
Kolam besar berisi bermacam jenis ikan yang terletak ditengah taman itu sangat besar menghiasi halaman mansion megah keluarga Alexander. Bunga penuh warna memenuhi sebagian besar isi taman indah sekali seolah sedang berada di sebuah surga bagi para pecinta bunga karena begitu banyaknya bunga cantik yang sedang bermekaran. Saat melihat pemandangan seperti ini perasaan nyaman dan tentram akan membuat seseorang rela betah berlama-lama ditempat ini.
Ibu dari Tuan Smith dulunya sangat gemar sekali menanam dan mengoleksi macam-macam jenis bunga dari berbagai tempat karena begitu sukanya ia sampai membuat rumah kaca di halaman mansion. Maka tidak heran halaman sekarang terlihat begitu bersemi dengan bunga-bunga yang sangat cantik.
Kupu-kupu yang tadinya sedang menyesap nektar dari sang bunga seketika terbang pergi tatkala sebuah tangan hendak menangkapnya. Seorang wanita tampak memasang wajah cemberut menatap kupu-kupu yang tadi hendak ia tangkap namun gagal kalah lincah dengan kepakan sayap dari hewan mungil yang mempesona itu. Tidak menyerah wanita yang bernama Kasih itu kemudian mengejar kupu-kupu lain yang terbang melewatinya. Gaun putih bersihnya melambai terbawa terpaan angin sepoi cahaya mentari saat itu sangat bersahabat sangat cocok sekali menikmati suasana taman dengan cuaca cerah seperti sekarang.
Ed Alexander menatap datar tingkah wanita yang adalah pengasuhnya tersebut berlarian kesana kemari seperti seorang anak kecil dengan keceriaannya. ‘Sungguh kekanakkan sekali dia itu!’
Tiba-tiba Tuan Smith mengambil tempat duduk di kursi tepat disebelah Ed Alexander membuat anak itu sedikit tersentak bingung dengan sikap sang Ayah yang mendadak banyak berubah. “Ayah tidak pergi bekerja?” tanya Ed pada Ayahnya.
“Tidak.”
“Kenapa?” tanya Ed merasa tidak puas dengan jawaban sang Ayah diperhatikannya pandangan Ayahnya itu yang ternyata tertuju pada Kasih yang sedang asyik bermain sendiri mengejar kupu-kupu.
“Ed, apakah kau merindukan ibumu?” tanya Tuan Smith tanpa memalingkan pandangannya dari Kasih.
“Apa maksud Ayah? Kenapa tiba-tiba bertanya? Pertanyaan Ayah seolah ibuku sudah kembali.”
“Bisa dikatakan begitu,” kata Tuan smith ambigu.
“Lalu dimana dia sekarang?” tanya Ed dengan penuh semangat menatap wajah tampan Ayahnya lekat menantikan jawaban.
“Bagaimana pendapatmu mengenai Kasih?” Tuan Smith tampak seperti mengubah topik.
“Ayah tidak menjawab pertanyaanku. Aku tidak butuh yang lain selain ibuku. Hanya ibuku!”
“Justru itu aku bertanya padamu.”
“Ayah, katakan saja sejujurnya dimana ibuku?” ujar Ed tidak sabaran.
“Kau masih terlalu muda untuk mengerti, Ed. Setelah kau dewasa Ayah akan menjelaskannya padamu.”
“Katakan saja, katakan apapun itu. Bukankah Ayah mengetahui berapa nilai IQ yang kupunya? Apapun yang akan Ayah katakan aku pasti bisa memahaminya. Jadi katakan saja apa yang terjadi dan dimana ibuku sekarang.” Ed merasa frustasi mengapa sang Ayah masih tidak mau memberitahukannya apa yang telah terjadi dan kemana ibunya. Ed dianugerahi kecerdasan dan bakat yang luar biasa. Meski usianya masih begitu muda akan tetapi anak itu sudah bisa mengerti hal-hal rumit bahkan pelajaran yang dipelajarinya sekarang adalah pelajaran melebihi untuk anak seusianya. Anak itu sangat cerdas seperti sang Ayah, Tuan Smith Alexander, benar-benar keturunan dari keluarga Alexander.
