
...“Ajang olimpiade seketika berubah menjadi ajang balas dendam!...
...Aku akan menjadi pemenang, hingga membuatmu bungkam!”...
Malam hari, di rumah Ansa,
Ansa mengajak Mei untuk kembali ke kamar. Dia merasa lega, walau masih sedikit was-was. Di tangga, langkah mereka terhenti oleh panggilan Ayah Hardi.
"Lain kali, langsung tolak saja ya, Sa. Kalau kamu terus terima kunjungan mereka, kamu juga akan terus merepotkan Nak Meilisa," tutur ayah.
"Oh ngga, ngga merepotkan kok, Om. Justru saya senang bisa menemani Ansa di sini." Mei tersenyum ramah sembari menggaruk tengkuknya.
"Ya sudah, selamat malam." Ayah melangkahkan kakinya menuju ruang keluarga.
Di kamar Ansa,
Ansa dan Mei saling tertawa dan loncat-loncat kegirangan. Jika diingat, justru membuat mereka semakin senang karena berhasil membuat Jaro merinding.
Sebelumnya,
__ADS_1
Saat pulang sekolah, Mei menguping pembicaraan antara Jaro dan Sari di gerbang samping. Mei mendengar bahwa mereka akan kembali menyebarkan gosip tentang Ansa dan Deniz.
Tak butuh waktu lama untuk menebak apa yang akan mereka lakukan. Sehingga Mei cepat-cepat mengirim pesan kepada Ansa. Pukul lima sore, Mei telah berada di rumah Ansa dan bersiap menerima kedatangan rival Ansa.
Saat semuanya sedang di balkon, Mei menyelinap dan bersembunyi di dekat lemari. Namun alangkah terkejutnya saat dia melihat Jaro yang justru kembali masuk!
Mei segera membuat sedikit suara di dekat lemari, untuk mengalihkan perhatian Jaro. Dan berhasil! Sehingga dirinya segera menyelinap di bawah ranjang. Cukup banyak debu, membuat Mei menjadi agak sesak nafas.
Namun ia tak menyerah. Mei berlari dengan minim suara menuju balkon, berharap Jaro tak menyadarinya. Akhirnya, Mei berhasil ikut dalam foto Ansa dan Deniz.
Selain informasi tentang penyebaran gosip, Mei juga menemukan fakta baru!
"Sa," panggilnya. Mei ikut duduk di atas ranjang, dan menatap Ansa.
"Iya, sama-sama. Eh, Sa. Tahu ngga sih ... ternyata si Sari sudah barengan dengan cowok SMA!" Jiwa bergosip Mei mulai muncul.
"Oh ya? Mungkin itu kakaknya, Mei." Ansa menyanggah pernyataan Mei. Mungkin saja Sari mirip seperti dirinya dengan Deniz.
"Ngga, Sa. Terus nih ya ... mereka itu masuk ke mobil yang sama! Lah kalau kak Deniz mana mungkin mengantarmu pulang, paling masih sibuk dengan sekolahnya." Mei melipat lengannya ke depan perut.
__ADS_1
"Kakaknya Sari tuh sudah kuliah, Sa. Aku tahu dia itu punya kakak berapa, adik berapa. Terus—"
Ansa merangkul Mei. "Ya sudah. Biarin aja. Memangnya kamu mau membalas dia dengan buat gosip juga? Ngga usah, Mei. Buang-buang waktu."
"Aku kira dia membantu Jaro untuk mem-bully mu karena dia cemburu. Tapi ternyata salah ya?" ujar Mei.
"Awalnya iya. Dulu dia pernah menginjak biskuit angsa di depanku sambil mengancam kalau aku ngga boleh dekat-dekat dengan Jaro," jelasnya.
"Mungkin setelah ini, mereka ngga akan mengganggu mu lagi, Sa."
"Ngga tahu, Mei. Namanya iri hati, pasti ada aja yang diolok. Kalau suatu hari aku dapat kebahagiaan, mungkin mereka bakal terus bantuin Jaro untuk menjatuhkan ku."
"Sabar ya, Sa. Kita tetap harus bareng di sekolah, sampai SMA! Gimana?" Mei mengukir senyum lebar di wajah imutnya.
Oh tolong! Aku mulai bahagia. Aku harus menahannya, pikir Ansa.
"Kalau suatu saat, kita ada salah paham ... kita bicarakan baik-baik ya?"
"Oke! Kamu tahu sendiri, 'kan? Aku tuh blak-blakan, ngga bisa kalau harus dipendam sendiri, hehe. Kamu juga ya, terutama ke aku," pinta Mei.
__ADS_1
"Oke bos!"