
Dikamarnya Kasih terlihat baru saja terbangun dari tidurnya tubuhnya menggeliat meregangkan sendi-sendinya yang terasa sedikit kaku. “Ugh! Sepertinya aku tidur nyenyak sekali rasanya sungguh luar biasa!” pandangan Kasih beralih kepada sosok yang tengah tertidur dengan melipat kedua tangannya didadanya. Pria itu tidur sambil duduk di kursi samping tempat tidur Kasih. “Eh? Pria gila? Apa dia disini sepanjang malam?” Kasih menatap lekat wajah Tuan Smith yang sedang terlelap. ‘Wajah yang sempurna!’
“Kau sudah selesai?”
Sontak Kasih terlonjak kaget ia bahkan hampir terjatuh dari tempat tidurnya. “Astaga! Kau mengagetkanku!”
“Apa kau baru saja mengagumi diriku? Kau baru saja tersadar betapa sempurnanya diriku ini?” tanya Tuan Smith dengan percaya diri.
‘Ck! Benar-benar narsis! Meski yang ia katakan memang benar tapi tetap saja aku tidak menyangka ada pria seperti ini. Entah darimana datangnya rasa percaya diri yang besar itu. Sungguh memang dia adalah pria gila yang narsis.’
Tiba-tiba telapak tangan Tuan Smith menempel pada dahi Kasih membuatnya terkesiap seketika. “Apa yang sedang kau lakukan?”
“Kau sudah tidak demam,” ucap Tuan Smith membandingkan suhu tubuh Kasih dengan menempelkan juga telapak tangannya pada dahinya sendiri.
“Apa-apaan kau ini ...”
“Sebaiknya kau bergegas membersihkan dirimu, setelah itu makan dan minum obat yang diberikan dokter.”
“Apa?” kata Kasih menatap aneh Tuan Smith.
“Kenapa? Apa perlu kumandikan kau sekalian?” ujar Tuan Smith sambil memasang wajah seriusnya.
“Apa yang kau katakan?! Dasar pria gila mesum!”
Tuan Smith tersenyum kecil tanpa disadari oleh Kasih.
“Jika kau mau aku bisa sekalian ....”
“MESUM!!!” Teriak Kasih sembari melempari Tuan Smith dengan bantal. Tuan Smith terkekeh karena berhasil menggoda Kasih seperti itu.
Selesai mandi Kasih keluar dari kamar mandi dengan rambutnya yang masih basah. Tetesan air tampak menitik dari rambutnya yang basah.
Tring!
Sebuah pesan singkat masuk diponselnya dan Kasih segera meraih ponselnya melihat siapa yang mengirim pesan.
Karina: Kau sakit? Kenapa kau bisa bertindak begitu ceroboh. Untung saja kau tidak sampai semalaman berada disana, jika tuan Smith tidak segera membawamu mungkin kini kau sudah berubah menjadi es balok. Dasar kau ini bisa tidak berhati-hati sedikit dengan tubuhmu itu. Kau selalu saja membuat orang lain khawatir. Aku sangat cemas tapi tidak bisa berbuat apa-apa karena kondisiku. Kau jangan lupa minum obatmu dan cepatlah sembuh. Mengerti?
“Astaga, Karina benar-benar seperti seorang ibu yang sedang memarahi anaknya. Tapi aku bersyukur masih ada yang perhatian padaku.”
Kasih: Aku baik-baik saja. Kau tidak perlu khawatir. Aku akan sembuh dengan cepat. Karina, terima kasih.
“Anak ini benar-benar! Awas saja kalau kau tidak segera sembuh,” gerutu Karina saat membaca pesan dari Kasih. Karina kemudian menutup ponselnya lalu berteriak dengan suara keras pada suaminya. “Sayang, aku ingin buah!”
Di dapur Tuan Adam yang sedang memakai celemek berwarna pink terlihat sedang memotong buah-buahan untuk istrinya. “Astaga, aku tidak menyangka aku harus melakukan semua ini. Di kantor aku adalah atasan berwibawa yang dihormati sedangkan di rumahku sendiri aku harus memotong buah yang bahkan tidak pernah kulakukan untuk diriku sendiri,” ujar Tuan Adam menggerutu karena dipaksa oleh sang istri melakukan hal konyol seperti sekarang. “Ditambah lagi, kenapa aku harus menggunakan celemek bodoh ini?! Memalukan sekali.”
