
...“Mari kita mematai-matai mereka!...
...Karena tingkah mereka kembali mencurigakan,...
...Supaya masalah bisa diminimalisir.”...
Saat istirahat,
Ansa kembali mengobrol dengan Mei, setelah mereka fokus selama jam pelajaran. Dia ingin bertanya tetang hobi teman barunya ini, yang menurutnya sangat berbeda dari dirinya.
"Mei, kue-kue itu akan kamu jual di sini?" tanya Ansa.
"Iya, Sa! Sejak kelas lima SD, aku berjualan ini dengan cara menitipkannya di kantin sekolah di sini. Ayo, Sa! Kita ke kantin yuk!" tuturnya, dan segera mengajak Ansa ke luar kelas.
Ansa belum menjawab ajakan Mei, tapi temannya tersebut telah menarik dirinya. Teman baruku ini, cukup cerewet ya? pikir Ansa.
Jaro hanya menatap Ansa dan Mei yang melangkah ke luar kelas. Tiba-tiba Mei memanggil dirinya. "Ro!! Wahyu ada di luar kelasnya tuh!"
Kedua mata Jaro terbelalak dan dirinya bangkit dari tempat duduknya. Dia juga melangkah ke luar, menuju Mei.
Di luar kelas,
Wahyu memperkenalkan dirinya kepada Ansa. "Namaku Wahyu. Kamu, Hansaria si juara olimpiade dua tahun yang lalu, 'kan?" tanyanya.
"Iya, panggil Ansa saja, Wahyu," balas Ansa sembari tersenyum ramah.
Jaro melihat ketiga temannya yang saling mengobrol. Oh, lebih tepatnya usaha Wahyu untuk mendekati Ansa. Aku ngga boleh membiarkannya! protes Jaro dalam hati.
"Hei, Yu!!" seru Jaro.
__ADS_1
Ketiga temannya langsung menoleh ke arahnya. Wahyu tersenyum lebar dan melambaikan tangannya. Jaro segera menghentikan usaha pendekatan temannya tersebut kepada Ansa.
"Yu! Ayo ke kelasku yuk!" ajak Jaro, supaya Wahyu menjauh dari Ansa.
"Eh? Kamu ngga mau ke kelasku dan bertemu Sari? Kayaknya dia sedang merindukanmu di dalam kelas tuh!" goda Wahyu.
"Haha! Tuh Ro! Kamu ditunggu Sari di kelasnya!" sambung Mei.
Dia merusak image-ku di depan Ansa! Huh! batin Jaro dalam hati, walaupun wajahnya terpaksa untuk tersenyum.
Oh, cowok pendek ini ternyata sudah punya pacar ya! Bagus deh, pikir Ansa yang hanya bungkam saat melihat teman-teman barunya tersebut asyik bercengkerama.
"Eh! Kita duluan ke kantin ya! Bye!" ucap Mei dengan suara melengking.
Mei segera menarik Ansa pergi dari hadapan Jaro dan Wahyu. Kemudian Jaro menarik Wahyu ke kelas Wahyu.
"Lah, tadi katamu mau ke kelas mu, Ro? Kok sekarang kita masuk ke kelas ku?" protes Wahyu.
Di kelas,
Wahyu menunjukkan tempat duduknya dan segera menyuruh Jaro untuk duduk di sampingnya. Di sana, semua teman sebayanya menyapa Jaro, dan dia hanya membalas dengan senyuman ramah.
Salah satunya adalah Sari, yang sempat menjadi gadis pujaan di hati Jaro. "Jaro!! Kamu kok ngga sekelas denganku lagi sih? Huhu," keluhnya.
"Aku juga ngga tahu, Sari. Semuanya sudah diatur oleh pengurus sekolah ini," jawabnya dengan lembut.
Aku masih sangat gugup untuk berbicara dengannya. Apakah cinta bisa membuat manusia seperti ini? ucapnya dalam hati.
"Kenapa kamu ngga memintanya ke ayahmu, Ro?" tanyanya lagi, dengan raut wajah sendu.
__ADS_1
"Ngga semudah itu, Sari. Ayahku ngga mungkin mau mendengarkan pendapat pribadi, apalagi dari aku yang cuma seorang diri," jelasnya.
"Ish! Tapi kamu sekelas dengan Hansaria, si model cantik itu, 'kan? Dasar ya. Dan oh! Saat kelas enam, kamu pernah cerita kalau kamu sudah berkunjung ke rumah Hansaria, 'kan? Ngaku lu!" seloroh Wahyu.
Sari hanya menunduk, dan berkata, "Oh, jadi kamu meminta ke ayahmu supaya sekelas dengan wanita model itu," lirihnya.
"Kagak! Kebetulan aja aku dan Ansa sekarang masuk di kelas yang sama," protes Jaro. Apakah Sari cemburu? Kalau iya, berarti dia menyukaiku? batinnya yang bertanya-tanya.
Di kantin,
Mei telah meletakkan keranjang biskuitnya di salah satu lapak dalam kantin. Setelah memesan makan siang, mereka segera duduk di tempat yang telah disediakan.
Ansa memulai obrolan dengan Mei. "Mei, kenapa kamu berjualan kue? Em, maksudku apakah orang tuamu juga berjualan kue?"
"Ngga, Sa. Ayahku seorang polisi, dan ibuku seorang pelukis. Keluargaku tidak semapan itu, mangkanya aku berinisiatif untuk berjualan kue. Walaupun ibuku seorang pelukis, tapi beliau jago masak loh! Setelah memasak makanan, biasanya ibuku langsung mendapatkan inspirasi untuk melukis makanan tersebut!" jelas Mei dengan akurat.
Wah, pebisnis muda. Keren! batin Ansa sembari tersenyum.
"Kalau kamu, Sa? Ibumu seorang model, lalu ayahmu bekerja sebagai apa? Oh oh, aku tahu! Hardiyata adalah nama ayahmu, 'kan? Dan salah satu petinggi perusahaan petani modern itu adalah ayahmu, pak Hardiyata. Benarkan?" ucapnya dengan semangat.
Ternyata Mei suka bertanya dan menjawabnya sendiri, haha! pikirnya.
"Iya, benar Mei," jawabnya singkat.
Mereka kembali mengobrol dan membahas tentang diri mereka, supaya lebih akrab. Ansa baru tahu bahwa lukisan di sanggar adalah hasil tangan dari ibunya Mei. Sedangkan Mei baru mengetahui bahwa ibunya Ansa memiliki sanggar, sehingga dirinya ingin bergabung menjadi anggota sanggar.
"Kapan nih, kita ke sanggar? Aku ingin bergabung dengan seni lukisnya hehe," tanya Mei.
"Kalau Hari Sabtu? Apakah kamu bisa, Mei?" tanya Ansa, dan Mei menganggukkan kepalanya.
__ADS_1