Cinta Itu Kasih

Cinta Itu Kasih
Episode 56 Sekretaris


__ADS_3

Di kamarnya Kasih sedang memakai seragam kantoran seperti yang diperintahkan oleh Tuan Smith padanya. Ia masih mengingat bertapa tidak berperasaannya pria gila itu menyuruhnya untuk ikut pergi dengannya ke kantor setiap hari dan bekerja. Bukankah ia masih harus mengurus anaknya? Ia tidak habis pikir apa yang ada didalam kepala pria itu. Namun ia hanya bisa menurut saja karena ia sudah membatalkan perjanjian dan akan terikat selamanya dengannya.


“Aku tidak peduli jika harus mengorbankan diriku sendiri, aku tidak akan membiarkan keluargaku ditindas.”


“Kau harus memakai ini, ikut denganku pergi ke kantor dan bekerjalah dengan baik!” Ucap kasih meniru perkataan tuan Smith waktu itu dengan gerakan meledek sembari menatap dirinya sendiri didepan cermin.


“Apa dia pikir aku ini boneka atau apa? Sial sekali dia selalu berhasil membuatku kesal!”


Kasih lalu bergegas pergi setelah mengambil tas tangan miliknya. Wendy dan Dan mengikuti majikannya itu dari belakang.


“Dan akan mengawalku. Kau tetaplah di mansion untuk jaga bayi Ed bersama dengan Namira dan Dita,” kata Kasih memberi perintah pada Wendy.


“Baik, Nyonya.”


 


 


Sementara itu di perusahaan Melinda yang sedang duduk memeriksa sebuah dokumen yang baru saja diserahkan padanya seketika tercengang setelah ia membaca dokumen itu dan ada foto seseorang yang ia kenal.


“Apa-apaan ini?” gumam Melinda terkejut sembari memegang dokumen penerimaan karyawan yang dimana dokumen itu menyatakan Kasih sang istri Bos pemilk perusahaan akan berkerja sebagai salah satu sekertaris dibawahnya yang adalah seorang kepala sekertaris. Foto Kasih pada dokumen itu sebagai penguat dugaan Melinda membuatnya menggeram kesal.


Dengan cepat jari jemari lentik Melinda menekan tombol telepon untuk menghubungi John. Ia merasa sangat penasaran dan ingin bertanya kebenaran dari dokumen yang baru saja ia terima.


“John, apa maksud dokumen yang baru saja aku terima ini?” tanya Melinda tanpa berbasa-basi.


“Dokumen itu asli, Tuan Smith sendiri yang membuatnya,” tutur John menjelaskan lalu sambungan telepon berakhir.


Melinda mendelik tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar. Ia mengeraskan genggaman tangannya hingga membuat dokumen itu remuk lalu membantingnya diatas meja kerjanya.


“Gadis jalang itu, entah apa yang sedang ingin direncanakan olehnya. Aku pastikan kau akan mendapat pelajaran berharga di sini. Tunggu saja.” Dari bola mata Melinda terpancar kebencian dan rencana licik yang siap dilakukannya untuk menyambut kehadiran Kasih di kantor ini.


 


 


Mobil yang dikemudikan Dan telah sampai di depan gedung perusahaan milik keluarga Alexander. Dan bergegas turun dari mobil untuk membukakan pintu untuknya.


“Silahkan, Nyonya.”


Kasih menghela nafas untuk beberapa saat. Ia sungguh merasa tidak terbiasa dengan situasi kantor milik suaminya itu. Semua orang menatapnya seakan ia adalah orang berharga yang tidak patut untuk berada di tempat itu. Sepanjang jalan menuju ruangan tuan Smith, mata seluruh orang yang bekerja di gedung itu tidak berhenti menatapnya dengan keheranan.


Kini Kasih telah duduk di depan Tuan Smith yang sedang berpura-pura sedang membaca sebuah dokumen.


“Apa kau akan membiarkanku seperti ini sampai jam pulang kantor?” sindir Kasih memasang wajah kesal.

