
Akhirnya setelah sedikit insiden yang terjadi diperjalanan tadi kini mereka berdua sudah tiba di hotel tempat Nirmala menginap. Akan tetapi, sayang sekali Nirmala sudah tidak ada disana.
“Apa? Sudah pergi?! Bagaimana bisa begitu, ini sungguh tidak masuk akal. Coba tanyakan lagi mungkin saja, kau salah informasi, Nona Wendy.”
“Maafkan saya, Nona. Tapi wanita bernama Nirmala itu memang sudah tidak berada disini.”
Kasih tergagu ditempat ia sungguh tak bisa berucap sepatah katapun. Setelah semua perjuangannya ia harus tabah menerima kegagalan ini.
“Kenapa? Kenapa bisa begini? Padahal tinggal sedikit lagi, sedikit lagi aku bisa kembali pada keluargaku. Aku sungguh tidak bisa menerima kenyataan ini,” ujar Kasih sedih.
Tepat disamping Kasih, Wendy berdiri menemani Kasih yang sedang bersedih itu sambil mengetik pesan diponsel miliknya.
Wendy: Tuan, saya sudah melakukan sesuai perintah Anda.
Tuan Smith: Ajak Kasih kembali. Pastikan dia tidak melakukan sesuatu yang gegabah.
Wendy: Baik, Tuan.
“Nona Wendy!” seru Kasih dengan suara lantang. Wendy yang tersadar seketika memasukkan ponselnya ke dalam sakunya lalu menatap Kasih dengan tatapan bingung.
“Apa yang sedang kau lakukan, Nona Wendy. Sejak tadi aku memanggilmu tapi kau tidak menyahut.”
“Maafkan saya, Nona. Saya ada sedikit pekerjaan,” ucap Wendy berkilah.
“Oh, begitu. Kalau kau sibuk kau bisa kembali lebih dulu.”
“Aku saja?”
“Ya.”
“Aku tidak bisa meninggalkan Anda sendirian. Apa yang Anda cari sudah tidak ada. Sebaiknya kita kembali saja.”
“Tidak.” Kasih berujar dengan cepat membuat Wendy tertegun. “Aku akan tetap mencari keberadaan Nirmala. Dimanapun ia berada harus kutemukan!”
“Tapi, Nona ....”
“Kau pulanglah, aku akan pergi sendiri.”
“Tidak bisa. Saya tidak akan membiarkan Anda sendirian. Ayo kita kembali, Nona. Tuan Smith akan sangat murka jika Anda tidak kembali sekarang,” tutur Wendy membujuk.
“Tidak. Aku harus menemukannya.”
“Nona ....”
Karena Kasih bersikeras tak ingin kembali membuat Wendy mau tak mau mengekori wanita itu sebab ia tak boleh membiarkan Kasih sendirian.
“Nona, wanita itu sudah pergi. Kita sebaiknya pulang saja, ya?” ajak Wendy pada Kasih namun wanita itu menolak.
“Aku tidak akan pulang sebelum menemukan wanita itu.”
“Tuan Smith akan segera menyadari hal ini, Nona. Dan kita tidak akan bisa mengatasinya.”
Kasih terus saja mengabaikan ajakan Wendy untuk kembali dan tak berhenti kesana kemari mencari Nirmala. Ia pergi ke beberapa bandara di kota itu demi mencarinya namun ia tak kunjung menemukannya.
“Aku sungguh tidak percaya, Nirmala seakan hilang secara tiba-tiba ini benar-benar sangat aneh. Bagaimana bisa datanya tidak ada di bandara manapun di kota ini jika ia sungguh telah pergi dari sini, bukan?”
Wendy hanya diam tak menyahut.
“Dimana kau, Nirmala. Aku harus menemukanmu dan kau harus menceritakan masa laluku padaku. Tunggu sebentar, dimana lagi aku harus mencarinya biarkan aku berpikir sejenak. Ugh! Perutku sakit sekali,” katanya menahan sakit diperutnya.
“Ada apa, Nona?” tanya Wendy khawatir.
“Perutku sakit.”
