Cinta Itu Kasih

Cinta Itu Kasih
Episode 76 Lupa Ingatan


__ADS_3

Wanita cantik dan bertubuh indah bernama Melinda berjalan dengan anggun di dalam mansion milik keluarga Alexander. Pikirannya berkelana membayangkan dirinya berubah menjadi Nyonya Alexander menggantikan Kasih yang masih saja terbaring koma. Ia sangat yakin Kasih sudah tidak memiliki harapan lagi untuk sadar kembali dan dirinya memiliki impian besar untuk bisa menjadi istri pria terkaya itu.


“Gadis bodoh itu sangat tidak beruntung kehidupan mewah seperti ini harus dilepaskannya begitu saja, bukankah itu sangat disayangkan? Jika itu aku, aku akan menjaganya dengan baik dan tidak akan dengan mudah melepaskannya begitu saja. Kemewahan ini, harus menjadi milikku. Harus!”


Semenjak Kasih jatuh koma, Melinda yang adalah kepala sekretaris pribadi Tuan Smith yang bertugas mengurusi pekerjaan kantor yang diabaikan Tuan Smith selama ini mendapat keleluasaan berlalu lalang di dalam mansion megah keluarga Alexander. Melinda selalu datang setiap hari membawa berkas-berkas penting untuk ditandatangani Tuan Smith sekaligus mencuri kesempatan untuk mendekati sang Bos yang memilih bekerja di rumah sambil menjaga istrinya daripada harus datang ke kantor.


Di depan pintu ruang rawat Kasih, Melinda mengetuk pintu lalu terdengar sebuah suara dari dalam yang memperbolehnya masuk. Melinda membuka pintu matanya tertuju pada Kasih yang masih belum kunjung sadar.


‘Kapan sih gadis bodoh ini mati?’ Batin Melinda melangkah mendekati Tuan Smith dengan sejumlah berkas penting ditangannya.


“Saya membawa berkas yang harus anda tanda tangani, Tuan.”


“Letakkan saja disitu,” kata Tuan Smith tanpa menoleh melihat kearah Melinda. Wanita itu terlihat menahan kesal karena terus saja diabaikan oleh sang Bos.


“Bagaimana perkembangan nyonya, Tuan?” tanya Melinda berbasa-basi.


“Kau tidak punya mata?” sindir Tuan Smith dingin.


‘Bagaimana aku punya kesempatan untuk mendekatinya, jika sikapnya sedingin ini.’


Melinda tersenyum kecil menahan perasaan marah dihatinya. “Maafkan saya, Tuan.”


“Pergilah jika kau sudah selesai,” ucap Tuan Smith datar.


Melinda menutup pintu lalu menghentakkan kakinya menggerutu kesal. “Aku menghabiskan waktuku untuk berdandan cantik setiap hari, menggunakan pakaian indah untuk menarik perhatiannya, lalu apa yang kudapatkan. Bukannya pujian malah sikap dingin, menyebalkan! Argh! Semua ini sungguh membuatku kesal.” Melinda bergumam marah sambil melangkah pergi.


Tuan Smith mulai bekerja membaca semua berkas yang dibawa oleh Melinda barusan. Ruang kerjanya dan tempat untuk tidur sudah dipindahkannya kedalam satu ruangan dengan ruang rawat Kasih. hampir sama sekali Tuan Smith tidak pernah meninggalkan ruangan itu. Makan, bekerja dan juga tidur dilakukannya ditempat yang sama.


Sementara Tuan Smith sedang sibuk bekerja, ia tidak menyadari jari telunjuk Kasih sedang bergerak-gerak sedikit.


 


 


***


 


 


Ibu Kasih menangis sembari menyebut nama anaknya dalam doanya. Hatinya perih merasa sakit menerima fakta putri pertamanya yang ia banggakan kini sedang terbaring tak berdaya di ranjang.


