
Sore hari,
Ansa mengajari Jaro soal-soal pelajaran biologi. Seharusnya hari ini Jaro mengikuti les mata pelajaran, tapi kondisinya sedang tak memungkinkan. Alhasil mereka belajar bersama.
Jaro sempat cekikikan saat belajar. Sedangkan Ansa terus memanyunkan mulutnya.
"Bentuknya kayak kecebong. Terus menembus sel itu, hihi," bisik Jaro.
"Ish! Diam!" bisiknya. Ansa agak malu dengan orang-orang di sekitarnya.
Di sekitar mereka, ada Paman Lovi dan Ayah Hardi yang mengisi sofa tak jauh dari kasur.
"Ansa, Jaro." Tiba-tiba ayah memanggil.
Mereka segera menoleh kepada beliau. "Ya, Pa?"
"Deniz datang tuh." Ayah menoleh keluar. Membuat mereka juga mengikuti arah tatapan ayah.
"Permisi," ucap Deniz.
Deniz memasuki kamar tersebut, sembari tersenyum. "Aku sudah menyelesaikan satu masalah kita, Ro."
Dirinya duduk di samping Jaro. Sehingga Jaro berada di antara kakak dan istrinya.
"Masalah apa?" tanya Ansa.
"Ibu, Sa. Pengadilan memvonis ibu dihukum selama 15 tahun," ujar Deniz.
"Deniz. Kenapa ibumu ditangkap? Apa kesalahannya?" tanya Ayah Hardi.
"Pelaku pelenyapan bu Roro adalah ibu saya, Pak." Deniz tak berani menatap Ayah Hardi.
Ayah mengangguk. "Ya sudah. Syukurlah jika pelaku yang sebenarnya telah ditemukan."
__ADS_1
"Tapi ... ayah tetap melindungi ibu, Ro. Ayah tetap berusaha meringankan hukuman ibu. Aku ngga tahu lagi, terserah lah."
"Ma-kasih, Mas. Mungkin nanti ibu di sana melanjutkan hukuman ayah yang sudah terlewati selama hampir enam tahun. Eh, ngga ngerti deh."
Deniz melihat tangan Jaro yang mengusap perut. "Kalau kamu tertawa, rasanya nyeri ya?"
"Hu'um," jawab Jaro.
"Ih, dari tadi dia cekikikan kok!" protes Ansa.
"Aku sambil nahan nyerinya, sayang." Jaro mencubit pipi Ansa.
"Manyun terus ih, ku cium nih!" bisiknya dengan ancaman.
Ansa menatap tajam ke arah Jaro. Ternyata orang ini tetap menyebalkan. Huh! Lalu dirinya memaksakan senyumnya. "Hii! Aku senyum nih, puas?"
Pandangan Jaro beralih ke ayah. "Papa...." panggilnya. Papa bakal menoleh ngga ya? Harusnya aku panggil 'Pak Hardi' saja! pikirnya.
"Ada apa, Ro?" tanya Ansa.
"Bagaimana dengan rival Papa dan si Ranu itu? Apakah mereka juga sudah dihukum?" cecar Jaro.
"Belum. Tapi paman kalian ini, pak Lovi, sedang mengurusnya. Jaro, Deniz. Kalian ngga perlu memikirkan itu lagi. Papa sudah bangga dengan keberanian dan kecerdasan kalian. Terima kasih," tutur ayah sembari menepuk pundak Paman Lovi.
Dua minggu kemudian,
Ansa dan Jaro telah menghadapi ujian akhir kelas dua SMA. Mereka melakukannya di rumah. Walaupun bersama, mereka tetap mengerjakannya sesuai dengan kemampuan masing-masing.
Saat ini, mereka sedang bersantai di rumah Jaro. Sudah dua minggu Ansa menginap di sini, untuk menjaga Jaro.
Di rumah ini, Ansa telah banyak mengobrol dengan ayah mertuanya, Ayah Awi. Mengenai cerita tentang Jaro hingga tentang masa lalu ayah dengan ibunya Ansa.
__ADS_1
Di kamar,
Ansa bersimpuh di depan Jaro, karena dirinya sedang mengganti perban di perut Jaro.
"Sa. Awalnya aku kira kisah kita akan seperti ayah dan mama," ujar Jaro.
"Eh? Jadi menurutmu, aku bakal kembali ke mas Ranu? Ngga lah!"
"Hehe. Aku mengiranya sih bakal gitu. Dulu mama sempat ingin kembali ke ayah, Sa. Tapi ayah sudah menikah dengan ibu."
"Hm ... mereka malah kembali saat kita sudah gede. Aduduh~"
"Iya. Mungkin aja kamu bakal kembali ke dia saat kita sudah punya an—"
"Please, jangan bilang kayak gitu. Walaupun aku wanita, tapi mungkin aku mirip seperti papa yang setia ke mama hingga maut memisahkan, Ro."
Setelah selesai mengganti perban, Ansa melangkah pergi. "Kalau cemburu, bilang dong!" gumamnya.
"I can hear you, babe~ (Aku bisa mendengarmu, sayang~)" olok Jaro.
"Terserah!"
Maaf, Sa. Aku cuma agak ragu. Dan kamu pasti kadang juga ragu, 'kan? Tapi, aku ngga akan pernah lagi menyamakan dirimu dengan mama. Jangan, jangan Ro. Oke? ucap Jaro kepada dirinya sendiri.
"Ayo. Kita turun!" Ansa memegang lengan Jaro.
"Habis makan, jalan-jalan yuk!"
"Mau ke mana sih? Kamu masih sakit loh!"
"Kita pergi menemui ibu, Sa. Please ...." Permintaan Jaro segera disetujui oleh anggukan kepala Ansa.
__ADS_1