__ADS_1


Sebuah suara dokumen ditutup kuat terdengar, Tuan Smith bangkit dari kursinya dan berjalan menghampiri Kasih yang sedang duduk di hadapannya. “Kurasa kau cukup cocok dengan pakaian itu,” mata tajam bak elang milik Tuan Smith menatap Kasih dari pangkal kaki hingga ujung kepala memperhatikan setiap incinya. “Kau terlihat cukup ...  cantik.”


“Sebaiknya kau berbicara terus terang padaku. Apa yang kau inginkan dariku? Kenapa menyuruhku kemari?” tanya Kasih tidak sabaran.


“Bukankah sudah kukatakan padamu? Kau kemari untuk bekerja dan kau sekarang adalah pegawaiku.”


Kasih menarik napas dalam-dalam berusaha menahan amarah didalam hatinya. “Terserah kau saja. aku harus mulai dari mana untuk bekerja.”


“Kau sangat bersemangat. Itu barulah istriku,” ucap Tuan Smith menepuk pundak Kasih dengan santai namun Kasih tidak bereaksi apapun dan hanya menghela napas kesal. Melihat Kasih yang tampak sangat kesal Tuan Smith lalu mengambil kartu identitas pegawai dari dalam laci mejanya.


“Selamat. Secara resmi kau sekarang adalah pegawaiku.” Sembari mengalungkan kartu itu pada leher Kasih.


Kasih memutar bola matanya bosan. “Jika kau sudah selesai bertele-telenya, maka aku akan segera pergi untuk bekerja,” Kasih bergegas bangkit berdiri dan hendak pergi namun tangan kuat milik Tuan Smith menahan lengannya.


“Sekarang apalagi?!” tanya Kasih menatap Tuan Smith marah.


“Bukankah kau bilang ingin mulai bekerja? Kau sudah di tempat kerjamu sekarang.”


“Hah???”


Beberapa saat kemudian Kasih sudah memulai aktivitasnya sebagai salah seorang pegawai kantoran di tempat suaminya sendiri. Status Kasih ditempat itu adalah seorang sekertaris khusus Tuan Smith. Entah mengapa Tuan Smith memberinya tugas seperti itu, Kasih menganggapnya sebagai alat untuk membuatnya menderita.


‘Yang benar saja, dia punya begitu banyak sekertaris dengan skill yang tidak perlu diragukan, untuk apa mempekerjakanku yang bahkan tidak lulus sekolah. Dia pasti ingin membuatku semakin menderita. Dasar pria gila yang tidak mau rugi. Menyebalkan! Tunggu saja, aku akan membalasmu nanti.’


Kasih menatap tajam kearah Tuan Smith dengan tatapan kesal yang ia punya sembari mengetik setiap kata yang akan didikte oleh pria yang sangat amat teramat menyebalkan dihadapannya itu.


“Bagus. Kau melakukannya dengan baik. Lanjutkan!” Tuan Smith lalu kembali membacakan kalimat yang harus diketik oleh Kasih dan menyuruh agar gadis itu untuk bekerja dengan cepat.


“Apa aku sungguh harus mengetik semua ini dengan kau yang membacakannya untukku? Sungguh! Aku bisa bekerja dengan lebih cepat jika kau membiarkanku membacanya sendiri.”


“Tentu saja, aku sebagai suami dan juga Bosmu disini dengan senang hati sedang berusaha membantumu. Kau tidak akan menemukan Bos seperti diriku ini. Kau harusnya bersyukur,” ujar Tuan Smith bangga.


Kasih memanyunkan mulutnya mengejek. Ia sungguh merasa kesal setengah mati dengan sikap narsis pria dihadapannya. Namun, semua ini adalah kesalahannya sendiri karena menandatangani sebuah surat perjanjian tanpa membaca isinya baik-baik dan sekarang ia harus menerima perlakuan Tuan Smith yang menyebalkan.


Sesungguhnya Kasih yang polos sama sekali tidak mengerti apa tugas dan tanggung jawabnya sebagai sekertaris khusus. Yang ia tau ia hanya harus mengikuti perintah dari Tuan Smith duduk dimeja kerja milik Tuan Smith sembari mengetik sesuatu itupun jika Tuan Smith memberi perintah, jika tidak maka ia boleh pergi melakukan hal lain sesuka hatinya.


