Cherophobia Swan

Cherophobia Swan
Selangkah Lebih Maju_3


__ADS_3

Ansa mengajak Jaro naik tangga, lalu menjejakkan kaki di atap rumah. Di sana sedang tak ada siapa pun, tapi mereka masih bisa melihat halaman, pepohonan, dan bangunan yang kesemuanya adalah milik sanggar.


"Jaro ...," panggilnya sembari menelan ludah. Aku harus mulai mengobrol dari mana? batin Ansa.


"Kenapa, Sa? Apa kamu sudah mengingatku sebagai pengintip mu dengan pak Ranu?" oloknya tanpa rasa dosa.


Spontan mata Ansa terbuka lebar, melotot ke arah Jaro. Untunglah ia sudah melepas lensa mata merahnya itu. Sangat menyeramkan, hii! pikir Jaro dalam hati.


"I-iya, Ro. To-long jangan bilang siapapun ya? Mas Ranu sudah meminta maaf atas kesalahannya, jadi kami sudah ngga seperti itu lagi," tutur Ansa dengan terbata-bata.


"Oh ya? Aku ngga yakin sih," jawab Jaro sembari tersenyum miring.


"Please, Ro. Waktu itu kamu cuma lihat sebagian. Karena setelah itu, dia meminta maaf kok. Jadi, tolong jangan ceritakan hal itu kepada siapapun ya? Kamu, mau aku melakukan apa? Uang? Atau, apa?" pinta Ansa dengan bujuk rayu dan wajah memelas.


"Aku akan diam, kalau kamu mau membantuku, Sa," jawab Jaro.


Ansa menatap mata Jaro dan mengangguk. "Iya, iya. Bilang saja, Ro." Ia menunggu perintah dari Jaro.


"Kamu yakin, bisa melakukannya?" tanya Jaro kembali.


"Siap, Ro. Aku bakal melakukan apa saja. Ayo katakan!" Ansa mulai membentaknya.


Sebenarnya Ansa merasa kesal dengan anak laki-laki pendek yang berdiri di hadapannya saat ini. Walaupun sebenarnya mereka seumuran.


"Jadi, ada sebuah cerita menarik. Ada seorang ayah yang memiliki keluarga kecil dengan istri dan dua anak. Di sisi lain, ada seorang ibu yang memiliki keluarga lebih kecil lagi, yakni dengan suami dan satu anak. Tiba-tiba, ayah dan ibu tersebut saling jatuh cinta!" tutur Jaro.


"Cerita apa itu?! Kenapa mereka berselingkuh? Padahal ayah dan ibu tersebut sudah punya keluarga masing-masing!" protes Ansa.


"Ya! Keluarga itu adalah keluarga kita, Sa!!" bentak Jaro dengan suara yang semakin lantang.

__ADS_1


Tanpa sadar, Ansa meneteskan air matanya. "Apa? Ngga, ngga mungkin. Kamu mengarang cerita apa, Ro?!" balasnya.


"Aku ngga mengarang cerita, Sa. Sekarang aku tanya, apakah kamu pernah melihat ibumu pulang ke rumah sangat malam?" Pertanyaan Jaro mendapat anggukan kepala Ansa.


"Ya, ibuku pernah pulang malam. Tapi bukan berarti ia bersama ayahmu! Ngga!"


"Itu benar, Sa!"


"Mana buktinya? Coba kasih aku bukti, Ro," ucapnya yang kini lebih pelan, disertai sesegukan.


"Aku ngga punya bukti. Tapi aku punya rahasia mu bersama Ranu. Bukti tentang kecurangan ibumu dan ayahku, masih segera aku dan kakakku kumpulkan," ucap Jaro.


"Jadi, aku ingin kamu menyuruh ibumu, si wanita penggoda itu, untuk menjauhi ayahku! ayah Daghiawi!" lanjut Jaro yang penuh kemenangan karena berhasil membuat Ansa bungkam.


Ansa menggigit bibirnya. Mama, jadi selama ini mama menyukai ayah anak kecil ini? Hah, tapi perkataannya juga benar. Aku harus bekerja sama dengannya untuk menjauhkan mama dari ayahnya!


"Ro, aku akan coba melakukannya. Tapi tolong, jaga rahasiaku dengan mas Ranu, ya?" dusta Ansa.


"Nah, gitu dong. Rahasia mu, pasti terjamin, Sa!" seru Jaro dengan senyuman lebar.


Ansa hanya membalas dengan senyuman yang ia paksakan. Kemudian, mereka segera melangkah pergi dari atap rumah.


Ketika telah turun, mereka dikejutkan oleh kehadiran Ranu. "Eh, Mas—" sapa Ansa yang gelagapan, ditambah dengan tatapan Ranu yang tajam kepada mereka berdua.


"Kalian dari mana?" tanya Ranu dengan suara lantang.


Ansa melihat raut wajahnya yang serius. Dia benar-benar sedang marah. Apa mungkin, ia cemburu? batinnya.


"Kami sedang membahas sebuah perjanjian, yang akan bisa menyimpan rahasia kalian berdua!" ucap Jaro yang tak mau kalah dari Ranu.

__ADS_1


"Rahasia apa?" Ranu tak mengerti dengan perkataan Jaro.


"Rahasia di belakang sanggar," bisik Jaro. Membuat Ansa dan Ranu melebarkan matanya.


"Kamu masih baru di sini, tapi sudah berani mengurus masalah orang lain ya! Cepat pergi dari sini, dan jauhi Ansa!" bentak Ranu.


"Mas, Mas. Sudah. Ini masalahku dengan Jaro ...." Ansa berusaha menjadi penengah di antara mereka berdua. "Ro, sekarang kamu kembali ke studio musik ya," pintanya dengan lembut.


Jaro hanya mengangguk dan pergi dari hadapan mereka berdua. Setelah itu, Ansa menarik tangan Ranu dan masuk ke salah satu kamar.


"Mas! Jangan kayak gi—"


"Aku ngga suka kamu dekat dengan yang lain, Sa!" protes Ranu.


"Tapi tadi tuh, aku dan Jaro cuma membahas masalah keluargaku dan keluarganya. Aku, ak—" Lagi-lagi ucapan Ansa dipotong.


"Masalah apa?" tanya Ranu dengan tatapan lekatnya.


Glek!


Aku harus jawab apa? ucap Ansa dalam hati, mulutnya bungkam dan matanya menunduk.


"Privasi banget ya? Tapi bukan masalah perjodohan, 'kan?" cecar Ranu yang memegang pundak Ansa.


Ansa mendongakkan kepalanya. "Ngga ada yang seperti itu, Mas. Bahkan Mas tahu sendiri, kalau mama dan papa sudah mengenal Mas Ranu sejak lama."


"Sudah mengenal lama, belum tentu disukai, Sa—" lirih Ranu.


"Aku akan mengakui hubungan kita di depan orang tua ku!"

__ADS_1


Pernyataan Ansa membuat Ranu memeluknya. "Aku juga akan mengatakannya kepada orang tuaku, Sa," bisik Ranu.


***


__ADS_2