Cinta Itu Kasih

Cinta Itu Kasih
Episode 11 Malaikat Penolong


__ADS_3

Karena Kasih sudah diijinkan oleh tuan Smith untuk melakukan


aktivitasnya seperti biasa maka Kasih memutuskan untuk mengunjungi rumahnya. ia


ingin sekalian memastikan seluruh anggota keluarganya benar-benar dalam keadaan


baik-baik saja. Meski diijinkan untuk beraktivitas seperti biasa namun tetap


saja Kasih tidak bisa kemana-mana dengan leluasa ia harus selalu melapor ke


tuan Smith.


Dengan pikiran yang kacau Kasih berjalan pelan menuju arah rumahnya.


Pikirannya melayang memikirkan apa yang harus dikatakannya pada keluarganya


nanti. Karena tak memperhatikan jalanan didepannya Kasih hampir tertabrak


sebuah mobil. Mobil itu ternyata milik Rey, pemuda yang selama ini disukai  secara diam-diam oleh Kasih. Kasih nampak


terkejut setelah hampir saja tertabrak ketika hendak menyebrang secara tak


hati-hati tadi.


“Kasih?” terdengar suara Rey yang sudah keluar dari mobil


untuk mengecek keadaan Kasih.  Kasih


tersadar dari keterkejutan bercampur kegugupan yang sedang melanda dirinya.


Belum lagi ia sama sekali tak pernah berbicara dengan Rey. selama ini ia hanya


betah mengagumi sosok Rey dari kejauhan. Rey sudah berdiri dihadapan Kasih


sambil memandang Kasih dengan wajah khawatir. Tak mendapatkan respon dari Kasih


‘gadis ini pasti sangat terkejut.’


“apa kau tak  apa-apa


Sih? Apa perlu ke rumah sakit?” tanya Rey dengan nada khawatir sambil memegang


kedua bahu Kasih.


Kasih lalu tersadar dari pikirannya yang melebur


“aku tak apa kak…Rey” ada suatu perasaan senang bercampur


sedih saat Kasih akhirnya bisa berbicara dan menyebut nama pemuda itu untuk


pertama kalinya. Namun segera ditepisnya perasaan itu ia lebih memfokuskan diri


untuk hanya memikirkan keluarganya saat ini.


Wajah Rey menampakkan ekspresi lega ketika Kasih mengatakan


bahwa ia baik-baik saja.


“syukurlah kau tak apa-apa Sih. Kau akan pergi kemana? Aku akan


mengantarkanmu. Ayo ikut aku.” Ajak Rey mengandeng lengan Kasih


“aku hanya ingin pulang Kak. Maafkan aku karena tidak


hati-hati.” Kata Kasih “aku bisa pulang sendiri kak, tidak perlu diantar.”


Kasih berusaha menolak tawaran Rey untuk mengantarnya pulang ia tak ingin Rey


mengetahui dimana rumah Kasih sekarang paska kebangkrutan ayahnya. Kasih yakin


Rey sudah tau mengenai kabar tentang keluarganya yang beredar. ‘berita sebesar


itu tak mungkin tersembunyi dari kota ini’ namun ia tetap merasa malu dan tak


percaya diri jika pertemuan pertama dengan pemuda yang ia sukai harus diawali


dengan melihat keadaannya saat ini.


“tak apa Sih. Aku akan mengantarmu sampai rumah.” kata Rey


agak bersikeras. Kasih tak kuasa menolak ia pun terpaksa ikut masuk kedalam


mobil Rey.


Di dalam mobil suasana terasa sedikit canggung. Terlebih


bagi Kasih yang sedari tadi menahan perasaannya. Ia senang walaupun hanya


sebentar ia ingin menikmati saat ini. ia tak pernah membayangkan saat ini akan


tiba juga dalam hidupnya. Jika bisa Kasih ingin agar waktu berhenti walau hanya


sebentar supaya ia bisa berlama-lama dengan Rey.


