Cherophobia Swan

Cherophobia Swan
X-CHAP 9: Lubang Jarum


__ADS_3

...“Berita itu, tak perlu dipedulikan....


...Aku hanya akan peduli dengan pernikahan kita....


...Biarkan Tuhan yang melihat dan menasihatinya.”...


Di kediaman Daghiawi,


Jaro telah berkumpul dengan Ayah Awi dan Deniz. Mereka berdua kompak dalam mengolok anggota termuda di dalam keluarga Daghiawi.


"Setahu Ayah, dia itu salah satu karyawan di perusahaan Paperita, 'kan? Jadi kamu ke sana, juga sekalian menemuinya ya?" sindir beliau.


Jaro menggeleng. Rasanya, jiwanya tak ikut serta ke sini, justru tertinggal di dekat Ansa. "Aku ngga tahu kalau Sari bekerja di sana."


"Bohong," gumam Deniz. "Pantas saja kemarin rapi banget! Ternyata mau ketemu sama dia."


Jaro mengepalkan tangan kanannya. "Aku ngga tahu. Aku cuma mengobrol dengannya. Hm."


"Mengobrol tentang apa?" tanya Ayah.


Jaro memilih bungkam. Haruskah aku bersikap seperti Ansa? Dulu dirinya seakan menerima gosipnya bersama Mas Deniz.


"Tentang kerjasama mereka di masa lalu untuk menjatuhkan Ansa," seloroh Deniz.


"Astagfirullah," gumam Jaro.


"Oh ya? Dan artinya, mereka sudah berhasil ya?" Ayah menoleh ke arah Jaro. "Jadi kamu sudah berhasil menyakiti Ansa? Dengan meninggalkannya saat hamil, dan pergi dengan wanita penggoda seperti itu?"


"Ngga jauh beda dengan Ayah sih," sindir Deniz.


"Yah, Mas. Sudah." Jaro memilih pergi dari hadapan mereka berdua.


Ayah dan Deniz berbisik ria, tentang sikap Jaro yang tak mudah emosi. Tentu saja Jaro menguping pembicaraan mereka. Kedua netranya menatap nanar hingga berkaca-kaca.



Di kantor,


Jaro cepat-cepat mengecek jadwalnya hari ini kepada sekretarisnya. Dan dia juga segera mengerjakan tugasnya.


Kini dirinya menjadi kepala bagian pemegang saham di sekolah, sejajar dengan kakaknya yang menjabat sebagai kepala bagian subsidi dana penelitian di kampus Intence (Intelligence and Technology Advancement).


"Oh iya, Pak Jaro."


"Hm?"


Sekretarisnya mendekat ke arah Jaro. "Saya dengar, kalau Pak Direktur akan membangun kampus di di dekat sekolah. Apakah itu benar, Pak?"


"Pak Damar, saya ngga tahu tentang hal itu. Pak Direktur belum membahasnya dengan saya. Sementara ini, pembahasannya masih seputar mengenai perusahaan Paperita."


Damar, sekretarisnya Jaro, hanya mengangguk dan pamit keluar dari ruangan Jaro. Namun langkahnya terhenti.


"Oh maaf, Pak. Besok ada agenda rapat tentang perusahaan Paperita. Saya baru dapat info dari sekretarisnya Pak Direktur."


Berarti aku bisa pulang cepat? pikir Jaro.


"Iya, Pak Damar. Berarti kunjungan ke sekolah akan mundur sejam atau dua jam. Tolong segera hubungi kepala sekolah."


"Baik, Pak."


Di rumah,


Ansa asyik membaca buku yang dirinya pinjam dari Ibu Aisyah. Buku tersebut memiliki sampul hijau dan merah muda dengan judul 'Cinta Nabi'. Dia duduk di ruang keluarga, dengan kedua kaki terlipat di atas sofa.


Dirinya berharap dapat sejenak melupakan masalah rumah tangganya. Namun sepertinya ibu tak mau Ansa mengabaikan masalahnya.


"Ansa. Ini handphone-mu sudah rusak. Terus kapan mau beli lagi?"