Tuan Smith tampak menarik nafasnya dalam.
“Kau belum siap untuk itu, Ed. Jika sudah saatnya tiba Ayah akan mengatakan semuanya padamu. Untuk sekarang kau harus bersikap baik pada Kasih. Dia ….”
“Aku tidak menyukai atau menginginkan siapapun selain ibuku!” teriak Ed penuh emosi dirinya seketika bangkit berdiri dari kursinya dan melangkah pergi dengan emosi namun sesaat kemudian langkahnya berhenti sejenak menolehkan wajahnya sedikit kesamping lalu berkata dengan nada dingin. “Aku tidak akan pernah menerima wanita manapun untuk menggantikan tempat ibu, Ayah. Tidak akan.”
“Ed!” seru Tuan Smith memanggil namun diacuhkan oleh sang anak. “Ayah belum selesai berbicara, kembali kemari!”
“Kau harusnya bersikap baik pada ibumu, Nak. Dan tidak ada yang berniat menggantikan posisi ibumu,” Tuan Smith berucap dengan suara lemah dan berisi penuh dengan kesedihan. Sayang sekali Ed tidak dapat mendengar kenyataan yang sebenarnya. Tuan Smith juga tidak bisa mengatakan yang sebenarnya pada anaknya karena tidak ingin semua masa lalu akan terbongkar dan hal tersebut akan membahayakan Kasih.
***
__ADS_1
“Ini sangat menyenangkan sekali,” ujar Kasih senang. Senyum manis mengembang diwajahnya.
“Anda terlihat sangat menikmatinya, Nona.”
Kasih membalas dengan tersenyum manis pada Wendy yang menghampiri dirinya.
“Kau juga harus mencobanya, kau pasti akan sangat menyukainya.”
“Tentu Nona, apa Nona ingin saya membantu mendorong?” tanya Wendy menawarkan diri.
Dengan semangat Kasih mengangguk menyetujui.
“Nona Wendy, apakah tuan muda kecilmu itu memang terlahir dengan sifat dingin begitu? Sayang sekali padahal ia anak yang menggemaskan.”
“Tuan muda sepertinya tidak begitu menyukai anda, begitukah?” tebak Wendy tepat sasaran.
Kasih terkekeh. “Kau bisa membaca pikiranku dengan jelas.”
“Tuan muda kecil sudah ditinggal oleh ibunya sejak ia masih bayi,” Wendy mulai bercerita.
“Benarkah? Ibu Ed memangnya pergi kemana?”
“Nyonya sudah meninggal.”
Wajah Kasih terlihat sedih mengetahui anak sekecil itu sudah harus kehilangan ibunya.
Wendy POV ON
“Katakan padanya, katakan dengan jelas. Jika ibu Ed sudah meninggal lakukan dengan sebaik mungkin. Buat dia yakin.” Begitu perintah Tuan Smith padanya.
‘Kenapa harus saya yang melakukannya, Tuan? Saya tidak terlalu pandai berakting.’ Wendy ingin sekali mengutarakan penolakannya akan tetapi ia sama sekali tidak berani untuk menolak.
“Tapi, apakah anda yakin akan menghapus keberadaan Nyonya di masa lalu, Tuan? Bagaimana jika suatu saat Nyonya mendapatkan kembali ingatannya?” tanya Wendy kemudian.
“Tidak. Hal itu tidak boleh terjadi. Kasih tidak boleh mendapatkan kembali ingatan itu. Akan kupastikan hal itu tidak akan pernah terjadi,” tegas Tuan Smith.
Wendy POV END
“Lalu …” suara Kasih menyadarkan Wendy dari lamunannya sejenak.
“Apakah benar wajahkku sangat mirip dengan Nyonyamu?”
“Ya, Nona. Anda memang sangat mirip dengan Nyonya, sangat mirip sekali.”
“Benarkah? Pantas saja.”