Sudah sejak SD Kasih terus memperhatikan dan menyukai Rey


diam-diam. Kasih tak berani mengatakan perasaannya karena saat SD Kasih terus


mengalami pembullyan bahkan pelecehan oleh teman-teman sekolahnya. Ia malu jika


sampai orang yang disukainyai mengetahui hal itu dan memilih untuk jadi


pengagum rahasia saja. Dikarenakan kondisi orangtua Kasih yang selalu saja


penuh dengan pertengkaran antara sang Ayah dan Ibu. Orangtua Kasih sering


sekali betengkar tentang banyak hal terlebih pernikahan orangtuanya terjadi


tanpa adanya restu dari Ibu Ayahnya yang notabene menentang keras pernikahan


sang Ayah dan Ibu, namun demikian orangtuanya memilih untuk tetap menikah walau


tanpa restu sekalipun. Alhasil rumah tangga mereka selalu ditempa masalah bahkan


nenek Kasih akhirnya mengusir mereka dan memutuskan hubungan dengan mereka. Hal


inilah yang mengakibatkan Kasih tumbuh menjadi seorang pribadi yang tertutup


ditambah pembullyan yang dialaminya selama berada di sekolah Kasih tak punya


teman ataupun orang yang dekat dengannya. Ia hanya punya orang tua dan


adik-adiknya. Ayahnya yang terusir berusaha dari bawah dengan modal kepercayaan


dan kerja keras Ayah Kasih akhirnya bisa sukses dan menjadi salah satu


pengusaha yang kaya dan terpandang di kota X.


“maafkan aku yang hampir menabrakmu tadi Sih, kau


benar-benar tak apa-apa kan?” tanya Rey memulai pembicaraan. Diliriknya Kasih


yang ada disamping kemudi. “apa sebaiknya kita ke rumah sakit saja?”


“tidak perlu…sungguh tidak perlu ke rumah sakit kak, aku


sungguh baik-baik saja kok. Kakak tidak usah khawatir begitu.” Kasih menolak


halus


“benarkah? Benar tak perlu ke rumah sakit?”


“iya. Kakak tak perlu khawatir aku tak apa. sungguh.” Kata


Kasih berusaha menyakinkan Rey.


“baiklah. kita tak akan ke rumah sakit tapi kau harus


memberikanku nomer ponselmu Ok?”


Kasih sedikit terkejut mendengar permintaan Rey yang


tiba-tiba meminta nomer ponselnya. ‘harusnya aku senang akhirnya hari dimana


aku punya kesempatan agar bisa dekat dengan Rey akhirnya datang. Tapi aku saat


ini sudah bukan Kasih yang dulu. Aku bahkan sudah kehilangan mahkotaku, aku tak


pantas bahkan hanya untuk bergandengan dengannya. Aku harus tau diri, tidak


boleh menaruh angan-angan yang hanya akan menyakitiku nantinya…’


“bagaimana? Apakah boleh?” tanya Rey lagi karena Kasih hanya


diam tak merespon pertanyaannya barusan.” Aku hanya ingin benar-benar


memastikan kau tak apa-apa. itu saja” imbuh Rey sembari menyunggingkan senyum


manisnya pada Kasih. Kasih salah tingkah dibuatnya. ‘jangan tersenyum begitu


dong aku kan jadi susah melepasmu kak.’ Keduanya pun bertukar nomer ponsel


masing-masing.


Mobil berhenti tepat di depan rumah Kasih.


“terima kasih sudah mengantarku kak” ucap Kasih tersenyum


“iya” ucap Rey“aku akan menghubungimu nanti.kau harus janji


untuk menjawab telpon dariku. Ok?” Kata Rey sebelum Kasih hendak turun dari


mobil


“baik” kata Kasih lalu melangkah turun dari mobil. Mobil melaju


dengan diiringi lambaian tangan Kasih.


Kasih lalu masuk kedalam rumahnya. Di dalam tampak ada


ibunya sedang menyiapkan sarapan. Kedua adiknya juga tampak duduk menikmati


sarapannya.


“Kasih!” seru Ibu ketika melihat yang membuka pintu rumah


ternyata adalah putri tertuanya yang tidak pulang berhari-hari. “kamu kemana


aja nak, Ibu khawatir” tanya ibu khawatir


Kasih lalu mengambil bangku lalu ikut duduk hendak sarapan


bersama.


