
Di sekolah,
Perang diam di antara mereka berdua hampir pun terjadi. Ansa masih mengingat ucapan Jaro yang menyakiti hatinya. Sehingga dia membuang mukanya supaya tak melihat rupa Jaro.
Namun Jaro justru menghadap ke arah Ansa. Dia bertanya tentang ibunya Ansa.
"Memangnya kenapa? Kamu ngga akan peduli 'kan?" dalih Ansa.
Jaro menghela nafasnya. "Ibuku sudah tahu tentang kunjungan ayahku ke hotel, Sa," bisiknya.
"A-apa? Serius? Kemarin mas Deniz memang bilang kalau dia akan melaporkan itu ke ibu kalian," balas Ansa.
Jaro mengangkat jempol kanannya, menandakan bahwa kakaknya telah berhasil melaporkan hal tersebut. Ansa kembali menatap wajah Jaro, dengan tatapan sendu.
Apa Sa? ucap Jaro dalam hati. Alisnya bergerak naik sedetik saat menatap Ansa. "Hm?" tanya Jaro.
Ansa menggeleng, kebingungan menyelimutinya. Dia ingin sekali bertanya kepada temannya tersebut. Mau sampai kapan mereka bertiga menyerang orang tua mereka sendiri? Apakah selamanya? Apakah akhirnya ibunya dengan ayahnya Jaro dan Deniz bisa saling merelakan rasa cinta mereka?
Di kantin,
Jaro menikmati jus alpukat, tanpa memesan makan siang. Saat ini dirinya sedang tidak berselera makan, tapi Yono memintanya untuk menemaninya duduk di kantin.
"Ada apa sih, Ro? Tumben banget kamu ngga mau bergabung dengan Ansa dan Mei."
"Aku ada masalah dengan keluarganya, Yon. Ah salah. Keluargaku yang sedang bermasalah dengan keluarganya. Aku jadi heran, kehidupan orang dewasa ternyata sangat rumit ya?" keluh Jaro.
Tiba-tiba, handphone-nya berdering. Jaro mengangkatnya. "Halo Mas?"
__ADS_1
"Kamu masih di sekolah?" Pertanyaan kakaknya mendapat jawaban iya dari Jaro.
"Tolong cegat ayah supaya beliau tak cepat pulang! Saat ini, di rumah sedang ada bu Roro yang ingin menemuinya!" pinta Deniz.
"Lo-loh, Mas Deniz kok bisa di rumah sekarang?"
"Iya, Ro! Ibu meneleponku untuk cepat pulang. Ternyata ibu ingin aku cerita semua tentang perselingkuhan ayah dengan bu Roro!"
Tubuh Jaro bergetar, diselimuti rasa cemas. "Apa yang bu curang itu lakukan di rumah kita, Mas?"
Deniz tak perlu menceritakan semua yang terjadi, karena suara ribut antara ibu mereka dan Bu Roro terdengar oleh Jaro melalui telepon.
"Ma-Mas. Itu mereka lagi berantem?"
"Iya, Ro. Para asisten mereka masing-masing sedang mencoba melerai mereka berdua."
Ansa berjalan menyusuri lorong-lorong kelas, yang tak terlalu ramai oleh lalu lalang para murid. Dirinya memang sengaja keluar kelas paling akhir karena malu. Malu jika ada teman-temannya yang masih mengingat kejadian kemarin saat dirinya menangis.
Langkah kakinya terus bergerak, sembari kedua matanya melihat lurus ke depan. Tiba-tiba handphone-nya berdering. Membuat Ansa memperlambat langkahnya dan sibuk menerima telepon.
"Ya. Maaf ya Bi. Hari ini aku ijin ngga latihan di sanggar. Aku harus menjaga mama," tuturnya.
Saat sesi telepon masih berlangsung, pandangan Ansa beradu dengan seorang pria yang keluar dari ruang rapat. Pria tersebut tidak sendiri, karena diikuti oleh Jaro di belakangnya.
Jaro?! Oh, itu ayahnya ya? Tak bolehkah aku memukulnya sekarang?! Akh!! pekik Ansa dalam hatinya.
Ansa memilih mundur dan berputar mencari jalan lain, supaya tidak berpapasan dengan Jaro dan ayahnya.
__ADS_1
Sore hari,
Deniz menyambut ayah dan Jaro yang baru saja sampai di rumah keluarga Daghiawi. Kakaknya tersebut tersenyum tipis. Walau Jaro melihat mata Deniz yang sayu.
"Ibu sekarang di mana, Niz?" tanya ayah.
"Ibu lagi di kamar, Yah. Lagi tidur," jawabnya.
Lalu ayah melepas penatnya dengan duduk santai di sofa. Beliau menonton televisi sejenak, sembari menghidupkan laptop yang diletakkan di atas meja.
Jaro dan Deniz segera pergi ke kamar. Mereka saling mengobrol dengan suara lirih, khawatir ayah mereka bisa mendengar.
"Tadi ... apakah ibu mengusir bu curang itu, Mas?"
"Iya, kurang lebih seperti itu. Tadi aku benar-benar menonton langsung dua wanita yang memperebutkan satu pria. Haduh, ba*ingan seperti itu bisa diperebutkan juga ya?" keluh Deniz.
"Kalau ibu sih, wajar aja ya. Kalau bu curang itu, kurang dihaj*r, Mas." Sembari tangannya melipat di atas perutnya.
"Jangan pernah memukul seorang wanita, Ro. Yang harusnya dikasih pelajaran, ya ayah kita." Ucapannya disertai senyuman tulus.
"Oh ya! Setelah ini, giliran kita yang harus bersiap menghadang di depan pintu kalau bu Roro datang lagi! Pokoknya ayah dan bu Roro tidak boleh bertemu," tutur Deniz.
"Aku berharap, semoga Ansa bisa menjaga ibunya supaya ngga datang lagi ke sini, Mas. Atau sekarang, aku hubungi dia ya?" tanya Jaro.
Deniz menggelengkan kepalanya. "Aku yakin Ansa melakukan itu. Menjaga ibunya supaya ngga keluar dari rumah mereka. Apalagi ibunya hamil, 'kan? Jadi harus banyak beristirahat!"
__ADS_1