Cherophobia Swan

Cherophobia Swan
Biskuit Imut_3


__ADS_3

Di kantin,


Jaro melangkah kakinya bersama Yono masuk ke kantin. Mata mereka sama-sama menangkap kerumunan di salah satu lapak, dan terdengar suara khas milik teman mereka berdua.


"Ayo ayo semuanya! Ini adalah biskuit angsa kesukaan model muda di sampingku ini! Ya! Hansaria dengan wajah cantik dan tinggi semampai sangat menyukai biskuit ini! Ayo ayo dibeli!" ucap Mei dengan lantang.


"Oh, jadi dia ingin duduk bersama Ansa karena dia ingin biskuitnya laku ya?" gumam Jaro.


"Cerdik berbisnis ya, dasar si Mei," gumam Yono.


Jaro melangkah maju saat kerumunan para murid tersebut mulai menyusut. Dia mendekati dua temannya yang masih sibuk melayani beberapa pembeli. "Mei, Sa," panggilnya.


"Eh, Ro! Ayo sini! Nih tinggal satu biskuitnya, dibeli dong hehe," balas Mei.


"Ya sudah sini." Jaro mengeluarkan selembar uang dan ditukar oleh biskuit buatan Mei. "Gitu ya, Mei. Dapat teman, langsung diajak jualan," sindir Jaro.


"Iya dong! Tapi besok ngga kok. Karena semuanya sudah tahu! Aku yakin para pembeli ku pasti kembali ke sini untuk membeli biskuit-biskuit imut ku ini! Yippi!!" tuturnya dengan bahagia.


Ansa ikut tersenyum lebar saat dirinya telah menolong Mei dengan popularitasnya, hingga berhasil menjual habis semua biskuitnya untuk hari ini. Dia tersenyum tulus. Aku merasa bahagia, batin Ansa.


"Sa, sudah aku pesankan makanan dan minuman seperti yang kemarin. Sekarang kita duduk yuk!" ajak Mei.


"Eh, aku gabung dengan kalian ya?" pinta Jaro.


"Boleh, boleh. Ramai lebih asyik!" jawab Mei.


Mereka berempat segera mendaratkan diri di tempat duduk. Sejenak mereka hening, Ansa maupun Mei memainkan gadget masing-masing, Yono menyentuh dan melihat biskuit angsa, sedangkan Jaro melihat keadaan di sekitarnya.

__ADS_1


Setelah menghabiskan makan siang,


Kedua netra Jaro menangkap sosok temannya yang menatap tajam ke arahnya. Anak itu kesambet apa sekarang? Kenapa memicingkan mata ke arahku? batinnya.


Hingga telah dekat, temannya tersebut masih tidak tersenyum. "Kamu kenapa, Yu? Kok ngga senyum? Tambah jelek loh," olok Jaro.


"Mei! Kok kamu ngga bilang kalau jualan biskuit bentuk angsa? Aku ngga kebagian nih, huh!" protes Wahyu.


Oalah, hm, batin Jaro.


"Besok ya, Yu. Kalau ngga ingin kehabisan lagi, besok pagi kamu langsung ke kelasku! Oke bos?" balas Mei dengan senyum lebarnya.


"Ish, kenapa besok sih?" gumam Wahyu. "Ya sudah, besok aku beli satu ya!" pintanya.


Tiba-tiba Wahyu berbisik kepada Jaro. "Tadi di kelas, Sari membanting biskuit angsa itu. Terus dia langsung ke kamar mandi, kayak mau mewek gitu, Ro."


Wahyu hanya menggelengkan kepalanya, dan berpamitan pergi dari hadapan mereka berempat. Kemudian, bel masuk telah berbunyi dan membuat mereka berdiri dari bangkunya.


"Eh, kalian duluan ke kelas ya. Aku masih mau ke toilet sebentar. Bye," ucap Ansa.


"Iya Sa!" jawab mereka bertiga.


Ansa melangkah menuju toilet, sembari memikirkan bisikan Wahyu kepada Jaro. Ya! Dia mendengar semua tentang Sari, serta dirinya bisa menebak bahwa mungkin Sari tak suka dengan dirinya, hingga Sari berani membanting biskuit tersebut.


Di toilet,


Ansa mencari seseorang yang mungkin sedang marah maupun sedih. Oh! Atau yang akan menyerangnya karena perasaan benci kepada dirinya.

__ADS_1


Di sana, Ansa menunggu hingga salah satu dari pintu kamar mandi telah terbuka.


Cklak!


Mata Ansa bergerak ke arah pintu yang dibuka, dan menatap seorang perempuan yang ke luar dari dalamnya. Perempuan tersebut juga menatap Ansa tanpa tersenyum.


Saat Ansa akan masuk ke kamar mandi, langkahnya dihentikan oleh panggilan seorang perempuan.


"Hansaria, benar 'kan?" tanya perempuan tersebut.


"Iya, itu namaku. Ada apa?" balas Ansa yang berpura-pura tak mengerti apapun. Sepertinya perempuan ini yang bernama Sari, pikirnya.


"Ini biskuit mu jatuh," ucapnya sembari menyerahkan satu biskuit yang terbungkus plastik.


Ansa mengulurkan tangan kanannya untuk mengambil biskuit dari tangan perempuan tersebut. "Terima kasi—" lirihnya.


Namun dia melempar biskuit tersebut ke tembok. Ansa terkejut dengan sikap perempuan tersebut yang membuang biskuitnya.


Di sisi lain,


Jaro mengunjungi kelas Wahyu dan tersenyum ke arah temannya tersebut. "Yu! Sari di mana sekarang?" tanyanya.


"Masih di toilet, Ro! Dari tadi dia belum kembali ke sini," jawab Wahyu.


Jaro mengangguk dan melangkah kembali ke kelasnya. Sepertinya Sari cemburu karena kehadiran Ansa. Bisa-bisanya dia membanting biskuit bentuk angsa, hm, batinnya.


Bentar dulu! Tadi Ansa juga ke toilet, 'kan? Waduh! ucap Jaro dalam hati.

__ADS_1


***


__ADS_2