“maafkan Kasih bu. Kasih bekerja” kata Kasih “tempat kerja


Kasih lumayan jauh jadi Kasih memutuskan untuk menginap.” Kasih terpaksa

__ADS_1


berbohong ia tak ingin keluarganya khawatir. Jika keluarganya mengetahui Kasih


mengalami penculikan bahkan dirinya sudah diperkosa oleh orang yang entah siapa,


Kasih tak berani membayangkan bagaimana reaksi sang Ibu.Kasih adalah putri


tertua, ia punya tanggung jawab yang besar terlebih dengan kondisi mereka yang


sekarang. Kasih tak mau membebani keluarganya dengan apa yang terjadi pada


dirinya. Ia lebih memilih untuk menanggungnya sendiri.


Sang ibu yang


mempercayai putrinya tak berniat bertanya lebih jauh. Ia yakin dan sangat


mempercayai putrinya Kasih karena selama ini Kasih memang tak pernah berbuat


yang macam-macam. Kasih adalah tipikal anak yang penurut Kasih juga tak punya


teman lain selain Karina.


“baiklah. lain kali beri kabar pada Ibu supaya ibu tak perlu


khawatir, Ok?” kata ibu sembari memberi piring berisi makanan pada Kasih. “makanlah”


Dalam hati Kasih bersyukur ibunya tak betanya lebih jauh


padanya karena Kasih sudah tak sanggup lebih lama berbohong didepan sang ibu.


“baik bu. Terima kasih”kata Kasih menyambut makanan yang


diberikan sang ibu.


Setelah selesai sarapan Kasih hendak bersiap untuk menjenguk


sang Ayah dirumah sakit. Hari ini adalah hari minggu. Kesempatan bagi Kasih


untuk mencari tau kejadian yang menimpa dirinya.


Kasih POV


“Ayah sudah sadar Sih.” Kata Ibu saat ia dan sang ibu sedang


membersihkan meja makan setelah mereka sarapan pagi. Raut wajah kebahagiaan


tersirat diwajah Kasih namun ia menjadi bingung kenapa sang ibu tampak bersedih


dengan kabar sang Ayah yang sudah siuman.’ Ayah..terima kasih Tuhan’ Kasih


sangat bersyukur.


“syukurlah Bu. Kasih sangat senang mendengarnya.” Kata Kasih


senang “lalu kapan Ayah boleh pulang ke rumah Bu?”


Dengan raut wajah sedih ibu menghela nafas mempersiapkan


hatinya untuk menjelaskan pada sang anak


“entahlah Sih” kata Ibu lesu. Kasih tampak bingung dengan


perkataan ibunya. “kata dokter Ayahmu sudah bisa pulang. Hanya…” imbuh Ibu


“Hanya apa Bu?” potong Kasih tak sabar


Menghela nafas ibu lalu berkata “kita tak punya uang untuk


membayar biaya rumah sakit Sih, Ayahmu sudah begitu lama dirumah sakit jumlah


tagihannya tak sedikit.”


Kasih terdiam ia tampak berpikir. “Ibu tenang saja ya…”kata


Kasih menenangkan sang Ibu,”biar nanti Kasih yang memikirkan soal biaya”


“maafkan Ibu dan Ayah sih. Semua karena Ibu dan Ayah yang


tak pernah mendengarkan saran darimu. Kami terlalu bodoh sampai mudah diperalat


orang keji seperti tuan Darma” Ibu memeluk Kasih dan mulai menangis


“tidak apa-apa bu. Kasih tak menyalahkan Ibu atau Ayah. Ini


semua salah tuan Darma. ia yang mengakibatkan usaha Ayah sampai bangkrut.”


Kasih dan sang Ibu berpelukan berusaha saling menguatkan.


Kasih POV END


“Nona Kasih, Ayah anda sudah boleh pulang. “ kata sang


dokter di dalam ruangannya dirumah sakit tempat Ayah Kasih dirawat. Kasih tentu


senang dengan kabar mengembirakan ini namun disisi lain ia juga bingung


bagaimana caranya melunasi tagihan rumah sakit.