“Sayang...!!!” suara Karina yang memanggil dirinya kembali terdengar.
“Iya, sayang. Aku segera datang!” balas Tuan Adam. “Aish! Nasibku sungguh malang. Aku jadi pesuruh di dalam rumahku sendiri padahal dia bisa menyuruh para pelayan untuk melayaninya tapi apa ini? kenapa harus aku yang melakukan semua untuknya. Aku memasak untuknya, memijat bahkan aku juga harus memotong buah meski aku tidak bisa memotongnya dengan benar. Dan kalau aku menolak dia akan langsung menggunakan kalimat pamungkasnya ….”
“Sayang, anakmu ingin kau yang melakukannya.”
“Ya, ya baiklah …” ujar Tuan Adam dengan nada malas berjalan sambil membawa nampan berisi buah yang telah selesai ia potong untuk istrinya, Karina.
Para pelayan di rumahnya hanya bisa menjadi penonton saja sambil menahan tawa mereka melihat tingkah tuan mereka yang tidak biasanya terjadi itu.
“Sayang, suapi aku,” ujar Karina dengan manja.
“Ya, baiklah sayang.” Tuan Adam menuruti keinginan Karina itu meski ia merasa lelah karena seharian ia selalu diperintah ini itu oleh sang istri.
“Sayang.” Panggil Karina sambil mengunyah potongan buah yang disuapi oleh suaminya.
“Em?”
“Sepertinya aku sudah tidak menginginkan buah lagi,” ucap Karina sambil memasang wajah polos.
“Ehhh??? Yang benar saja!” Tuan Adam membulatkan matanya tidak percaya dengan apa yang baru saja Karina katakan.
***
“Aku sungguh tidak menyangka jika memiliki seorang bayi akan repot seperti ini, istri yang sedang datang bulan saja begitu merepotkan terlebih lagi dia yang sedang hamil, benar-benar membuat hidupku seperti bergejolak,” gerutu Tuan Adam pada sang kakak.
Kasih memasuki ruangan kerja Tuan Smith sambil membawa kotak makan siang.
“Oh, Kasih! Selamat pagi,” sapa Tuan Adam pada Kasih.
“Pagi. apa yang sedang kalian bicarakan? Kelihatannya seru sekali.”
“Oh, itu ….”
Beberapa saat setelah Tuan Adam menjelaskan permasalahan yang dihadapinya pada Kasih akhirnya wanita itu mengerti dengan apa yang sedang dialami oleh Tuan Adam saat ini.
“Sepertinya kau harus bersabar, Tuan. Istrimu itu sedang hamil jadi hormonnya sedang tidak stabil,” ujar Kasih menjelaskan.
__ADS_1
“Ya, aku tau. Tapi apa semua wanita hamil mengalaminya? Apa kau juga seperti itu, Kasih?” tanya Tuan Adam keceplosan.
“Eh? Apa maksudmu?” tanya Kasih bingung.
“Maksudku …” kalimat Tuan Adam menggantung karena seketika mulutnya telah dibekap oleh tangan Tuan Smith.
Seketika Tuan Adam menyadari ucapannya barusan. “Oh, tidak. Maksudku apa mungkin kau juga akan mengalami hal seperti yang dialami Karina jika kau hamil nanti?” katanya memberi alasan.
“Aku kan belum pernah mengandung bagaimana aku tau,” ujar Kasih.
“Haha… ya kau benar juga. Aku hanya menerka-nerka saja,” ujar Tuan Adam sembari tertawa hambar menutupi kegugupannya karena telah salah berucap sementara dirinya sudah merasa sangat merinding dengan aura yang dikeluarkan Tuan Smith. ‘Ya, Tuhan aku hampir saja masuk kedalam lubang kuburan yang kugali sendiri. Sungguh menyeramkan.’
Kotak makanan yang dibawa Kasih diletakkannya diatas meja. “Jangan lupa untuk menghabiskannya.”
“Hn.”
Tuan Adam seketika melirik kearah Tuan Smith yang terlihat sangat santai. Baru ketika Kasih telah berada agak jauh dari mereka ia memberanikan diri bertanya pada Tuan Smith dengan suara setengah berbisik.
