Cinta Itu Kasih

Cinta Itu Kasih
Episode 88 Menjadi Istri Tanpa Sadar


__ADS_3

Hari ini Kasih menemani Ed Alexander ke sekolah bersama dengan supir pribadi yang mengemudikan mobil. Sepanjang perjalanan Ed Alexander tidak mengatakan apapun dan hanya fokus membaca bukunya saja. Karena merasa risih tidak tahan dengan kesunyian yang tercipta, Kasih berusaha mengajak bocah cuek itu untuk berbicara akan tetapi walau seperti apapun usahanya untuk menarik perhatian, bocah itu hanya diam membisu tidak menggubris dirinya.


‘Apa yang salah dengan bocah kecil ini? kenapa sangat susah sekali berbicara dengannya. Buah memang tidak jatuh jauh dari pohonnya. Bocah kecil ini sungguh mirip sekali dengan Ayahnya, sama-sama menyebalkan.’


“Jika tidak ingin berbicara, ya, sudah. Aku tidak akan mengurusimu,” gerutu Kasih kesal.


‘Mau mencoba mengambil hatiku? Tidak akan kubiarkan!’ batin Ed Alexander sambil membalik lembar halaman buku yang sedang dibacanya.


Mobil berhenti tepat di depan gerbang sekolah paling elit di kota itu. Sekolah yang semua anak muridnya adalah anak-anak yang pintar dan berprestasi. Tidak semua anak bisa masuk di sekolah ini dan berkesempatan mendapat fasilitas mewah yang ditawarkah oleh sekolah dengan murid cerdas nan kaya.


Tanpa berbicara sedikitpun pada Kasih yang sudah bersiap untuk berbicara dengannya, Ed Alexander melangkah keluar mobil tanpa berpamitan sama sekali. ‘Bocah ini sangat menyebalkan! Dia benar-benar mengabaikanku.’


“Nyonya, kita pergi sekarang?” tanya si supir pada Kasih.


“Apanya yang Nyonya? Aku bukan seperti itu. Jangan memanggilku dengan sebutan itu lagi. Panggil saja aku Kasih seperti biasa,” ujar Kasih keberatan jika menerima sebutan yang menurutnya tidak cocok dengannya itu.


“Ta-tapi, Nyonya .... “


“Sudah turuti saja apa kataku. Kau tidak perlu takut dengan Tuan menyebalkanmu itu. Aku sendiri yang akan berbicara dengannya, tidak perlu memikirkannya,” imbuh Kasih memotong ucapan si supir dengan cepat.


Di tengah perjalanan ponsel Kasih berdering. Ponsel baru yang diberikan Tuan Smith itu menampilkan nama Tuan Smith dilayar. Mengetahui yang menghubunginya adalah pria menyebalkan yang ia anggap pria gila, Kasih segera menjawab panggilan itu.


“Halo.”


“Ke kantorku sekarang.” belum sempat Kasih berkata-kata, Tuan Smith telah menutup panggilannya membuat Kasih mendelik tidak percaya.


“Dia menutup panggilanku?! Begitu saja?! Tidak bisa kupercaya pria gila itu sungguh menyebalkan!!!” gumam Kasih menahan amarah sembari meremas kuat ponsel miliknya.


Kasih melangkah dengan sedikit kebingungan memasuki perusahaan yang tampak sangat besar dihadapannya. Pandangannya kemudian tertuju pada meja informasi menanyakan dimana letak ruang kerja Tuan Smith Alexander. Kedua pegawai wanita itu seketika tercengang lalu melemparkan tatapan remeh kepada Kasih.

__ADS_1


“Nona, apa anda sudah membuat janji sebelumnya?” tanya salah seorang pegawai wanita itu.


“Ehm, aku tidak.”


“Anda tidak bisa masuk begitu saja,” ucapnya singkat.


“Kenapa?” tanya Kasih tidak mengerti.


“Nona, aku sudah sering sekali menghadapi wanita sepertimu yang selalu mencari cara untuk mendekati Tuan. Asal kau tau saja, Tuan tidak akan tertarik. Hati Tuan hanya untuk istrinya seorang tidak ada tempat bagi wanita murahan seperti .... “


“Kasih?!” suara John menyela membuat ketiga wanita itu menoleh kearahnya.


“John?!”


Kedua wanita pegawai kantor itu saling bersitatap dengan tatapan bingung. “Dia mengenal John?!” gumamnya dengan suara berbisik.


“Apa yang anda lakukan disini?” tanya John pada Kasih.


“Apa anda sudah menanyakan pada kedua wanita ini?” tanya John menatap tajam kedua wanita yang hanya bisa menunduk takut padanya. “Jangan bilang mereka tidak memberitahukannya pada anda.” Seketika raut wajah sekretaris yang sangat terkenal sadis itu berubah sangat menyeramkan membuat kedua wanita itu semakin merasa ketakutan.


