
Sebulan kemudian,
Lampu-lampu putih berukuran kecil menyinari ruangan ini. Bunga-bunga warna putih, kuning, oranye turut andil menghiasi ruangan, ditambah dengan balon.
Terdapat juga meja dan kursi untuk para tamu yang hadir. Dan yang paling utama, kursi untuk dua pasangan Raja dan Ratu seharian ini.
Sebuah backdrop terpasang besar di belakang kursi pengantin. Berhadapan langsung dengan pintu masuk, supaya para tamu bisa melihat nama para pengantinnya.
'Aisyah & Hardiyata.'
'Hansaria & Jamario.'
Pukul delapan pagi, akad nikah Ayah Hardi akan segera dimulai. Jaro duduk berada paling depan bersama Ayah Awi. Di belakangnya ada teman-teman prianya.
"Jaro, istrimu di mana?" tanya Wahyu.
"Dia lagi bersama ibuku, Yu," jawab Yono.
"Iya, dia lagi di ruang rias." Jaro tersenyum.
Hari ini, Ayah Hardi dan pasangannya menggunakan baju berwarna kuning. Sedangkan Ansa dan Jaro menggunakan warna oranye-cream.
Di ruang rias,
Ansa merapikan pernak-pernik yang menempel di kerudung Ibu Aisyah. Dia terus tersenyum dan bersyukur memiliki ibu tiri sebaik Ibu Aisyah.
"Mama Ais, Mama kok bisa mengajari Yono hingga dia memiliki tutur kata yang lembut?"
"Karena Mama sering meminta kepada Allah, sayang. Supaya anak Mama menjadi soleh dan solehah. Ansa juga lembut dan perasa kok, cuma kamu memang orangnya tuh berani saat di depan orang yang kamu sayang."
"Sedangkan Yono memang harus Mama tanyakan dulu, baru mau cerita," lanjut Bu Aisyah.
Ansa melingkarkan tangannya ke pinggang Bu Aisyah. Lalu dirinya menyandarkan kepalanya ke kepala Bu Aisyah.
Mereka sama-sama melihat pantulan mereka di cermin, dan tersenyum. Ansa dengan gaun oranye, Bu Aisyah dengan gaun dan kerudung kuning.
Mama Ais sudah banyak mengajariku tentang Islam. Inilah yang membedakan Mama Ais dan Mama Roro. Tapi, mereka sama-sama menyayangi ku, mendukung ku, mencintaiku.
Entah gimana jadinya jika aku tak pernah dipertemukan dengan mereka. Dua figur wanita yang kuat dan hebat di bidangnya masing-masing.
Sebenarnya aku iri, tapi untuk apa? Lebih baik aku selalu belajar memahami kesalahan dari Mama Roro dan mendengarkan nasihat dari Mama Ais.
Aku yakin mereka pasti ingin selalu yang terbaik untukku.
Setelah itu, mereka berdua menuju ruangan utama, di mana para tamu dan pasangan mereka sedang menunggu kedatangannya.
Ansa dan Bu Aisyah saling bergandengan tangan saat memasuki ruangan utama. Mata Ansa menangkap dekorasi dan suasana ruangan tersebut, sembari tersenyum.
"Kamu duduk di sebelah suamimu ya. Mama akan duduk ke samping Papa," titah beliau.
__ADS_1
Ansa mengangguk dan menuju kursi kosong di samping Jaro. Tangan Jaro menggenggam tangan Ansa saat mereka telah duduk bersebelahan.
"Ansa, Jaro. Nanti kalian kalau dipanggil oleh MC, langsung maju ya?" ucap Ayah Awi.
"Siap, Yah!" jawab mereka dengan suara pelan.
Setelah itu mereka kembali melihat ke arah Ayah Hardi dan Bu Aisyah. Lebih tepatnya, hanya Ansa yang melihat, sedangkan Jaro melihat Ansa dari samping.
Cantik banget ya. Tapi sekarang pasti ia sedang menahan rasa bahagianya, takut nanti ada kejadian sedih. Benar 'kan? batin Jaro.
"Sa!" bisiknya.
Ansa segera menoleh ke suaminya. "Hm?"
"Ada kue yang warnanya mirip baju kita loh!" Tuh di sana!"
