
Pagi itu selepas menikmati sarapan mereka, aktivitas pertama mereka dimulai dengan pergi bermain di pantai. Disinilah mereka sekarang. Di pinggir pantai asyik bermain air. John dan dua pelayan sibuk menyiapkan barbeque untuk dinikmati keluarga sang nyonya nantinya.
Jenny, Alysa serta Karina sudah sepenuhnya basah oleh air laut yang membasahi tubuh mereka. Ayah dan Ibu Kasih duduk di kursi pantai menikmati sinar matahari pagi. Sedangkan Kasih dan tuan Smith yang baru saja tiba di pantai sudah memakai pakaian pantainya. Kasih sudah akan bersiap memasuki air untuk bergabung dengan Karina dan kedua adiknya, namun sebelum kaki jenjang Kasih menyentuh air yang dingin, tuan Smith menarik tangannya. Kasih menatapnya penuh tanya.
“ada apa?” tanya Kasih bingung
“aku akan menemanimu masuk ke air” kata tuan Smith dengan ekspresi datarnya
“aku bisa sendiri, aku tidak butuh bantuanmu” balas Kasih mengabaikan tuan Smith, namun tuan Smith tetap pada pendiriannya. Akhirnya Kasih mau tidak mau setuju untuk ditemani.
Baru beberapa saat Kasih bermain air bersama yang lainnya, tuan Smith menyuruhnya untuk berhenti dan naik agar bisa menikmati makanan.
“sebentar lagi, aku masih ingin bermain” kata Kasih belum ingin mengakhiri kesenangan bermain air
“tidak. sudah cukup. Kau akan masuk angin”
Dengan perasaan kesal Kasih diikuti kedua adiknya dan Karina keluar dari air.
“makanlah!” tuan Smith menyodorkan sepiring penuh makan yang telah diambilkan
“apa kau ingin membuatku gemuk seperti monster?” komentar Kasih menatap piring makanan yang terlihat penuh
Tuan Smith menatapnya bingung ‘apa... gadis ini biasanya makan sangat banyak, yang kuambilkan bahkan tidak sampai seperempat dari yang biasa ia makan’
Tuan Smith hendak berkata lagi namun segera di urungkan setelah melihat Kasih yang terlihat makan dengan sangat lahap.
‘dia makan dengan lahap seperti aku tidak memberinya makan berhari-hari’
“ambilkan air” Kata Kasih menyuruh tuan Smith yang terbengong.
John sedikit terkejut melihat sikap sang Nyonya yang tiba-tiba sangat berani menyuruh-nyuruh sang tuan yang anehnya menjadi sangat penurut padanya.
“makan dengan perlahan. Semua makanan itu milikmu” tuan Smtih menasehati sang istri dengan lembut
“ambilkan yang itu juga” perintah Kasih sembari menunjuk hidangan yang lain sambil terus melahap makanan yang ia pegang.
“baik. Baik. Semua kuambilkan untukmu” Kata tuan Smtih menurut mengambilkan hidangan yang diinginkan sang istri. Semua orang yang menyaksikan aksi kedua sejoli suami istri itu hanya bisa bergumam dalam hati sambil berpandangan satu sama lain. Kasih tidak memedulikan sikap tuan Smith yang terlihat sangat berbeda itu karena ia berpikir semua itu adalah bagian dari sandiwara untuk terlihat sebagai suami istri yang harmonis.
“romantis sekali”
“romantis sekali”
Acara makan itu berakhir dan mereka semua bersiap untuk kembali ke villa. John dan para pelayan kembali terlihat sibuk merapikan peralatan. Para anggota keluarga satu persatu sudah beranjak meninggalkan tempat yang sudah mulai sepi. Kasih yang merasa kekenyangan sudah tertidur di atas kursi pantai dengan paha tuan Smith sebagai bantalannya. Kasih tertidur pulas dan tidak ada yang berani mengganggunya.