“Apa kau masih memakan makanan darinya? Perutmu tidak apa-apa? Makanan itu kau tau sendiri kan rasanya ...” Tuan Adam memperagakan seolah ia sedang muntah.
“Ada apa dengan rasanya?” tanya Tuan Smith dengan nada memancing.
“Ck! Kau kan tau sendiri bagaimana mengerikannya masakan Kasih. Asal kau tau perutku sampai sakit berhari-hari setelah hari itu. Kau benar-benar keterlaluan sekali.” Tuan Adam berbicara dengan suara berbisik sambil terus mengawasi Kasih takut jika sampai wanita itu mendengar pembicaraan mereka.
“Tenanglah, sekarang sudah tidak seburuk itu.”
Alis Tuan Adam terangkat sebelahnya kurang paham dengan maksud perkataan sang kakak.
“Kenapa? Apa kau mau mencobanya sedikit?” tanya Tuan Smith ketika melihat Tuan Adam yang tampak kebingungan.
Dengan cepat Tuan Adam melambaikan tangannya menolak tawaran dari kakaknya itu. “Tidak. Tidak. Terima kasih. Aku masih ada urusan aku pergi dulu.” Secepat kilat Tuan Adam bergegas meninggalkan ruangan Tuan Smith. Dalam hati Tuan Smith terkekeh melihat sang adik yang tampak ketakutan seperti itu.
“Ada apa dengan tuan Adam? Dia terlihat ketakutan,” tanya Kasih kemudian.
Tuan Smith hanya mengangkat bahunya dan menampilkan ekspresi seolah ia tidak tahu apapun.
***
Saat waktu makan siang tiba Tuan Adam datang menghampiri ruang kerja Tuan Smith. Ia hendak memberikan sebuah berkas yang membutuhkan tanda tangan dari Tuan Smith.
Sewaktu ia masuk kedalam Tuan Smith sedang memakan bekal makan siang yang dibawakan Kasih tadi untuknya.
“Aku membawa berkas untuk kau tanda tangani,” ujar Tuan Adam sambil memperlihatkan berkas ditangannya lalu meletakkan berkas itu diatas meja.
“Hn,” kata Tuan Smith sembari menandatangani berkas dari Tuan Adam lalu segera setelah itu memberikannya pada Tuan Adam.
Tuan Adam memperhatikan dengan mimik wajah tertekan ia kembali mengingat betapa mengerikannya masakan Kasih waktu itu. Ia masih belum bisa melupakan rasa makanan mengerikan itu rasa yang membuatnya sangat trauma. “Apa kau sungguh berkata yang sejujurnya? Kau sebaiknya tidak usah memaksakan diri untuk memakan makanan itu jika kau tidak tega untuk membuangnya biarkan aku membantumu ….” Tuan Adam hendak mengambil kotak bekal makanan untuk dibuang sebelum hal itu terjadi secepat kilat Tuan Smith menghadangnya. “Aku tau kau sangat mencintai Kasih tapi kalau kau terus memaksakan dirimu seperti ini kau bisa jatuh sakit nanti. Aku adalah adikmu yang baik aku akan membantumu jika kau tidak sanggup membuang makanan …” Belum sempat Tuan Adam menyelesaikan ucapannya seketika Tuan Smith telah menyuapi mulut adiknya itu dengan makanan dari kotak bekal. Kedua mata Tuan Adam membulat seketika makanan itu sebagian masuk kedalam saluran pernafasannya membuatnya batuk tersedak makanan. Namun sejurus kemudian ia tersadar akan rasa makanan yang terasa jauh berbeda dengan ekspektasinya. “Apa ini sungguh masakan yang dibuat Kasih? Sungguh?!”
Tuan Smith mengangguk mengiyakan pertanyaan Tuan Adam sambil duduk dipinggiran meja kantornya dengan santai.
“Apa ini? kenapa bisa makanan yang mengerikan tiba-tiba berubah jadi sangat enak begini? Apa yang terjadi sungguh tidak masuk akal,” ujar Tuan Adam memperhatikan makanan yang berada dalam kotak makanan dari jarak dekat bak seorang detektif yang melihat sebuah bukti dengan kaca pembesarnya.
“Ceritanya panjang. Jika kau sudah selesai sebaiknya kau pergi aku masih banyak pekerjaan,” ucap Tuan Smith sembari kembali duduk di kursi kantor miliknya.
