Cinta Itu Kasih

Cinta Itu Kasih
Episode 69 Brandon


__ADS_3

Taksi yang ditumpangi oleh Kasih berhenti tepat disebuh kafe di tengah kota. Sebelum turun dari taksi Kasih memberi beberapa lembar uang dari dompet miliknya pada supir tanpa mengambil kembalian.


‘Aku pasti sudah gila melakukan hal ini.’ batin Kasih dalam hati sembari menatap kafe dihadapannya lalu mengambil langkah memasuki tempat yang cukup ramai pengunjung itu setelah sebelumnya menarik nafas panjang.


Di dalam kafe seseorang yang mengirimkan surat ancaman padanya sudah duduk menunggu kedatangannya sambil mengangkat gelasnya memberi isyarat pada Kasih. Dengan langkah pasti Kasih berjalan mendekati orang itu yang ternyata adalah Brandon, senior Kasih dulu saat masih sekolah. Juga adalah orang yang telah melakukan hal-hal yang membuat Kasih trauma.


Tas tangan yang dibawah oleh Kasih diletakkannya dibangku sebelah dirinya lalu mengambil bangku yang lain untuk ia duduk. “Katakan apa maksudmu mengirimiku ini!” kata Kasih geram sambil melempar surat yang dikirimkan Brandon itu ke atas meja tepat dihadapan Brandon.


Brandon sama sekali tidak merasa marah, ia justru tersenyum mengejek sembari meminum minumannya dengan santai.


“Aku tidak habis pikir denganmu. Orang seperti apa yang tega melakukan semua hal memalukan ini padaku dan sekarang kau berniat untuk memerasku?! Sungguh tidak tahu malu!” lajut Kasih meluapkan kemarahannya.


“Kasih, sekarang aku sedang kesulitan uang. Kita juga bukanlah orang yang tidak saling kenal, kita pernah berada di sekolah yang sama. Kita berdua adalah teman sekolah. Sekarang kau telah mendapatkan kehidupan yang sempurna bukankah akan sangat bagus jika kau memberikan sedikit bantuan padaku? Ayolah! Aku juga tidak akan meminta terlalu banyak padamu.”


“Apa kau bilang? Teman?” tanya Kasih menahan emosi. “Huh! Aku tidak pernah tau bahwa ada teman yang dengan tega melecehkan temannya. Apa kau telah melupakan apa yang telah kau perbuat padaku saat di sekolah waktu itu?!” tanya Kasih dengan airmata yang berderai.


“Ayolah. Kau jangan terlalu perhitungan begitu padaku. Semua itu terjadi di masa lalu, jangan diungkit lagi,” ucap Brandon santai.


“Apa?!” Kasih tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.


“Kau telah menjadi Nyonya Alexander sekarang, uang 50 milyar pastilah bukan masalah besar bagimu,” lanjut Brandon memakan cemilan yang telah dipesannya sebelum Kasih datang. “Coba saja kau bayangkan jika aku menceritakan masa lalumu saat kau masih disekolah dulu, aku tidak berani jamin Tuan Smith itu apa masih mau menerimamu sebagai istrinya. Kau harusnya bersyukur aku tidak melakukan hal itu ....”


Kepalan tangan Kasih mengepal erat bahkan seluruh tubuhnya ikut gemetaran karena menahan kemarahan yang teramat sangat.


“50 milyar dan aku tidak akan berbicara apapun,” tandas Brandon sembari pergi meninggalkan Kasih seorang diri dengan perasaan marah yang siap meledak.


Setelah Brandon pergi, Kasih yang menahan amarahnya hanya bisa menangis karena tidak bisa membela dirinya. Ia tengah dilanda kebingungan dan rasa takut.


“Aku benar-benar seorang pecundang bodoh! Bodoh! Bodoh sekali!” guman Kasih menenggelamkan wajahnya diatas meja dengan kedua tangannya sebagai bantalannya. Kasih menangis dalam diam.


Beberapa waktu kemudian sebuah suara yang tidak asing menyela tangisnya. Kasih seketika mendongak menatap wajah pemuda yang juga sedang menatapnya dengan pandangan cemas terpancar dari kedua bola mata sang pemuda.


“Nyonya?”