“maafkan saya dok, apa bisa… emmm..?” Kasih agak ragu


mengatakannya


“nona Kasih?” panggil sang dokter sambil melambaikan


tangannya diwajah Kasih yang tampak melamun.


“apa anda menyimak apa yang saya bicarakan barusan Nona?”


“tentang apa dok?”


“Ayah anda sudah boleh pulang” kata sang Dokter


Kasih hanya terdiam tak tau harus senang atau sedih ia masih


bingung memikirkan bagaimana melunasi tagihan rumah sakit sang Ayah. ‘aku baru


mulai bekerja dari mana aku mendapatkan uang’. Menyadari lawan bicaranya tampak


bingung sang dokter lalu mengeluarkan sebuah kertas dan menyerahkannya pada


Kasih. Dengan lemas Kasih menerima kertas itu dan membacanya. Ia terfokus pada


jumlah tagihan yang tertera pada kertas itu. ‘gawat! Tagihannya begitu banyak


bagaimana aku akan membayar…’  lalu mata


Kasih tertuju pada sebuah cap LUNAS yang membuat dahinya mengernyit.


“dok, tagihan ini apa benar milik Ayah saya?” tanya Kasih


bingung


“tentu saja, anda bisa melihat nama yang tertera disitu”


ucap sang dokter lalu menunjukkan nama ayah Kasih pada lembar kertas yang


dipegang Kasih.


“ini benar milik ayah saya dok, namanaya tertera pada lembar


kertas ini, tapi siapa yang melunasi tagihannya? Saya kan belum membayar


dok.”tanya Kasih tak mengerti ‘siapa kah dermawan yang begitu baik hati


menolongku’


“saya tidak tau nona. Anda bisa menanyakan hal itu pada


bagian resepsionis.” kata Dokter itu kemudian.


“baik dok, terima kasih. Saya permisi” Kasih lalu keluar


dari ruangan itu dan bergegas ke tempat resepsionis untuk menanyakan siapa


kiranya yang sudah menjadi malaikat penolongnya. Sepeninggal Kasih dari ruangan


sang Dokter tampak menelpon seseorang


“tuan, saya sudah melaksanakan tugas saya.” Ujar sang Dokter


di telpon


Kasih yang sangat penasaran segera menghampiri resepsionis


untuk mencaritahu. Akan tetapi setelah menanyakan pada resepsionispun Kasih tak


mendapat jawaban siapa yang sudah menolongnya membayar tagihan rumah sakit.


Tring! Tring!


Ponsel Kasih berdering dilayar menampilkan nama Karina.


Kasih mengangkat panggilan itu dan meletakkan ponselnya ditelinganya.


“KASIH!!!!” seru suara diseberang telpon yang adalah


sahabatnya Karina. Kasih mengusap telinganya yang berdenging dikarenakan


teriakan Karina.


“astaaga, bisa tidak pelankan sedikit suaramu, Aku belum


tuli bodoh!” umpat Kasih kesal dengan kelakuan sahabatnya itu.


“ah! maafkan aku.” Kata Karina “kau ada dimana selama


beberapa hari ini Sih? aku mencarimu kemana- mana ibumu bahkan tak tau kau


kemana. Kau tak tau betapa cemasnya aku. Aku bahkan menelpon polisi dan


menyuruh membuat selebaran untuk mencarimu” ucap Karina heboh


“dasar bodoh. Kau membuat kehebohan dimana-mana” ucap Kasih


berlagak kesal.


“mau bagaimana lagi aku kan panik kau tiba-tiba menghilang”


Ucap Karina berlagak sedih “kau dimana sekarang?”


“aku baik-baik saja. aku sedang di rumah sakit menjemput


Ayahku.”


“oh iya syukurlah tuan Avisha sudah bisa pulang” kata Karina


senang “kau tunggu disitu saja aku akan datang menjemputmu jangan kemana-mana.”

