
...“Permintaanku cukup sederhana,...
...Kamu selalu di sisiku, mencintaiku,...
...Mendukung rencana ku untuk membuatnya jera!”...
Ansa mengangguk dan menatap ke arah Bibi Ning. "Ranu Widagda."
"Maaf, maaf. Bibi memang pelupa, maklum sudah tua," balas Bibi.
"Ada apa, Bi? Sepertinya Bibi agak kaget dan langsung tahu pak Widagda?" tanya Ansa.
"Seingat saya, paman Dipta pernah cerita tentang keluarga Widagda yang sempat tak punya apapun. Hingga akhirnya Hardi, ayahmu, mengajaknya bergabung ke perusahaan."
"Paman Dipta sempat merasa ada yang aneh dengan pak Widagda. Kenapa? Karena dulu saat masih sekolah, Hardi suka diganggu oleh Widagda. Bukan mengganggu lagi, tapi di-bully," ucap Bibi.
Ansa melirik ke arah Jaro, sembari pikirannya melayang kembali ke masa SMP.
"Lalu saat dewasa, Widagda kehilangan keluarganya karena kecelakaan. Lagi-lagi itu karena ulah Hardi yang masih menyimpan dendam kepadanya."
"Itulah yang membuat pamanmu merasa aneh. Mereka akhirnya bisa bekerja sama di satu perusahaan," ujar Bibi Ning.
"Mengerikan," gumam Ansa.
"Apa salahnya sih, untuk ngga usah berantem? Ya ampun," balas Jaro.
"Jaro ... jangan lupa ya. Kamu pernah membakar pelataran," kata Bibi.
Deg!
Jaro membelalakkan bola matanya. "Ma-af, Bi. Waktu itu saya masih kesal dengannya." Tangannya menunjuk ke arah Ansa.
"Apa?! Hah!" Ansa meletakkan kedua tangan di pinggangnya, seakan menantang Jaro.
"Ya sudah," ucap Bibi dengan pelan.
"Nanti saya minta ke ayah saya untuk memperbaikinya, Bi." Jaro segera menunduk.
Kemudian Jaro berpamitan pulang kepada mereka. Dia menyalami Bibi Ning, dan mengecup kening Ansa.
Malam hari, di rumah Jaro.
Jaro kembali bertemu dengan Deniz dan ibunya. Kini dia diinterogasi oleh mereka berdua. Oke, ngga apa.
"Dari kemarin kamu ke mana? Seharian dia ngga pulang loh!" seloroh ibu.
"Terus tadi pagi dia izin sekolah loh! Ya ampun," lanjut beliau.
__ADS_1
Deniz menatap lekat wajah adiknya. "Kamu ke mana aja?"
"Kemarin aku menginap di sanggar dan menemui Ansa."
"Oh, minta maaf? Pasti ngga bakal dimaafin, karena Ibu yang sudah menghabisi ibunya," balas ibu.
Diam-diam Jaro mengepalkan tangannya. "Bu. Bisa ngga sih, ngga menyepelekan kesalahan yang sudah Ibu lakukan?"
"Ansa mau memaafkan mu, Ro?" tanya Deniz.
"Iya, Mas." Jaro baru ingat bahwa dirinya belum mengatakan tentang ibunya kepada Ansa.
Pukul sepuluh malam,
Jaro mengetuk pintu kakaknya. Setelah mendapat izin, dirinya memasuki kamar.
"Ada apa, Ro?"
"Mas, aku—"
"Oh iya! Sebentar, Ro."
Deniz mengacak isi tasnya, lalu memberikan secarik kertas. Selain itu, dia juga mencari sesuatu di dalam laptopnya.
"Apa ini?"
"Shh! Pelan aja Mas."
Deniz menjelaskan semua yang ia dapatkan kepada Jaro. Mulai dari arti coretan kertasnya hingga file-file di laptopnya.
Intinya adalah : mereka berdua bisa membawa ibu untuk menggantikan posisi ayah.
Sejam kemudian,
Mereka telah selesai membahas rencana untuk melaporkan bukti tersebut ke kantor polisi. Deniz menyuruh Jaro untuk segera tidur.
"Mas sudah selesai magang? Tapi kok cuma dua bulan?" tanya Jaro.
"Oh belum kok! Aku cuma pulang untuk memberitahu ini, dan membebaskan ayah. Hari Minggu, aku akan kembali ke penginapan lagi."
"Iya, Mas." Jaro melangkah pergi menuju pintu.
"Jaro." Panggilan Deniz membuat Jaro membalikkan badannya.
"Aku tahu kamu memang pintar merayu, tapi gimana caranya kamu bisa meyakinkan Ansa setelah kamu memfitnahnya?"
Kenapa kakakku sangat pandai di saat seperti ini? Aku harus jawab apa? batin Jaro.
"A-aku mencegahnya yang ingin bunuh diri," lirihnya.
__ADS_1
"Oh ya? Wah, kamu sudah menyakitinya! Selamat!"
"Anda jangan ikutan stres ya. Haduh," balas Jaro.
"Eh tapi serius nih, gimana caranya? Terus kamu sudah bilang kalau pelakunya adalah ibu kita?" cecar Deniz.
Jaro semakin bingung menyusun kata-kata. Dulu, kakaknya lah yang masih sibuk merangkai kata-kata yang bisa diterima oleh adiknya.
Namun sekarang, Jaro yang menjadi bingung untuk menjelaskan semua yang telah terjadi, kepada kakaknya.
"Aku belum bilang, Mas. Karena belum ada bukti dari Mas Deniz. Mas tahu sendiri, 'kan? Ansa ngga mudah percaya kalau belum ada bukti."
"Lah ya itu, Ro ... kok bisa dia langsung memaafkan mu?"
"Mungkin dia sudah lelah berdebat denganku," jawab Jaro.
"Ro, jangan bohong ya."
Deg!
"Hm?" Jaro berusaha tak terlihat panik dengan tetap memasang wajah datar.
"Tadi saat kamu datang, kamu menggunakan jaket. Tapi sekarang, sangat terlihat jelas. Tuh di lehermu!"
Jaro menunduk, mencari apa yang terjadi pada lehernya. "Apaan sih? Ada apa di leherku?"
Deniz memegang pundak Jaro. Tinggi badannya kini lebih pendek daripada adiknya. Membuatnya mendongakkan kepala.
"Nih loh," ujar Deniz sembari menyentuh bekas merah. "Nyamuk pun ngga akan menggigit hingga membekas seperti ini, Ro. Ck ck ck."
"Ini ... ini Ansa yang menggigitnya, Mas."
Plak!
Jaro mengelus pipinya, dan menatap wajah Deniz yang menahan amarahnya.
"Berani sekali kamu, Ro!!" bentak Deniz.
"Aku ngga bisa menahannya. Dia, dia menggodaku, Mas."
"Halah, alasan aja itu! Dasar kepar*t!!" Deniz mengangkat tangannya lagi, namun terhenti.
"Ayo, Mas. Terusin aja."
Deniz merapatkan gigi-giginya. "Akalmu ke mana sih? Kamu ingin seperti ayah yang terjebak oleh penggoda dan akhirnya masuk penjara?!"
"Tapi ini beda, Mas! Awalnya aku hanya ingin meminta maaf kepadanya. Setelah sampai di sana, aku justru melihat Ansa yang mulai menyayat nadinya ...."
__ADS_1