
Keesokannya, sore hari di aula pesantren.
Ansa duduk bersama teman-teman pesantrennya. Mereka semua sedang menunggu waktu salat magrib, dengan mendengarkan ceramah dari salah satu ustadzah.
"Kalian pasti sudah tahu mutiara yang kecil sekali itu, diambilnya dari kerang yang letaknya di dasar laut. Sehingga harga jualnya sangat wow! Bisa ratusan ribu, ya kan?" tanya ustadzah.
"Lalu kalian tentu pernah melihat kapal-kapal yang sangat besar itu, bisa mengapung dan bergerak di atas air. Di sini, ada yang belum pernah naik kapal?"
"Ternyata Allah SWT sudah menjelaskan itu semua di surat Ar-Rahman ayat 22 hingga 24. Coba tolong, bacakan ayatnya."
Salah satu santriwati membacakan ayatnya. Lalu membaca artinya dari ayat 22 hingga 24 secara berurutan.
"Dari keduanya keluar mutiara dan marjan."
"Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?"
"Milik-Nya lah kapal-kapal yang berlayar di lautan bagaikan gunung-gunung."
Setelah itu, sang ustadzah kembali bersuara. "Tadi kalian sudah mendengar, bahwa mutiara dan kapal juga termasuk kuasa atau nikmat dari Allah."
"Apakah pernah kalian berfikir ... mutiara itu bentuknya kecil, ringan banget, dan harusnya bisa mengambang di atas air, ya kan? Bahkan kerangnya pun harusnya mengambang di atas air. Tapi Allah justru membuatnya tenggelam di dasar laut."
"Sedangkan kapal-kapal yang beratnya bisa sampai 200 ton atau 200 ribu kilogram, harusnya secara logika kapal itu tenggelam dong! Tapi lihatlah di pelabuhan, Allah jadikan ia tak tenggelam, justru mengambang di atas air."
"Sekilas mungkin kita akan berfikir, logikanya mana ya?"
"Itu semua mirip seperti saat kita berfikir di suatu keadaan, ah! Sudahlah! Bakalan gagal ini! Ngga ada jalan keluar lagi! Kita sudah stuck, buntu, ngga bisa ngapa-ngapain dan kadang ada pemikiran putus asa untuk hidup."
__ADS_1
Ucapan ustadzah membuat Ansa mengingat saat dirinya merasa putus asa dengan menyayat tangannya.
"Hei hei! Coba ingat lagi ayat tadi. Logika tentang benda kecil yang mengapung dan benda berat yang tenggelam mungkin berlaku untuk kita. Tapi ngga berlaku buat Allah."
"Allah bisa banget menghancurkan semua pemikiran logis kita! Allah bisa mengubah semuanya loh!"
"Kita berfikir 100% akan gagal, tapi semua itu belum tentu gagal jika Allah tak menghendaki kita untuk gagal."
"Tetap ikhtiar, usaha semaksimal mungkin. Setelah itu tawakkal. Serahkan semuanya kepada Allah. Tambah terus, kayuh terus, panjat terus doa-doa kalian supaya selalu terkoneksi pada Allah."
"Jangan risau, takut, khawatir akan hal-hal yang belum terjadi ke depannya. Gak perlu nebak yang ngga-ngga. Duh gimana ya? Aduh nanti gini, nanti gitu. Ngga usah!"
"Do your best! And just leave it to Allah. Biarkan masa depan itu tetap menjadi rahasia dan kejutan dari-Nya. Tenang saja, ya?"
"Kalau kita sudah terkoneksi pada Allah, tahu tujuan hidup kita ini hanya untuk Allah, ngga bakal ada tuh mental illness. Atau penyakit mental yang sedang menyerang para insan jaman now."
Deg!
Ansa membuka lebar kedua matanya ke arah sosok ustadzah tersebut. Jadi gitu. Jawaban itu yang selama ini aku cari.
"Jika kita telah tahu dan yakin, bahwa Allah mengirimkan ujian hanya untuk membalas kesalahan kita, atau menguatkan kita," lanjut ustadzah.
"Ngga bakal ada tuh yang namanya risau, galau, gundah gulana karena dikit-dikit ingat Allah. Dikit-dikit dzikir dan nyebut Allah."
Mata Ansa berkaca-kaca. Terima kasih, karena sudah menjawab pertanyaan hamba, ya Allah.
"Hingga akhirnya, kita tahu. Mana yang harus kita kejar : cinta kasih perhatian manusia ... atau cinta Allah sang Ar-Rahman Ar-Rahim?"
"Ingat ya, Allah itu Maha Kuasa. Maha Penyayang, Maha Pengasih. Kok bisa sih, berharap ke manusia yang belum tentu bisa menepati janji?"
__ADS_1
"Sebenarnya, itu pilihan kita. Tapi apakah semua orang ingin sedih, cemas dan ngga tenang? Pasti ngga mau dong! Kalau bisa sih diusahakan supaya sedihnya berkurang."
"Caranya berbeda-beda. Tapi menurut Allah, cara yang terbaik adalah dengan ...."
Semua menyebut surat Al-Baqarah ayat 152 yang memiliki arti, 'Maka ingatlah kepada-Ku, Aku pun akan ingat kepadamu. Bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu ingkar kepada-Ku.'
"Iya! Betul! Mengingat Allah. Serius."
Ustadzah mengakhiri ceramahnya, dan dilanjutkan ke sesi tanya jawab.
Ansa tertunduk, mengingat bahwa dirinya banyak sekali dosa, ditambah banyak sekali yang baru ia ketahui tentang Sang Pencipta.
Ini alasan Engkau memasukkan hamba ke pesantren. Hamba hanya butuh mendekat kepada Engkau, karena ada ketenangan yang Engkau berikan. Alhamdulillah ....
Setelah menemukan jawabannya, Ansa sangat rajin mengikuti kegiatan di pesantren. Pembagian waktu dengan kuliah pun terasa lancar. Dirinya tak mencemaskan apa yang akan terjadi, yang penting usaha untuk sungguh-sungguh meraihnya.
Namun satu hal yang membuatnya mulai khawatir. Yang Ansa tahu, Jaro juga bukan dari keluarga yang alim.
Ansa putuskan untuk bertanya kepada Bu Aisyah bagaimana cara memberi tahu atau berdakwah kepada keluarga sendiri.
Selain itu, setiap Ansa mendengarkan ceramah, dirinya akan mencatat hal-hal yang penting. Supaya dirinya tak keliru dan bisa membacanya kembali.
Aku gunakan kecerdasan ini untuk memahami Engkau. Karena Engkau yang telah memberikan ini semua.
Maaf, maaf ya Allah. Maafkan semua kesalahan kami yang masih jauh dari-Mu.
Ansa pasrah kepada-Nya di saat sujud salat sepertiga malamnya. Dia berharap Sang Pencipta bisa mengampuni dirinya dan orang-orang yang menyayanginya.
***
__ADS_1