Cherophobia Swan

Cherophobia Swan
X-CHAP 1: Luapan Hati (Pemeran Pendukung)


__ADS_3

...“Apakah kalian pernah merenung tentang kejadian di masa lalu, masa kini,...


...Hingga yang akan terjadi di masa depan?”...



AYAH DAGHIAWI


Dia, adalah wanita pujaanku.


Tariannya yang begitu indah, cara berjalannya yang anggun, senyuman manisnya ....


Aku semakin menyukai dirinya.


Ya, Dialah Roro.


Teman kecilku, sahabatku, dan mungkin akan menjadi teman hidupku.


Tapi, takdir berkata lain.


Roro justru mengumumkan hal yang menghujam hatiku.


Dia meminta maaf karena akan pergi meninggalkan diriku.


Dia berhasil membuatku jatuh karena cinta.


Saat itu, butuh waktu lama untuk sembuh.


Aku menyibukkan diri untuk fokus bekerja.


Tak lama, seorang wanita kembali hadir dalam hidupku.


Aku menerimanya, dan segera menikahinya.


Untunglah, kami dikaruniai dua penerusku.


Si sulung yang penurut dan cerdas,


Si bungsu yang cerdas dan ramah.


Siapa lagi kalau bukan karena istriku, Liana.


Tapi, lagi-lagi takdir sepertinya sedang ingin bermain dengan ku.


Roro kembali hadir di hadapanku.


Dia bercerita bahwa dirinya menyesal telah meninggalkan diriku.


Tapi aku bisa apa? Mana mungkin aku memintanya untuk berpisah dari suaminya, dan aku berpisah dari Liana?


Aku tidak mau seperti itu.


Bertahun-tahun aku dan Roro bersama secara sembunyi-sembunyi.


Menumbuhkan bibit cinta.


Hingga benar-benar membuat Roro mengandung anakku.


Aku menyesal, aku mengutuk diriku.


Bagaimana dengan Liana? Tak mungkin dia terima atas pengkhianatanku ini!


Sialnya lagi, si bungsu telah mengetahui hubunganku dengan Roro!


Bahkan sangat terasa bahwa si bungsu sedang bekerja sama dengan anak tunggal Roro untuk memisahkan kami!


Kedua anakku mulai memaki diriku.


Aku memang pantas dicaci maki dan dibenci.


Tapi Liana tak seperti itu.


Malam itu, Liana bilang bahwa dirinya telah melenyapkan pengganggu di antara kami.


Aku langsung paham siapa yang dirinya maksud.


Sehingga aku juga berjanji akan selalu menjaganya.


Tak lama, balasannya atas kesalahanku segera aku dapatkan.


Suaminya Roro mempengaruhi pengadilan untuk segera menahanku.


Aku tak menolak.


Karena saat aku cepat mendapat balasannya, maka aku akan cepat keluar dari tahanan.


Beberapa tahun berlalu, aku dibebaskan.


Tapi pengadilan justru menukarku dengan Liana.


Katanya, 'Kedua anak anda yang melaporkan ini.'


Aku tak marah, tapi sedih.


Semuanya kacau karena diriku, dan anak-anakku yang memperbaikinya.


Bahkan aku juga mendapat kabar, bahwa si bungsu telah menikah dengan anak tunggal Roro.


Mengapa kisah kami dilanjutkan oleh mereka?


Tak apa.


Saat aku melihat menantuku, aku seperti melihat dirimu.


Roro ....



AYAH HARDIYATA


Akulah si petani, yang banyak dihujat.


Namun saat aku berhasil menggunakan bakat berbisnisku, semuanya seketika menjadi bungkam!


Bahkan aku mengajak mantan musuhku untuk bekerja sama membangun perusahaan ini.


Saat di pasar modern, aku melihat seorang wanita membeli sayur-sayuran.


Cara berjalannya yang anggun, senyuman manisnya, rambut hitamnya yang sangat indah, parasnya yang cantik ....


Membuatku berani untuk mendekati dirinya.


Ya, Dialah Roro.


Model yang cukup terkenal di kota ini, ternyata berbelanja di pasar ini.


Tak butuh waktu lama untuk meyakinkan Roro.


Beberapa bulan kemudian, aku menghampiri dirinya dan memberikan kotak bekal yang ku isi dengan potongan buah-buahan.


Dia menerimanya, dan mau mengikuti diriku untuk berkeliling ladang.


Saat dirinya pingsan, aku membawanya menuju vila.


Cinta telah membutakan diriku.


Aku akan membuat Roro menjadi teman hidupku!


Setelah kejadian itu,


Roro mengumumkan pernikahan kami.


Tapi dirinya tak terlihat bahagia.

__ADS_1


Aku tahu, dirinya telah memiliki pria idamannya.


Tapi lagi-lagi aku tak peduli!


Sekarang Roro telah menjadi istriku.


Aku berjanji untuk selalu mencintainya.


Hampir enam tahun,


Kami tak juga dikaruniai anak.