“tuan, saya akan kembali ke villa untuk membawa semua barang dan peralatan... “ kata John dengan suara pelan agar tak mengganggu tidur sang Nyonya
“hn, kau pergilah” Kata tuan Smith singkat tanpa mengalihkan pandangannya dari wajah Kasih yang masih tidur
John segera meninggalkan tuan dan nyonyanya di tempat itu sesuai dengan perintah tuan Smith. Matahari sudah semakin meninggi cahayanya yang terik memancar dan terpantul oleh beningnya warna dari air laut di pulau. Suasana berubah sunyi saat hanya mereka berdua saja dan Kasih sedang tertidur nyenyak dibawah payung pantai yang melindungi mereka berdua dari panasnya sinar matahari.
Setelah tidur cukup lama Kasih terbangun dan terkejut melihat tuan Smith sedang menatapnya.
“apa aku tertidur?” Tanya Kasih sembari mengucek matanya
“apa tidurmu cukup?” tuan Smith mengabaikan pertanyaan Kasih dan malah balik bertanya padanya
“Kurasa begitu, eh? Kemana semua orang?” Kasih bingung melihat tidak ada orang lain ditempat itu, bahkan semua peralatan yang digunakan sudah tidak ada.
“mereka semua sudah kembali”
“eh?”
__ADS_1
Kasih menatap tuan Smith dengan wajah bingung “semua orang sudah kembali dan kau malah membiarkan aku tertidur disini? Benar-benar tidak bisa dipercaya!”
“apa kau masih ingin melanjutkan tidurmu? Aku akan...”
“...tidak!” tuan Smith menatap Kasih dengan tatapan bingung “apa kau ingin hantu penghuni pulau muncul disini?”
“hantu...?” tuan Smtih seketika terbengong
“hantu penunggu pulau yang kau ceritakan waktu itu...” kata Kasih dengan nada suara mulai meninggi
“ah ya! Hantu itu...suka sekali muncul secara tiba-tiba”
Kasih menatap sekitarnya dan mulai merasa merinding “apa siang bolong juga bisa muncul hantu?”
Seketika dari dalam hutan terdengar suara-suara aneh yang membuat Kasih terlonjak kaget memeluk lengan tuan Smtih dengan erat. Suasana berubah menjadi terasa seram.
“ayo ita pulang sekarang!” kata Kasih mendesak tuan Smith
“hn, baiklah”
Mereka berdua pulang ke villa sambil Kasih yang bergelut ketakutan dilengan tuan Smith.
***
Nirmala sedang menelpon seseorang dari dalam kamar tidur miliknya.
“aku sungguh tidak menyangka jika Kasih sekarang bisa menjadi seorang nyonya Alexander” kata Nirmala di telepon
“tentu saja, aku bertemu langsung dengan tuan Smith waktu itu. Aku sungguh terkejut! Dia mengatakan dengan lantang bahwa Kasih adalah istrinya!!!” ungkap Nirmala heboh. Looran akhirnya percaya dengan apa yang diucapkan oleh sahabatnya itu dan segera mengakhiri percakapannya setelah beberapa saat kemudian.
Segera setelah percakapan di telepon berakhir, Looran segera mengetikkan sesuatu di ponselnya dan mengirimkannya.
“ini adalah berita yang luar biasa!!!” katanya dengan tatapan senang dan layar ponselnya menampilkan pesan yang tadi ia kirimkan telah berhasil dikirimkan.
***
Di villa Karina dan kedua adik Kasih sedang duduk bersantai di atas balkon sembari bercengkrama ria. Raut kebahagiaan terpancar dari wajah mereka.
“bukankah tempat ini luar biasa? Aku rela tinggal disini selamanya” kata Karina yakin
“benar kak. Aku sangat suka bermain di pantai seperti tadi” ucap Alysa membenarkan ungkapan Karina. Jenny tampak mengangguk setuju.
“bagaimana menurutmu dengan tuan Smith? Apa kalian menyukainya?” tanya Karina tiba-tiba sangat penasaran dengan pendapat kedua adik Kasih ini.
Kedua adik dari gadis yang telah menjadi sahabat baiknya itu tampak berpikir sejenak sebelum menjawab pertanyaan Karina.
