
Kasih yang tiba-tiba datang berkunjung ke rumah kedua orangtuanya disambut hangat oleh kedua adiknya dan juga sang Ayah.
“Kakak! Hore! Kakak datang membawa bayi Ed!” seru Jeny senang sembari meloncat girang.
“Hey! Jangan berisik!” hardik Alysa sambil menempatkan jari telunjuknya didepan bibirnya. “Kau akan membuat bayi Ed terbangun. Apa kau ingin dia menangis karena mendengar suaramu yang kencang itu?”
Jenny tersadar dan segera menutup mulutnya dengan kedua tangan mungilnya.
“Kakak! Dimana tuan Smith?” tanya Alysa pada Kasih yang hanya bisa terdiam.
“Apa kau tidak tau jika orang dewasa harus bekerja saat di pagi hari?” ujar Jenny berlagak seperti orang dewasa.
“Benarkah? Darimana kau mengetahui hal itu? Bukankah tuan Smith adalah Bosnya? Untuk apa dia harus sibuk-sibuk jika ia adalah Bosnya?” balas Alysa tidak ingin kalah. Alhasil terjadilah perdebatan kecil antara kedua anak gadis kecil itu.
Ayah Kasih menghampiri Kasih.
“Kau sudah datang. Sini, biar Ayah yang menggendong bayi Ed. Kau beristirahatlah dulu.” Ucap Ayah sembari mengambil bayi Ed dan memindahkannya kedalam gendongannya. Kasih hanya mengangguk patuh dan pergi memasuki kamar lamanya untuk beristirahat sesuai perintah sang Ayah.
“Kalian berdua hentikan itu! Ayo! Bantu Ayah untuk menjaga bayi Ed,” seru Ayah Kasih pada kedua anak gadisnya yang tengah bertengkar. Jenny dan Alysa seketika berhenti bertengkar dan kembali memasang wajah ceria yang polos sambil menghampiri sang Ayah.
“Bayi Ed, kau sungguh menggemaskan!” ucap Alysa mencubit pelan pipi chubby milik bayi Ed. Bayi kecil itu menggeliat pelan merespon tindakan Alysa.
“Lihat! Bayi Ed bergerak! Sungguh membuat hati gemas! Aku menyukai bayi Ed, Ayah. Bolehkah bayi Ed menjadi milikku?” tanya Alysa mengebu-gebu.
Sang Ayah tersenyum geli mendengar pernyataan polos anaknya. “Bayi Ed adalah milik tuan Smith dan kakakmu, Kasih. bagaimana bisa kau ingin mengambilnya dari mereka berdua?”
Alysa tampak berpikir. “Bisa!” serunya kemudian. “Aku akan menikahinya ketika aku dewasa!” putusnya senang.
Sambil menggaruk alisnya Ayah Kasih tampak tersenyum kaku. ‘mengapa semua putriku begitu tergila-gila pada keluarga Alexander ....’
***
Di dalam kamarnya Kasih menatap kamar lama miliknya saat ia masih menjadi gadis milik keluarganya. Waktu terasa begitu cepat berlalu kini ia sudah memiliki seorang anak dan suami dan sebentar lagi ia bahkan akan menceraikan suaminya itu dan tentu saja hal itu akan membuat dirinya yang masih sangat belia akan resmi menyandang status seorang janda. Suaminya itu memikirkannya seketika membuat hati Kasih kesal setengah mati. Entah apa yang ada didalam isi kepala pria kaya itu, bisa-bisanya menuduhnya tanpa bukti. Walau memang benar setiap harinya ia sangat merindukan pangerannya, Rey. entah bagaimana kabar pujaan hatinya itu. Apakah ia baik-baik saja? Apa ia masih mengingat dirinya ataukah sudah melupakannya. Sekelebat pertanyaan itu membuatnya semakin bersedih. Tidak ingin memperburuk suasana hatinya, Kasih lantas mengambil laptop miliknya yang berada di kamarnya. Dari laptop warna merah kesayangannya itu ia membuka akun sosial medianya dan mencoba mengecek akun milik Rey yang ternyata sudah tidak pernah aktif sama sekali. Sontak hal itu seakan mengiris-ngiris hati Kasih yang sedang dipenuhi luka.
Dengan kedua tangannya Kasih menutup wajahnya sembari menghela nafas sedih.
__ADS_1
“Apa dia sangat membenciku?” Airmata Kasih mulai mengalir. “Apa ia sungguh sudah melupakan diriku? Rey ... aku merindukanmu. Hiks! Hiks!”