__ADS_1
“Oh?” Wendy terlihat bingung melihat Kasih tiba-tiba memberhentikan ayunan yang sedang didorong oleh Wendy. “Ada apa, Nona?”
“Aku harus pergi dulu.”
“Hah?! Nona akan pergi kemana?” tanya Wendy bingung akan tetapi Kasih sudah pergi berlari menjauh.
***
Tuan Smith terlonjak kaget saat Kasih tiba-tiba memasuki kamarnya tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.
“Aku sudah mengerti!” ucapnya dengan suara lantang.
Tuan Smith mengernyit tidak mengerti dengan maksud sang wanita. Kasih menepuk pundak Tuan Smith santai.
“Aku sudah paham, semua sikapmu selama ini karena aku sangat mirip dengan istrimu, bukan? Aku sudah tahu itu. Mulai sekarang kau tidak usah khawatir lagi aku akan melakukan yang terbaik untukmu!”
“Apa yang sedang kau bicarakan?”
“Sudah jangan khawatir.”
Tuan Smith semakin dibuat bingung dengan tingkah Kasih. Wanita itu tiba-tiba saja menariknya ke arah dapur lalu menyuruhnya untuk duduk di meja makan.
“Duduklah di sini tunggu aku sebentar, Okay?” katanya memberi perintah pada Tuan Smith yang tidak sempat berkata apapun karena wanita itu terus saja berbicara tanpa memberikan kesempatan padanya untuk berbicara satu kata pun alhasil dirinya hanya bisa pasrah menerima semua perlakuan yang dilakukan oleh wanita itu padanya.
Kasih terlihat sangat sibuk berjalan ke sana dan kemari menyiapkan sesuatu untuk Tuan Smith dan pria itu hanya diam dan memperhatikan saja.
“Minumlah!” katanya sambil menyodorkan segelas minuman berwarna hijau tampak seperti sayuran hijau yang sudah diblender halus dan dicampur dengan sedikit air. Tuan Smith bergidik ngeri saat menyesap aroma yang dikeluarkan minuman yang dibuat Kasih itu.
“A-apa ini?” tanya Tuan Smith dengan ekspresi aneh.
“Ini adalah minuman yang kubuat khusus untukmu. Minuman ini akan menjaga tubuhmu tetap segar dan sehat tentunya,” terang Kasih menjelaskan hasil karyanya itu dengan nada bangga.
“Aku tidak membutuhkan minuman seperti itu. Aku sangat sehat sekarang.”
“Aku tidak sedang mengatakan bahwa kau sedang sakit, Tuan. Tapi aku menjagamu tetap sehat dan tidak jatuh sakit dengan minuman ini. Jadi, minumlah minuman ini!” ujar Kasih menyodorkan gelas minuman didepan wajah Tuan Smith yang kemudian refleks menahan nafas karena tidak kuat mencium aroma kuat minuman itu.
“T-tapi…” Tuan Smith mencoba bernegosiasi namun segera dirinya mendapat deathglare dari Kasih.
“SE-KA-RA-NG!”
Tuan Smith yang biasanya memaksa orang lain dengan perintahnya yang tak terbantahkan secara terpaksa harus tunduk dibawah perkataan Kasih untuk menghabiskan minuman yang baunya saja sudah tidak karuan.
“Bagaimana?” tanya Kasih setelah melihat Tuan Smith telah melandaskan minuman buatannya. “Apa kau merasakan sesuatu aku yakin sekarang ini tubuhmu pasti terasa segar, bukan? Aku bisa melihatnya dari ekspresimu itu. Baiklah aku sudah memutuskannya aku akan membuatkanmu minuman ini setiap hari dan kau wajib untuk menghabiskannya mengerti?”
Sekuat tenaga Tuan Smith menahan diri untuk tidak mengeluarkan seluruh isi perutnya saat itu juga di hadapan wanita itu. Raut mukanya terlihat sangat aneh saat ini karena menahan rasa minuman yang melekat dilidahnya.
__ADS_1
Bersambung...