“Kau ini, sibuk apa? kau hanya duduk santai begitu dan semua pekerjaanmu diserahkan pada semua orang-orangmu aku bahkan harus lembur untuk itu. Kau hanya menandatangani berkas dan sesekali ikut rapat benar-benar enak sekali hidupmu.”
“Jadi kau merasa iri padaku? Apa kau ingin menggantikan posisiku? Kebetulan aku ingin pensiun,” ujar Tuan Smith santai.
“Tidak, terima kasih. Aku lebih suka lembur tapi masih bisa menikmati waktu kebersamaanku dengan istriku tercinta. Kau juga sebaiknya luangkanlah waktumu untuk Kasih jika kau hanya membiarkannya begitu saja mungkin saja suatu hari nanti dia akan direbut oleh orang lain,” tutur Tuan Adam memberi nasihat.
“Omonganmu dan istrimu sungguh kompak, kalian memang sangat cocok satu sama lain.”
Tuan Smith lalu terdiam dalam hatinya ia merasa omongan adiknya itu ada benarnya juga terlebih lagi kemunculan pria palsu yang meniru sosok Rey untuk merebut perhatian Kasih baru-baru ini membuatnya mau tidak mau harus memikirkan sebuah cara untuk membuat Kasih segera jatuh hati pada dirinya dan membuat Ed bisa bersama kembali dengan ibu kandungnya.
Melinda tiba-tiba mendapat sebuah panggilan telepon di meja kerjanya dari ruangan Tuan Smith yang berkata bahwa Tuan Smith ingin mengambil cuti selama sebulan. “Baik, Tuan. Saya akan menyiapkan semuanya,’ ucap Melinda lalu menutup telepon.
“Mengambil cuti? Kenapa tiba-tiba sekali?” gumam Melinda merasa aneh lalu mengambil ponsel miliknya menghubungi Kasih untuk bertemu.
Melinda: Ada yang ingin aku bicarakan apakah kita bisa bertemu?
Kasih: Baiklah. Kita bertemu dimana?
Melinda: Datanglah ke kafe dekat kantor sebelum pulang kantor nanti.
Kasih: Baik.
“Kira-kira apa yang ingin dibicarakan nona Melinda, ya? Sampai mengajak bertemu begini mungkinkah sesuatu yang penting? Aku benar-benar penasaran dibuatnya,” gumam Kasih sembari berjalan masuk ke dalam ruang kantor Tuan Smith namun sebelum ia masuk kedalam seorang pengantar paket menghampiri dirinya.
“Nona ada paket untuk anda,” ujar si pengantar paket memberikan sebuah bucket bunga besar padanya.
“Bunga? Dari siapa ini?” tanya Kasih dengan pandangan bingung. ‘Siapa yang mengirimiku bunga? Apakah aku diam-diam punya pengagum rahasia selama ini? ataukah ini dari Rey? Oh! Aku tidak sanggup membayangkannya.’
“Silahkan tanda tangan disini, Nona.” Kasih menurut dan segera menandatangani tanda terima untuk si pengantar paket.
__ADS_1
Setelah itu beberapa orang lagi muncul dengan masing-masing membawa bucket bunga besar dengan berbagai macam warna berjalan mengarah padanya. “Ini juga paket untuk anda.”
“Eh…???” Kasih dibuat melongo dengan banyaknya bunga itu. ‘Siapa orang yang mengirimiku bunga sebanyak ini? apa dia hendak menyuruhku membangun kebun bunga atau apa?’
Kasih sungguh tak habis pikir dengan tuan Smith entah apa maksud pria gila itu memberikan bunga sebanyak itu untuknya, karena hal ini orang-orang mulai bergosip ria tentang dirinya dan tuan Smith mereka mulai mengira-ngira tentang hubungan keduanya.
“Apa kau sungguh ingin membuatku mati karena kesal? Kau benar-benar membuatku muak. Bagaimana bisa kau mengirim bunga-bunga itu ke kantor dan ditujukan padaku. Mereka mulai bergosip yang tidak masuk akal dan itu membuatku semakin kesal. Tidak bisakah kau bersikap normal? Hah?!” Kasih sungguh merasa kesal setengah mati karena bunga itu dikirim ke kantor dan mengundang komentar orang-orang. Rasanya ia ingin berteriak dengan keras namun tak ia lakukan karena takut memperparah keadaan.