“Ini sudah mulai gelap dan Anda belum makan sedikitpun sejak tadi, pantas saja jika sekarang Anda sakit perut. Lebih baik kita kembali,” ajak Wendy kesekian kalinya.
“Tidak. Tidak. Aku akan tetap mencarinya ini bukan masalah besar aku bisa mengatasinya.”
“Nona ....”
“Sungguh! Aku baik-baik saja.”
__ADS_1
“Jika Anda bersikeras kita akan melanjutkan pencarian tapi Anda harus mengisi perut Anda dengan sedikit makanan terlebih dahulu. Anda tunggulah di sini sebentar Aku akan pergi ke sana untuk membeli makanan.”
“Baiklah. Baiklah.”
Wendy bergegas dengan setengah berlari menuju minimarket di seberang jalan.
Tidak lama kemudian Wendy kembali lagi ke tempat dimana ia meninggalkan Kasih tadi dengan membawa sekantong belanjaan ditangannya. Namun, wanita itu tak terlihat berada disana. Sontak Wendy merasa sangat panik namun tak berselang lama Kasih tiba-tiba saja muncul dari arah belakangnya.
“Nona, anda membuat saya sangat takut. Kemana anda pergi? Saya sudah mengatakan agar menunggu saya di sini jangan pergi Sebelum saya kembali.”
Kasih tersenyum jenaka. “Nona Wendy kau terlalu berlebihan. Aku ini bukanlah anak kecil Aku bisa menjaga diriku sendiri.”
“Meski begitu saya ditugaskan untuk menjaga Anda jika sesuatu terjadi saya akan mendapat masalah.”
“Baiklah. Baiklah. Aku akan menurut lain kali,” ucap Kasih mengalah. “Tapi ....”
“Tapi apa Nona?” tanya Wendy penasaran.
“Tidak ada. Hari sudah mulai gelap sebaiknya kita segera kembali.”
***
Malam hari Kasih telah tiba di kamar hotelnya dan sedang berendam di dalam bak mandi dengan busa-busa yang menggelembung menutupi hampir seluruh tubuhnya.
“Tadi itu padahal sedikit lagi. Aku sungguh tidak mengerti bagaimana bisa orang bisa menghilang secepat itu. Kejadiannya baru saja terjadi dan orang sudah hilang dalam hitungan waktu singkat. Jika itu bukan sihir maka tidak akan ada orang yang bisa mempercayainya.” Kasih bergumam sendirian sambil meniup gelembung busa ditangannya. Pikirannya tidak bisa menerima fakta Nirmala menghilang begitu saja dan malah membuatnya semakin penasaran ingin tahu kemana gerangan wanita itu pergi. “Kalau aku minta bantuan si pria gila itu, apa mungkin dia akan membantuku, ya?” pikirnya bertanya-tanya. “Tapi, aku takut pria gila itu malah akan marah alih-alih membantu. Haish! Kepalaku semakin tidak nyaman jika terpikir pria gila itu. Pergi! Pergi kau dasar pria gila, pergi dari pikiranku. Daripada memikirkan si pria gila itu Lebih baik aku tiduran sambil berendam mungkin saja sakit kepala ini akan sembuh setelah aku bangun,” kata Kasih akhirnya. Ia lalu memejamkan kedua matanya dan segera jatuh tertidur sambil berendam di dalam bak mandi.
***
“Tolong lepaskan aku, aku sudah menurut. Aku akan kembali ke negaraku dan tidak akan pernah kembali kemari lagi. Aku akan membuang pasporku jika perlu untuk membuktikan keseriusanku padamu. Kumohon ampuni aku kali ini saja,” kata Nirmala sambil memohon. Tubuhnya diikat disebuah kursi dan duduk berhadapan dengan sesosok pria yang juga sedang duduk bersilang kaki.
“Tuan, saya mengaku salah mohon lepaskan saya. Saya akan meminta maaf pada Kasih setelah ini.”
Pria yang ternyata adalah Tuan Smith itu tak menggubris ia segera berdiri dari duduknya lalu berkata dengan suara lantang. “Ini perintah dariku. Jangan biarkan wanita ini keluar dari sini.”
“Baik, Tuan!” sahut para bawahannya yang menjaga ruangan itu.