__ADS_1


Putus Karina lalu memutuskan sambungan telvon dengan cepat. ‘aneh. Aku sudah


menyuruh polisi dan anak buah Ayah untuk mencarinya kemana-mana tapi ia seperti


bersembunyi di alam lain. Kemana sih sebenarnya ia pergi? Dasar anak itu’


Karina merasa sangat aneh karena ia sudah susah payah menyuruh polisi bahkan


membujuk sang Ayah untuk membantunya mencari keberadaan Kasih yang tiba-tiba


menghilang, tapi tak satupun yang mengetahui keberadaannya. Meski Karina tidak


sekaya keluarga Avisha namun ia masih termasuk salah satu keluarga terpandang


dan kaya tentu saja untuk menyewa orang mencari keberadaan Kasih bukanlah hal


yang sulit. Namun kali ini ia sama sekali tak bisa menemukan keberadaan Kasih.


“dasar anak ini aku belum selesai bicara…”kata Kasih


mendumel.


Diruang rumah sakit yang berisi beberapa orang lain yang


juga dirawat diruangan itu, Kasih tampak sedang membereskan barang-barang sang


Ayah. Kasih sangat lega Ayahnya sudah bisa pulang karena tagihan rumah sakit


sudah dibayar. Meski Kasih masih belum mengetahui siapa orang yang sudah menolongnya


membayar semua tagihan itu Kasih hanya  bisa bersyukur dan berjanji dalam hatinya nanti ia akan mengucapkan


terima kasih pada malaikat penolongnya itu. ‘apa mungkin Karina yang telah menolongku?’


Kasih bertanya-tanya dalam hatinya’ aku akan menanyakannya dan berterima kasih


padanya jika nanti bertemu dengannya’. Kasih tersenyum senang ada perasaan lega


meyeruak dalam dadanya setidaknya ia bisa merasa senang saat ini Ayah sudah


bisa pulang dan urusan biaya juga sudah beres.


“Kasih…” suara panggilan ayah membuat Kasih menghentikan


aktivitasnya memasukkan barang-barang sang Ayah ke dalam tas. Kasih segera


menghampiri sang Ayah yang baru saja terbangun dari tidurnya.


“ayah sudah bangun…” ucap Kasih sembari membantu sang Ayah


untuk duduk bersandar diranjang. “apa ayah butuh sesuatu? Perlu Kasih ambilkan?”


tanyanya perhatian


“ah tolong ambilkan Ayah segelas air.” Kata sang Ayah


Kasih lalu mengambilkan air untuk sang Ayah.’


”terima kasih sayang”


Kasih memperlihatkan senyum manisnya pada sang Ayah “minum


pelan-pelan yah.”


“iya.” Ucap sang Ayah meminum air yang diberikan Kasih. Setelah


minum sang Ayah lalu segera menggenggam tangan putrinya. Kasih. “maafkan Ayah


nak. Jika bukan karena kebodohan Ayah, semua ini tidak akan terjadi…” Ayah


Kasih terisak.


“apa yang Ayah bicarakan. Ini bukan salah Ayah. Jangan menyalahkan


diri Ayah. Tidak ada yang perlu dipersalahkan semua sudah terjadi yang penting


Ayah sudah sehat dan bisa kembali pada kami Kasih sudah sangat bersyukur”.Kasih


memeluk sang Ayah sambil ikut menangis. Hati Kasih terasa sangat perih melihata


ayahnya yang biasanya terlihat kuat kini terlihat begitu menyedihkan. Tubuhnya tampak


lebih kurus dan lemah sangat berbeda dengan sang Ayah yang selalu dilihat Kasih


selama ini. Ayah nya adalah seorang yang walaupun bertampang garang namun


hatinya sangat lembut begitu suka menolong orang lain tanpa pamrih. Ayah yang


sangat memanjakan anak-anaknya. Sang ayah memang hampir tiap kali bertengkar


dengan sang ibu namun tak pernah sekalipun ia memarahi anaknya atau orang lain.


Sang Ayah dimata Kasih adalah sosok pria lembut dan pekerja keras. Terbukti sang


Ayah yang hanya bermodalkan kerja keras dan tekad yang kuat mampu membangun


usaha toko pakaian yang berkembang sangat pesat walaupun tanpa dukungan dari


keluarga besar Avisha.


