
Ini lapak kok gk naik rate-nya dan levelnya ya?
Kgk tau apa ya, apa kgk mau tau?
Tentang energiku untuk mengetik dgn puebi joss ☹️
Lama2 aku singkat nih ngetik ceritanya?!
👽👽Biar pada bljr bahasa alien 👽👽
Happy Reading, Dreamers 😌
#siapsiappadaminggatsemua
.
.
.
...“Berita itu, membuat hatiku tergores....
...Katamu, tak perlu dipedulikan....
...Akan menghilang sendiri seiring waktu.”...
Pagi hari, di kamar.
Ansa yang semakin sensitif justru membanting handphone-nya.
Brak!
"Ansa?! Ada apa?" pekik Jaro. Dirinya segera mendekat ke arah istrinya.
"Jangan mendekat!! PERGI!!" Ansa menunjukkan mata merahnya.
"A-ada apa?" Jaro tak menghiraukan perkataan Ansa. Dirinya tetap melangkah perlahan dengan tangan terjulur. "Sayang?"
"Pergi Ro!!" Ansa melempar bantal-bantal ke arah Jaro, supaya suaminya tersebut tak mendekat.
"Ansa!!" bentak Jaro. Hah, hah. Tahan, Ro.
Jaro mengambil bantal-bantal yang berserakan di lantai, lalu mendekat ke kasur. Ansa memunggungi suaminya sembari menangis, bahkan memeluk dan mencengkeram kuat gulingnya.
"Sa ...," lirih Jaro. "Ada apa tadi di handphone mu?" bisiknya.
"Hiks hiks." Ansa tak menjawab dan terus menangis.
Alhasil, Jaro ikut berbaring di atas kasur sembari memeluk istrinya. "Habis ini, cerita ya?"
"Li-hat sen-diri di hand-phone mu. Hiks." balas Ansa.
__ADS_1
"Aku maunya kamu yang cerita."
"Jaro! Sekarang buka handphone mu!" pekik Ansa.
Segera si pelaut membuka handphone dan melihat ada banyak sekali pesan yang masuk. Lalu dirinya berselancar di medsos.
Jadi berita jahat ini yang membuat Ansa marah?! Dasar wanita ja**ng! Aku pastikan kamu akan mendapat balasannya! pikir Jaro.
"Sa. Sayang." Jaro memeluk lagi dari belakang sembari mengelus perut Ansa. "Aku sudah lihat. Itu, itu ngga disengaja, Sa. Itu salah, kamu tahu sendir--"
"Pergi."
Jaro mengecupnya sekilas dan melangkah pergi. Membuat Ansa kembali menangis. Bahkan dirinya tak membujukku! Huhuhu!
Di lantai dasar,
Jaro menghubungi kakaknya supaya bisa membantunya menyelesaikan masalahnya. "Mas Deniz sudah tahu berita itu, 'kan?"
"Iya, Ro. Ayah ingin bertemu dengan mu sekarang."
"Di mana?"
"Di rumah--"
"Sini sini berikan ke ayah!" Tiba-tiba Jaro mendengar suara ayah.
"Jaro! Cepat ke sini sekarang!! Berita itu sangatlah memalukan, Ro!" titah ayah.
"Iya, Yah. Aku segera ke sana."
"Ansa ... dia sudah melihatnya duluan, Yah."
"Huf, ya ampun. Ya sudah, cepetan kesini!"
Sambungan telepon telah diputus oleh ayah. Lalu Jaro berpamitan kepada ibu dan ayah mertua. Untunglah, mereka tak bertanya apapun tentang berita itu.
Namun Yono sudah melihatnya!
Di teras, Yono mendorong Jaro hingga tersungkur ke lantai. Yono menunjukkan raut emosinya.
"JARO!" pekik Yono.
"Aku, aku bisa jelasin, Yon. Itu salah, Yon."
"Hah?! Di foto kalian terlihat sangat mesra!" Bibir Yono terbuka, memperlihatkan gigi yang merapat kuat disertai rahang yang mengeras karena menahan amarah.
"Ingat, Ro! Kamu bentar lagi jadi seorang ayah!!"
