Cherophobia Swan

Cherophobia Swan
Bab 3 Elang Laut


__ADS_3

...“Aku masih tak mengenalmu....


...Tapi saat melihatmu,...


...Ternyata matamu sedang menatap tajam diriku.“...


Di dalam mobil dengan kecepatan tinggi, Jaro dan Deniz saling terdiam, diiringi oleh keringat yang menghiasi dahi mereka. Suhu di dalam mobil menjadi tak jelas, dingin tapi berkeringat.


"Tuan Deniz, ini sudah jauh dari daerah rumah Tuan loh. Sepertinya tuan Awi sedang melakukan perjalanan ke luar kota. Apa kita harus ikuti beliau te—" Sopir mengingatkan Deniz maupun Jaro yang memaksa untuk mengikuti ayah mereka.


Namun Deniz memotong peringatan sopirnya. "Jalan terus, Pak. Kami harus tahu bagaimana kelakuan idola kami yang sangat memalukan itu!" Sopir hanya mengangguk dan tetap fokus menyetir.


"Halo? Apa Bu?" ucap Jaro yang menjawab telepon dari handphone-nya. Tak lama, ia telah selesai berbicara dengan ibunya.


"Ibu bilang apa, Ro? Ibu tanya kita dimana ya?" cecar Deniz kepadanya.


"Iya, Mas. Aku menjawab bahwa kita masih mampir ke rumah teman," jawabnya yang polos.


"Tapi ibu percaya, 'kan? Ibu juga bisa melacak keberadaan kita. Aduh! Gimana ya?" ucap Deniz sembari memijat keningnya.


Jaro menepuk pundak kanan kakaknya. "Kalau masalah merayu ibu, serahkan kepada ku, Mas!"



Di sanggar,


Ansa melihat sanggar yang mulai ramai oleh kedatangan para murid maupun para guru yang akan melatih para junior. Biasanya para guru tersebut dipanggil dengan sebutan kakak pembimbing.


"Semuanya! Tolong isi absensinya ya! Ini untuk pendataan dan seleksi penari untuk ikut pentas," titah salah satu kakak pembimbingnya.


Semua anggota sanggar segera pergi ke meja absensi. Mereka berbaris rapi, mengantri untuk menuliskan nama mereka masing-masing.


Ansa masih duduk terdiam di tempatnya. Ia merasa gaya gravitasi telah menariknya cukup kuat, hingga ia sangat susah untuk bangkit dan ikut mengantri.


"Hei, yang di sana!" panggil kakak pembimbing tersebut saat melihat Ansa yang masih menjelma menjadi patung duduk.


"Hei!!" panggilnya kembali, kini dengan suara lantangnya.


Dia orang baru ya? Kok angkuh banget jadi kakak pembimbing? Hatinya protes sembari menyumpahi kakak pembimbing yang baru ia lihat hari ini.


Ansa bangkit dan melangkah pergi, tapi bukan untuk mengantri. Ia justru melangkah menuju kakak pembimbing tersebut. Di depan kakak pembimbing tersebut, Ansa memperkenalkan dirinya. "Namaku Ansa. Kalau Mas?"


"Kamu menggodaku ya? Cepat mengantri di sana!" titahnya disertai suara tegasnya.


"Ngga!! Aku baru saja melihat Mas di sini. Oke, kalau Mas ngga ingin berkenalan," tutur Ansa yang berbalik dan melangkah ke meja absensi.

__ADS_1


"Situ ramai terus sih, santai aja dong! Ish!" gumamnya yang terdengar oleh kakak pembimbingnya tersebut.


"Namaku Ranu!! Bukan Situ (danau)!" bentaknya.


Ansa tak membalikkan badannya. Ia justru melambaikan tangan. "Ya, ya Mas Situ, Hahaha!" oloknya.


Ia memilih untuk fokus ke buku yang berada di atas meja. Bolpoin diraihnya dengan tangan kanan, dan ia menuliskan namanya.


"Najiha Hansaria Hardiyata. Oh, dari keluarga Hardiyata. Jadi ternyata kamu ya, yang namanya Ang-sa?" sebutnya yang ditambah dengan olokan.


"Eh? Iya, panggilan ku Ansa. Kenap—" jawabnya dengan datar.


Namun Ranu memotongnya. "Aku Ranu. Nama lengkap ku yang ini ...." Ranu menunjuk ke tulisan di buku absensi.


Maheswara Raksaka Ranu Widagda adalah nama yang tunjuk oleh Ranu. Ansa takjub melihatnya. Kenapa namanya tak disingkat saja?


"Biasanya aku menyingkatnya dengan nama 'MR. Ranu' hehe," tuturnya dengan senyuman.


Oalah, bisa banyol juga Mas Ranu ya, batinnya. "Jadinya aku panggil mister Ranu, gitu? Haha!" balas Ansa untuk lelucon kakak pembimbingnya itu.