Hubungan kami memang tak berjalan mulus.


Aku yang harus terus meminta, dan dia mengabulkan.


Dia tak pernah meminta, ataupun manja seperti seorang istri.


Akhirnya, anak kami lahir.


Bayi perempuan imut hadir di keluarga kami.


Aku merasa cinta Roro kembali hadir untuk keluarga ini.


Seiring berjalannya waktu, anak kami tumbuh.


Anak perempuan yang berumur 4 tahun.


Aku sempat iri dengan teman-temanku yang memiliki dua, tiga, empat anak.


Sehingga aku putuskan untuk meminta pada Roro.


Saat aku meminta, Roro menolak.


Katanya, 'Satu saja. Aku harus menjaga bentuk tubuhku.'


Baiklah, aku terima.


Aku akan bermain aman.


Lalu, ada kejadian yang menghujam hatiku!


Apakah ini takdir yang membalas kesalahan diriku, atau Roro yang membalas dendam pada diriku?


Ternyata dirinya telah bermain di belakangku!


Kehidupannya mulai fokus pada pekerjaan untuk merayu para pria di luar sana!


Bahkan aku mengetahuinya dari anak tunggalku!


Malu, sangat malu.


Aku meluapkan emosiku di hadapan dirinya.


Namun sekelebat bayangan tentang anak tunggalku muncul.


Aku tak ingin anakku menjadi korban atas kesalahan diriku.


Aku menurunkan ego, dan memberi kesempatan istriku untuk menjelaskan semuanya kepada diriku.


Aku butuh penjelasan atas pengkhianatannya itu!


Beberapa tahun kemudian, dirinya pergi.


Pergi untuk selamanya meninggalkan dunia.


Takdir benar-benar membalas kesalahan ku, kesalahannya, kesalahan si Daghiawi itu!


Tapi, mengapa anakku juga mendapat balasannya?!


Dia yang takut bahagia, terlihat semakin cemas dan murung.


Rumahku tak terlihat seperti istana, tapi penjara untuk anak tunggalku!


Aku terpaksa meminta pengadilan untuk langsung saja menahan pemilik sekolah itu!


Aku berpikir untuk menikah lagi.


Menikah untuk mencari sosok ibu bagi anakku.


Aku putuskan untuk pergi berkunjung ke pesantren.


Niatku, mungkin saja ada wanita yang baik, atau pria yang baik untuk menjadi pasangan anak perempuanku.


Tapi takdir justru mempertemukan diriku dengan dirinya.


Ya, Aisyah yang lebih dahulu kehilangan suaminya karena tenggelam di lautan.


Aisyah juga telah memiliki anak tunggal laki-laki yang seumuran seperti anakku.


Aku telah menjelaskan semua permasalahan, perjalanan hidup, dan niat untuk menikahinya.


Aisyah setuju, membuatku bersyukur kepada Tuhan.


Aku berharap, anakku juga akan setuju dengan pilihanku ini.


Namun ternyata anakku sangat marah!


Dirinya menyumpahiku yang menurutnya diriku tak setia.


Aku tak membalas, aku takut, karena dirinya seorang anak perempuan.


Kalau aku membentaknya, mungkin dirinya malah lebih nekat.


Hingga akhirnya, aku mendapat kabar.


Bahwa anak tunggalku telah menikah dengan anak bungsu Daghiawi.


Kemudian anak-anak Daghiawi juga yang menyelamatkan hidupku dan perusahaanku.


Mengapa takdir justru menyatukan keluargaku dan keluarganya, dengan bersatunya anakku dan anaknya Daghiawi?


Bahkan salah satu kerabat keluarga Daghiawi telah menjadi orang kepercayaan ku.


Tuhan membalas, tapi juga memberi.


Tolong Tuhan, jangan sakiti anak tunggalku.


Dirinya berharga untukku.


Dan aku yakin, anak bungsu Daghiawi bisa menjaganya.



BIBI NINGSIH


Saat aku mendengar curahan hati adik kelasku, rasanya ada hati yang bergemuruh.


Adik kelasku itu bernama Roro.


Dia mewarisi sanggar peninggalan orang tuanya.


Orang tua Roro telah tiada saat berpergian ke luar negeri.


Kecelakaan pesawat tak bisa dihindari.


Aku semakin berempati pada dirinya, saat dirinya jatuh cinta.


Dirinya bahkan memercayai sanggar itu kepada diriku.


Katanya, 'Nanti aku akan menjadi nyonya pemilik sekolah!'


Tentu saja aku turut senang.

__ADS_1


Aku juga mau dengan segenap hatiku untuk menjaga sanggar miliknya.


Aku ingin menjaga anak-anak yang memang memilih untuk bekerja di sanggar ini.


Anak-anak yang putus sekolah, dan memilih menghibur dengan bakat maupun hobi seninya.


Tak lama, Roro kembali padaku.


Dia bersimpuh sembari mengeluarkan seluruh kesedihannya.


Aku memiliki hati yang rapuh, tentu saja air mataku juga menetes.


