Cherophobia Swan

Cherophobia Swan
Bloody Heart_2


__ADS_3

Dua bulan kemudian, di kolam renang.


Jaro telah menemukan teman baru di ekskul renang. Bahkan mereka sangat fasih berpose indah di kolam, membuat para wanita lupa untuk berkedip.


"Bro! Ternyata lu dari kemarin dapat skors ya?" tanya salah satu temannya yang lancang.


"Hu'um. Tapi ya sudahlah. Yang penting gua sudah masuk sekolah lagi, ya kan?" jawab Jaro.


"Bisa ketemu fans lagi, godain cewek lagi, haha!" seloroh temannya yang lain.


Jaro mengusap rambutnya ke belakang, sembari matanya mencuri pandang ke arah Ansa.


Saat ini Ansa bisa sedikit lega. Kesibukan sekolah dan karier masih menjadi prioritasnya yang mengikuti permintaan Ranu. Dia masih ingat dengan perkataan Ranu.


Kita fokus berjuang dulu ya? Nanti kalau ada waktu senggang, aku bakal jemput kamu. Terus jalan-jalan ke manapun yang kamu mau, Sa. Oke?


Ansa kembali mengayunkan kaki dan tangannya. Dirinya tak seperti teman-teman perenang wanita di sini yang masih sempat menikmati pemandangan para pria di ujung sana!


Jaro melihat Ansa dengan tatapan sendu. Sebelum kita bertemu, kamu selalu baik-baik saja seperti sekarang, 'kan?


Pulang ekskul,


Jaro mengalungkan handuk kuning ke lehernya. Namun tiba-tiba ada yang menarik handuknya.


"Jamario~" panggilnya.


Huf, aku kira si Ansa. Jaro membalikkan badannya, dan tersenyum. "Iya?"


"Aku belum memperkenalkan diriku. Namaku Febi," ucapnya sembari tersenyum.


Jaro menyambut tangan Febi. "Aku Ja-mario. Iya, Jamario."


Suasana canggung justru terjadi di antara mereka. Kemudian Jaro kembali bertanya. "Febi ... kamu yang pernah juara menyanyi itu, 'kan?"


Febi mengangguk. "Iya! Ya ampun, ternyata kamu tahu tentangku ya." Dia memegang kedua pipinya karena tersipu malu.


Tak jauh dari mereka, Ansa sedang menatap lekat ke arah mereka. Jadi bapak duta sedang merayu seorang cewek. Bagus deh!


__ADS_1


Di rumah Ansa,


Ansa melangkah masuk dan disambut oleh pembantu setianya. Saat di pintu, Ansa membalikkan badannya karena mendengar suara mesin mobil yang memasuki halaman rumah.


"Papa? Papa cepat sekali pulang kerja," gumamnya. Dia tak terlalu peduli dan segera menuju kamarnya.


Beberapa menit kemudian, Ayah Hardi memanggil Ansa supaya turun dan menemui tamunya. Ansa menurut, dan cepat-cepat menuruni anak tangga.


"Ya, Pa?" Matanya menangkap sosok seorang wanita paruh baya yang duduk di samping ayah.


"Ah, dia sudah datang. Itu anak tunggal ku, Syah. Biasanya dipanggil 'Ansa'. Sini Sa," ucap ayah.


Ansa menyalami tamunya, yang tak ia kenali. "Saya Ansa, Tante."


"Saya Aisyah," jawab wanita tersebut sembari tersenyum. "Kamu kelas berapa, Nak?"


Ansa telah duduk di hadapan tamunya tersebut. "Saya kelas dua SMA, Te."


"Oh ya? Wah. Di, ternyata anak kita seumuran." Bu Aisyah menoleh ke Ayah Hardi.


"Assalamualaikum," ucap seseorang dari balik pintu.


Kedua netranya menangkap sosok pria dari balik pintu, dan Ansa sangat mengenalinya.


"Itu anak saya. Namanya Yono. Sepertinya lebih tua Yono ya? Hehe," kata Bu Aisyah.


"Iya. Sebentar lagi Yono akan menjadi kakaknya Ansa."


Tiba-tiba Ansa lupa caranya untuk mengontrol emosi. Matanya melotot ke arah Yono, dan tangannya mendarat ke atas meja.


Brakk!


"Sebenarnya ada apa ini, Pa?! Kenapa kalian menjadikan Yono sebagai kakakku?!! Aku ngga punya kakak!!"


Ayah melotot ke arah Ansa. "Ansa! Jaga sikapmu! Sekarang lagi ada tamu Papa. Tenang dulu ya?"


"Iya, Nak Ansa. Kami akan jelaskan di sini dan membahasnya bersama," sambung Bu Aisyah.


Ansa menunduk, pikirannya mulai aktif memikirkan apa yang akan terjadi.

__ADS_1


"Tante Aisyah ini adalah teman Papa sejak di desa. Beliau bekerja sebagai pemilik pesantren, menggantikan orang tuanya. Sebelum ini, Tante Aisyah sudah menikah. Tapi suaminya sudah tiada, Sa," tutur ayah.


"Yono sudah ditinggal ayahnya sejak SD."


Ansa melirik ke arah Yono yang hanya menunduk. Mungkin dia juga merasa tak suka, apalagi dia sudah melihat Ansa yang sempat meledak.


"Rencananya, dalam waktu dekat ini. Mungkin tahun depan. Kami akan menikah, Sa, Yon." Ayah tersenyum kepada Ansa.


Ansa merasa tubuhnya bergetar. Cemas dan takut menghampirinya. Pikirannya mengatakan, kalau papa dengannya, aku dengan siapa? Aku sendirian, sedangkan Yono pasti sangat senang karena keluarganya kembali lengkap!


"Apa? Papa mau menikah lagi? Terus Papa akan melupakan mama yang sudah menemani Papa selama 20 tahun?! Hah?!" bentak Ansa.


"Ansa!!"


"Aku ngga mau punya ibu seperti dia! Dan juga seorang kakak!!" Ansa bangkit dari duduknya. Dia berlari dari hadapan mereka bertiga.


Tak lama, Ansa melewati mereka dengan membawa tas ranselnya. Dia melangkah keluar dari rumah.


"Ansa! Kamu mau ke mana?!" pekik ayah.


"Nak Ansa! Jangan pergi! Ayo kita bahas ini baik-baik, Nak."


Bu Aisyah mengulurkan tangannya untuk menahan lengan Ansa. "Ayo, Nak."


"Lepas!!" Ansa mendorong Bu Aisyah.


Yono sigap menangkap ibunya yang terhuyung ke belakang. "Sa!! Jangan kayak gitu ke ibuku!!"


"Itu ibumu! Bukan ibuku!!" balas Ansa. Dirinya langsung masuk ke mobil. "Ayo cepat jalan, Pak!"


Mobil bergerak dengan cepat meninggalkan rumah. Di dalam mobil, Ansa menangis. Bingung dengan keadaan keluarganya.


"Non Ansa mau ke mana sekarang?" tanya sopir.


"Perusahaan Techsophictic Farm."


Ansa menatap sendu jalan raya dari balik kaca mobil. Mas Ranu pasti masih di perusahaan.


__ADS_1


__ADS_2