“tuan Smith sangat menakutkan!” kata Alysa dan Jenny bersamaan
Karina menautkan alisnya bingung
__ADS_1
“tapi tuan Smith sangat manis...!” lanjut keduanya kemudian
Karina semakin bingung dibuatnya. Ternyata saat pertama kali melihat tuan Smith kesan pertama yang didapat oleh kedua adik Kasih ini adalah sosok pria yang sangat menakutkan. Namun, setelah tuan Smith datang ke rumah dengan membawa banyak sekali makanan dan juga mainan untuk keluarga Kasih waktu itu dan menghabiskan waktu beberapa waktu dengan keluarga itu, kesan menakutkan itupun berangsur hilang digantikan dengan kesan manis. Bagaimana tidak, tuan Smtih bahkan rela memakai pakaian badut untuk menghibur adik-adik Kasih itu. Ia juga berusaha melucu namun malah terdengar sangat aneh karena yang membuat mereka tertawa terbahak-bahak dibuatnya. Bukan karena lelucon yang di ceritakan oleh tuan Smith namun karena cara tuan Smith menceritakan cerita itu sangat awkward dan itu terdengar sangat lucu bagi mereka. Bahkan Ibu Kasih yang tidak sengaja mendengar cerita tuan Smith kala itu juga ikut tertawa.
“aku yakin adik bayi akan sangat manis seperti tuan Smith” kata Jenny membayangkan wajah anak yang sedang dikandung Kasih saat ini.
“tuan Smith itu bukankah sangat dingin dan menakutkan, bagaiamana mungkin bisa kau bilang ia manis. Aku sungguh tidak mengerti” kata Karina tidak mengerti. Sementara Alysa dan Jenny tersenyum saling berpandangan.
“apa yang sedang kalian bicarakan kelihatannya seru sekali” tanya Kasih yang tiba-tiba muncul
“Kakak!”
“Kakak!”
Alysa dan Jenny bangkit berlari menghampiri Kasih dan memeluknya
“kalian sudah makan?” tanya Kasih
“belum!” seru keduanya serempak
“Ibu mencari kalian untuk makan” kata Kasih pada kedua adiknya
“bisakah kami tidak pergi...? kami masih mau disini” kata Jenny
“biar kupikirkan sebentar...” Kasih memasang posisi sedang berpikir
Lalu kemudian terdengar suara sang Ibu yang meneriakkan nama kedua putri kecilnya itu.
“Jenny...Alysaa...!!!” suara sang Ibu terdengar dari dalam rumah.
Wajah Alysa dan Jenny terlihat murung.
“aku janji akan membawa kalian liburan lagi nanti” ucap Kasih menyakinkan sang adik yang wajahnya seketika berubah senang seketika.
“baik!”
Alysa dan Jenny kemudian pergi menemui sang Ibu dengan senang hati.
“kau akan pergi berlibur lagi?” tanya Karina pada Kasih sesaat setelah adik-adik berlalu.
Kasih hanya mengangkat bahu dan berkata singkat “mungkin?”
“dasar!”
Kasih menampilkan cengirannya pada sahabatnya itu
“bagaimana perasaanmu? Apa kini kau bisa menerima tuan Smith?” tanya Karina kemudian
Kasih tidak langsung menjawab pertanyaan itu pandangaannya secara mendadak berubah sendu. Karina yang menyadari perubahan itu segera mengalihkan pembicaraan
“apa yang akan kita lakukan besok? Apa kita akan pergi bermain di laut lagi?”
“aku tidak tau apa yang sedang kurasakan” kata Kasih tiba-tiba menjawab pertanyaan Karina di awal. Karina menatap Kasih lekat mencari tau apa yang sedang dipikirkan si gadis yang sedang berbadan dua dihadapannya saat ini.
“aku tidak bisa terus membencinya. Tapi aku juga tidak bisa mencintainya” Karina menatap Kasih tidak mengerti
“apa kau masih mencintai... Rey?” tanya Karina hati-hati sambil terus menatap wajah Kasih yang masih terlihat sendu
“aku...”
BERSAMBUNG...
__ADS_1