Cherophobia Swan

Cherophobia Swan
Bab 5 Arcane


__ADS_3

..."Kita bertemu, berkenalan, dan ajang perjodohan menyeru....


...Padahal dari hati, kita tak saling menyukai....


...Karena saat kita bersama,...


...Bisa saja semua rahasia akan terbongkar."...


Esok harinya,


Bel telah berbunyi yang menandakan semua para murid dipersilakan untuk pulang. Namun hal tersebut tak berlaku untuk Ansa dan Jaro.


Di sekolah Mandraguna, Jaro masih harus mengikuti ekskul musik, latihan basket, dan persiapan untuk lomba sains Mandraguna. Semuanya dilakukan di sekolahnya yang fasilitasnya telah lengkap.


Sedangkan di sekolahnya Ansa, ia masih berkunjung ke laboratorium komputer untuk les. Setelah itu, ia dijemput oleh sopirnya dan pergi ke tempat kerja ibunya.


Di sana, Ansa melangkahkan kakinya ke tempat yang luas, dipenuhi orang lalu lalang dengan pakaian jas, seragam khusus perusahaan, dress berkilau, riasan yang sungguh lengkap dari kepala hingga ujung high heels.


Ya! Inilah perusahaan modelling yang merupakan tempat ibunya mengerahkan tenaganya di sini.


Hari ini Ansa akan melakukan latihan menjadi model dan sesi pemotretan yang dibantu oleh asistennya. Dia segera masuk ke lift dan memencet tombol 15.


Sampai di ruangan,


Ansa membuka pintu, dan terlihatlah ruangan luas dengan tembok kaca yang berlawanan arah dengan tembok cermin. Inilah tempat dirinya akan dilatih menjadi model yang anggun dan membuat semua mata bisa tertuju padanya.


Sebenarnya Ansa sangat suka dengan pemandangan di balik tembok kaca tersebut. Pemandangan kota Metropolitan, yang dipenuhi oleh gedung-gedung pencakar langit dan masih dilengkapi oleh pepohonan maupun taman.


Tapi disini terlalu tinggi, aku takut, batinnya.

__ADS_1


"Ansa! Ternyata kamu sudah datang!" ucap asisten ibunya tersebut.


"Iya, Kak Ria. Hari ini katanya aku harus ikut pemotretan, itu benar, Kak?" tanya Ansa.


Ria menganggukkan kepalanya. "Iya, sementara ini latihan dulu ya. Baru setelah itu, kamu dirias!" Giliran Ansa yang mengangguk dan menuruti perkataan Ria.



Pukul tiga sore,


Seperti yang sudah dijanjikan oleh Ibu Liana kepada anak bungsunya yakni Jaro, beliau mengajak Jaro untuk segera berangkat dan pergi menuju rumah bu Roro.


Jaro merasa selangkah lebih maju dari hari kemarin, untuk membongkar kecurangan ayahnya terhadap keluarganya.


Saat ini ia hanya mengepalkan salah satu tangannya dan hatinya mengatakan, aku pasti bisa! Ini hanya masalah waktu yang tepat untuk mengungkap semuanya! Sabar Jaro, sabar.



Ansa telah masuk ke kamarnya. Ia baru saja selesai melakukan kesibukannya, hingga tubuhnya terasa lelah. Ia melangkah keluar dari kamar dan berdiri di pagar pembatas. Dirinya melihat ke bawah, khususnya ke arah dapur.


"Bu! Ibu! Tolong bawakan obatku ya?" panggil Ansa kepada pembantunya.


"Iya, Non!" jawab beliau.


Ansa segera kembali ke kamarnya. Ia merebahkan tubuhnya. Aku butuh penenang, terlalu banyak yang aku pikirkan, batinnya.


Ansa memikirkan masalah di sekolahnya dengan Sharly, lesnya yang memberi beberapa tugas dengan deadline yang berbeda, dan ujian yang sebentar lagi akan ia hadapi. Tak apa, setidaknya ia bisa menekan rasa bahagianya.


Tok tok!

__ADS_1


"Non," pembantunya memasuki kamar Ansa. Beliau membawa roti, air dan obat.


"Nanti malam Non Ansa ngga makan? Kalau mau makan, nanti tolong bangunkan saya ya, Non?"


Pertanyaan pembantunya tak dijawab oleh Ansa. Ia justru mengecek handphone-nya dan membaca pesan dari Ranu.


"Non," panggil pembantunya saat melihat Ansa tersenyum pada layar handphone-nya.


"E-eh, iya Bu. Pasti aku langsung membangunkan Ibu," jawabnya.


Bu Liana merasa bersalah dengan Jaro yang membiarkan mereka berdua menaiki mobil, dan terjebak macet oleh para pengendara yang sedang pulang dari pekerjaannya.


"Huh! Harusnya kita tadi naik Orbifly saja, Ro. Kalau seperti ini, dua jam baru sampai, huhu," gerutu ibu.


Jaro hanya mengangguk dan tersenyum tipis. Ia tak terlalu mendengarkan perkataan ibunya, karena tatapannya saat ini beralih ke rumah bak istana.


Ini rumahnya ngga jauh beda dengan rumahku. Tapi, tapi kenapa bu curang itu menginginkan ayahku? Apa yang kurang dari ini semua?


"Wahh, kalian sudah datang! Ayo, silakan masuk Bu Liana, Jaro!" Bu Roro menyambut mereka berdua dengan senyuman ramahnya.


Jaro masih asyik melihat rumah keluarga Hardiyata yang memang tak jauh beda dengan rumahnya.


"Haduh Bu, jalanan macet banget. Tadi saya salah pakai kendaraan haha!" ucap Bu Liana.


"Oh gitu, Bu. Harusnya naik Orbifly saja, mumpung tujuannya juga sama-sama punya Orbifly, haha!" balas Bu Roro.


Mereka segera duduk di ruang tamu. Jaro tak mendengarkan pembicaraan para ibu tersebut. Ia memilih berpikir rencana selanjutnya. Ya! Orbifly! Kenapa aku baru memikirkan ide sekeren itu?! Nanti aku ceritakan kepada Mas Deniz!


"Ansa!!" teriak ibunya dari bawah.

__ADS_1


Ansa dan pembantunya agak terkejut dengan panggilan ibunya. "Iya, Ma!!" Ansa segera meloncat dari kasurnya dan keluar dari kamarnya.



__ADS_2