‘Habislah kita berdua.’


“Itu, aku sudah menanyakan kepada mereka hanya saja aku tidak memahami apa yang mereka jelaskan padaku,” kata Kasih menutupi kebenarannya. Kedua wanita itu menatap tidak percaya dengan apa yang mereka dengar merasa tidak menyangka dengan sikap Kasih yang dengan santai memaafkan ketidaksopanan mereka barusan.


“Tapi, tetap saja .... “


“Sudahlah, ayo pergi temui Bos pemarahmu itu. Jangan sampai membuatnya murka.” Dengan cepat Kasih menarik John pergi meninggalkan tempat itu. Akhirnya kedua wanita itu bisa bernapas dengan lega setelah Kasih dan John sudah pergi. Mereka berdua merasa sangat berterima kasih dan berhutang budi dengan tindakan wanita itu.


“Syukurlah dia tidak melaporkan kita pada John. Jika tidak, aku takut walau hanya membayangkan apa yang akan dilakukannya pada kita berdua nanti,” ucap salah satu wanita itu bergidik ngeri.

__ADS_1


Pintu ruang kerja Tuan Smith diketuk oleh seseorang dari luar setelah mempersilahkan masuk, muncullah Kasih berserta John dari balik pintu.


“Tuan, Nona Kasih sudah berada disini,” ucap John pada Tuan Smith yang sedang duduk di kursi kebesarannya sembari bersandar memasang wajah datar dengan santai mengangkat kedua kakinya diatas meja kerjanya.


“Kenapa lama sekali? Apa kau tersesat?” tanya Tuan Smith dengan nada sarkas.


“Aku sudah disini. Cepat katakan padaku mengapa kau menyuruhku datang,” celetuk Kasih mengabaikan ucapan Tuan Smith barusan. Pria itu tidak mempermasalahkannya lagi dan memilih untuk memusatkan pandangannya pada wajah Kasih.


Tik! Tik! Tik!


Dengan kesal Kasih mengetikkan setiap kata yang didiktekan oleh bibir Tuan Smith padanya, pria itu menyuruh Kasih untuk merangkap menjadi sekretaris pribadinya persis dengan apa yang dilakukannya dahulu sebelum wanitanya itu mengalami hal buruk dan menyebabkan seluruh ingatannya terhapus tak bersisa.


Kini, Kasih telah menjadi seseorang yang benar-benar baru dan Tuan Smith tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan. Mental seorang pebisnis sekelas Tuan Smith Alexander tentu saja tidak akan mungkin tidak mahir dalam memanfaatkan setiap kesempatan yang ada didepan mata. Tidak terkecuali saat ini, pria itu dengan sengaja mengatur Kasih untuk selalu berada didekatnya dan tanpa sadar telah mulai menjalankan tugas dan tanggung jawabnya sebagai Nyonya Alexander.


‘Hanya mengetik seperti ini apa bisa dikatakan tugas seorang sekretaris di perusahaan sebesar ini? Entah mengapa aku merasa sangat aneh disini. Situasi ini sungguh membuatku tidak mengerti.’


“Apa yang kau lakukan? Cepat lanjutkan mengetik,” ucap Tuan Smith membuat Kasih segera tersadar dan segera menggerakkan jari jemarinya diatas keyboard laptop milik Tuan Smith.


“Ck! Bertemu dengannya benar-benar sial!” gerutu Kasih kesal sembari memanyunkan bibirnya kedepan.


Di antara para karyawan berita mengenai Kasih mulai tersebar luas. Para karyawan tidak berhenti membicarakannya. Mereka begitu penasaran dengan sosok wanita yang tampak begitu istimewa bagi Tuan Smith hingga sekretaris John turun langsung untuk menjemput wanita itu tidak hanya itu sekretaris John yang sangat disegani karena semua ucapannya mewakili ucapan Tuan Smith itu juga membungkuk hormat padanya. Sangat jarang dari mereka mengetahui wajah istri Tuan Smith terlebih itu adalah lima tahun yang lalu. Hanya karyawan yang telah lama bekerja disana saja yang akan mengetahui hal mengenai siapa istri Tuan Smith yang terkenal sangat dicintainya itu.


“Apa kau mengetahui siapa wanita itu? Kenapa wanita itu terlihat sangat diistimewakan? Apa kau melihat bagaimana tadi John begitu menghormatinya? Aku tidak percaya akhirnya akan ada yang bisa menggantikan posisi istri Tuan Smith yang selama ini kosong.” Begitulah desas-desus yang terdengar ditelinga Melinda yang juga berada di ruangan itu.


“Siapa wanita yang mereka maksudkan? Apakah Kasih telah kembali?! Tidak bisa, aku harus memastikannya sendiri!” gumamnya tidak senang segera wanita bertubuh seksi itu berbalik pergi.


BERSAMBUNG...


 

__ADS_1


 


__ADS_2