
...“Dia belum lahir ke dunia ini,...
...Tapi kehadirannya sangat terasa saat ini.”...
Kelas 2 SMP,
Ansa melangkah masuk ke kelasnya, lalu duduk manis di samping Mei. Dirinya menoleh ke arah Mei. "Mei. Gimana ya Mei?"
Mei melihat ke arah Ansa, "Ada apa? Eh, waktu selesai pentas, kamu ke mana sih? Kok aku ngga bertemu lagi denganmu ya?"
"Aku kembali ke dekat teman-teman penari ku, Mei. Terus di sana, aku bertemu dengan Jaro."
Tiba-tiba Ansa langsung mendekatkan wajahnya ke telinga Mei. Dia berbisik, "Ternyata lagu yang dia nyanyikan itu, lagu itu untukku, Mei!"
"Oh, pantas saja dia tampil solo. Dia butuh ditemani oleh penari sepertimu, haha!" Membuat tawa Mei pecah di kelas.
Ansa memanyunkan bibirnya. "Aku jawab 'Iya terima kasih ya.' Aku ngga tahu harus jawab apa lagi."
"Dia kayak ingin bilang, 'Aku suka kamu loh, bukan Sari.' Terus, terus ... kamu ngga balas bilang i lop yu tuu? Haha!" selorohnya.
"Sejak kapan kamu jadi menyebalkan gini sih? Huh." Mata Ansa memutar tanpa membuang wajahnya dari Mei. "Aku sudah punya pria idamanku, Mei. Dulu dia jadi kakak pembimbingku di sanggar. Tapi, sekarang dia kuliah ke luar negeri."
__ADS_1
Mei menunjukkan wajah terkejutnya. "A-pa? Kamu berpacaran dengan cowok yang sudah kuliah? Jauh banget, Sa."
Mereka langsung bungkam saat Jaro telah duduk di depan bangku mereka. Seakan kehidupan asmara Ansa adalah hal yang sangat rahasia.
Saat Istirahat,
Ansa telah sering mengikuti Mei menuju masjid untuk menunaikan salat. Dia juga fasih membasuh beberapa bagian tubuhnya menggunakan air mengalir dari kran. Basuhan air membuatnya merasa segar kembali.
Di dalam masjid, Ansa segera memakai mukena miliknya dan menunaikan salat dengan menghadap Tuhannya. Gerakan maupun bacaannya telah ia hafalkan dengan cepat dan mudah. Membuat Ansa merasa tenang dan damai dengan keheningan di dalam sana.
Setelah dari masjid, mereka berdua menuju kantin dengan senyuman terukir di wajah mereka. Tiba-tiba, bahu Ansa ditepuk oleh seseorang.
Ansa dan Mei mengiyakan ajakan Jaro. Saat ini mereka berjalan ber-4. Namun, Mei melepas gandengan tangannya ke pada Ansa dan mendekat ke Yono.
Hal tersebut membuat Jaro mendekat kepada Ansa. Dia melempar senyuman manisnya, dan berbasa-basi kepada Ansa selama perjalanan menuju kantin.
Pulang sekolah,
Anggota grup De Rosa kembali berkumpul di taman sekolah. Tentunya karena ada hal penting yang harus mereka bahas.
__ADS_1
Kali ini, Deniz memberikan informasi mengejutkan untuk mereka berdua. "Jadi beberapa hari yang lalu tuh, aku bersama temanku pergi ke Hotel Bunly. Di sana aku minta data pengunjung selama dua tahun terakhir. Kebetulan nih, aku memiliki teman yang kakaknya bekerja sebagai admin di sana. Jadi aku mudah mendapatkan datanya ...."
"Dan, sesuatu mengejutkan ku! Di dalam data itu, bu Roro dan ayah Awi sudah sering ke sana sejak dua tahun yang lalu! Ta-tapi tahun lalu ngga ada kunjungan mereka sih. Mungkin karena usaha kalian berdua untuk memisahkan mereka, membuat mereka ngga bisa pergi ke sana," sambung Deniz.
"Oh, tunggu! Saat kalian olimpiade sains, bu Roro dan ayah Awi kembali berkunjung ke sana. Ya! Aku masih ingat tanggal olimpiadenya! Hm, terus ... apakah kamu ingat tanggal berapa kalian tampil di alun-alun? Sepertinya setelah tampil, mereka lagi-lagi ke sana!" lanjutnya dengan semakin kencang karena meluapkan emosinya.
"I-iya, Mas. Aku ingat. Setelah tampil, besoknya mama bilang kalau beliau akan menginap di rumah temannya." Ucapan Ansa semakin lirih, dan matanya mulai terasa panas.
"Te-terus. Terus ini." Deniz menunjukkan layar tabletnya. Menampilkan sebuah berita tentang seorang model yang kepergok keluar dari Hotel Bunly bersama seorang pria tak dikenal.
Ansa tak bisa menahan tetesan air matanya. Dia cepat-cepat menghapusnya. Sedangkan Jaro fokus menatap layar tablet tersebut, bahkan jemarinya memperbesar foto tersebut.
"Mas, ini ayah." Jemarinya menunjuk ke sesuatu yang bisa membuatnya mengenali ayah mereka.
Deniz mengangguk, sepertinya dia juga sudah menyadarinya. Tinggal Ansa yang belum melihat ibunya secara jelas. Namun, Ansa menolak.
"Aku ngga mau dalam keraguan. Lebih baik aku langsung bertanya kepada mamaku! Dia mamaku! Aku berhak tahu semua tentangnya! Huhu ...," ujarnya hingga tangisnya pecah.
Jaro segera memeluknya dan mengusap-usap punggung Ansa. "Iya, Sa. Kalau itu mau mu, tanyakan saja ke ibumu ya," bisiknya.
__ADS_1