“Ada apa? Apa bunganya kurang? Perlu kupesankan lebih banyak? Atau kau ingin bunga dengan varian yang lain. Katakan padaku aku akan segera memesannya untukmu.” Tuan Smith berbicara tanpa menyadari Kasih sudah sangat kesal sampai-sampai membayangkan ingin mencekik pria gila itu dengan kedua tangannya.
Menarik nafas dalam-dalam Kasih berusaha menenangkan dirinya sebelum mulai berbicara. “Aku tidak akan mengulangi perkataanku. Jadi, dengarkan aku baik-baik. AKU TIDAK MAU BUNGAMU JADI JANGAN MEMBERIKAN BUNGA LAGI!!!” Suara Kasih meninggi diakhir kalimatnya. Setelah itu ia segera pergi meninggalkan ruangan Tuan Smith dengan membanting pintu.
Tuan Smith melongo ditempat dirinya merasa bingung kesalahan apa yang telah diperbuatnya. “Apakah Kasih tidak menyukai bunga?”
Diruang obrolan grup kantor semua orang sedang ramai membicarakan hubungan tuan Smith dan Kasih. Hal itu tentu diketahui oleh Kasih yang notabene dirinya juga tergabung dalam ruang obrolan tersebut.
“Bungan sebanyak itu? Jika itu benar aku benar-benar iri dengan Kasih.”
“Apa ada yang tau sejak kapan mereka mulai berhubungan? Kurasa Kasihlah yang menggoda tuan Smith.”
“Kupikir Kasih adalah wanita yang baik ternyata dia sama saja. Seorang ****** yang suka menggoda atasan.”
“Pantas saja dia bisa berada disisi tuan Smith semudah itu. Entah sudah berapa kali ia merangkak keranjang Bos kita.”
Obrolan dalam grup itu sebagian kecil memuji Kasih dan mendukungnya namun sebagian besar malah menghujat dan mencaci dirinya hal itu tak ayal membuat Kasih merasa sedih.
Karena ponselnya tidak berhenti berdenting menandakan banyaknya pesan yang masuk keruang obrolan itu akhirnya Kasih memutuskan mematikan dering ponselnya dan memasukkan ponselnya kedalam saku bajunya. Hatinya merasa sangat sakit ketika membaca komentar orang lain yang menyudukan dirinya.
“Ini sungguh membuatku kesal. Orang-orang itu tidak tau apapun tapi berbicara seolah tahu segalanya. Sekarang gosip ini sudah tersebar kemana-kemana aku tidak tau harus berbuat apa,” ucap Kasih menggerutu kesal.
“Wah! Kasih kau sungguh hebat. Baru beberapa lama bekerja disini tapi kau sudah mampu menaklukan gunung es di perusahaan ini. Tak tanggung-tanggung dia adalah Tuan Smith Alexander Bos kita semua. Jika kau tidak keberatan mungkinkah kau bisa memberikan kami beberapa tips dalam menggoda seorang pria?” ujar seorang wanita yang kebetulan berpapasan dengan Kasih.
“Kalian telah salah paham aku sama sekali tidak ada hubungan seperti itu dengan tuan Smith.” Kasih berusaha membela diri.
“Sungguhkah?” kata wanita itu yang merupakan rekan kantor Kasih. “Kau tidak perlu sungkan begitu. Bukankah semua bunga yang ditujukan padamu itu sudah berbicara segalanya?”
“Itu ....”
Belum sempat Kasih menyelesaikan ucapannya seorang kurir datang menghampirinya lagi dan membawakan boneka beruang Teddy berwarna merah hati sembari memeluk sebatang cokelat mahal.
“Paket anda, Nona.”
Kasih terdiam ditempat dirinya tak dapat berkata apapun lagi karena paket itu telah menampik semua pembelaan yang hendak dilontarkan Kasih.
Dengan emosi yang meluap Kasih segera menarik boneka lucu itu dan berlalu pergi dari sana. Rekan sekerjanya yang melihat hal itu semakin yakin dengan opini mereka masing-masing.
Brak!