Roro mengatakan bahwa dirinya akan menikah dengan Hardiyata.


Setelah Roro agak tenang, barulah aku menjelaskan.


Hardiyata adalah adik dari suamiku, yang artinya dia adalah adik iparku.


Roro mulai kembali menangis.


Aku menghibur dirinya, dengan mengatakan bahwa diriku bisa menguatkan dirinya sebagai keluarga.


Sebagai adik dan kakak.


Untunglah, Roro tersenyum dan mengangguk.


Bertahun-tahun lamanya, Roro tak lagi duduk bersamaku untuk mencurahkan hatinya.


Aku berpikir, mungkin sekarang dirinya lebih sering bercerita kepada suaminya.


Tak apa.


Namun dugaanku salah!


Keponakanku, satu-satunya keponakanku justru merasa diabaikan oleh Roro.


Aku mulai merasa ada yang salah.


Bahkan pikiranku kembali kepada kisah masa lalu dirinya bersama Daghiawi.


Akhirnya, takdir menjawab dengan nyawa Roro yang terenggut dan rahasia yang terbongkar.


Adik iparku, Hardiyata memang hanya menangis sebentar.


Tapi anaknya yang juga keponakanku, terus saja terlihat murung.


Aku membiarkan keponakanku untuk terus berkunjung ke sanggar.


Supaya dirinya tak merasa sendiri.


Tapi aku yang rapuh ini, ternyata tak bisa menjaganya.


Malam itu, aku mendapat kabar bahwa adik iparku akan menikah lagi.


Kabar itu aku dapatkan dari keponakanku.


Menurutnya, ayahnya menikah lagi adalah sebuah kesalahan, dan dirinya masih trauma karena telah diabaikan maupun ditinggal.


Aku tak banyak bicara, dan membiarkan dirinya menenangkan diri di kamar.


Di malam itu juga,


Keponakanku mendapatkan pelajaran tentang benci dan cinta.


Sebelumnya, dirinya telah berkali-kali bercerita tentang musuhnya di sekolah.


Tapi malam itu, justru musuhnya lah yang mencegahnya bertindak nekat.


Walaupun mereka akhirnya bertindak nekat yang tak sesuai dengan umur mereka.


Aku bingung, tapi aku tahu, aku tak boleh menghakimi mereka.


Mereka sama-sama sedang sakit.


Mungkin dengan suara pelan, mereka bisa sadar.



DENIZ EKA DAGHIAWI


Awalnya aku tak percaya dengan perkataan anak berumur 12 tahun.


Ya! Dia adalah adikku!


Adikku melihat ayah sedang bermesraan dengan teman ibu.


Hingga akhirnya, aku baru percaya setelah melihat posisi ayah yang keluar dari tempat menjij*kkan itu!


Aku marah!! Aku malu punya ayah seperti dirinya!


Aku, si sulung yang akan membongkar semua rahasia ayah dengan kecerdasan, ketenaran, dan amarahku!


Adikku dan anak selingkuhan ayah mengajakku bekerjasama untuk memisahkan ayah dengan wanita penggoda itu.


Sialan!


Saat kami lengah, mereka justru berulah!


Bahkan mereka membuahkan hasil!


Aku heran, mereka benar-benar ingin menunjukkan perbuatan jij*k mereka ya?


Satu sisi aku marah!! Sisi lain, aku sedih.


Mengapa adikku harus tahu tentang masalah ayah?


Ah salah. Pak Daghiawi bukan ayah kami.


Aku malu mengaku bahwa aku adalah anak pemilik sekolah ini.


Saat ayah telah ditahan, rasanya sangat lega.


Tapi, ibu mulai meluapkan emosinya kepadaku.


Aku menurunkan ego, dan membiarkan ibu membentak diriku.


Bahkan aku mulai protektif kepada adikku.


Aku merasa memang inilah kewajiban diriku untuk menjaga dan mengarahkan dirinya.


Ketika ibu dan adikku ingin mengeluarkan anak selingkuhan ayah, aku melawan mereka.


Menurutku, tingkah mereka sudah berlebihan.


Karena yang aku tahu, anak selingkuhan ayah memanglah pandai dan pantas bersekolah di sana.


Takdir berputar-putar!


Aku yang masih sibuk memikirkan cara untuk mendapatkan bukti kesalahan ibu yang telah menghabisi selingkuhan ayah, justru mendapat berita yang membuatku naik darah!


Berita yang membuatku merasa gagal sebagai kakak yang mengarahkan adiknya ke jalan yang baik!


Ya! Adikku telah lepas kontrol karena godaan anak dari selingkuhan ayah!


Aku menamparnya. Walaupun itu sia-sia.


Aku kenal sifat adikku. Dirinya pasti tak akan mendengarkan ku untuk menjauh dari wanita itu!


Tapi....


Semua kejadian itu, justru menjadi cerita yang menguatkan.


Aku bisa membuktikan bahwa aku memanglah sang teknologiwan!

__ADS_1


***


__ADS_2