Cinta Itu Kasih

Cinta Itu Kasih
Episode 81 Tiba-tiba Menghilang


__ADS_3

Karina dan juga Rey sekarang sudah berada di kantor polisi untuk melaporkan kasus hilangnya Kasih. Karina menjelaskan semua hal yang dibutuhkan untuk memulai proses pencarian. Lalu tiba-tiba ponsel Rey berdering.


“Halo?” seketika air muka Rey berubah menjadi sangat tegang.


Secepatnya Rey dan Karina berlari pulang menuju rumah. Saat pertama kali membuka pintu rumah Rey begitu terkejut melihat keadaan rumah yang telah acak-acakan barang-barang telah berserakan di atas lantai.


“ Rey .... ” Ibu Rey berjalan menghampirinya sembari menangis ketakutan.


“Ibu, Ayah apa yang telah terjadi kenapa rumah kita menjadi seperti ini?” tanya Rey meminta penjelasan.


“Seseorang telah masuk dan mengobrak-abrik rumah kita Ibu tidak tahu apa yang diinginkannya. Karena semua barang-barang berharga kita masih ada.”


Mendengar penjelasan dari ibu Rey, Karina bergegas masuk menuju kamarnya kemudian mencari sesuatu. Tangannya mengais-ngais barang yang berserakan berharap menemukan apa yang sedang dicarinya.


“Gawat, Rey! kalung pemberian Tuhan Smith untuk Kasih telah hilang!”


“Apa?! Kalung apa yang kau maksud Karina? Apa kau telah kehilangan sesuatu?” tanya Rey menatap bingung Karina yang juga sedang kebingungan karena titipan Tuan Smith untuk istrinya yang sedang lupa ingatan itu telah hilang entah kemana.


“Kalung simbol seorang Nyonya Alexander telah hilang seseorang telah mencurinya dan kurasa orang yang melakukan penculikan pada Kasih yang telah mengambil kalung itu,” kata Karina menjelaskan.


“Ini tidak benar apa semua ini terjadi benar-benar berhubungan dengan Kasih yang menghilang? Kenapa semuanya tiba-tiba menghilang?” kata Karina lagi mencoba untuk mencerna apa yang sedang terjadi.


“Bagaimana ini? apa aku harus menghubungi Tuan Smith mengabarkan tentang Kasih dan kalungnya yang tiba-tiba menghilang. Tidak. lebih baik aku hubungi saja dulu Tuan Adam.” Setelah menimbang-nimbang Karina akhirnya memutuskan untuk menghubungi kekasihnya yaitu Tuan Adam.


Tanpa menunggu waktu lama seusai menerima kabar dari Karina, Tuan Smith segera bergegas menaiki jet pribadi dan pergi mengunjunginya.


Karina menghambur kedalam pelukan Tuan Adam sambil menangis. “Bagaimana ini sayang? aku telah menghilangkan barang yang sangat berharga dan juga, Kasih saat ini tidak diketahui keberadaannya. Aku benar-benar sangat bingung dan takut apa yang harus aku lakukan?”


“Tenanglah sayang. Semuanya akan baik-baik saja aku sudah ada di sini aku akan membantumu menyelesaikan semua masalah ini,” ucap Tuan Adam  menenangkan Karina.


Tuan Adam kemudian mengerahkan seluruh orang-orangnya untuk mencari keberadaan Kasih.


Sementara itu di sisi lain Tuan Smith sedang berada dengan keluarga Kasih. Duduk berhadapan dengan ayah dan ibunya Kasih.


“Tuan Smith apakah anda tidak apa-apa menyerahkan Kasih kepada pria lain begitu saja? Kasih masih berstatus sebagai istri anda bukankah akan sangat keterlaluan jika berbuat hal seperti ini?” tutur Ibu Kasih tidak tega menatap sedih pada menantunya.

__ADS_1


“Tidak apa, Ibu mertua. Aku melakukan hal yang harus kulakukan demi kesembuhannya. Jika memang berjodoh apapun yang terjadi dia akan kembali padaku,” ucap Tuan Smith tenang.


“Tapi,” ucapan Ibu Kasih terpotong oleh suara deringan ponsel Tuan Smith.


“Maaf Ibu mertua saya harus menerima telepon.” Setelah mendapat anggukan dari sang Ibu mertua Tuan Smith lalu mengangkat ponsel dan lalu meletakkannya di dekat telinganya.


Ibu Kasih tidak tahu menahu apa yang sedang dibicarakan Tuan Smith ditelepon. Akan tetapi, ia dapat melihat perubahan dari ekspresi Tuan Smith wajah tenang pria itu tiba-tiba menegang seketika auranya menjadi terasa sangat mengerikan.


“Ibu mertua bisakah anda dan paman bersiap-siap sekarang?” kata Tuan Smith tanpa ekspresi.


 


 


***


 


 


“Gadis itu sudah berada di sini. Lalu, akan kita apakan dia?” Looran berdiri di samping orang itu sambil mengarahkan pandangannya kearah Kasih.


“Kita akan menunggu.” Looran tidak mengerti dan hanya menatap bingung ke arah orang itu.


Semua orang tampak gelisah. Karina berjalan mondar-mandir sambil terus menatap ponsel di tangannya sedangkan Rey duduk sambil menopang kepala dengan kedua tangannya. Mereka belum juga mendap menunggu kabar dari kekasihnya yang pergi menjemput rombongan Tuan Smith dan juga orangtua Kasih. Mereka belum juga mendapatkan kabar dari polisi tentang Kasih dan hal itu semakin membuat Rey frustasi.


Pintu rumah keluarga Rey tiba-tiba terbuka begitu saja dan tampillah John yang membuka pintu, dan kemudian disusul Tuan Adam, kedua orangtua Kasih dan terakhir adalah Tuan Smith. Tidak lupa juga para pengawal yang sudah berjaga di luar.