“Tuan, saya tahu saya salah. Tolong ampuni saya! Tuan!” seru Nirmala sebelum para bawahan Tuan Smith menyeretnya pergi.
“Tuan, apa yang akan kita lakukan selanjutnya?” tanya John menghampiri.
“Baik, Tuan. Saya mengerti. Saya juga sudah menutup mulut orang-orang yang mengenal nyonya. Saya memberi mereka uang yang banyak untuk tetap bungkam.”
“Hn. Bagus!” Tuan Smith berkata sambil lalu meninggalkan John yang menatap punggung Tuannya itu dari belakang.
‘Anda sudah melakukan banyak hal demi nyonya, tuan. Saya harap anda dan nyonya bisa bersatu dan berbahagia suatu saat.’
***
Mata Kasih terasa sangat berat. Samar-samar ia melihat cahaya putih menyilaukan didepan matanya.
“Siapa?” tanyanya bingung.
“Kau sudah bangun? Dasar ceroboh bagaimana bisa kau sampai tertidur disana. Apa kau ini idiot?” cerca Tuan Smith marah.
Kasih yang masih lemah berusaha mencerna perkataan pria itu. “Apa yang kau katakan? Aku ... Apa yang terjadi padaku? Bukankah aku sedang tidur. Atau mungkin saat ini aku sedang bermimpi? Kalau iya kalian terlihat seperti nyata—“
Bletak!
“Aduh! Sakit sekali! Apa kau sudah gila?!”
“Sudah tahu sakit rupanya kau. Jika masih melakukan kecerobohan seperti tadi bukan hanya jitakan saja yang kau dapat dariku melainkan kau mungkin akan kehilangan kepalamu juga,” ucap Tuan Smith serius.
Kasih menatap pria dihadapannya itu sambil mengusap lehernya membayangkan jika benar Tuan Smith akan benar-benar menghilangkan kepalanya. “Perkataanmu kasar sekali. Kau memang sungguh Tuan Pria Gila.”
“Nona, apa yang anda lakukan tadi sangat berbahaya, beruntung Tuan Smith datang tepat waktu,” celetuk John.
“Hah? Memangnya apa yang kulakukan? Bukankah yang dilakukan pria gila disampingmu itu jauh lebih berbahaya?”
“Nona ... apakah Anda sungguh tidak mengingatnya?” tanya Wendy pada Kasih.
“Apa?” Kasih balik bertanya sambil memasang wajah bingungnya.
__ADS_1
Flashback On
Saat tertidur sambil berendam Kasih tidak menyadari bahwa ia terlalu lama berada didalam air. Ia semakin terlarut dalam tidurnya saat mimpi yang selalu menghantui dirinya muncul saat itu juga.
Dalam mimpi Kasih sedang bersama seorang pria yang ia ketahui sangat dicintainya namun ia tidak bisa melihat wajah pria itu dengan jelas. Yang ia ketahui pria itu sangat berharga baginya. Saat ini Kasih sedang memakai pakaian pengantin bersama dengan pria itu namun saat sedang diliputi perasaan bahagia antara dirinya dan pria itu tiba-tiba sesosok pria muncul dan langsung menembak pria yang bersanding dengannya saat ini. dengan cepat pria itu jatuh bersimbah darah.
“Tidak. Tidak! apa yang kau lakukan?! Kau pembunuh!” seru Kasih menatap sosok dihadapannya marah.
Tanpa mengucapkan satu katapun sosok itu meraih tangan Kasih yang sedang mendekap sosok pria yang sudah mati tertembak barusan lalu menyeret Kasih ikut bersamanya.
“Tidak! lepaskan aku! Kau pembunuh! Aku tidak ingin ikut denganmu! Lepaskan!!!”
“Kau harus ikut denganku, istriku.”
Seketika Kasih segera tersadar dari mimpinya dan mendapati dirinya kini sudah ada diatas kasur dan dikelilingi oleh orang yang menatapnya khawatir.
