Cherophobia Swan

Cherophobia Swan
Bab 34 Mengubah Pemikiran


__ADS_3

...“Percayalah bahwasanya hidup ini, memanglah ada dua hal yang berlawanan, tapi saling beriringan....


...Contohnya : Kebahagiaan dan Kesedihan.”...


Enam bulan kemudian, akhir kelas 3 SMA.


Selama ini, mereka selalu bersama di rumah keluarga Hardiyata. Jaro telah diterima berkuliah di luar negeri. Lalu bagaimana dengan Ansa?


Di atap rumah, dekat Orbifly.


"Ngga nyesel nih, sudah ngga jadi model famous lagi?" Jaro berdiri di samping Ansa.


Sebentar lagi, mereka akan wisuda dan lulus sebagai alumni Sekolah Mandraguna.


"Ngga. Aku merasa lebih tenang sekarang. Apalagi aku sudah membantu Mei berjualan. Oh! Mungkin sebentar lagi aku dan Mei akan membuka toko roti, haha!" jawab Ansa.


"Iya, Sa. Tapi bentar lagi kita LDR-an loh! Kamu sih, ngga mau ikut aku ke luar negeri," ujar Jaro.


"Hmm... gimana ya, Ro. Aku juga ingin belajar, sekaligus meredam fobiaku ini. Mungkin cara yang disarankan mama Ais bisa berhasil."


"Jaga dirimu ya," Jaro menggenggam tangan Ansa.


"Kamu yang jaga diri! Di sana orang-orangnya cakep semua!" protes Ansa.


"Kalau di aku, pasti ada pembagian atau sekat gede yang ngga boleh dilewati, Ro. Tapi bagus sih, karena bisa jaga mata, hehe."


"Jadi kalau di perusahaan model, kamu ngga pernah jaga mata?" goda Jaro.

__ADS_1


"Terus kamu pas jadi duta, juga ngga pernah jaga mata, 'kan? Apalagi di kolam renang, haduh," olok Ansa yang tak mau kalah.


"Sudah sudah. Nanti kita tetap menghubungi via video call ya? Pasangan sah, santai aja~" pinta Jaro.


"Hu'um! Kalau ngga bisa menghubungiku, silakan menghubungi kakak tercinta ku, Yono~" ujar Ansa.


"Oh gitu. Jadi kalian lagi mengobrol di belakang ku?" Tiba-tiba Yono muncul dari pintu masuk.


"Yup! Biar kamu ngebolehin aku menghubungi istriku saat kami LDR-an," ucap Jaro.


"Pasti boleh dong! Tapi di waktu tertentu aja sih," balas Yono.


"Heh! Memangnya kamu yakin nanti waktu kamu kuliah, tugas-tugas mu ngga banyak? Tetap hubungi aku, Ro. Tapi ngga tiap detik dan menit."


"Iya, iya. Mungkin nanti aku bakal sibuk tugas dan organisasi, Sa. Ck! Terus nanti ternyata kamu yang marah karena aku terlalu sibuk?"


Jaro selalu mengalah, karena pendapat Ansa memang selalu benar. Semoga kamu aman di sana ya, Sa. Nanti kuliah, aku bakal ikut bela diri deh! Biar lebih kuat lagi! pikir Jaro.


Tanpa sadar, Jaro menatap wajah Ansa.


"Hm? Apa, Ro?" tanya Ansa.


Jaro tersenyum dan mengecup kening Ansa.



Sebulan kemudian,

__ADS_1


Ansa dan Jaro telah terpisah oleh jarak. Jaro telah berada di kosan yang tak jauh dari kampusnya. Pilihannya untuk berkuliah di kampus luar negeri dan di jurusan bisnis, merupakan hasil musyawarahnya bersama Ayah Awi.


Sedangkan Ansa berkuliah sembari tinggal di pondok pesantren. Tentu saja dirinya membutuhkan tenaga ekstra untuk mengatur waktunya. Tugas kuliah jurusan pertanian dan tugas pesantren menjadi santapannya sehari-hari.


Tak lupa, mereka setiap malam bercerita tentang kesibukan masing-masing. Membuat mereka juga sesekali menghubungi orang tua mereka.


"Kamu pakai hijab seperti mama Ais, Sa?" tanya Jaro.


"Iya dong! Ternyata itu wajib bagi muslimah."


"Kalau aku, wajib juga?"


"Apaan sih, Ro. Hm." Ansa memanyunkan bibirnya, Jaro tertawa.


Saat ini, mereka sedang menghubungi via video call di atas ranjang masing-masing. Ansa sekamar dengan tiga temannya, sedangkan Jaro hanya sendiri di kamarnya.


"Kalau kamu, jangan keluar pakai celana pendek lagi ya? Tapi ngga apa kalau baju lengan pendek," pinta Ansa.


"Eh? Kenapa?"


"Katanya sih, kakimu itu, eh maksudku kaki lelaki tuh termasuk aurat. Dari pinggang sampai mata kaki, Ro."


"Oh gitu. Iya, Sa. Tenang aja. Di sini dingin banget, jadi kalau keluar, aku mesti pakai baju tebal-tebal! Setebal lipstick mu!"


"Dasar ih! Coba kita dekat, pipimu sudah bercap lipstick merah!" protes Ansa.


__ADS_1


__ADS_2