 


 


***


 


 


Di dalam mobil Kasih merasa canggung karena Dan sang pengawal telah berhasil menemukan dirinya dan tanpa sengaja melihat dirinya yang sedang menangis tadi.


‘Gawat! Gawat! Apa dia melihat aku bertemu dengan Brandon tadi? Aku berharap itu tidak terjadi, kumohon katakan padaku jika dia tidak melihat Brando ....’


“Itu ...”


“Itu ...”


Kasih dan Dan berucap secara bersamaan membuat keduanya mengalihkan pandangan kearah lain beraharap dapat menepis rasa canggung yang sedang tercipta.


“Kau saja yang berkata duluan,” kata Kasih pada Dan tanpa memandangnya.


“Apa tadi Nyonya sedang menangis?” tanya Dan kemudian.


‘Gawat! Sungguh gawat! Dia pasti telah melihat Brandon. Apa yang harus aku katakan padanya?!’


Kasih merasa gelisah dan takut. Ia khawatir Dan akan mengetahui masa lalunya dan hal itu pasti akan segera tersebar. Dengan hati-hati Kasih kemudian memberanikan diri untuk bertanya pada Dan.


“Kau, apa kau tadi melihat seseorang?” tanya Kasih dengan perasaan harap-harap cemas.

__ADS_1


“Maksud anda?” tanya Dan dengan pandangan bingung.


“Tidak ada,” kata Kasih cepat. “Aku tidak mengatakan apapun.”


“Anda tampak kurang sehat, Nyonya. Ada apa?” tanya Dan melirik dari kaca spion.


“Aku ... aku baik-baik saja. Tadi aku hanya merasa sedikit lelah. Bisakah kau langsung mengantarku pulang?” ucap Kasih mengalihkan pembicaraan.


“Baiklah, Nyonya.”


Kasih menghela nafas lega karena merasa Dan tidak melihat ia bertemu dengan Brandon tadi. ‘Syukurlah ia tidak melihat Brandon.’


 


 


***


 


 


Di kamarnya Kasih menatap cermin yang memantulkan bayangan dirinya sembari duduk termenung di depan meja riasnya dengan tatapan kosong. Tangannya terus bergerak menyisir rambutnya tanpa henti hingga Tuan Smith yang memasuki kamar keheranan melihat tingkah sang istri.


“Rambutmu sudah botak, apa kau tahu itu?” ucap Tuan Smith menyindir.


Kasih seketika tersadar menatap Tuan Smith dengan pandangan bingung. Ia tampak canggung setelah menyadari sejak tadi ia terus saja menyisir rambutnya tanpa sadar.


Menghela nafas panjang Kasih kemudian bergegas merapikan dirinya dan hendak tidur.


“Kau sedang ada masalah?” tanya Tuan Smith tiba-tiba.


“Apa?”


“Apa yang sedang kau katakan? aku tidak sedang punya masalah apapun. Dan hei! Apa-apaan dengan mengganti namaku seenaknya?” protes Kasih.


“Kau tidak perlu menyembunyikan apapun dariku. Kau tentu tau aku akan dengan mudah mengetahui apapun yang ingin kuketahui. Meskipun kau bersikeras menyembunyikannya dariku.”


Kasih menelah ludahnya susah payah. Ia tentu tau seperti apa kekuasaan Tuan Smith yang sangat berpengaruh. Rahasia kecilnya itu cepat atau lambat seorang Tuan Smith pasti akan dengan mudah mengetahuinya suatu hari.


Sebuah handuk dilemparkan tepat diwajah Kasih yang membuatnya menatap sang pelaku yang adalah suaminya sendiri dengan tatapan bingung.


“Keringkan rambutku,” perintah Tuan Smith pada Kasih.


“Um! Baiklah,” tutur Kasih terpaksa.


Tangan Kasih menggosokkan handuk putih itu secara perlahan dikepala Tuan Smith sambil pikirannya yang kosong berkelana entah kemana hingga tanpa sadar handuk yang ia pakai untuk menggosok rambut malah telah berpindah ke wajah Tuan Smith.


“Hei! Hei! Apa yang kau lakukan gadis bodoh?!” protes Tuan Smith menarik handuk yang telah menutupi wajahnya lalu menatap Kasih meminta jawaban.