Ansa menggeleng. "Ngga usah, Ma. Aku ngga mau main itu lagi."

__ADS_1


Ibu mendekat dan duduk di sampingnya. Kini Ansa hafal dengan sikap ibunya. Jika mendekat seperti ini, maka artinya pendapat Ansa akan ibu perbaiki dengan pilihan yang benar.


"Kalau Ansa ngga main medsos, terus gimana nanti bisa menghubungi teman maupun kerabat keluarga?" tanya ibu.


Ansa bungkam, dan masih mencari alasan. Namun ibu kembali bersuara.


"Gunakan handphone sebagai penghubung orang-orang yang jangkauannya jauh dari kita, dan sebagai sumber mencari informasi yang bermanfaat. Kalau kemarin Ansa melihat berita fitnah seperti itu, anggap saja itu seperti lubang jarum yang terlihat kecil. Abaikan aja."


"Justru cobalah untuk menanyakan langsung ke orang yang bersangkutan. Karena yang tahu kebenarannya hanyalah kita dan orang itu, bukan publik."


"Menurut Mama, masalah kalian itu seperti pemanasan. Karena nantinya, mungkin ujian yang diberikan akan menuntut kalian untuk lebih bersabar."


"Ma. Aku ngga boleh ya bilang kalau aku ngga boleh bahagia?"


Ibu menggeleng. "Bahagia bagi tiap orang tuh banyak versinya, Sa. Kita berhak bahagia dan bersyukur atas apapun yang terjadi."


"Bahagia sendiri tuh, ngga selalu dilihat dari seberapa lebar dan seberapa kencang tertawa. Cukup tersenyum, mungkin ada beberapa orang yang ikut tersenyum dan sembuh dari luka hatinya."


Ansa mengangguk dan tak berani menatap mata ibunya. Malu, karena masih terlihat cengeng. Lalu ibu pamit untuk pergi ke dapur.


Tangan Ansa mengelus perutnya. "Karena Allah menitipkan kamu, aku belajar untuk lebih kuat lagi, Nak," gumamnya.



Menjelang malam,


Ansa telah berkumpul bersama Ayah Hardi dan Ibu Aisyah di meja makan. Senyum mengembang di wajah mereka, terutama Ansa.


"Baunya enak~ Aku mau itu. Terus itu." Telunjuk Ansa bergerak ke lauk pauk yang tersedia di meja makan.


"Oh silakan. Ambil, Nak. Makan yang banyak, biar cucu Papa tumbuh gede," ujar ayah.


"Bi, tolong keluarkan buah-buahannya," pinta ibu.


Kedua netra Ansa terbuka saat melihat warna merah, jingga, dan kuning dari buah-buahan. "Mama, habis ini aku mau anggur itu."


Di tengah asyiknya makan malam, Jaro melangkah masuk dengan muka lesu. Matanya menangkap keluarga kecil sedang berkumpul di meja makan.


"Jaro. Segera ke sini ya?"


"Iya, Pa. Aku mau ganti baju terlebih dahulu." Jaro kembali melangkah pergi.


Jaro masih marah ya? Bahkan tadi dia tak mau melihatku. Ansa menyiapkan sesendok makanan, sembari menunduk dan menahan air matanya.


Karena Jaro tak menemui mereka di meja makan, alhasil ayah meminta Ansa untuk membawa makanan untuk Jaro ke kamar.


Di kamar,


Ansa perlahan masuk sembari tangan kirinya membawa sepiring makan malam. Tentu rasa malu dan cemas masih menyelimutinya.


"Jaro." Ansa melihat Jaro yang masih menelpon di balkon. Dirinya meletakkan piring tersebut di rak meja, dan duduk di atas kasur.


Jaro memandang istrinya yang terlihat seperti menunggu dirinya. "Pak Damar, kalau memang bisanya hanya siang, ngga apa. Agenda siang tolong majukan saja sebelum jam 12 siang."


Tut!


Sambungan telepon telah terputus. Dan kini saatnya menyambung hubungan yang agak merenggang.


Jaro memaksakan senyumnya walau hanya sebentar. Karena setelah itu, ada kecanggungan di antara mereka.