“Tuhan, kasihanilah anakku, Kasih. Ia sudah begitu banyak menderita, tolong buat ia segera sadar dari tidur panjangnya.”

__ADS_1


Tepat setelahnya kedua pelupuk mata Kasih perlahan terbuka. Samar-samar pandangannya menatap langit-langit ruangan. Tubuh Kasih masih sangat lemah dan saat ini ia merasa sangat haus. Bibirnya yang kering bergerak mengucapkan kata yang susah payah ia ucapkan.


“A, aair. Air... “ suara Kasih lambat laun mulai terdengar meski sangat lemah.


Tuan Smith yang sedang sibuk bekerja tersentak kaget menajamkan indra pendengarannya, merasa takut salah mengira dirinya hanya sedang berhalusinasi saja.


“Air ... haus ... “ suara lemah itu kembali terdengar dan kali ini Tuan Smith segera bangkit berdiri buru-buru menghampiri Kasih.


“Kasih?!” Tuan Smith membelalak tidak percaya. Gadis yang selama ini ia tunggu telah sadar. Sontak ia memeluk erat gadis yang sangat dirindukannya itu lalu memastikan keadaannya.


“Apakah kau haus? Minumlah ini.” Tuan Smith mengambilkan segelas air dan meminumkannya pada Kasih perlahan. Nyonya muda itu meminumnya dengan cepat. Tuan Smith menatap bahagia pada wajah istrinya tangannya bergerak mengelus pipi Kasih memastikan apa yang sedang ia lihat bukanlah sebuah khanyalan atau mimpi semata.


“Kau sungguh telah sadar, Kasih.”


“Siapa, Kau?” tanya Kasih perlahan dengan wajah takut sekligus bingung.


Tuan Smith sontak tercengang menatap Kasih. “Apa maksudmu? Kau tidak mengenaliku?” tanya Tuan Smith kemudian.


“Aku tidak mengenalmu, menjauh dariku!” ucap Kasih galak.


Dokter sudah datang dan selesai memeriksa kondisi Kasih bahkan semua orang sudah berkumpul memenuhi ruangan tempat Kasih dirawat.


“Ya, ampun, Sih. Akhirnya kau sadar juga. Aku sangat bahagia, kau membuat semua orang takut, apa kau tau?” berondong Karina sembari memeluk tubuh Kasih dengan perasaan sangat bahagia. Orang yang dipeluknya terbengong memasang wajah bingung.


“Maaf, Siapa kau?” kata Kasih yang sontak membuat semua orang terheran menatap Tuan Smith dan dokter dengan pandangan penuh tanya.


Tuan Adam mendekat lalu memegang kedua pundak Karina. “Tenanglah sedikit, biarkan dokter menjelaskan apa yang sedang terjadi.”


“Semua ini karena trauma hebat yang dialami oleh Nyonya sehingga membuatnya menekan pikirannya sendiri dan melupakan sebagian memori yang tidak ingin diingatnya,” ucap Dokter menjelaskan.


“Sampai kapan dia akan seperti ini, Dok?” sahut Karina bertanya.


“Saya tidak dapat memastikannya, Nona. Hanya sebaiknya jangan membuat pikirannya tertekan hal itu bisa berbahaya baginya. Sebisa mungkin untuk tidak mengungkit hal yang membuatnya trauma.”


Semua orang mengalihkan pandangan kearah Kasih yang menatap bingung sekelilingnya.


Tuan Smith memerintahkan pada semua orang untuk menjaga Kasih agar tidak merasa tertekan. Terlebih, melarang semua orang untuk mengungkit hal apapun yang dapat membuat Nyonya muda itu sampai mengingat hal-hal yang mengerikan yang pernah dialaminya.


“Kasih? kau sudah merasa baikan?” tanya Karina perhatian.


“Apakah namaku Kasih? sejak tadi kulihat semua memanggilku begitu.”