“Aku tidak pernah tau jika pekerjaan seorang sekertaris khusus hanya mengetik saja dan itupun kau sudah mendiktekannya untukku. Tapi, entah mengapa aku merasa ini sedikit aneh.” Kasih merasa sedikit aneh dengan pekerjaannya sebagai seorang sekertaris dengan tugas yang terbilang sangat sederhana berbeda jauh dengan beberapa seketaris Tuan Smith yang lain yang terlihat sangat sibuk dan banyak sekali dokumen menumpuk dimeja kerjanya. Wajah para sekertaris itu juga tampak selalu serius.


“Apakah aku sungguh hanya perlu mengerjakan ini saja?” Gumam Kasih bertanya-tanya sembari mengalihkan pandangannya pada John yang berada tak jauh darinya.


John hanya mengangguk membenarkan pertanyaan Kasih barusan sembari memasang wajah tenang.


 


 

__ADS_1


***


 


 


Ibu Kasih meletakkan kartu yang ia dapat dari Kasih waktu itu di atas tempat tepat didepan Ayah Kasih yang sedang mengemasi pakaiannya untuk dibawa berangkat keluar negeri sebentar lagi. Ayah Kasih menatap sang istri dengan tatapan bertanya, “Apa ini, istriku?”


“Kasih yang memberikannya padaku, ” kata Ibu Kasih menjelaskan. “Ia ingin kita membuka kembali usaha kita.”


“Apa maksudmu, istriku? Membuka usaha itu membutuhkan modal yang sangat besar. Untuk apa Kasih sampai memberikan uang sebanyak itu pada kita. Kita tidak boleh mengambil uang itu, cepat kembalikan uang itu padanya... “


“awalnya aku juga sependapat denganmu, sayang. Hanya saja anak itu memaksa. Katanya uang ini bukan apa-apa baginya karena suaminya sangat kaya raya. Jadi aku rasa tidak apa-apa jika kita menerima uang ini untuk memulai kembali usaha kita. Nanti setelah usaha kita meraih kesuksesan maka kita bisa mengembalikan uang ini padanya.”


Ayah Kasih sempat merasa sependapat dengan sang istri namun tetap saja ia merasa tidak pantas untuk merepotkan anaknya itu dengan memberikan uang dalam jumlah banyak pada mereka sebagai modal usaha. Perasaannya terbebani jika harus membuat menantunya juga ikut campur dalam kesulitan keluarganya.


Ia kemudian mengeluarkan ponselnya dan mulai menghubungi Kasih.


“Halo, Nak!”


“Ayah, apa kabar? Apakah Ayah sedang bersiap-siap?”


‘anak itu memang tidak bisa dibohongi.” Batin sang Ayah mengetahui bahwa anaknya itu sungguh memiliki insting yang sangat kuat. Sedari kecil Kasih memanglah sangat dekat dengannya. Kasih seorang anak yang polos dan manis. Sangat garang dari luar namun di dalam hatinya sangat peduli pada keluarga.


“Ayah akan berangkat hari ini. Tapi Ayah tidak bisa menerima uangmu ini. Jumlahnya sangat banyak, Ayah merasa sangat sungkan.”


“Ayah tidak perlu merasa seperti itu. Gunakanlah uang itu. Aku akan memberikan Ayah dan Ibu uang setiap bulan jadi Ayah tidak perlu kemana-mana,” ucap Kasih disambungan telepon.


Ayah Kasih bingung. “Tidak perlu kemana-mana? Apa maksudmu, Nak?” tanya Ayah Kasih tidak mengerti.


Pada saat itu juga muncul Nenek Kasih yang seketika membuat Ayah dan Ibu Kasih sangat kaget sekaligus bingung. Dan mereka semakin terkejut lagi dengan pernyataan dari Nenek Kasih.


“Kau tidak perlu kemanapun. Aku sudah membatalkan penerbanganmu.”


 


 


BERSAMBUNG...


 


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2