
Minggu depan, Hari Kamis.
Dari hari senin sampai saat ini, Jaro selalu keluar rumah menggunakan seragam SMA nya. Dia melakukan itu untuk berpura-pura berangkat sekolah di depan kakaknya.
Sedangkan Ansa sedang menikmati kebebasannya karena kepergian salah satu rivalnya, Jaro. Namun Sari dan gengnya tetap mengganggunya secara verbal dengan olokan-olokan.
Lalu, ke mana Jaro?
Setelah berpura-pura berangkat sekolah, dirinya menunggu Deniz berangkat ke kampus. Kemudian barulah Jaro kembali ke dalam rumah.
Namun Jaro tak meninggalkan kesibukan ekskulnya. Contohnya seperti ekskul basket yang diadakan hari ini.
Di lapangan basket,
Jaro telah menceritakan semua apa yang terjadi kepada sahabatnya, Wahyu, sejak minggu kemarin. Kali ini, Jaro kembali menjelaskan tentang rencana balas dendamnya.
Setelah latihan, para pemain basket beristirahat di dekat tribun penonton. Jaro segera menarik Wahyu supaya agak menjauh dari teman-teman yang lain.
"Apa sih, Ro?"
"Bantuin gua dong, please~" Jaro memohon dengan menyatukan kedua telapak tangannya.
"Bantu apa?"
Setelah menjelaskan rencananya, Jaro segera bangkit dan berlari menuju pelatih basket.
"Kak, Kak!"
Pelatih tersebut menoleh. "Ya?"
"Apakah saya boleh izin keluar dari basket, dan pindah ke ekskul lain, Kak?"
"Oh, boleh. Kamu mau pindah ke ekskul apa?"
"Renang," jawab Jaro.
Di kolam renang,
Jaro menghampiri dua kakak pelatih renang. Dia menjelaskan maksud dan tujuannya kemari. Hingga akhirnya, dirinya diperbolehkan untuk bergabung ke ekskul renang.
Tiba-tiba tatapan Jaro beradu dengan tatapan Ansa yang berada di dalam kolam renang.
Jaro menyeringai dan mengedipkan sebelah matanya. Sedangkan Ansa mengernyitkan dahinya. Di-dia ada di sini? Mau apa dia ke sini?!
"Semuanya!" pekik salah satu pelatih. Membuat semuanya yang berada dalam kolam segera menoleh ke arah pelatih tersebut.
"Hari ini kita kedatangan anggota baru di ekskul renang. Pasti kalian sudah kenal dengan dia. Ya! Duta Mandraguna tahun ini, Jamario!" Tangannya sembari menepuk pundak Jaro.
"Terima kasih sudah menerima saya di sini. Walaupun sebenarnya saya sangat telat untuk pindah ekskul ya? Hehe," ujar Jaro sembari menggaruk tengkuknya.
Beberapa wanita di kolam renang tak mengedipkan mata mereka karena melihat otot lengan dan keringat di dahi Jaro, membuat mereka terbius oleh ketampanan Jaro.
Bahkan Jaro mulai membuka kaos basket tanpa lengannya. Para wanita semakin terpana dan lupa cara berkedip.
Namun itu tak berlaku untuk Ansa. Dia menganggap ini sebagai ancaman, karena Jaro adalah rivalnya. Ya ampun!! Jaro punya rencana apalagi sih?!
__ADS_1
Pukul lima sore,
Semua telah berganti pakaian, kecuali Jaro yang duduk di pinggir kolam. Dia sedang mengeringkan diri, karena tidak membawa baju ganti.
"Jamario~" panggil salah satu wanita. Jaro menoleh ke sumber suara.
"Kamu ngga pulang?" lanjutnya.
Jaro tersenyum. "Kalian duluan saja. Aku masih mengeringkan pakaianku."
"Bye, Jamario." Gerombolan para wanita tersebut mengucapkan selamat tinggal kepada Jaro dengan suara yang sedikit menggoda.
Jaro tersenyum lebar dan kembali menatap air kolam. Menurutnya, sudah menjadi hal yang wajar jika banyak yang menyukai dirinya. Akan tetapi, ketenaran ini membuatnya bingung memilih karena semuanya cantik.
Atau aku cintai saja semuanya? Haha! batinnya.
Sekelebat kain mendarat dan menutupi kepala Jaro. Tentu saja Jaro refleks memekik, "WOI!!"
Jaro menarik kain lembut tersebut supaya dirinya dapat melihat apa yang dilempar dan siapa yang iseng melemparnya.
"Tutupi tubuhmu dengan itu. Dasar penggoda," seloroh wanita tersebut.
Mata Jaro melihat tangannya yang menggenggam handuk kuning. Lalu pandangannya beralih ke suara wanita tersebut.
"Oh, ternyata ada angsa di sini." Jaro bangkit dan melangkah maju.
Kolam renang telah sepi, karena para anggota ekskul ini telah pergi. Hanya tersisa mereka berdua.
Jaro terus melangkah maju ke arah Ansa. "Aku penggoda? Maaf, ngga ke balik?"
