
Ansa mendengar suara derap kaki seseorang dari belakangnya. Membuatnya membalikkan badan, dan mendapati bahwa Jaro berlari ke arah dirinya. Dia merasa heran, tapi sedetik kemudian dia sadar bawah di belakang Jaro adalah lapangan basket.
"Itu lapangan basket. Berarti dia dari ekskul basket," gumamnya.
"Ansa!" panggil Jaro. Dia telah sampai di hadapan Ansa dengan nafas berderu, keringat bercucuran, dan dirinya memegang lutut.
Tak lama, barulah Jaro kembali berdiri tegak. "Kamu tersesat ya?" tanyanya.
Kok dia tahu? Ansa mengangguk dan sangat malu untuk menatap Jaro.
"Tenang aja, sudah biasa warga baru sekolah ini yang tersesat di sini, haha!" selorohnya.
Ansa memukul pundak Jaro, tapi cincin di tangannya tersangkut ke handuk di leher Jaro. Membuatnya menjadi panik, haduh malunya diriku!
Jaro membantu melepaskan cincin yang menyangkut di handuknya. Tangan kanannya mengurai benang yang menyangkut, sedangkan tangan kirinya menggenggam tangan Ansa. Bahkan mata Jaro menunduk untuk melihat tangan kanannya yang bekerja.
Sejak kapan tinggi badannya menyamai tinggi badanku? pikir Ansa.
Jaro telah berhasil melepaskan cincin yang terjerat tersebut dari handuknya. Lalu genggaman tangannya menjadi tarikan terhadap Ansa.
__ADS_1
"Ayo Sa! Kamu sudah terlambat masuk ekskul loh!"
Malam hari,
Ansa dan ibunya sedang menikmati makan malam di meja makan. Sedangkan ayahnya masih di perusahaan dan sepertinya akan pulang larut malam.
Keheningan mereka hanya ditemani oleh suara sendok dan garpu yang menggesek piring keramik, untuk menyuapkan setiap sendok makanan ke dalam mulut mereka masing-masing.
Kemudian, Ansa mengingat percakapan dirinya dengan Mei saat di sekolah. "Ma. Apakah Mama pernah salat? tanyanya.
"Pernah salat?" Ibu menoleh ke arahnya, dan mengerutkan dahinya. "Iya, Mama pernah salat saat dulu masih kecil. Kenapa memangnya, Sa?"
Ibunya hanya mengangguk, dan kembali menyuapkan sesendok makanannya. Ansa juga melakukan hal yang serupa, tapi pikirannya masih mengingat perkataan Yono.
Besok aku ikutan salat bareng Mei deh! Biar Allah mempermudah urusanku, seperti kata Yono! ucap Ansa dalam hati.
__ADS_1
Pukul delapan malam, perang chatting pun di mulai!
Perang tersebut di mulai oleh Jaro yang menanyakan tentang kesalahan Ansa terhadap Sari. Namun Sari tak mau menjawabnya. "Ini urusan cewek, Ro!"
Deniz muak mendengar bunyi pesan masuk, hingga dirinya membisukan suara handphone-nya. Namun getarannya membuat handphone Deniz hampir jatuh dari meja belajarnya.
"Jaro!!" pekiknya.
Saat ini, Jaro bersama kakak dan ayahnya di dalam satu ruangan luas yang diberi nama "Ruang Kerja". Ruangan tersebut terletak di lantai tiga dari rumah mereka.
Pekikan Deniz membuat ayah melotot ke arahnya, dan membuat Jaro menggaruk tengkuknya karena cemas.
"Diam Niz!" bentak ayahnya, lalu beliau kembali fokus.
Jaro menghampiri kakaknya, dan membisikkan sesuatu. "Maaf Mas. Kedua temanku lagi ada masalah, dan aku ingin membantu mereka berdua."
"Tapi bisa langsung ketemuan, ya kan? Bukannya malah di chatting kayak gini!"
"Ngga bisa Mas. Tadi pagi Ansa dijambak rambutnya oleh Sari. Mangkanya aku ngga mau mereka bertemu supaya hal itu ngga terjadi lagi," bisik Jaro dengan wajah memelas.
__ADS_1
Deniz membuang mukanya, dan menyuruh Jaro kembali ke meja belajar. "Terserah, aku ngga ikutan masalah kalian bertiga!"
***