Cherophobia Swan

Cherophobia Swan
Live, Love, Lie_2


__ADS_3

Di sekolah,


Jaro duduk di bangkunya, diiringi rasa penasarannya terhadap suara isakan milik Mei. Dia masih bergeming dan menatap tingkah Yono yang mengusap-usap kepala Mei yang sedang menunduk.


"Yon, Dia kenapa?" bisik Jaro.


"Dia sedih, karena Ansa ngga masuk–" jawab Yono.


"Ngga! Bukan karena Ansa ngga masuk, Yon. Tapi aku ikut berduka karena ibunya meninggal. Huhu," sergah Mei.


"Ibunya Ansa?" tanya Jaro yang langsung membelalakkan kedua netranya.


Di pemakaman,


Ansa menggenggam erat tangan Bibi Ning, sembari sesegukan. Lalu ayah memintanya untuk menaburkan bunga di atas makam ibunya. Dia melakukannya, dan air mata kembali membasahi wajahnya.


Sebenarnya Ansa bingung, mengapa Tuhan membiarkan dirinya yang melihat wajah ibunya untuk terakhir kalinya? Mengapa bukan ayah, atau pembantunya? Ataukah karena Tuhan ingin dirinya membalaskan apa yang telah terjadi kepada ibunya?


"Sa. Nanti kalau kamu ingin menginap di rumah sanggar, langsung datang aja ya. Bibi dan Dingga pasti ada di rumah kok." Tangan beliau terus mengusap-usap punggung Ansa.


Ansa mengangguk, karena sangat berat untuk bersuara memakai mulutnya.


Namun hatinya mengatakan, sepertinya benar. Aku harus membuat mereka jera! Tunggu besok di sekolah, Ro!!

__ADS_1



Saat istirahat,


Dari teras masjid, Jaro dan Yono melihat beberapa polisi yang melangkah masuk ke halaman sekolah. Mereka merasa heran dan menatap para polisi tersebut. Akhirnya langkah kaki polisi sampai di ruang kepala sekolah.


"Mereka ke sini untuk apa ya?" tanya Yono.


Awalnya Jaro merasa heran, tapi otaknya kembali mengingat percakapan grup De Rosa. "Apakah ... mereka ingin menangkap ayahku?" gumamnya.


Jaro bangkit dari duduknya, dan segera berlari menggunakan sepatu yang diikat asal-asalan. Dia hanya peduli pada keadaan ayahnya.


Beberapa meter di depan ruang kepala sekolah, Jaro berhenti berlari. Kedua netranya beradu dengan para polisi yang telah menuntun ayahnya keluar dari ruangan tersebut.


Dia semakin cepat melangkah, dan meraih lengan ayahnya. "Ayah!!"


"Ro. Ayah ngga apa kok. Kamu jangan memegang lengan Ayah kayak gini ya," tutur beliau.


"Jaro! Ayo pergi!" seru kakaknya yang datang dari belakang Jaro. "Ayo Ro. Biarkan dia ditahan!" ajak Deniz dengan wajah penuh emosi.


"Ngga mau!! Ayah ngga boleh masuk penjara!"


"Ro!!" bentak Deniz yang tidak kalah kencang.

__ADS_1


Salah satu polisi melepas tangan Jaro, dan menuntunnya untuk menjauh dari ayah. "Maaf, Nak. Tapi kami membutuhkan ayahmu untuk diinterogasi mengenai kasus pembunuhan seorang model," ucapnya dengan lembut.


"Pak, maaf. Tapi kenapa harus ayah kami yang kalian tangkap?" tanya Deniz.


"Sementara ini, semua bukti mengarah kepada ayah kalian. Anak dari model tersebut menyerahkan semua bukti yang membenarkan bahwa ayah kalian adalah pelakunya."


"Ta-tapi. Kenapa bisa kayak gitu? Kejadiannya kemarin 'kan, Pak? Tapi dari kemarin ayah terus bersama kami!!" Jaro mulai mengeluarkan unek-uneknya.


"Setelah ini, kami akan menuju rumah kalian. Kami akan mengecek CCTV dan Orbifly," jawab polisi tersebut.


"Kenapa harus Orbifly? Apa hubungannya dengan alat itu?" cecar Deniz.


"Sementara ini, dugaan kami adalah pelakunya menyusup ke rumah model tersebut dengan Orbifly. Kemarin, pelaku pergi ke sana sekitar pukul dua siang. Oh maaf, saya harus pergi." Polisi tersebut segera melangkah pergi menuju pintu gerbang.


"Pak!! Ayah saya ngga kemana-mana sejak jam satu siang! Dia terus bersama saya, Pak! Pak!!" pekik Jaro. Namun polisi tersebut tak mendengar seruannya.


Kini tatapan Jaro beralih ke kakaknya. "Mas! Lihat kan? Mereka ngga percaya! Mereka lebih percaya dengan si angsa itu! Awas aja kalau sampai ayah ditahan!" keluhnya.


"Iya, Ro. Tapi Ansa juga benar. Siapa lagi yang bisa dia curigai selain ayah, ya kan?" balas Deniz


"Tapi di sisi lain, jam dua siang itu ... kita terus bersama ayah, 'kan? Berarti ada orang lain yang ngga suka dengan model penggoda itu," lanjutnya.


Jaro mengelus dadanya, mencoba menahan amarah walaupun dahinya masih mengerut. "Mungkin saja, ayahnya Sari yang sudah menghabisi ibunya Ansa. Apakah Ansa lupa dengan kejadian itu? Padahal dia sendiri loh yang mengambil fotonya! Akh!!"

__ADS_1



__ADS_2