
Pagi yang cerah Kasih dan Tuan Smith sedang menikmati sarapan paginya. Kasih menatap Tuan Smith yang sedang duduk dihadapannya sambil menyantap sarapannya dengan tenang.
‘Pria gila tidak tau malu ini sungguh membuatku kesal setengah mati. Jika bisa aku sangat ingin menaruh racun ke dalam makannya. Tapi sayang sekali aku tidak bisa membantahnya.’ Kasih tersenyum senang membayangkan ia sedang menaruh racun dan Tuan Smith mati. Cerita selesai dan ia bisa terbebas dari pria gila ini dengan mudah.
Tuan Smith melirik Kasih yang sedang tersenyum sendiri dihadapannya. “Aku sudah selesai. Berangkat,” ujar Tuan Smith menyudahi acara makannya dan bergegas pergi ke kantor.
Kasih seketika tersadar dari lamunannya. “Sudah?” ucapnya kebingungan karena ia sendiri belum menyelesaikan makannya. “Tt ... tapi. Aku belum selesai ....”
Pada akhirnya secara terpaksa Kasih menghentikan menyendok makanannya dan ikut menyusul Tuan Smith pergi ke kantor untuk bekerja. Sebenarnya Kasih di kantor juga tidak bisa disebut bekerja karena sebenarnya alasan Tuan Smith membiarkan Kasih ikut dengannya ke kantor hanyalah agar ia bisa terus berada dekat dengan gadis yang telah menggerakkan hatinya itu. Tuan Smith adalah seorang bos dari sebuah perusahaan raksasa yang punya begitu banyak pegawai yang bekerja untuknya dan Tuan Smith hanya datang untuk memeriksa dan mengawasi semuanya agar berjalan sesuai dengan keinginannya.
“Tuan, apa tidak apa-apa anda melakukan ini pada Nyonya?” tanya John pada Tuan Smith.
Tuan Smith menatap John dengan tatapan bertanya.
“Begini ... Anda menyuruh Nyonya datang ke kantor dan memberikannya pekerjaan yang sebenarnya tidak perlu ia lakukan. Apakah nanti bukannya hanya akan membuat Nyonya salah paham?”
“Salah paham?” kata Tuan Smith bertanya balik.
‘Tampaknya tuanku ini sungguh tidak mengerti bagaimana mengambil hati seorang wanita.’
“Tuan, jika boleh saya menyarankan pada anda ....” John kemudian menjelaskan pada Tuan Smith beberapa kiat untuk menyenangkan hati seorang gadis pada Tuan nya yang tidak pernah berhubungan dengan seorang wanita dalam hidupnya. Walaupun ada banyak wanita yang bermimpi untuk berada disisinya, akan tetapi mereka tidak pernah sanggup meluluhkan hati Tuan Smith yang dingin bagai gunung es itu.
***
‘Mengetik lagi, aku sangat bosan dengan pekerjaan menyebalkan ini.’ batin Kasih kesal sembari tangannya terus mengetik tiap kata yang diucapkan oleh tuan Smith.
“Pergilah berbelanja dan berdandan bersama temanmu yang bernama Karina itu aku akan menjemputmu nanti malam,” ucap Tuan Smith tiba-tiba. Kasih yang tidak fokus mengetikkannya secara tidak sadar.
Merasa diabaikan, Tuan Smith kemudian mengecek layar lalu melihat apa yang sedang diketikkan oleh gadis itu. “Ck! benar-benar gadis bodoh!’
“Kenapa?” tanya Kasih tidak mengerti.
“Kau harus bersiap nanti malam, aku akan datang menjemputmu. Ingat untuk berdandan dengan baik.”
“Mau kemana?”
__ADS_1
“Haish! Gadis bodoh ini, ikut saja jangan banyak bertanya.’
“Aku kan hanya bertanya saja, untuk apa kau marah padaku? Menyebakan!” Kata kasih cemberut.