"Hahaha! Ngga lah, jangan dong. Mas aja ngga apa kok, Sa," jawabnya.


Setelah mengisi, Ansa kembali ke tempat pertapaannya yang dari tadi ia duduki. Ia melangkah ke sana sembari di temani oleh pertanyaan Ranu.


"Aku kelas enam SD. Kalau Mas?" tanya Ansa.


Balasan Ranu adalah, "Oh ya? Ternyata masih muda banget. Kalau aku sekarang kelas tiga SMA. Wah! Bentar lagi kita sama-sama lulus ya!" serunya kepada Ansa.


Apa tadi yang ia katakan? Aku masih muda? Apa penampilanku ngga terlihat muda? batin Ansa dengan mengerutkan dahinya.



Di perjalanan,


Deniz dan Jaro memekik gembira karena mobil mereka bisa menyusul mobil ayahnya. Saat ini mereka berada di belakang mobil ayahnya. Namun, mobil mereka malah berjalan semakin lamban.


"Ada apa, Pak?! Kenapa Bapak mengurangi kecepatan? Ayo kejar mobil itu, Pak!" protes Deniz.


Ucapan Deniz disanggah oleh adiknya. "Mas! Pak sopir benar. Jika kita mengikuti tepat di belakangnya, nanti ayah bisa tahu kalau kita sedang mengikutinya. Lagipula kita masih bisa melihat posisi ayah dari handphone."


Deniz tersenyum dan mengusap pucuk kepala adiknya. "Oke, komandan!"


Di sanggar,


Ansa dan Ranu masih asyik berbincang-bincang. Kini Ansa tahu bahwa Ranu berasal dari keluarga Widagda, yang juga merupakan petani modern dan bekerja di perusahaan yang sama dengan ayahnya.

__ADS_1


"Tadi Mas Ranu bilang, kalau lebih bisa di teater. Tapi sekarang ini, Mas kok melatih tari ya?" Ansa semakin penasaran dengan kakak pembimbing berbakatnya ini.


"Awalnya, aku terlahir untuk teater. Aku sangat senang dengan teater. Ada perasaan menantang, bergairah dan dorongan untuk terus belajar teater ...," tuturnya dengan suara yang menggebu-gebu.


Mata Ansa pun terbuka lebar karena ia mendengarkan penjelasan Ranu dengan antusias.


"Tapi setahun yang lalu, Sa. Aku bertemu dengan Numada, ia sangat hebat sebagai penari di sekolahku. Aku memintanya untuk mengajari ku. Walaupun sudah setahun, aku sudah latihan dengannya setahun, tetap saja ia mengatakan bahwa gerakan ku kurang luwes, kurang lemes, intinya kaku ya," sambungnya.


"Wah, hebat Mas! Sebenarnya yang penting Mas Ranu masih mau untuk belajar, walaupun butuh waktu yang ngga sebentar untuk proses belajarnya itu. Hehe," tutur Ansa dengan senyum manisnya.


"Iya, butuh waktu," gumam Ranu dengan menatap kaki jenjang Ansa.


Tin Tin!


Suara klakson mobil terdengar dari depan gerbang sanggar. Semua terpaku melihat ke arah mobil yang berhenti tersebut.


Namun itu tak berlaku untuk Ansa!


Ia langsung mengerti siapa yang datang. Alhasil, ia melarikan diri ke dalam rumah pengurus sanggar, disusul oleh Ranu.


Jaro dan Deniz merasa heran dengan ayahnya yang mengantar teman ibunya ke tempat seperti sanggar tari.


Sopir memarkirkan mobil mereka di dekat pagar belakang sanggar. Pagar tersebut dibuat dengan memanfaatkan tanaman rambat yang melilit di setiap kawat besi. Sehingga mereka masih bisa mengintip teman ibunya yang turun dari mobil ayahnya.


Klik klik!


Deniz memotret saat-saat perempuan perebut ayahnya tersebut keluar dari mobil dengan ekspresi marah.


"Oh, dia sedang marah?" tanya Jaro.


"Shh, diam saja Ro," bisik Deniz.



Di belakang rumah, Ansa mencari tempat persembunyian. Nafasnya semakin berderu ketika mendengar suara teriakan ibunya semakin mendekat.


"Ansa!! Ansa nakal!! Kamu berani bolos sekolah ya?!! Ansa!!" Teriakan Bu Roro seakan menggetarkan sanggar ini.


Ansa merasa tubuhnya ditarik dan mulutnya ditutup dengan tangan seukuran orang dewasa. Ia ingin berteriak, tapi lengkingan suara ibunya jauh lebih menakutkan.


Saat Ansa tak memberontak, barulah ia dibalik ke arah orang yang menarik tubuhnya. "Ma-Mas, Mas Ranu," bisiknya.


"Shh," pinta Ranu kepadanya supaya diam.


__ADS_1


__ADS_2