
...“Beri tahu aku,...
...Bagaimana cara membuat pelakor menyerah?”...
Menjelang malam,
Jaro berkunjung ke rumah salah satu teman SMA-nya. Dia masih ingat dengan lokasi tempat tinggal temannya tersebut.
Tok tok!
Jaro berdiri mematung, menunggu pemilik rumah membukakan pintu. Tak lama, pintu ditarik masuk, dan muncullah sosok wanita.
"Permisi. Apakah ini benar rumah Pak Roi?" Jaro tetap harus bertingkah sopan, walau ingatan tentang istrinya yang hilang masih terngiang.
"Dulu iya. Sekarang bukan lagi, Mas."
"Oh gitu. Apakah Ibu tahu, di mana tempat tinggal Pak Roi saat ini?" tanyanya perlahan.
Ibu pemilik rumah tersebut segera memberi tahu alamat yang Jaro butuhkan. Lalu dia berpamitan dan memberi alasan bahwa dirinya sedang ada urusan mendesak dengan Pak Roi.
"Kenapa Mas tidak menelpon Pak Roi saja?"
Jaro hanya tersenyum getir dan kabur menuju mobilnya. Dia tak mau menjawab pertanyaan pemilik rumah tersebut.
Di sisi lain,
Ansa memegangi perutnya yang keroncongan. Tentu saja dia sangat khawatir dengan janin di dalam perutnya. Lalu kepalanya mendongak ke langit-langit kamar.
Saat ini, Ansa dikurung dalam kamar yang tak banyak perabotannya. Hanya ada kasur, bantal, lampu. Tembok kamar tersebut masih belum dicat, hanya terlihat hitamnya semen yang dihaluskan.
Entah, kurungan apa ini? Mungkin yang mengurungku, tak ingin menyakitiku. Pasti ini kerjaan mas Ranu!
Ansa berdiri dan melangkah sempoyongan menuju jendela. Di sini hanya ada jendela yang dipasang jati, lengkap dengan besi yang melintang membentuk kotak-kotak. Membuat Ansa semakin merasa dikurung di sini.
Tangannya mencengkeram besi-besi tersebut. "Akhh!!" Tetesan air matanya mengalir. "Aku sangat lemah."
Kemudian dia pergi menuju salah satu pintu. Saat pintu didorong masuk, terlihatlah shower dan peralatan mandi.
Ya! Itu adalah kamar mandi!
__ADS_1
Ansa membasuh wajah hingga kakinya. Setelah itu, mulutnya berkomat-kamit membaca doa setelah wudu.
Aku yakin, ini sudah masuk waktu maghrib, pikirnya.
Pukul setengah tujuh,
Jaro telah selesai berjamaah di masjid. Dia langsung pergi menuju alamat yang telah diberikan oleh Ibu pemilik rumah.
Selama perjalanan, Jaro menerima dia panggilan. Pertama, dari ayah mertuanya, Ayah Hardi. Kedua, dari kakaknya yang bergabung dengan ayahnya, Deniz dan Ayah Awi.
Jaro terpaksa mengaku kepada mereka semua. Karena dirinya telah lelah melakukan perjalanan selama hampir 5 jam, dan sendirian. Tak lupa, dia mengirimkan lokasi yang akan dirinya tujuan kepada para tetua.
Oke. Ansa, tunggu aku ya! batin Jaro.
Di kamar,
Pintu terbuka, dan sesosok pria gempal memasuki kamar tersebut. Ansa melotot ke arahnya. Pria tersebut membawa sebungkus makanan dan sebotol air minum.
Penculikku ternyata berwajah tua dan penuh dengan lemak di tubuhnya! Ish! Gigi Ansa menyatu untuk menahan amarahnya.
Dia. Apakah dia adalah orang yang dulu bermesraan dengan mama di perusahaan?! Mata Ansa membulat sempurna.
"Kalau dilihat, kamu memang mirip seperti ibumu. Andai saja aku yang menculik mu, mungkin aku akan menikahi mu, menjadi yang kedua," ujarnya sembari tangan kanannya akan menyentuh Ansa.
Spontan Ansa bergerak mundur. "Jadi yang menculikku, adalah anakmu? Sari?"
"Iya. Dia ingin menjadi istri pemilik sekolah. Sama seperti mu dan ibumu."
Pria tersebut adalah Pak Roi.
Beliau menyeringai ke arah Ansa. "Kalian sama-sama gila harta."
Ansa ingin membentaknya. Tapi dirinya yakin, pria bak kingkong tersebut tak akan berani mendekatinya. Nuraninya berkata benar. Karena saat itu juga, seorang wanita muncul dan menyuruh Pak Roi untuk keluar.
"Sayang." Tangan Pak Roi mengusap pucuk kepala wanita tersebut. "Nanti kalau kamu sudah mendapat suaminya, berikan anak itu kepadaku ya?"
"Ish! Ayah! Apakah ibu masih kurang untuk hidup Ayah?" Wanita tersebut menoleh ke arah Ansa.
__ADS_1
Itu dia. Sari, batin Ansa. Pandangannya tak berkedip saat melihat sosok wanita yang berpakaian cukup ketat.
"Dia akan melihat Jaro bahagia bersamaku. Sedangkan dia akan aku kirim keluar dari kota Metropolitan ini!" ucap Sari.
"Kalau gitu, Ayah akan ikut bersamanya."
"Anggap saja, dia tiba-tiba menghilang dari kota ini." Sari menyilangkan kedua lengannya sembari menyeringai ke arah Ansa.
Si angsa ingin sekali mematuk si kingkong dan anaknya. Namun amarahnya tertahan oleh perutnya yang sedang membawa titipan Tuhan.
"Besok pagi, aku akan mengantarnya ke bandara. Ayah juga bisa ikut, menggantikan bodyguard ku," titah Sari.
"Oh ya?! Iya Sari, Ayah sa--" seru Pak Roi yang gembira.
"Tapi ingat! Sebelum sampai tujuan, Ayah tak boleh macam-macam kepadanya. Aku khawatir akan ada yang curiga."
"Apakah polisi sedang mencari Ansa?"
"Mungkin besok sore. Jadi, dia harus pergi besok pagi. Supaya Jaro benar-benar tak menemukan dia lagi!"
King Kong dan anaknya tersebut tertawa bahagia saat rencana mereka berjalan mulus. Lalu mereka berjalan keluar kamar dan membiarkan si angsa makan dengan tenang.
Mana mungkin Ansa menjadi tenang setelah mendengar semua rencana si kingkong itu?!
Pikirannya semakin riuh. Bahkan fobianya mulai muncul. Apakah aku terlalu bahagia bersama Jaro? Ngga, ngga! Ini memang takdirnya.
Sesuap demi sesuap makanan masuk dan memenuhi lambung Ansa. Allah, tolong beri tahu aku cara keluar dari sini. Atau tolong gagalkan rencana mereka. Hanya Engkau yang Maha Kuasa untuk mengubah rencana jahat mereka.
Pukul delapan malam,
Jaro telah sampai di sebuah perumahan yang terlihat mewah. Dirinya tersenyum dan terus mengikuti arah GPS yang membawanya.
Sari sudah ada di sini, di perumahan elite. Tapi mengapa dia masih menculik istriku? Apa dia butuh uang? Hm, aku akan memberinya asal istriku kembali, batinnya.
"Anda telah sampai di tujuan."
Jaro tersentak kaget dengan suara dari GPS-nya. "Benarkah itu rumahnya?"
__ADS_1
***