“ayo kita pulang temui ibu dan adik-adik di rumah Yah..


mereka semua sudah menunggu Ayah.”kata Kasih kepada Ayahnya yang masih


menangis.


“Ayah tidak bisa pulang Sih. tagihan rumah sakit belum


dilunasi..”


“Ayah tenang saja, ada orang baik hati yang menolong kita”


“siapa Sih?”tanya Ayah penasaran


“aku juga tidak tau Yah, aku sudah berusaha mencari tau tapi


tidak ada yang tau siapa yang sudah membantu kita” ucap Kasih menjelaskan


Tok! Tok!


Terdengar suara pintu diketuk. Tampak Karina muncul dibalik


pintu, Kasih dan Ayahnya melihat Karina yang masuk keruangan.


“hai paman saya Karina teman Kasih” ujar Karina


memperkenalkan dirinya pada Ayah Kasih


“Ayah, ini teman Kasih yang membantu kita memberikan rumah


untuk kita tinggali dia banyak berjasa menolong Kasih selama ini Yah..” Kasih


memperkenalkan Karina pada Ayahnya.


“terima kasih Nak Karina atas bantuannya… paman tidak tau


kapan baru bisa membalas kebaikan nak Karina..” ujar Ayah Kasih pada Karina


“paman jangan sungkan pada Karina. Kasih dan Karina sudah


seperti saudara..” saat mengucapkan kata saudara tampak air muka tuan Avisha


berubah sedih. Ia teringat tuan Darma yang sudah dianggapnya seperti saudara


kandungnya namun begitu tega menghancurkan hidupnya. “…kandung” Karina yang


menyadari perubahan wajah tuan Avisha merasa bersalah “maafkan Karina kalau


Karina salah bicara..”


“tidak apa-apa Nak… paman tidak apa-apa hanya sedikit


mengingat…”ujar tuan Avisha yang langsung dipotong Kasih


“ayo kita pulang saja dulu, ibu pasti sudah menunggu kita


dirumah Yah”


“ah!” tuan Avisha tersadar “kau benar Nak. Ayo kita pulang


temui Ibumu dan adik-adikmu”


Setelah memasukkan semua barang kebagasi, mobilpun melaju


meninggalkan area rumah sakit menuju rumah Kasih. Sesampainya di rumah mereka


disambut Ibu Kasih dan kedua adik Kasih yang sudah menunggu kedatangan mereka


di depan pintu setelah sesaat menerima pesan singkat dari Kasih yang mengatakan


mereka akan segera sampai di rumah.


“sayang..!!” seru Ibu


Kasih lari menghampiri tuan Avisha dan memeluknya sambil terisak “tega sekali


kau padaku, kau tidur begitu lama apa kau pikir aku tidak kesepian,,? Aku.. aku


begitu takut dan sedih kau tidak kunjung sadar..siapa yang akan menemaniku


bertengkar jika kau tak ada…” suara Ibu bergetar disela tangisannya. Ayah


membalas pelukan Ibu sembari menepuk pelan punggung Ibu menenangkan Ibu dari


tangisannya. Akhirnya setelah sekian lama akhirnya Kasih bisa melihat Ayah dan


Ibunya harmonis seperti saat ini. ‘sepertinya ada hikmahnya juga jadi orang


miskin ya…’


“sudah…sudah...jangan menangis lagi aku sudah kembali, lihat


kan aku sudah ada disini. Aku akan menemanimu bertengkar sampai kau puas… hm..?


kata Ayah menatap Ibu yang masih terisak.


“kau ini benar-benar..” ibu memukul dada Ayah pelan lalu kedua


adik Kasih datang menghambur kedalam pelukan Ayahnya. Karina dan Kasih yang


menyaksikan kehangatan ini hanya tersenyum bahagia. Mereka semua tertawa


bahagia dan masuk kedalam rumah. Saat hendak ikut masuk ke dalam rumah langkah


kaki Kasih terhenti saat sebuah masuk ke ponselnya yang membuat raut wajah


Kasih berubah tegang seketika.

__ADS_1


BERSAMBUNG….


__ADS_2