"Iya iya Yon!! Aku tahu, aku ingat, aku sadar!" Ombak mulai meninggi, namun Jaro memilih untuk meneteskan air mata.
Gosip itu seperti pedang, bukan pisau dapur. Sangat menyakiti orang yang menyayangiku.
__ADS_1
"Aku akan buktikan kalau itu cuma gosip. Aku segera membalas perbuatan Sari!" janji Jaro kepada Yono. Dirinya segera meminta sopir untuk membawanya menuju rumah Ayah Daghiawi.
Di kamar,
Ansa merasa ada yang memanggil dirinya. Membuatnya mengarahkan pandangannya ke arah sosok yang muncul dari balik pintu. Sosok tersebut tersenyum kepadanya.
"Masih mual?"
Ansa menggeleng. "Ngga. Habis ini aku turun, Ma. Mau sarapan."
"Ansa." Ibu Aisyah telah duduk di sampingnya. "Sabar ya," ucap beliau sembari mengelus pucuk kepala Ansa.
"Iya," balasnya, walaupun masih terpejam. Astagfirullah. Astagfirullah 33x, batin Ansa.
"Cobalah untuk percaya pada suamimu," bisik ibu.
Deg!
Ansa segera duduk dan menatap ke arah ibu tirinya. "Mama. Tadi Jaro sudah cerita, atau Mama juga sudah lihat di berita?"
"Tadi Mama melihat Yono dan Jaro berdebat. Terus, Yono cerita semuanya ke Mama, Sa."
Ansa menunduk. "Memang seperti ini ya Ma, yang namanya pernikahan?"
"Setiap waktu pasti akan hadir ujian di dalam pernikahan. Yang menentukan adalah bagaimana sebuah pasangan itu mengendalikan egonya masing-masing."
Ansa terdiam, tapi pikirannya mulai melayang ke masa kecilnya yang memiliki ibu seperti Ibu Roro.
"Dua kepala, jadi satu dalam kapal pernikahan. Kadang itu menjadi sebuah keuntungan dan menjadi penyebab munculnya perdebatan."
Hah, itu bagian yang memang ngga bisa dilewati. Kami berdua harus banyak cerita! pikir Ansa.
"Walaupun kamu melihat Papa dan Mama baik-baik aja, sebenarnya ngga seperti itu. Saat awal kami bertemu, Mama melihat Papa yang terlihat lesu. Ya, tentu saja Mama langsung bertanya ada apa?"
"Saat itu, Papa sangat terbuka tentang dirinya dan tentang kamu, Sa. Bahkan Papa bilang kalau dirinya mungkin bisa menemukan jodoh untukmu."
"Qadarallah, Mama mau menikah dengan Papa. Karena Mama pengen ngerasain punya anak perempuan, yang mungkin bisa Mama ajak berbagi, bukan dididik menjadi kepala keluarga kayak Yono, hehe."
"Mendidik Yono sebenarnya lumayan berat, Sa. Karena Mama yang wanita ini, tetap ngerasa khawatir tentang pergaulannya. Apalagi saat dia ingin masuk ke sekolahnya Jaro. Tapi Mama yakin, mungkin sudah takdirnya Yono diterima di sana, dan ketemu kalian berdua."
"Setelah kamu pergi karena tahu Mama dan Papa akan menikah, Mama minta ke Yono untuk ceritakan semua tentang kamu. Dari situ, Mama mulai merasa kalau menasihati anak perempuan ternyata berbeda dari laki-laki."
"Apa bedanya?" lirih Ansa.
"Kalau menasihati Yono, Mama tak mendapat banyak respon darinya. Maksudnya tuh, kadang Yono ngga minta alasan kenapa Mama menasihatinya seperti itu. Tapi kalau kamu, Mama harus duduk dan ngejelasin pelan-pelan, bagi cerita supaya kamu lebih paham."
"Mungkin, karena Yono sudah sering di pesantren, Ma."
"Jadinya sudah ngerti gitu ya? Hm, iya deh."
__ADS_1
Ansa mengajak ibu untuk pergi keluar dari kamar. Dirinya tak ingin terlalu bersedih dan memikirkan masalahnya. Bahkan senyumannya pun kembali untuk menenangkan ibunya.
***