan informasi di grup De Rosa yang membuat emosinya meletup!
Ya! Informasi tersebut dari Ansa!
Menjelang malam, Ansa mencari-cari ibunya di seluruh penjuru rumah. "Bu, mama di mana ya?" tanyanya.
__ADS_1
"Nyonya lagi di kamar, Non. Lagi istirahat. Sebaiknya jangan diganggu, Non," jawab pembantunya.
"Ngga mau, Bu. Aku terpaksa mengganggunya sekarang!" Kakinya segera berlari menuju kamar ibunya.
Di kamar ibu,
Ansa langsung membuka pintu kamar, tanpa mengetuknya terlebih dahulu. Memang tak sopan, tapi dirinya telah dipenuhi oleh pertanyaan yang harus segera dijawab oleh ibunya.
"Mama! Maa! Kenapa mama pergi ke hotel itu bersama ayahnya Jaro?! Maa!" pekiknya.
Namun Ansa tidak menemukan ibunya di kamar tersebut. Dia mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru, sembari kakinya mengikuti ke mana arah rasa penasaran membawa tubuhnya.
Huek huek!
Kemudian pintu kamar mandi pun terbuka, dan keluarlah ibu dari sana. "Mama, cuma lelah kok," lirihnya.
Ansa melihat ibunya yang pucat pasi, dan menuntunnya menuju kasur. Dia tak tega melihat kondisi ibunya saat ini, sehingga dia melirihkan suaranya.
"Ma ... Mama pasti sudah baca berita, 'kan? Terus Ma, kenapa Mama pergi ke sana bersama ayahnya Jaro? Ada urusan apa Mama dengan orang itu?" cecarnya.
Ibu menatap Ansa dengan sendu. "Maaf ya. Mama memang salah, tapi Mama mencintai ayah temanmu itu, Sa."
Seketika jantung Ansa berhenti berdetak. Matanya mulai panas, dan amarahnya ia tahan. Dirinya tak menyangka bahwa ibunya mencintai pria lain.
__ADS_1
"Ngga Ma. Terus gimana dengan papa? Gimana denganku? Mama mau pergi dengan ayahnya Jaro, dan meninggalkan ku, ya kan? Mama jahat!!" Tangis Ansa pecah di atas kasur, di samping ibunya yang terbaring lemah.
"Tolong panggilkan pelayan ke sini, Sa," pinta beliau.
"Bu!!!"
Setelah pembantunya menemui ibu, Ansa keluar dari kamar mandi dengan benda kecil di tangannya. "Ini apa?" tanya Ansa.
"Itu alat tes kehamilan, Sa ...."
Tentu saja Ansa menatap heran ke arah ibunya. "Untuk apa Mama tes kehamilan? Mama hamil?"
Air mata tak lagi menetes, tapi mengucur deras saat ibunya mengiyakan pertanyaan Ansa.
"Mama hamil, Sa. Ini adikmu dan Jaro."
Ansa membanting benda kecil tersebut, dan melarikan diri dari hadapan ibunya. Dia berlari masuk ke kamarnya, bahkan membanting dan mengunci pintu kamarnya.
Tubuhnya ia lemparkan ke atas kasur dan menangis sejadi-jadinya. Dirinya tak menyangka bahwa akan menjadi seorang kakak, bersamaan dengan Jaro.
Tak lama, dia cepat-cepat memberitahukan hal tersebut melalui grup De Rosa.
__ADS_1