Flashback Off
Perkataan sosok itu selalu membayangi Kasih tiap waktu namun ia selalu berusaha menyakinkan dirinya bahwa mimpi itu hanyalah mimpi biasa meski begitu mimpi itu datang hampir disetiap waktu maka dari itu Kasih mulai sering merasa sakit kepala dan iapun mengobatinya dengan rutin meminum obat pereda sakit.
“Nona, Anda terlalu lama berada didalam bak mandi tubuh Anda bahkan terasa sangat dingin. Minumlah sup hangat ini untuk menghangatkan tubuh.” Wendy meletakkan mangkuk sup ke tangan Kasih yang lalu segera meminumnya.
“Bawakan makanan untuknya lalu pastikan ia meminum obat setelah makan. Aku akan kembali lagi nanti.” Tuan Smith kemudian pergi meninggalkan kamar Kasih menyisakan Wendy dan Kasih di sana.
“Nona, tadi itu benar-benar berbahaya bagaimana bisa Anda tertidur di dalam bak mandi seperti tadi,” ujar Wendy pada Kasih yang sedang meminum sup seteguk demi seteguk.
“Entahlah. Aku sendiri juga tidak mengingatnya.”
“Anda harus melihat betapa cemasnya tuan saat menemukan Anda terkulai lemas di dalam bak mandi tadi. Tuan mengkhawatirkan Anda setengah mati bahkan menyuruh dokter datang dengan helikopter ke mansion. Melihat hal itu membuat saya teringat akan masa lalu. Nyonya “
“Apa? Cepat ceritakan! Jangan membuatku penasaran,” ucap Kasih cepat.
Flashback On
Suatu ketika Kasih yang sekarang telah menyandang status sebagai Nyonya Alexander saat ini sedang termenung sendirian di kamarnya sembari menatap potret dirinya dan tuan Smith dalam balutan gaun pernikahan. Potret berukuran besar itu terpampang jelas menghiasi dinding kamar utama miliknya dan tuan Smith.
“Potret ini, aku tidak menginginkannya. Aku tidak percaya yang ada didalam potret itu adalah aku dan pria gila yang telah merampas semuanya dariku dengan paksa kini telah menjadi suamiku. Tidak hanya itu aku bahkan harus mengandung anak dari pria yang tidak kucintai. Entah dosa apa yang telah kulakukan dimasa lalu sehingga semua ini terjadi padaku. Ayah ... Ibu ... Aku sungguh tidak sanggup menanggung semua ini. Pelecehan yang dilakukan teman-teman sekolahku, aku masih bisa menahannya karena takut kalian akan kecewa terhadapku, tapi kini ... Hiks!” Kasih menahan nafasnya beserta airmata yang tak berhenti mengalir dari kedua pelupuk matanya. “Rey, aku minta maaf karena membuatmu ikut terseret dalam masalah, mungkin memang tidak seharusnya aku mengakui perasaanku terhadapmu, aku sungguh minta maaf. Aku minta maaf. Hiks! Ak-aku! Aku bukan orang yang pantas mendambakan dirimu. Aku hanyalah sampah yang sudah terkotori oleh tangan para manusia jahat itu. Maafkan aku.”
Dalam sekejap Kasih menangis sejadi-jadinya ada gejolak amarah yang teramat besar dari dalam hatinya yang tak bisa ia ungkapkan pada siapapun bahkan pada kedua orangtuanya ataupun keluarganya. “Bagaimana? Bagaimana caraku menghadapi hidupku ini. Tuhan tolong katakan padaku bagaimana aku harus menjalani hidupku yang berantakan ini? kehidupan kedua orangtuaku yang selalu bertengkar, kehidupan sekolah yang menyiksa dan membuatku muak dan sekarang ... Aku tidak pernah mengira hidupku akan sehancur ini. Tidak ada satupun yang tersisa dalam hidupku bahkan cintaku juga sudah kandas. Masih haruskah aku hidup dengan semua ini?”
Perlahan Kasih melangkahkan kakinya berjalan mengambil pisau dari dalam lemari yang berada dikamar itu lalu dengan segera menyobek gambar dirinya sendiri didalam potret lalu berjalan memasuki kamar mandi yang juga berada dalam kamar lalu kemudian ia memasuki bak mandi dan menyalakan air dengan asal.