Setelah akad, MC memanggil mereka berdua untuk bergabung dengan Ayah Hardi dan Ibu Aisyah.
"Ya! Ini adalah anak tunggal Pak Hardiyata yang telah melangsungkan akad setahun yang lalu. Dan hari ini resepsi ayahnya, adalah resepsi pasangan muda ini juga! Selamat!!"
Semua orang bertepuk tangan untuk kedua pengantin tersebut. Mereka berempat saling merangkul, dan para fotografer segera mengabadikan momen tersebut.
Setelah melewati rangkaian sesi acara pernikahan ayah dan ibu.
Dilanjutkan sesi pemotongan kue, yang dilakukan oleh ayah dan ibu. Mereka memotong kue berwarna kuning, lalu saling menyuapi. Bahkan Jaro dan Ansa disuruh untuk membuka mulutnya oleh ayah dan ibu.
"Iya, sayang! Ayo buka mulutmu! Aa~" balas ibu.
"Eh? Saya juga dapat?" tanya Jaro.
"Iya, menantuku. Ayo coba ini," pinta ayah.
Barulah giliran Ansa dan Jaro yang memotong kue berwarna oranye. Setelah memotong, mereka juga menyuapi ayah dan ibu. Namun tiba-tiba mereka melangkah menuju Ayah Awi.
"Ayah!! Ayo buka mulut Ayah!!"
"Haduh, dasar kalian ya ...."
Ayah Awi membuka mulutnya, dan menerima satu persatu kue dari anak dan menantunya.
"Ya! Sekarang para hadirin dipersilakan untuk menikmati hidangan yang telah kami sajikan. Sembari itu, dipersilakan yang ingin berfoto dengan pengantin."
Jaro dan Ansa berdiri bersebelahan di depan sofa, sembari melihat para hadirin yang lalu lalang. Menunggu orang-orang yang ingin menyalami mereka.
Tanpa diduga, Teman-teman mereka telah menyalami ayah dan ibu. Kini mereka mengulurkan tangannya ke arah Ansa dan Jaro.
"Selamat Bro!"
"Samawa!"
__ADS_1
"Selamat ya, Ro, Sa!"
"Semoga selalu akur. Kagak kayak dulu lagi," seloroh Wahyu.
"AAMIIN!!" jawab serempak teman-temannya.
"Semoga pernikahan di umur yang muda ini, bisa membuat kalian lebih bijak dalam bertindak, lebih sabar, dan lebih kuat," ujar Yono.
Kali ini jawaban teman-temannya lebih halus. "Aamiin."
"Terima kasih doanya ya." Ansa tersenyum dan matanya berkaca-kaca.
"Thank you! Kalian memang ngga kenal tempat kalau ngelawak ya! Sudah sana makan siang, nanti kehabisan loh!" seloroh Jaro.
Beberapa menit kemudian,
Ansa menyentuh perut Jaro. "Masih sakit?"
Jaro menggeleng. "Ngga kok. Sudah baikan, gara-gara akhirnya kita bisa resepsi, hihi!" bisiknya.
"Dasar ya," balas Ansa.
"Sa, Jaro! Ini!" Ibu Aisyah memberikan mereka berdua sepiring makanan.
"Ma, ini punya kami semua?"
"Waduh!"
Mereka terkejut karena porsi makanan tersebut seperti dua piring yang dijadikan satu.
"Biar kalian kenyang! Cepat dimakan ya! Hihi," ucap ibu.
"Hmm. Enak loh, Sa, Ro!" Ayah telah disuapi oleh ibu dan segera mengunyahnya.
Pandangan Ansa lepas dari ayah dan ibu, lalu beralih ke Jaro. Ternyata Jaro telah menganga, kode untuk diperlakukan sama seperti Ayah Hardi.
Pantas aja ngga dikasih sendok! Malah dikasih tisu. Ya ampun, pikir Ansa.
Ansa mulai menyuapi suaminya. Membuat pipi Jaro menggembung imut karena makanan dan senyumannya.
"Kamu juga ya!" Namun tangan Jaro lebih besar.
"Sayang! Dikit-dikit ih! Mulutku kecil!"
"Oh iya! Maaf, maaf." Setelah dikurangi, barulah Ansa menerima suapan dari Jaro.
Sekarang pipi mereka sama-sama menggembung dan tersenyum!
__ADS_1