“Aku akan pergi dulu, kau ajaklah temanmu itu untuk membantumu,” kata tuan Smith lalu pergi meninggalkan Kasih yang menatapnya tidak mengerti.
“Apa yang terjadi padanya kenapa tiba-tiba begini?” gumam Kasih memicingkan matanya tidak mengerti dengan tingkah Tuan Smith itu.
Kasih kemudian mengajak Karina sahabatnya itu untuk pergi menemaninya bersiap. Mereka pergi berbelanja memilih baju, pakaian dan sepatu, tas dan aksesoris yang akan digunakan Kasih nanti malam.
“Sebenarnya bukankah pria gila ini cukup baik, Kasih. dia memberikanmu sebuah kartu yang bisa kau pakai sesukamu, asal kau tau saja kartu itu bahkan bisa digunakan untuk membeli seluruh isi mall ini. jika saja aku yang diberikan kartu sepertimu ....” Kasih memberikan deathglare pada Karina yang membuat gadis bermata indah itu seketika tidak melanjutkan perkataannya lagi dan hanya nyengir menunjukkan deretan gigi putihnya saja.
“Aiyo! Lagipula apanya yang kau tidak sukai dari pria gila itu, Kasih? dia tampan dan kaya kau tidak akan menemukan satu yang ....”
“Kau masih ingin menjadi sahabatku?” Potong kasih cepat.
Karina mengangguk. “Jika begitu jangan membahasa hal ini lagi,” ujar Kasih berjalan lebih dulu.
“ Aku kan hanya .... Hei! Baiklah aku mengaku salah” Karina berlari menyusul Kasih memasuki sebuah toko.
“Apa tuan Smith memberitahumu akan membawamu nanti malam?” tanya Karina sembari mengikuti Kasih melihat-lihat.
“Entahlah. Aku juga tidak tau. Dia hanya mengatakan agar aku berdandan dengan cantik,” jawab Kasih seadanya. “Sesungguhnya aku tidak terlalu peduli dengan apapun yang ingin dilakukan pria gila ini aku juga tidak punya kemampuan untuk membantahnya. Jadi, beli saja apapun yang bagus dengan kartu ini.”
Kasih mengeluarkan kartu emas pemberian tuan Smith lalu menyerahkannya pada Karina. “Beli apapun yang dibutuhkan. Pakaian, sepatu atau apapun itu beli saja semuanya. Aku tidak peduli seberapapun mahalnya beli saja.”
“Uwahhh!!! Membeli semuanya?” Karina mengangkat kartu emas itu sejajar dengan pandangannya. “Walaupun bukan berbelanja untuk diriku sendiri, tapi tetap saja ... rasanya sangat menyenangkan sekali.” Karina sangat girang sekali berbelanja menggunakan kartu yang tanpa batas itu, terlebih ia adalah merupakan seorang yang sangat hobi berbelanja. Walau ia sangat suka berpakaian sederhana namun untuk masalah hobi, ia tidak perlu diragukan lagi. Karina adalah seorang maniak berbelanja.
“Aku hanya akan menggunakannya untuk malam ini saja. lagipula, aku tidak tau nanti malam si pria gila itu akan membawaku kemana, untuk apa barang sebanyak ini?” tanya Kasih sembari memelototi semua barang pilihan Karina ditangan para pegawai toko yang berdiri berderetan.
“Percayakan saja padaku.” Ucap Karina percaya diri. “Aku akan membuatmu menjadi seorang dewi malam ini.”
“Baiklah. Mohon bantuannya Nona Karina,” ucap Kasih memasang pose imut yang dibuat-buat dengan mata berkedip yang akhirnya membuat keduanya tertawa senang.
***
Di dalam sebuah mobil limosin Tuan Smith sedang duduk memandangi bunga mawar merah yang dipegangnya. Ia agak tidak yakin dengan ide John yang menurutnya agak sedikit tidak cocok untuk dirinya. Setelan jas rapi, bunga mawar merah dan makan malam romantis semuanya terasa tidak seperti dirinya yang biasa. Ia merasa sedikit aneh. Demi memikat seorang gadis muda bernama Kasih ia sampai harus repot seperti sekarang. jika saja Kasih adalah gadis yang biasanya akan mengejar dirinya maka tuan Smith pastilah tidak perlu bersusah payah seperti saat ini.