Kasih berbaring didalam bak mandi sambil memegang pisau ditangannya sementara air yang mengalir dari keran kini sudah mulai terisi penuh. Ditatapnya langit-langit kamar mandi sembari membayangkan wajah orang-orang yang ia sayangi. Bukan kali pertama bagi Kasih untuk merasa begitu hancur dan terluka. Keputusasaan yang ia alami sudah sering membuatnya hampir mengakhiri hidupnya namun gadis itu masih mampu untuk bertahan saat memikirkan keluarganya yang nanti akan merasa kehilangan dirinya.
“Tidak ada apapun. Aku tidak lagi merasakan apapun saat ini,” gumam Kasih entah pada siapa. “Aduh! Bagaimana ini? biasanya ketika aku kehilangan kendali seperti sekarang memikirkan wajah kalian sungguh efektif. Tapi tidak tau mengapa ... sekarang rasanya sangat hampa. Apa aku sungguh telah benar-benar sampai pada akhirku sekarang? Ayah ... Ibu ... maafkan Kasih. Sepertinya ... begini lebih baik untuk semuanya ....” Bersamaan dengan itu, Kasih kemudian menenggelamkan dirinya sendiri kedalam bak mandi yang berisi air setelah sebelumnya ia telah mengiris pergelangan tangannya hingga darah mewarnai air menjadi semerah darah.
Tuan Smith yang baru saja tiba di mansion dengan cepat berlari memasuki mansion tanpa memedulikan para pelayan yang menyapanya menatapnya dengan tatapan bingung.
“John! Segera siapkan helikopter untukku!” perintah Tuan Smith tanpa menoleh kearah John yang datang bersamanya.
Tanpa banyak kata John yang mengerti apa maksud Tuannya segera melaksanakan perintah.
Sedangkan Tuan Smith mendobrak pintu kamar lalu menerobos masuk sampai kamar mandi seakan tahu betul apa yang sedang terjadi pada Kasih saat ini. Gadis itu sudah terkulai lemas tak berdaya didalam bak mandi yang penuh air berwarna merah karena darahnya sendiri.
Secepat kilat Tuan Smith segera mengangkat tubuh Kasih dari bak lalu menggendongnya keluar menuju pintu lift berada.
“Gadis bodoh ini benar-benar!”
Ting!
Pintu lift terbuka tampak John dan juga Wendy serta para pengawal sudah bersiap menyambut dirinya dengan helikopter disana. Angin kencang dari kipasan baling-balingnya menerpa tubuh Tuan Smith dan Kasih dalam dekapannya.
“Rumah sakit, sekarang!”
Rumah sakit mendadak menjadi geger karena kedatangan Tuan Smith yang tiba-tiba turun dari helikopter sambil membawa Kasih dalam gendongannya. Para dokter dan perawat yang sudah dihubungi oleh John bergegas menyambut dengan cekatan memberi pertolongan pada Kasih yang tampak sudah mulai memucat.
“Selamatkan dia bagaimanapun caranya!” titahnya pada kepala Dokter dihadapannya.
“Baik, Tuan. Kami akan berusaha ...” Seketika sang dokter tercekat mendapati lirikan mematikan dari pria berkuasa dihadapannya ini. Menelan salivanya seraya melonggarkan simpul dasinya sedikit sang dokter segera meralat ucapannya tadi. “Ehm! Mmaksud saya, saya akan ... Eh, bukan. Maksud saya kami pasti menyelamatkan nyonya.”
Usai mendengar apa yang diinginkannya Tuan Smith kemudian berbalik pergi dari sana meninggalkan sang dokter yang mengantarnya dengan membungkuk hormat.
__ADS_1
“Ya, ampun. Hampir saja jantungku dibuat meledak. Benar-benar pria yang menakutkan jika sudah berkata sesuatu maka harus melakukan sesuai dengan keinginannya, bahkan orang yang sudah matipun jika tuan Smith Alexander berkata untuk menyelamatkannya maka lakukanlah atau kau akan berakhir dengan tragis. Benar-benar menyeramkan.” Sang dokter kemudian berbalik pergi setelahnya.
Bersambung...