"Cih." Jaro menunduk dan menatap lekat wajah Ansa. "Jadi benar ya ... ternyata bagimu, si Ranu itu masih kurang."
"Mas Ranu sudah cukup untukku!"
"Yup! Angsa dan buaya danau, sudah cocok kok," seloroh Jaro.
"Jangan lupa, kamu pernah mencium ku. Apa itu artinya kamu menyukaiku?" tanya Ansa dengan rasa percaya diri yang tinggi.
"Kenapa kamu berpikir seperti itu? Kenapa kamu ngga curiga kalau aku memang sering melakukan itu kepada yang lainnya?" balas Jaro.
Kenapa kamu begitu bodoh, Sa?! Ih! batin Ansa yang menyumpahi dirinya sendiri.
"Jangan lupa, aku adalah Duta Mandraguna. Jadi aku bebas menyukai siapapun."
"Kamu juga harus ingat! Aku adalah model di kota ini! Ak—"
"Iya iya. Dan kamu berhasil menggoda para buaya di luar sana, 'kan?"
Ansa mengibaskan rambut basahnya. Cipratan airnya mengenai wajah hingga dada Jaro.
"Heh! Kamu kenapa sih?!" protes Jaro.
"Apa? Sudah mulai tergoda? Atau kurang?" cecar Ansa.
Ansa membuka resleting jaketnya. Namun Jaro langsung melempar handuk kuning ke arahnya.
"Jangan menantang ku, Sa!!" pekik Jaro.
__ADS_1
Ansa terkejut dengan reaksi Jaro. "Kamu duluan yang menantang ku dengan datang ke sini, Ro!!"
"Suka-suka aku mau ke sini atau ke sana! Ini sekolahku!!" balas Jaro. Dia merebut handuk tersebut dan langsung pergi.
Ansa merapatkan rahangnya dan mengepalkan kedua tangannya. Dia itu manusia atau hantu? Walaupun sudah mendapat hukuman, tapi masih saja berkeliaran di sekolah!
Ansa tak mempermasalahkan handuknya diambil oleh Jaro. Karena handuk kuning tersebut memang sering ia bawa untuk antisipasi jika Jaro beserta Sari dan gengnya kembali menyiram dirinya dengan air comberan.
Malam hari,
Ansa dan Bibi Ning menikmati makan malam bersama. Kemudian, bau gosong tercium oleh hidung Ansa. Dia segera menoleh ke arah kompor.
Kompornya sudah dimatikan. Hm, mungkin bau asap dari membakar sampah, pikir Ansa.
Tiba-tiba suhu di tempat mereka menjadi panas, dan mulai pengap. Ansa dan Bibi Ning saling bertatapan serta sama-sama mengerutkan dahi.
"Kok panas banget ya, Bi'?"
"Ngga tahu, Sa. Mungkin bentar lagi mau hujan."
"Bibi!! Ada asap dari ruang tamu!" pekik Ansa.
Mereka langsung bangkit dan berlari menuju ruang tamu. Sampai di sana, ternyata sumber asap bukanlah dari ruang tamu.
Namun dari pelataran di depan pintu masuk rumah Bibi Ning. Api besar menyambar kayu-kayu atap dan tiang penyangga dari pelataran.
"Bibi! Bibi!! Kita harus gimana?!" Ansa panik karena baru pertama kali dirinya melihat langsung kebakaran di depan matanya.
"Bentar, Sa! Bibi akan hubungi paman Dipta!"
Beberapa menit kemudian, para warga kampung mulai berdatangan untuk membantu memadamkan api. Ansa dan Bibi hanya bisa menunggu di dalam rumah. Untunglah rumah Bibi Ning tak ikut hangus dilalap api.
Apakah ini kelakuannya? Kalau iya, dia sudah kelewatan! pikir Ansa.
Dari jauh, dua sosok berjaket hitam dengan hoodie-nya sedang berjongkok di dekat satu motor. Mereka asyik menonton ramainya para warga kampung yang mengerumuni sanggar.
"Ku kira kamu akan menghanguskan semuanya, Ro."
"Ngga, Yu. Aku hanya ingin penghuni pelataran itu bisa menyadari tingkahnya ... dan juga ngga berani menantang ku lagi."
Pukul sembilan malam,
Rumah Bibi Ning masih dikerumuni oleh beberapa orang yang khawatir kepada sanggar. Mereka merasa ada yang telah sengaja membakar pelataran sanggar, karena selama seabad belum pernah terjadi kebakaran di sini.
Ansa duduk di ruang keluarga, bersama Ranu. Dia memeluk erat Ranu dan memejamkan kedua matanya. Isakannya masih terdengar.
"Aku di sini, Sa. Sudah. Cup, cup." Tangan Ranu sembari mengusap punggung Ansa.
"Sebenarnya, kamu ada masalah apa dengan anak pemilik sekolah Mandraguna? Kayaknya dari dulu pas SD, kalian sudah bertemu dan punya masalah pribadi, ya kan?"
Ansa mengangkat kepalanya. "Dia membenci mamaku. Dan juga membenciku, Mas ...."
***
__ADS_1