Sedangkan Ansa tak tersenyum. Perkataan Mama memang benar. Tapi susah ya kalau dipraktikkan, huf.


"Sa." Jaro mengecup dahi Ansa. Membuat Ansa meneteskan air mata. "Semua berita itu salah. Percayalah kepadaku."


Ansa mengangguk. "Jelasin ke aku, kenapa kamu menemuinya, Ro. Dan kenapa kamu ngga cerita ke aku kalau kamu telah bertemu dia?"


Jaro menjelaskan semuanya dari awal hingga dirinya yang menghindar dari Sari. "Kayak gitu, Sa. Ta-tapi editan fotonya sangatlah menipu mata."


"Lalu tadi pagi di rumah, ayah sama mas Deniz malah mengolokku. Aku bingung harus jelasin gimana ke mereka. Ke kamu aja, rasanya susah banget buat ngejelasin."

__ADS_1


"Tapi kalau kamu menyukainya, ya silakan." balas Ansa.


"Ngga mau. Dia ngga bisa menyuapiku dengan makanan yang dibawanya ke kamar." Jaro menyeringai di balik matanya yang berkaca-kaca.


"Oh iya!" Ansa memberikan piring tersebut. Namun Jaro menolaknya.


"Suapin."


"Ngga mau."


"Masih marah?"


"Ngga. Sebel aja. "


"Nih." Jaro memberikan dua kotak. Ada kotak yang besar dan ada kotak yang kecil.


"Oh, jadi aku disogok supaya aku mau memaafkan mu?"


"Iya. Betul banget!" seru Jaro.


"Lebih baik ku buang--" Ansa bersiap untuk membawa dua kotak tersebut. Namun Jaro menahannya dengan lembut.


"Jangan. Itu hadiahmu." Jaro menariknya untuk kembali duduk. "Buka, Sa."


"Aku mau buka, tapi setelah kamu makan."


"Iya iya. Sini piringnya."


Setelah Jaro memasukkan sesendok makanan ke dalam mulutnya, barulah Ansa mau membuka dua kotak tersebut.


"Yang mana dulu yang harus aku buka?"


"Terserah. Ngga ada yang zonk kok!"


Oke. Yang gede dulu deh! Ansa membuka tutup kotak tersebut. Mungkin isinya baju, hihi.


Ternyata kotak gede tersebut berisi sesuatu yang sudah lama tak Ansa dapatkan. Terakhir dia mendapatkannya saat masih sekolah.


Ya! Biskuit angsa!


"Jaro!! Ini! Ini? Hah?!" Ansa menutup mulutnya yang menganga karena kaget dan terharu. Biskuit angsa berbagai warna adalah isi dari kotak gede tersebut.


"Aku membelinya di toko roti milik Mei! Dan kamu harus tahu, Sa. Tokonya itu di dekat sekolah kita!"


"Oh ya?! Ih Jaro! Bawa aku kesana, Ro~" Ansa mengguncang lengan Jaro karena sangat bahagia. Hingga lupa bahwa Jaro sedang membawa piring berisi makan malamnya.


"Eh eh! Maaf, Ro."


Jaro tersenyum lebar karena berhasil membuat istrinya tak ragu untuk tersenyum. "Sekarang, buka yang satunya itu. Kasihan, dia sudah nungguin loh!"


"Apaan sih. Ngga jelas." Ansa membuka penutup kotak yang lebih kecil.


"Sudah ku duga," ujar Ansa.


"Oh ya? Yah ngga kaget, huhu." Jaro memanyunkan bibirnya dan mencubit pipi Ansa.


"Siapa lagi yang mau beliin handphone buat aku? Papa? Ayah? Atau mas Ranu?"


"Atau Sari?" balas Jaro. "Sudah, Sa. Mereka hanya--"


"Hanya pemeran pendukung di kisah kita."


"Yup!" Jaro kembali mengunyah makanannya. "Nih! Bantuin aku ngabisin ini."


"Kamu juga harus menemani aku yang hamil ini! "


"Lah! Aku bukan hamil! Tapi jadinya timbunan lemak di perut!"


***

__ADS_1


__ADS_2