Cherophobia Swan

Cherophobia Swan
Arcane_3


__ADS_3

Minggu depan,


Saat istirahat, Ansa sedang duduk dan membaca materi pelajaran IPA, sembari mengunyah jajan yang telah ia beli.


"Woi! Ansa!" teriak ratu sekolah kepada dirinya.


"Berisik woi! Apaan sih!" Kini Ansa berani melawannya. Ia harus bersabar menghadapi Ratu Sharly sebelum dirinya lulus dan berhasil melepaskan diri dari kelas maupun sekolah ini.


"Jaka menolakku, huhu! Huaa!" Sharly segera mendaratkan diri di kursi samping Ansa, dan ia memeluk Ansa sembari membenamkan wajahnya ke bahu Ansa.


"Eh, eh! Woi! Nanti basah bahuku, Shar. Heh, Shar. Sudah ih, malu dilihat teman sekelas. Wajahmu tambah hancur jika terus menangis. Itu loh, di kelas sebelah ada yang lebih tampan. Bahkan aku sudah pernah diberi bunga olehnya," dusta Ansa supaya ratu drama tersebut segera menyingkir dari bahunya.


"Oh ya?" Sharly bangkit dan menyeka air matanya. "Dia yang memberimu bunga itu, apakah sepintar Jaka? Apakah ia pernah juara lomba? Apakah ia kaya? Apa—" cecarnya kepada Ansa.


"Ngapain juga aku menanyakan itu semua kepadanya? Aku saja cuma kenal namanya. Lagipula aku tidak sepertimu yang dikit-dikit jadian, nempel sana sini, tebar pesona, tebar rupa, tuai duka," selorohnya dengan lantang tanpa ampun.


Menurut Ansa, inilah ajang balas dendam untuk bentakan Sharly kepadanya, hingga membuatnya bolos sekolah.


"Ansa jahat!! Aku lagi sedih malak diejek! Awas kamu ya!" ancam Sharly.


"Awas apa? Kamu mau apa, hah?!" Ansa balik membentak. Lalu ia kembali fokus dengan bacaannya.


Akhirnya Sharly bungkam dan kembali melanjutkan tangisnya di bangku yang sama dengan Ansa. Isakannya sempat mengganggu fokus Ansa, tapi Ansa tak peduli. Bentar lagi ujian, aku harus bisa mengerjakan dan mendapat nilai bagus!


Di sisi lain,

__ADS_1


Jaro memakai sepasang earphone-nya dan memikirkan rencana selanjutnya yang telah ia bahas dengan kakaknya.


Sebelumnya, Jaro dan Deniz telah membicarakan rencana Jaro yang ingin bekerja sama dengan anak bu Roro, yaitu Ansa.


"Mas, ternyata Ansa itu adalah anak yang mengalahkan ku saat lomba sains tahun lalu. Ia semakin terkenal karena ia juga bekerja di perusahaan modelling, mirip seperti ibu kita. Jadi menurut Mas Deniz, aku harus gimana? Apakah boleh kalau aku mengancamnya?" tanya Jaro yang meminta pencerahan kepada kakak kesayangannya tersebut.


"Hm, kamu harus hati-hati, Ro. Walaupun dia perempuan, tapi ia cukup pintar. Biasanya ibu itu adalah idola bagi anak perempuan. Kayaknya sih, bakal susah untuk membujuk Ansa." Jawaban Deniz membuat nyali Jaro menjadi ciut.


Terus aku harus apa? batin Jaro menjadi cemas.


"Lebih baik kamu mendekatinya saja di sanggar. Buat Ansa menjadi sahabatmu, hingga ia percaya padamu. Nah, barulah kamu cerita kalau ibunya dan ayah kita memiliki hubungan curang. Kalau untuk Orbifly—" tutur Deniz dengan lembut.


"Mas! Aku baru ingat! Sebentar lagi Ansa akan masuk ke sekolah kita!" seru Jaro kepada kakaknya.


"Oh ya? Bagus! Jadinya aku bisa bertemu dengannya secara langsung di sekolah. Kapan, kapan Ansa akan masuk ke sekolah kita?" cecar Deniz dengan menggebu-gebu.


"Idenya bagus. Nanti aku coba minta bantuan kakak kelasku. Eh, kamu ikutan les komputer juga dong. Serius, di situ kamu bakal diajarin skill dasar hingga yang skill paling tinggi. Bahkan bisa mengotak-atik Orbifly, Ro!" pinta Deniz kepada adiknya.


"Siap komandan!" ucapnya dengan tersenyum.


Hingga Wahyu membubarkan seluruh lamunannya. "Woi! Senyum-senyum sendiri, kesurupan apa lu?"


"Hm. Aku sedang memikirkan seorang perempuan yang sedang terkenal sebagai model di kota ini. Kemarin aku telah berkunjung ke rumahnya. Walaupun ia menggunakan baju tidur, aw, ia masih terlihat imut!" jelas Jaro dengan suara penuh hasrat.


"Kalau model sih, apa saja yang dipakai, tetap cantik! Memang namanya siapa?" Rasa penasaran Wahyu semakin meningkat setelah mendengar perkataan Jaro.

__ADS_1


"Cari tahu sendiri sana! Kalau mau mendapatkannya, harus usaha dong! Terus, itu Yu, si Sari mau kamu tinggal?" titah Jaro yang tetap tidak menyebutkan anak perempuan yang ia maksud. Ansa tetap untukku.


"Ya, boleh lah kalau ada anak model seperti yang kamu bilang itu, Ro. Sari di-skip dulu," balasnya tanpa rasa bersalah.


"Mangkanya mulut dijaga, Yu. Pantas saja Sari menolak mu. Mulut dan otak ngga sinkron," balas Jaro yang lebih menusuk.


Wahyu melempar botol plastik yang telah habis isinya, tepat mengenai sahabatnya yang bukan manusia tersebut.


Wahyu maupun teman-teman di sekolahnya ini sering menyebut Jaro sebagai bukan manusia. Hal itu bisa terjadi karena Jaro mengikuti banyak ekskul dan kegiatan di Sekolah Mandraguna.


Jaro sangat cerdas dan mampu berpikir cepat dalam mempelajari hal baru. Bahkan dirinya akan menyelesaikan masalah dengan cara tercepat.


Itulah sebabnya, banyak murid perempuan yang menyukai sekaligus patah hati kepada dirinya. Karena Jaro tidak pernah mau memahami kode-kode dari kado para fans-nya. Ia malah menyumbangkan pemberian para fans-nya kepada panti asuhan.



Sore hari,


Jaro memasuki sanggar yang telah ramai oleh para penghuni sanggar. Lalu tiba-tiba ada yang merangkul pundaknya. "Hei! Kamu anak baru ya?" tanya laki-laki tersebut yang lebih tinggi dari Jaro.


Jaro maupun orang tersebut saling menatap penuh tanda tanya. Sedetik kemudian, Jaro membulatkan matanya karena ia tahu siapa orang yang saat ini sedang merangkulnya.


Glek!


Dia? Dia, adalah pria edan yang bermesraan dengan Ansa, 'kan? Waduh! Ternyata dia juga di sini! batinnya menjadi cemas karena berhadapan dengan pria dewasa seperti orang tersebut.

__ADS_1


***


__ADS_2