
Di atap,
Mereka melihat Orbifly yang terlihat bersih dan kinclong. Jaro maupun Deniz pelan-pelan mendekati transportasi modern tersebut.
"Pak, mana kunci Orbifly ini? Saya ingin membukanya sebentar," pinta Ansa.
"Apakah Non Ansa sudah izin kepada tuan Hardi?" tanya pelayan tersebut.
"Sudah, Pak," dusta Ansa. "Saya hanya ingin memberitahu mereka bahwa sudah ngga ada bukti lagi untuk meringankan hukuman ayah mereka," sindirinya.
Cklak!
Mereka memasuki Orbifly berwarna cyan dengan dinding baja modifikasi berukuran sekitar 1 - 2 meter. Dilengkapi dengan 2 kursi yang menghadap ke arah kaca bening. Sang sopir bisa melihat pemandangan di depan Orbifly dari balik kaca bening yang dipasang jati.
Di bawah kaca bening, terdapat panel pengendali yang terdiri dari beberapa tombol warna hitam, putih, merah, hijau, kuning. Panel tersebut juga memiliki tiga layar.
"Aku hidupkan ya?" tanya Deniz.
"Memangnya bisa, tanpa kartu khusus?" balas Jaro.
Deniz tak menjawab, dan langsung menekan tombol berwarna putih. Lampu di dalam ruangan tersebut semakin terang.
__ADS_1
Pertama, layar yang berisi informasi mengenai kondisi Orbifly.
"Kondisinya masih baik. Ayahmu merawatnya, atau kalian sekeluarga memang tak pernah menggunakan Orbifly?" sindir Jaro.
"Hehe. Kami memang jarang menggunakannya. Jika ingin menaiki ini, papa menyuruh aku dan mama untuk menunggu beliau. Karena papa ngga akan memberikan kartu Orbifly-nya kepada kami," jelas Ansa.
Kedua, layar yang berisi nama pemilik Orbifly, alamat rumah Ansa, riwayat alamat tujuan, lama maupun jarak perjalanan yang akan dan telah ditempuh.
Benar saja, riwayat perjalanan Orbifly milik Ansa hanya sedikit.
Ketiga, layar yang tak menyala. "Layar ini akan menyala saat pengendara telah menempelkan kartu khusus di bawah cahaya merah itu." Telunjuk Deniz mengarah ke sudut kanan panel kendali.
"Iya, ribet. Jadi susah mau pergi," balas Jaro.
"Karena kalau ngga ribet, tindak kejahatan akan mudah dilakukan menggunakan alat ini, Ro, Sa." Deniz tersenyum.
"Alat ini memang sangat diharapkan untuk mempermudah urusan manusia. Tapi, hati manusia mana ada yang tahu kecuali dirinya sendiri, 'kan? Beberapa ada yang menggunakan ini untuk melakukan tindak jahat, walaupun menurutnya itu benar," tutur Deniz.
"Contohnya, tiba-tiba disalahgunakan untuk berselingkuh? Gitu?" seloroh Jaro.
"Harusnya sambil ditanyakan, alasan pergi ke suatu tempat menggunakan Orbifly ini tuh untuk apa ...." ujar Ansa.
__ADS_1
"Biasanya karena hak privasi, jadi ngga akan ada fitur isi alasan kayak gitu, Sa. Sehingga pembuat Orbifly ini memberikan kartu khusus yang nanti akan terekam siapa sopir yang mengendarai Orbifly." Tangan Deniz mengelus layar yang tak menyala.
"Di sini. Di layar ini akan muncul data diri termasuk nama dan nomor identitas. Tapi nih, kartu itu cuma dimiliki oleh anggota keluarga yang berumur 17 tahun ke atas. Dan juga pabrik yang menjual alat ini, hanya menyediakan 1 - 5 buah kartu khusus untuk satu rumah."
"Lagi-lagi karena keamanan, ya kan?" Jaro menghela nafasnya.
"Terus, apa yang mau kalian buktikan?" tanya Ansa.
"Kami— " jawab Deniz.
"Sa! Kamu lagi bersama siapa?" Tiba-tiba kepala dan wajah ayah muncul di kaca depan Orbifly.
"Waaa!" pekik mereka bertiga karena terkejut melihat Ayah Hardi.
"Haduh, haduh," gumam Jaro dan Deniz.
Ansa segera turun dari Orbifly dan menjelaskan semuanya kepada ayah. Tak lupa dirinya juga memperkenalkan Jaro dan kakaknya, walaupun ayah telah bertemu Jaro sebelumnya.
Mereka segera pergi menuju ruang tamu karena ayah selaku tuan rumah meminta membahas kedatangan mereka berdua. Raut wajah ayah terlihat kesal, bahkan tangannya cukup kuat menggandeng tangan Ansa.
__ADS_1