Cherophobia Swan

Cherophobia Swan
Bab 31 Support System


__ADS_3

Di follow gaes 😁



...“Kita harus bersama untuk menyerang mereka!...


...Mereka harus ditaklukkan!”...


"Halo? Iya Mas?" Jaro memfokuskan dirinya untuk mendengarkan kakaknya berbicara.


"Besok lusa, aku akan menghadiri panggilan sidang dari pengadilan itu, Ro. Kalau kamu ngga bisa ikut, ya ngga apa. Jagain sekolah kita, hehe. Dan juga jagain istrimu itu, haha!" ujar Deniz lewat telepon.


"Ini aku sedang menjaganya. Terus Mas, gimana dengan masalah pak Hardi? Apakah sudah beres?" tanya Jaro yang masih berdiri dan bersandar di pintu kamar mandi.


"Tadi aku sudah menghubungi paman Lovi. Paman bilang kalau berita fitnah itu sudah hilang! Benar-benar hilang karena semuanya sedang asyik membaca berita pernikahanmu!"


"Itu ide istriku. Ternyata kami ngga bisa menutupinya. Hm."


"Iya, tenang aja, Ro. Aku juga baru saja mendapatkan video yang menunjukkan plat nomor motor si mantannya Ansa itu. Siapa namanya?" ujar Deniz.


"Buaya danau ...."


Setelah menelpon, Jaro mengambil handuk di lemari. Lalu ia masuk ke kamar mandi.


"Kamu kalau marah, jangan kayak gini dong." Suaranya menggema di dalam kamar mandi.


Ternyata Ansa mengurung diri di kamar mandi. Dia duduk terdiam di bawah guyuran air shower.


Jaro menggendong Ansa bak bayi yang telah dimandikan ke luar dari kamar mandi. Dirinya menurunkan wanitanya secara perlahan di atas kasur.


Ansa membuang mukanya. "Pergi. Aku mau ganti baju."


Jaro bersimpuh di bawah Ansa, sembari memegang pipi istrinya. "Jangan percaya ibu, Sa. Please~"


"Kenapa? Bisa jadi kamu yang bohong dan mirip seperti mas Ranu, 'kan?"


Jaro mendekatkan wajahnya. "Besok lusa mas Deniz akan menghadiri sidang ibu, Sa. Aku baru diberitahu tadi olehnya. Aku ngga akan mencegah—"


"Ya tapi setelah ini kamu bakal menyiks—" Ucapan Ansa terhenti karena bibirnya telah dibungkam oleh Jaro.


"Berhenti!!" Ansa mendorongnya. "Bentar, Ro. Huhu!" Dia memeluk suaminya sembari menangis.

__ADS_1


"Ma-af." Kedua tangan Jaro mengusap-usap rambut panjang yang masih basah.


"Aku bingung."


"Kebohongan ku dari dulu hingga sekarang adalah aku menyembunyikan tentang ibuku, Sa. Dan juga ... aku yang mulai menyukaimu sejak awal kita bertemu."


"Aku sudah tahu ...." bisik Ansa.


Ansa meminta Jaro untuk naik ke atas kasur. Mereka kembali dimabuk cinta dan bersatu.


Malam hari,


Jaro membawakan makanan untuk Ansa. Di kamar, dirinya menyuapkan sedikit demi sedikit makanan ke dalam mulut Ansa.


"Aku menunggu kamu jadi gendut!" seloroh Jaro.


"Jahat! Ya sudah sini! Cepetan suapin aku!" Ansa kembali membuka mulutnya.


Setelah makanan dalam mulutnya telah ditelan, Ansa mengucapkan, "Habis ini aku mau belajar, Ro."


"Istirahat, Sa. Ngga usah dipaksa buat terlalu fokus belajar."


"Terus kalau aku ngga bisa jawab semua soal di ujian, gara-gara aku ngga belajar karena sakit, salah siapa coba?"


"Oh gitu. Dari kemarin yang godain aku dan ngebujuk rayu aku, sampai aku lemes, siapa ya?"


"Serba salah aku tuh. Ya sudah, habis ini kita belajar bentar ya?" balas Jaro.


Ansa mengangguk dengan kencang disertai matanya yang berbinar-binar.


Setengah jam kemudian, mereka berdua telah duduk di atas kasur, sembari memegang buku pelajaran dan alat-alat tulis.


Ansa mencorat-coret untuk menuliskan jawabannya. Lalu giliran Jaro yang mengerjakan satu soal.


"Jaro ...."


"Hm?"


"Kamu mau punya anak sekarang? Di umur kita saat ini?" tanya Ansa. Dia sudah melupakan rasa malunya, karena ingin bertanya tentang rumah tangganya.


"Ngga, Sa."

__ADS_1


"Ya tapi! Kok kamu rajin banget—" Ansa memenggal ucapannya.


"Kamu terus menggodaku, " jawab Jaro dengan cepat. Dia masih fokus pada soal kimianya.


"Terus aku godain siapa lagi, kalau bukan ke suamiku? Ke mas Ranu?" ucap Ansa tanpa rasa dosa.


Jaro menoleh ke istrinya. "Tadi kamu ngajak aku belajar, sekarang ngajak aku debat. Bentar ya, Sa. Aku selesain belajarku dulu. "


"Oke," lirihnya. Sejenak mulut Ansa bungkam, tapi tangannya mengelus rambut Jaro. Bahkan mencubit pipi suaminya.


"Ansa ... ya ampun." Jaro mulai risih, tapi tetap melembutkan suaranya.


"Kamu belum jawab pertanyaan ku."


"Yang mana?"


"Kita sudah menikah. Terus kita harus gimana? Punya anak atau—"


"Memangnya kamu sanggup? Ngga, 'kan? Kita pacaran aja dulu, dan pasti ngga bakal ada kata putus. Karena sudah terikat pernikahan."


"Terus kalau aku tiba-tiba hamil?"


"Hm ...." Jaro meletakkan bolpoin dan menutup buku pelajarannya. Lalu mendekatkan wajahnya.


"Kalau gitu, kita tinggal di rumah masing-masing aja. Biar kangen dan aku ngga mudah tergoda."


"Ta-tapi." Ansa menatap sendu dan menggeleng.


Jaro mendekap istrinya, dan juga mengecup pucuk kepalanya. "Kita masih harus mendapatkan restu dari keluarga kita."


"Tapi kalau jauh-jauhan ... kamu tahu sendiri, 'kan? Dulu aku dan mas Ranu sempat LDR. Dan kemudian, ternyata dia berubah."


"Aku bukan Ranu loh, Sa. Kamu ngga perlu khawatir, kita masih bisa terus ketemu di sekolah."


"Dasar bapak duta," oloknya.


"Dasar angsa," balasnya.


"Angsa masih setia ya, ke satu pasangan. Kalau duta tuh setianya di setiap tikungan ada. Ada banyak."


"Ngga, Sa. Jamario itu ... seingatku artinya tuh pelaut."

__ADS_1


"Berarti kamu hanyut dalam godaan ku."



__ADS_2