“Ini sungguh tidak masuk akal.” Tuan Smith menertawakan dirinya sendiri. “Aku melakukan hal memalukan ini hanya demi gadis kecil dan bodoh itu. Benar-benar tidak dapat dipercaya. Konyol.”
__ADS_1
Ponsel Tuan Smith berdering.
“Halo.”
“Tuan, saya sudah menyiapkan semuanya. Anda tinggal datang dengan membawa Nyonya saja, saya telah mengatur semuanya,” kata John menjelaskan dari sambungan telepon pada tuan Smith.
“Baiklah,” kata Tuan Smith singkat.
FLASHBACK ON
“Tuan, jika boleh saya menyarankan pada anda untuk lebih lembut pada Nyonya.”
“Aku sudah sangat bermurah hati pada gadis itu. aku memberikan semua yang disukai wanita. Uang dan status apalagi yang dibutuhkan gadis kecil itu agar aku berkesan baginya?” tanya Tuan Smith emosi.
“Tuan, Nyonya adalah seorang gadis muda yang masih sangat polos. Ia tidak akan mudah terkesan pada seorang pria terlebih anda ....” John menjeda perkataannya karena takut menyinggung tuannya.
“Lanjutkan hingga selesai.”
“Begini Tuan, anda tau sendiri anda telah berbuat apa pada nyonya. Di dalam hati Nyonya anda seperti apa baginya, anda juga sudah mengetahuinya dengan jelas. Jadi, menurut saya jika anda sungguh ingin membuat Nyonya terkesan pada anda, yang harus anda lakukan adalah jadi pria romantis seperti pangeran yang seringkali dibaca oleh Nyonya.”
FLASHBACK OFF
“Seorang pria romantis? Sungguh konyol.”
Tuan Smith lalu turun dan menyuruh Wendy sang asisten kepala pelayan untuk memanggil Kasih.
Di dalam mansion Wendy yang baru saja menerima pesan dari tuan Smith bergegas memanggil sang Nyonya untuk keluar dari dalam kamarnya.
“Nyonya, Tuan Sudah menunggu dibawah,” kata Wendy berseru dari balik pintu kamar.
“Baiklah. Aku akan segera keluar!” Balas Kasih sembari memandangi dirinya di depan cermin. “Apa sungguh benar berdandan seperti ini?” Kasih terlihat agak ragu dengan dandanan ala Karina.
Klek!
Pintu kamar terbuka secara perlahan lalu Kasih melangkah keluar. Wendy yang melihat Nyonya nya itu tampak terkesima.
“Nyo ... nya?” katanya tidak percaya dengan apa yang ia lihat.
Kasih tersenyum pada Wendy lalu kemudian ia bergegas turun untuk menemui tuan Smith yang sedang menunggu dirinya di dalam mobil.
“Kemana perginya gadis bodoh ini? kenapa sangat lama sekali.” Tuan Smith mulai terlihat gusar menunggu Kasih yang tidak kunjung muncul. Saat ia sedang menelpon Wendy untuk bertanya tentang Kasih, seketika mata tajamnya menangkap siluet seorang gadis sedang berjalan kearahnya. Tuan Smith terpana melihat Kasih dengan balutan gaun putih dan riasan sederhana yang membuatnya tampak seperti seorang dewi. Entah mengapa saat dulu ia melihat Kasih ia sama sekali tidak tergerak, akan tetapi sekarang sepertinya semua itu telah berubah, tampaknya kini hati tuan Smith telah tergerak dan berlari dengan cepat menuju gadis yang telah ia cintai. Gadis yang awalnya tidak pernah ia hiraukan itu perlahan telah mencuri hatinya tanpa ia sadari.
BERSAMBUNG...
__ADS_1