Kasih yang tersadar kemudian menunduk takut. “Maafkan aku. Aku tidak sengaja.”


“Ada apa denganmu? Apa kau sedang sakit?” tanya Tuan Smith penuh selidik. Suaranya terdengar sedikit cemas.


“Aku baik-baik saja. Sungguh. Aku merasa sedikit mengantuk. Aku ingin tidur. Selamat malam.” Kasih berkata dengan intonasi yang cepat lalu segera membungkus dirinya dengan selimut tebal.


“Sekarang waktu belum masuk jam makan malam dan kau sudah ingin tidur? Sungguh tidak biasa.”


Dibalik selimut tebalnya Kasih menahan nafas cemas. ‘Kumohon cepatlah pergi.’


Lalu beberapa saat kemudian Kasih tidak mendengar pergerakan Tuan Smith dari balik selimutnya. Hal itu membuatnya bernafas lega.


“Akhirnya dia pergi juga,” ucapnya sambil membuka selimut keluar dari tempat persembunyian.

__ADS_1


Melangkah pelan dan hati-hati Kasih mengintip kesana kemari memastikan Tuan Smith sudah tidak berada di dalam kamar. Namun saat berbalik wajah Kasih bertabrakan dengan dada bidang milik Tuan Smith yang hampir membuat Kasih terlempar namun dengan cepat tangan Tuan Smith menahan pinggang Kasih agar tidak sampai terjatuh. Wajah Kasih berubah sangat kaget dengan matanya yang membulat sembari menatap wajah Tuan Smith yang entah mengapa memang sangatlah tampan terlebih ia melihatnya dari arah bawah pria itu.


‘Sial. Kenapa pria gila ini sangat tampan? Aku sampai hampir tidak bisa bernapas dibuatnya.’


“Tampaknya kau sangat nyaman berada di dalam rengkuhanku, hum?” ucap Tuan Smith penuh percaya diri.


Mendengar itu Kasih seketika tersadar dan melepaskan dirinya dari rengkuhan pria dihadapannya.


“Tidak tau diri,” cemooh Kasih mendengus kesal.


“Aku sudah menjadi penolongmu tadi, bukankah kau seharusnya mengucapkan terima kasihmu untukku?”


“Hah? kau, penolongku?” ulang Kasih dengan pandangan sarkasme. “Dalam mimpimu!”


“Kau akan pergi?” tanya Tuan Smith kemudian.


“Menurutmu?” kata Kasih balik bertanya sambil memasang wajah judes.


“Galak sekali. Aku tidak pernah bertemu gadis kecil bodoh yang sangat jutek sepertimu. Kau seorang gadis kecil bukankah harus bersikap lebih manis sesuai usiamu apalagi aku ini adalah suamimu.”


“Tuan Smith yang terhormat. Anda mungkin sangat menikmati memainkan peran menyebalkan sebagai suami istri yang bahagia di depan semua orang, tapi tidak denganku. Aku benci mengetahui bahwa kau, seorang yang bertanggung jawab penuh merusak seluruh hidupku adalah ayah dari putraku,” ujar Kasih dengan suara kencang lalu hendak berbalik pergi. Dengan cepat Tuan Smith menarik tangan Kasih hingga membuat tubuh mungil gadis yang telah mempunyai satu anak itu darinya tertarik kebelakang dengan kuatnya. Hampir saja tubuhnya terhempas ke lantai, beruntung Tuan Smith sigap menopangnya dengan kedua tangannya yang kokoh.


“LEPASKAN AKU!”karena tindakan tiba-tiba Tuan Smith itu Kasih semakin merasa marah. Tangannya memukul-mukul dada pria berbadan lebih besar dan tinggi yang sedang menopang tubuhnya.


Tuan Smith tersenyum licik. Lalu sejurus kemudian tubuh Kasih terangkat serasa melayang karena diangkat oleh Tuan Smith.


“Apa yang kau lakukan?!” pekik Kasih panik. “Aku menyuruhmu untuk melepaskan aku. Apa kau tuli?!”


Tuan Smith tidak menggubris pekikan Kasih yang sangat memekikkan telinga, melangkah dengan tenang seperti tidak ada sesuatu yang terjadi.


‘Manusia gila ini! apa yang hendak dilakukannya?!’


 


 


BERSAMBUNG...


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2