Cherophobia Swan

Cherophobia Swan
Bab 30 Tabir Yang Terbuka


__ADS_3

...“Katamu, kita harus jujur satu sama lain....


...Kenyataannya, kamu sendiri yang takut untuk mengatakan kepahitan sebuah kejujuran itu....


...Mengapa?”...


Di halaman rumah Jaro,


Ansa meminta Jaro untuk membawanya ke rumah Mei. Walaupun Jaro masih dirundung kebingungan, dia tetap menuruti kemauan istrinya.


Dengan arahan dari maps online, mereka telah sampai di depan rumah Mei. Ansa maupun Jaro melepas helm, lalu melangkah masuk ke teras rumah.


Dari mata mereka, terlihat rumah satu lantai yang sederhana. Bercat oranye dan dihiasi beberapa tanaman dalam pot.


"Ro. Lihat pot-pot itu." Telunjuk Ansa mengarah ke pot tanaman. "Lukisan di pot itu pasti karya dari ibunya Mei! Dan mungkin juga Mei yang melakukannya."


"Hu'um. Ternyata dia keren di bidang lukis ya." Jaro juga ikut memuji Mei.


Sampai di depan pintu,


Mereka berdua disambut oleh Mei. Ansa segera memeluk sahabatnya tersebut.


"Ayo, duduk di dalam!" ajak Mei.


Beberapa menit kemudian,

__ADS_1


Mei langsung menanyakan unek-unek yang menyelimutinya. "Ku kira kamu datang ke sini sendirian, Sa. Ternyata ada Jaro juga. Setelah damai, kalian bareng terus ya."


Ansa memaklumi perkataan Mei, karena dirinya tak mengatakan perihal pernikahannya dengan Jaro.


"Mei, sekarang aku mau tanya ...." Ansa menatap kedua mata Mei.


"Hm?"


Inilah saatnya. Maaf, Ro. Aku terpaksa mengakuinya, batin Ansa.


"Menurutmu ... di zaman sekarang yang teknologi terus berkembang ini. Kamu sebagai penerima berita, akan memilih yang mana?"


Ansa menghela nafasnya, lalu kembali bersuara. "Berita terbakarnya sawah karena suatu konflik dari pemiliknya, atau pernikahan dari seorang model?"


"Sa?" Jaro menoleh ke arahnya dan sedikit menggeleng.


"Maksudnya penasaran sama pasangan dari model tuh gimana ya?" balas Ansa.


"Penasaran sama rupanya, kerjaannya, latar belakangnya. Siapa tahu, aku juga bakal dapat suami yang kayak pasangan dari model itu! Haha!"


Ansa menoleh dan mengangguk pelan ke arah Jaro. "Gimana? Sudah ngerti?"


Jaro mengangkat kedua bahunya. "Belum."


Hadeh, ya sudah deh, pikir Ansa.

__ADS_1


"Kita ngga bisa lama di sini Mei. Bentar lagi matahari sudah tenggelam. Jadi gini, Mei ...."


"Aku dan Jaro sudah menikah beberapa hari yang lalu—" Ucapan Ansa terpotong oleh pekikan Mei.


"APA?! Seriusan?!"


"Shh!" Jaro menyuruhnya untuk diam.


Ansa kembali menjelaskan tentang terbakarnya sawah milik perusahaan ayahnya, hingga berita tersebut bisa memfitnah ayahnya.


"Ma-kasih banget tadi kamu mau jawab keraguan ku tentang dua berita itu, Mei." Ansa menggenggam tangan Mei.


"Jadi gini ... Aku mau publikasikan berita pernikahanku dengan Jaro ke salah satu situs gosip atau apalah itu. Dan kalau bisa sih, menukar berita yang memfitnah papaku dengan berita pernikahanku," jelas Ansa.


"Oh jadi gitu. Jadi ngga bakal ada yang ingat tentang kebakaran sawah, tapi malah senang membahas pernikahan kita?" tanya Jaro.


"Wah, mantap!" seru Mei. "Besok kalian akan mendapatkan hadiah kue dariku! Biar tambah ramai!!"


"Oke, aku akan menghubungi Sari untuk meminta bantuan menyebarkan beritanya." Jaro fokus ke arah layar handphone-nya.


"Eh, nanti di rumah aja, Ro. Ayo kita pulang," pinta Ansa.


"Uuh, pengantin baru yang so sweet sweet~" ucap Mei.


Mereka berpamitan pulang dari rumah Mei dan kembali mengendarai motor gede milik Jaro.

__ADS_1



__ADS_2