Pintu terbuka dengan keras tampaklah Kasih yang tengah diliputi kemarahan berjalan kearah Tuan Smith yang sedang duduk dimeja kerjanya. Pria itu sedikit dibuat terkejut dengan kedatangan Kasih dengan cara yang tidak biasa itu.
Boneka teddy itu dilempar Kasih dihadapan Tuan Smith dengan penuh emosi.
“Apa sih yang sedang kau lakukan ini? Telingamu tuli atau apa?! Sudah kukatakan aku tidak mau bungamu tapi kau ...” Kasih menghela nafas panjang sejenak. “ tapi kau malah mengirimi aku cokelat?! Sungguh?! Aku benar-benar tidak habis pikir denganmu.”
“Apakah kau tidak menyukai cokelatnya juga?”
Seketika Kasih membulatkan matanya menatap Tuan Smith dengan tatapan tidak percaya. Pria di hadapannya ini apakah dia benar-benar adalah seorang Tuan Smith Alexander? Pria hebat itu seketika terlihat sangat konyol di mata Kasih sekarang.
“Entahlah! aku tidak peduli pokoknya jangan kirimi aku apapun. Apa kau mengerti?”
“Haish! Yang benar saja! Saran dari kalian berdua tidak ada yang berguna. Aku sudah melakukan semua yang kalian suruh tapi hasilnya Kasih malah marah padaku,” keluh Tuan Smith pada Karina dan Tuan Adam pada panggilan video di kantornya.
“Sabarlah sedikit, Kak. Mungkin Kasih masih butuh waktu untuk memahami ketulusan hatimu.” Tuan Adam berusaha menghibur dengan kata-katanya namun sedetik kemudian dirinya malah mendapat sikutan sadis dari sang istri. Sambil menahan sakit Tuan Adam menatap sang istri. “Apa salahku?” tanyanya dengan gerak mulut tanpa mengeluarkan suara.
“Hah! Yang benar saja. Kau melakukan hal itu tanpa memikirkan posisi Kasih jelas saja dia akan marah. Jika aku jadi dia aku juga akan melakukan hal yang sama.”
“Apa? Memangnya aku melakukan kesalahan apa? Aku sudah melakukan semuanya seperti arahan kalian.”
Karina menghela nafasnya kesal. “Tuan Smith yang terhormat, kau sungguh menyedihkan tidak punya pengalaman dan pecundang dalam mengejar seorang wanita. Kau mungkin handal dalam berbisnis dan mengelola perusahaan tapi untuk urusan wanita kau tidak ada apa-apanya.”
“Kau meremehkanku. Selama ini mana ada wanita yang berani menolakku. Tanpa kumintapun mereka akan memohon-mohon padaku. Kali ini aku malah harus bersusah payah menggerakkan hati sahabatmu itu.”
“Itu semua karena Kasih sudah mencintai orang lain dan kau malah membuatnya semakin kesal padamu. Harusnya kau membuatnya jatuh hati bukan malah membuatnya muak padamu.”
“Mungkin Kasih memang tidak ditakdirkan untukku,” ujar Tuan Smith bernada sedih.
“Lalu siapa? Jika kau bukan takdirnya lalu siapa? Rey yang dicintai Kasih sudah tiada lalu siapa yang akan menjadi takdirnya? Apakah pria palsu itu? Jika kau tidak sungguh-sungguh mencintai Kasih sebaiknya hentikan sampai disini saja.” Karina berbicara dengan penuh emosi karena melihat respon Tuan Smith yang seolah akan menyerah begitu. Ia sungguh tidak rela jika Kasih bersama dengan orang lain selain Tuan Smith. Ia mengerti betapa pria bermarga Alexander itu begitu mencintai sahabatnya akan tetapi Kasih masih belum bisa melupakan Rey cinta pertamanya.
“Aku tidak akan menyerah. Akan kulakukan apapun untuk mendapatkannya. Apa kau lupa siapa aku? Aku adalah Tuan Smith Alexander. Dia adalah milikku sejak dulu, tidak akan kuijinkan dia direbut pria lain meski ia memohon padaku.”
“Woah! Itu baru kakak yang kukenal!” ujar Tuan Adam memuji.
“Baiklah. Tunjukkan kemampuanmu padaku, Tuan Smith,” ucap Karina merasa puas dengan ucapan Tuan Smith.
__ADS_1
BERSAMBUNG...