Cherophobia Swan

Cherophobia Swan
Bab 32 Keadilan


__ADS_3

...“Siapapun yang melakukan kesalahan,...


...Mereka harus mendapatkan hukumannya!”...


Esok hari, Jumat pagi.


Matanya terbuka perlahan, lalu melihat langit-langit berwarna putih. Tangannya terasa digenggam oleh seseorang.


"Akh," lirihnya. Dia mencoba untuk duduk, tapi gagal. Kemudian ia menggerakkan kedua kakinya. Dia merasa lega.


Kini ia menoleh ke Ansa. "Sayang, bangun yuk."


Ansa terbangun dan melihat suasana orang-orang di sekitarnya yang sedang menangis. "Ada apa ini?!"


"Sayang, lepaskan tanganmu darinya. Bentar lagi ia akan dimandikan dan dibalut dengan kain putih," ujar ayah.


Ansa melihat ke arah Deniz. Terlihatlah Deniz yang meneteskan air mata. "Aku yang salah! Aku ngga bisa menyelamatkannya! Hiks."


Ansa menoleh ke arah Jaro. Bibir suaminya telah membiru, wajahnya telah memucat. "Jaro? Ngga, ngga mungkin. Jaro masih hidup. Dia cuma tidur!"


"Ro! Bangun Ro! Ro! Kamu tega ninggalin aku! Huhuhu!"


Deg!


Ansa membuka matanya dan kepalanya terangkat. Dirinya menoleh ke arah Jaro.


"Sa?" Jaro mengerutkan dahinya. "Tadi kamu mimpi buruk ya?"


Mata Ansa berkaca-kaca. "Jadi, yang ini bukan mimpi? Kamu sudah bangun?"


Tangannya menyentuh pipi Jaro. Setelah yakin, dirinya melingkarkan lengannya ke bahu Jaro dan menyandarkan dagunya di bahu Jaro.

__ADS_1


Ansa kembali menangis. "A-aku mimpi kalau kamu ninggalin aku."


"Iya, iya. Ngga apa kok. Aku masih di sini, 'kan?"


Ansa melepas dekapan, dan membantu Jaro untuk duduk dengan nyaman. Tangannya tetap menggenggam tangan Jaro.


"Kenapa, Ro. Kenapa kamu mau membantu papa?"


"Aku ingin mendapat restu darinya. Karena ... aku pernah mengambil mu diam-diam dari papa. Itu membuatku semakin merasa bersalah, mangkanya aku berusaha membantunya." Jaro tersenyum manis. Membuat Ansa lebih tenang.


"Terus, kenapa mas Deniz juga mau menolong papa, Ro? A-aku ngga ngerti. Kalian cepat sekali merencanakan itu semua. Walaupun semuanya ngga sesuai rencana sih."


"Oh ya? Jadi buaya danau dan ayahnya itu masih bisa lolos?" tanya Jaro.


"Aku ngga tahu. Aku cuma mikirin kamu. Lagipula nih ya, masih ada pamanku, paman Dipta dan kakak sepupuku yang lulusan militer, Ro. Dia—"


"Papa sudah cerita semua itu ke aku," potong Jaro.


"Aduh!" Jaro menunduk dan melihat perutnya yang dibebat.


"Maaf, maaf! Kesenggol." Ansa mengelus perut Jaro.


"Ngga apa, Sa."


"Ya, Ro. Kenapa mas Deniz mau membantu papa?" lirihnya.


"Kalau aku, ingin mendapat restu dari papa. Kalau mas Deniz, dia ingin mencoba kecerdasannya bersiasat menggunakan teknologi. Dia ngga jauh beda dari mu, Sa. Sama-sama terlalu fokus!"


"Omongan tetap pedas ya," protes Ansa.


"Ayo bungkam aku. Chu~" goda Jaro.

__ADS_1


Ya ampun, masih bisa ngerayu ya, batin Ansa.


"Jadi dia mau nunjukin skill-nya ya? Bagus deh. Daripada yang ngga punya skill bela diri, malah nekat menyerahkan diri ke musuh!" sindir Ansa.


Oh gitu. Jadi dia menyindirku? pikir Jaro.


"Sa!"


"Hm?"


"Kira-kira aku bisa ngga ya, ikut ujian dua minggu lagi?"


"Kayaknya kamu bakal ujian di rumah sih. Nanti aku temani, Ro."


"Ternyata nikah ada gunanya juga ya, hihi!" gumam Jaro.


"Jadi kamu guna-guna aku, supaya aku jatuh cinta ke kamu?!" dustanya. Ansa ingin membalas guyonan suaminya.


"Iya dong! Dari dulu aku sudah bacain jampi-jampi di sanggar supaya kamu terus mendekat kepadaku. Aku juga nyanyi sambil mukul gamelan, biar kamu semakin terpikat." Candaan Jaro semakin membingungkan.


"Apaan sih, Ro? Aku jadi bingung. Mau ketawa, tapi ngga lucu. Ngga ketawa, aku kasihan ke kamu," selorohnya.


"Intinya, aku baru dapat pelajaran dari pernikahan kita ini, " ucap Jaro sembari bersandar di bahu istrinya.


"Apa?"


"Saling membutuhkan. Saling menjaga."


"Aku ngga mau merepotkan papa, kakak-kakak kita, bahkan ibu. Biarkan mereka istirahat di rumah. Mungkin setelah ini, mereka akan datang."


Jaro mendekatkan wajahnya. Ansa membiarkan suaminya merasakan cinta melalui ciuman mereka.

__ADS_1



__ADS_2