
...“Sebenarnya apa alasan kebakaran ini?...
...Apa alasan api amarah ini?...
...Rasa dendam mu atau rasa cemburu mu?"...
Dua hari kemudian,
Jaro dan Ansa sama-sama bersiap untuk berangkat ke sanggar. Sekitar pukul delapan pagi, Jaro telah membawa tas kecil dan segera menaiki motor gedenya.
Sedangkan Ansa telah selesai merias wajahnya dan tak lupa mengikat rambut hitamnya. Hari ini ia menggunakan celana olahraga dan kaos hitam. Lalu dirinya mengambil jaket merah-hitam.
Ish, aku benar-benar lupa mengembalikan jaket ini! Ya sudahlah, nanti aku kembalikan. Tapi sekarang aku pakai dulu deh, hihi! pikir Ansa.
Di sanggar,
Ansa dikejutkan oleh bisikan Bibi Ning. Kejutan yang membuatnya tersenyum lebar. "Iya, Bi! Aku segera ke sana sekarang!" pekiknya.
Ansa berlari masuk ke rumah Bibi Ning, menaiki tangga dan menuju atap. Tanpa dia sadari, ada Jaro yang mengikutinya.
Jaro mengintip Ansa dari balik pintu. Dia sedang menemui siapa? Mengapa tadi senyumannya sangat lebar?
Sedetik kemudian, Jaro mengenalinya. Ranu!
Di sana, Ansa langsung memeluk Ranu dengan erat. Setelah hampir 5 tahun mereka terpisah oleh jarak, sekarang mereka bisa bertemu lagi secara langsung.
Ranu melepas pelukan Ansa, lalu menyeka air mata Ansa. "Hei, jangan nangis. Aku sudah di sini loh."
"Lama banget, Mas! Nyebelin!" Ansa menepuk dada Ranu.
"Maaf."
Mereka saling bertatapan, lalu wajah Ranu semakin mendekat ke Ansa. "Kamu tambah cantik."
Ansa memejamkan matanya. Hangatnya nafas milik Ranu meniup wajahnya, bahkan mengambil oksigen di sekitarnya. Dan akhirnya pelukan dan ciuman terjadi di antara mereka.
Jaro melihat apa yang Ansa dan Ranu lakukan. Dadanya terasa sesak, matanya mulai berkaca-kaca. Apa ini? Apa yang terjadi padaku?
Beberapa menit kemudian,
Ansa dan Ranu telah kembali ke pelataran dan asyik mengobrol dengan teman-teman penari. Tiba-tiba terdengar suara dari pemusik yang meramaikan pelataran.
__ADS_1
Ternyata hari ini akan ada penampilan dari band. Tris selaku kakak pembimbing musik tradisional dan Richard selaku kakak pembimbing musik modern. Mereka berdua mengumpulkan warga sanggar untuk berkumpul di pelataran.
"Ayo, ayo semuanya! Duduk manis dan nikmati pertunjukan band kami!" ujar Tris.
"Come on! Let's rock 'n roll together!!" pekik Richard.
Para penari belum memulai latihan, tapi malah disuruh oleh para pemusik untuk menonton penampilan mereka. Alhasil Ansa menurut dan duduk di barisan paling depan, bersama teman penarinya.
Di tubuhnya masih melekat jaket milik Jaro. Setelah ini, aku akan kembalikan jaketnya.
Beberapa menit kemudian,
Personil band tersebut muncul satu persatu. Dari drummer, gitaris, pianis hingga vokalis.
Jaro menjadi gitaris kedua dan vokalis, walaupun awalnya ini adalah paksaan dari Nick, mantan kakak pembimbingnya.
Jaro memang tak terlalu suka bernyanyi. Namun Nick memintanya untuk bernyanyi, dengan berdalih bahwa suara Jaro telah pernah ditunjukkan saat pentas.
Saat Jaro memegang gitar, matanya beradu dengan jaketnya yang sedang dikenakan oleh seorang wanita. Matanya bergerak ke wajah wanita tersebut. Ansa ....
Bahkan Jaro menatap tangan Ansa yang menggenggam tangan Ranu. Apa ini? Kenapa aku marah?
Ansa kembali melihat ke depan, tepatnya ke arah sang vokalis yang sedang melihatnya. Dia paham, dan segera menganggukkan kepalanya. Seakan dirinya ingin bilang 'Iya! Nanti aku kembalikan. Tenang saja.'
Dan pertunjukan dimulai!
Tell them all I know now~
(Beritahu mereka semua yang aku tahu sekarang)
Shout it from the roof tops~
(Teriakkan itu dari atas atap)
Write it on the sky line~
(Ukirlah itu di langit)
All we had is gone now~
(Semua yang kita punya, sekarang telah hilang)
Tell them I was happy~
__ADS_1
(Beritahu mereka bahwa aku bahagia)
And my heart is broken~
(Dan hatiku hancur)
All my scars are open~
(Semua lukaku menganga)
Tell them what I hoped would be~
(Beritahu mereka apa yang aku harapkan memanglah menjadi)
Impossible~
(Tidak mungkin/mustahil)
Selesai pertunjukan band,
Suasana pelataran kembali normal, karena warga sanggar kembali ke tempatnya masing-masing. Termasuk Jaro dan teman pemusiknya. Mereka kembali ke studio musik dengan membawa alat-alat musiknya.
"Yey! Kita siap untuk pentas!" seru Richard.
"Belum heh! Masih 3 bulan lagi!" protes Tris.
Jaro merasa tubuhnya melemas, ditambah pikirannya yang justru mengingat Ansa. Dirinya memilih untuk menunduk.
"Bro! Habis tampil, kok malah lesu?" tanya Tris.
Jaro tak menjawab karena mulutnya terasa kelu. Dia hanya menggeleng.
"Oi!!" seru suara yang tak asing bagi Jaro. Membuat Jaro membalikkan badannya.
Terlihatlah Ansa yang sedang bertos ria dengan teman-teman pemusik. "Mantap!! Penampilan band memang yang paling menggemparkan pelataran!"
Saat semua tertawa, Jaro hanya tersenyum tipis. Namun senyumannya menghilang saat Ansa justru mendekatinya.
"Jaro. Ini jaket mu. Tadi ngga aku pakai kok, cuma aku bawa aja." Ucapan Ansa tanpa disertai senyuman.
Bahkan dirinya tak tersenyum kepadaku. Lebih baik aku pergi dari sini, pikir Jaro. Dirinya hanya menatap lekat wajah Ansa.
__ADS_1
"Ro?" panggil Ansa. Lalu dia segera pamit pergi. "Oke. Bye," lirihnya.