Karina tersentak melihat saat Tuan Smith yang memasuki ruangan lalu kemudian Ia berlari menghambur ke dalam pelukan Tuan Adam yang juga memeluknya.


“Kenapa kau pergi sangat lama? Aku sangat ketakutan disini,” isak Karina di dalam pelukan Tuan Adam yang menepuk-nepuk punggung Karina menenangkannya.


“ Tenanglah Sayang aku telah berada di sini.”


Suara gesekan antara sepatu dan lantai terdengar, Tuan Smith mendekat ke arah Karina membuat gadis itu seketika mendongak melihat kearah Tuhan Smith yang sudah berdiri di hadapannya wajah angkuh dan aura dingin adalah ciri khasnya dan Karina merasa sangat terintimidasi dengan sosok pria dihadapannya ini. Kedua tuan muda keluarga Alexander ini memang sangat kontras. Satunya sangat lembut dan pengertian, sedangkan yang satunya lagi sangat dingin dan menyeramkan. ‘Pria ini sangat menyeramkan aku tidak dapat membayangkan bagaimana Kasih yang harus setiap saat berada disampingnya dapat bertahan selama ini. Kasih, kau dimana?’

__ADS_1


“Tuan Smith?” Karina menatap kearah Tuan Smith dengan tatapan sedikit takut. ‘pria menyeramkan ini apa yang akan dia lakukan padaku jika ia sampai tahu aku tidak hanya gagal menjaga istrinya tapi aku juga menghilangkan kalung itu? Aku sungguh tidak berani untuk membayangkannya.’


Dengan takut-takut Karina kemudian menjelaskan kejadian satu persatu yang menimpa mereka.


Setelah mendengar penjelasan dari Karina, Tuan Smith tidak berkata apapun ia berbalik melangkah pergi diikuti dengan segerombolan pengawal bersenjata yang mengekor dari belakang.


“Huft! Aku pikir ia akan membunuhku setelah tahu aku telah menghilangkan kalung itu ternyata ia lebih mengkhawatirkan istrinya daripada kalung itu,” ujar Karina seraya menghapus butiran peluh yang ada di pelipisnya. Ia cukup merasa lega sekaligus heran melihat reaksi dari tuan Smith. “Tapi, sayang apa kau memperhatikan ekspresi Tuan Smith barusan? kenapa Tuan Smith menampilkan ekspresi menakutkan seperti itu? membuatku hampir kehabisan nafas karena merasa tercekik saat menjelaskan” ujar Karina Kemudian pada Tuan Adam. Tanpa mereka sadari Rey sudah pergi meninggalkan mereka secara diam-diam.


“Itu bukan urusan kita sayang sebaiknya kita tidak ikut campur. Biarkan Tuan Smith yang menyelesaikan apa yang menjadi urusannya.”


Sementara di dalam mobil Tuan Smith yang sedang dalam perjalanan, ponsel milik Tuan Smith berdering menerima sebuah pesan.


“Brengsek!” geram Tuan Smith menatap marah pada layar ponselnya. Tampak gambar Kasih dengan tubuh terikat dan sedang pingsan pada layar ponsel, hal itu membuat Tuan Smith meremas kuat ponselnya hingga layar menjadi  retak.


“ tambah kecepatannya Apa kau tidak bisa mengemudi?!” teriak Tuan Smith dengan suara kencang.


“Ba, baik! Tuan.” Sopir yang tampak ketakutan itu hanya bisa menurut takut, tidak berani melakukan sesuatu yang dapat menambah kemarahan sang Bos.


Di sisi lain Kasih yang mulai tersadar mengerjap-ngerjapkan matanya menatap ke sekelilingnya mencoba untuk mengenali dimana dirinya sekarang. “Kepalaku terasa sangat sakit. Aku ada dimana sekarang?” gumam kasih lirih menatap takut pada ruangan kosong yang hanya ada dirinya sendiri di dalamnya. Sedetik kemudian ia menyadari bahwa saat ini tubuhnya sedang terikat disebuah kursi ia tampak berusaha menggerak-gerakkan tubuhnya namun nihil ikatannya terlalu ketat. ‘menyebalkan! ikatannya sangat kuat bagaimana caranya aku melepaskan diri dari sini. Kumohon Rey datanglah dan selamatkan aku. Aku sangat takut.’


Suara pintu terbuka Kasih menatap seseorang yang masuk dengan tatapan cemas.


“Anda sudah bangun Nyonya Alexander?” suara orang itu terdengar menyeramkan ditelinga Kasih yang membuatnya bergidik ngeri.


“Si, siapa kau kenapa kau melakukan hal ini padaku aku tidak mengenalmu sama sekali dan siapa Nyonya Alexander yang kau maksud?” kata Kasih tidak mengerti.


Orang itu tertawa sinis. “Siapa aku bukanlah permasalahan sesungguhnya. Apa yang telah dilakukan suamimu itulah yang menjadi masalah utama.” Katanya ambigu.


“suami? Apa yang telah dilakukannya kepadamu?” Kasih mengira yang dimaksud suami oleh orang itu adalah Rey calon tunangannya.


“Bersantailah saja Nyonya, suamimu sebentar lagi akan sampai kemari dan saat itu kalian akan mengucapkan perpisahan yang indah.” Orang itu berbalik keluar dari kamar dan menutup pintunya meninggalkan Kasih yang sudah sangat ketakutan. Genangan bening sudah menumpuk di pelupuk matanya siap untuk meluap membanjiri pipi yang telah kotor terkena debu.


“Rey...” suara Kasih terdengar bergetar lirih seiring dengan air mata yang jatuh mengalir membasahi pipinya.


BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2