Karina hampir menitikkan airmatanya berjalan mendekat lalu duduk tepat diujung samping tempat tidur Kasih. “Tentu saja itu adalah namamu, gadis bodoh.” Karina mencubit pelan hidung Kasih membuat gadis itu menatap Karina bingung.

__ADS_1


“Mulai sekarang aku akan menjagamu, Kasih. Aku tidak akan membiarkan orang lain menyakitimu,” ucap Karina sembari menarik Kasih kedalam pelukan hangatnya. ‘Aku bukanlah sahabat yang baik karena  tidak sanggup melindungimu, maafkan aku.’


 


 


***


 


 


“Lepaskan! Jangan mendekat!” teriak Kasih ketakutan saat Tuan Smith berusaha mendekati dirinya.


“Ada apa? Apa yang terjadi denganmu, Kasih? aku adalah suamimu.”


“Tidak! kau bukan suamiku. Pergi! Menjauh dariku!” Kasih berteriak histeris membuat Karina dan yang lainnya datang menghampiri melihat apa yang sedang terjadi. Kasih terlihat sangat ketakutan dan terus berteriak histeris tatkala pria yang adalah suaminya sendiri berjalan mendekati dirinya.


“Kasih?!” Karina datang dan menghambur memeluk tubuh Kasih yang gemetaran. “Apa yang terjadi padamu?” tanyanya seraya menoleh menatap Tuan Smith yang kebingungan dengan sikap aneh Kasih.


“Tenanglah! Tidak apa-apa, Sih. Aku ada bersamamu, ” ujar Karina mengelus lembut pucuk kepala Kasih mengalirkan ketenangan pada tubuh yang bergetar hebat itu.


“Jauhkan dia dariku. Aku tidak ingin dia ada disini!” ucap Kasih menenggelamkan wajahnya pada tubuh Karina bersembunyi tidak ingin melihat wajah Tuan Smith. Gadis bernama Karina itu menatap Tuan Smith memberikan isyarat. Tuan Adam yang memahami situasi bergegas menarik lengan Tuan Smith pergi keluar disertai John dan para pelayan yang lain meninggalkan kedua gadis itu di dalam.


Beberapa saat kemudian Karina melangkah keluar setelah menenangkan Kasih yang kini telah tertidur. Diluar ia bertemu dengan Tuan Smith yang masih menunggu sejak tadi.


“Apa yang terjadi dengannya?” tanya Tuan Smith pada Karina dengan tidak sabaran.


“Harusnya aku yang bertanya padamu. Apa yang telah kau lakukan padanya hingga ia sangat takut padamu?!” tanya balik Karina marah.


Tuan Smith terdiam mengalihkan pandangannya menghindari tatapan marah Karina. “Jelaskan padaku, apa kau telah berbuat sesuatu yang menyakitinya? Jawab aku, Tuan Smith Alexander!” tutur Karina penuh tekanan.


“Itu bukan urusanmu,” ucap Tuan Smith datar menghindari Karina yang terus mendesak dirinya.


“Tidak ingin berbicara?! Baiklah. Jangan sampai aku mengetahuinya kalau kau telah berbuat sesuatu yang menyakitinya. Jika sampai aku tau, aku akan membawa Kasih pergi jauh dari hidupmu!”


“Siapa kau?! Kau bukanlah siapa-siapa dibandingkan aku yang adalah suaminya. Tidak ada yang boleh mengambilnya dariku,” bentak Tuan Smith tegas.


“Kau memang adalah suaminya, tapi jika suatu hari ia berkata ingin meninggalkanmu, maka saat itu aku tidak akan membiarkanmu bertemu lagi dengannya. Ingat itu dengan baik!” Kasih melangkah pergi meninggalkan Tuan Smith yang terdiam seribu bahasa sembari menatap pintu kamar Kasih membukanya perlahan dan hanya menatap dalam diam Kasih yang sedang terlelap dari ambang pintu tempatnya berdiri.


‘Maafkan aku, Kasih.’


BERSAMBUNG...

__ADS_1


 


 


__ADS_2