Di balik pintu kamar Kasih, Dan yang berdiri memperhatikannya dengan tatapan yang sangat sedih tidak bisa berbuat apa-apa. Walaupun, ia sungguh ingin masuk lalu memeluk gadis itu dan menenangkannya. Tidak membiarkan airmata mengaliri pelupuk mata gadis yang sudah ia cintai sejak kecil dan begitu ia rindukan. Akan tetapi, lagi-lagi ia tidak dapat melakukan apapun dan hal itu sungguh menyiksa perasaannya.
“Maafkan aku, Kasih.” gumamnya lirih meletakkan sembari berlalu pergi meninggalkan Kasih yang masih menangis sambil memandang potret Rey ditangannya.
“Aku akan mencarimu, aku akan mencarimu ke luar negeri,” ucap Kasih dengan yakin. Pandangannya beralih pada kartu debit diatas meja belajarnya. Kartu itu berisi uang yang diberikan Tuan Smith sebagai upahnya menjadi istri sesuai kesepakatannya dengannya. Uang itu sudah terkumpul sangat banyak dan akan digunakan Kasih untuk modal Ibunya membuka sebuah usaha dan sebagiannya lagi akan digunakannya untuk mencari Rey di luar negeri. Dengan tekadnya untuk menemui Rey, maka Kasih meminta pekerjaan pada tuan Smith namun ia sendiri tidak menyangka bahwa akhirnya si pria gila itu malah memberinya pekerjaan super ringan dengan bayaran yang luar biasa banyak.
***
“Jenny! Alysa!” seru Karina saat bertamu ke rumah orang tua Kasih. Seketika langkah kakinya terhenti dan ia tertegun karena melihat seorang pria sedang duduk bercengkrama dengan Ayah Kasih dan kedua adik Kasih. Pemuda itu adalah Dan. Pengawal pribadi Kasih.
“Kau?” kata Karina dengan telunjuk yang terarah pada pemuda tampan itu.
Pemuda bernama Dan itu bangkit dan memberi hormat sopan pada Karina.
Sejurus kemudian mereka menghabiskan waktu bercengkrama ria diruang tamu sederhana itu sampai Ibu Kasih yang baru saja pulang dari berjualan kue tertegun melihat keberadaan pemuda asing di rumahnya.
Barulah setelah diperkenalkan Ibu Kasih akhirnya mengerti.
“Dasar, Ibumu baru saja tiba di rumah dan kau,membiarkan Ibumu untuk membuat cemilan?” sindir Karina pada dua kakak beradik yang sangat hobi makan.
Kedua kakak beradik itu hanya cengir sambil menampilkan barisan gigi yang berlubang dan ada yang tanggal. Namun begitu, mereka berdua terlihat sangat lucu dan polos dengan tubuh Alysa yang lebih gemuk daripada sang adik yang bertubuh lebih kecil.
“Apa kalian sudah lama?” tanya Ibu Kasih mengalihkan topik. Pandangan matanya mencari keberadaan putri tertuanya. “Dimana Kasih?” tanyanya kemudian sembari meletakkan cemilan di atas meja.
Ayah Kasih yang tengah menggendong bayi Ed menjawab, “Kasih ada di kamarnya sedang beristirahat. Mungkin dia sedikit lelah. Biarkan saja dia tidur.” kata Ayah Kasih menjelaskan.
Ibu Kasih mengangguk mengerti lalu menyuruh mereka semua untuk menikmati cemilan dan minuman yang sudah selesai ia siapkan. Lalu ia sendiri pergi ke kamar untuk membersihkan diri.
Setelah selesai membersihkan diri ia menyempatkan diri untuk melihat Kasih yang sedang tertidur pulas di kamarnya.
Kasih terbangun karena merasakan sebuah belaian lembut diwajahnya. Saat ia membuka kedua matanya samar-samar ia melihat sang Ibu tercinta sedang duduk disamping tempat tidurnya sembari mengelus sayang wajahnya.
“Ibu? Apa aku tertidur lama? Aku sangat tidak menyadari Ibu datang,” ucap Kasih pada Ibunya yang tersenyum lembut padanya.
__ADS_1
“Tidak apa-apa sayang, kau boleh kembali tidur jika kau masih mengantuk.” Kata sang Ibu pengertian.
Kasih menggeleng pelan sambil menampilkan senyumannya.
“bagaimana kabarmu, Nak? Apa kau ... Bahagia?” tanya sang Ibu hati-hati.
Kasih sempat terdiam lalu dengan cepat ia menyunggingkan senyuman manisnya pada sang Ibu, tak ingin membuat Ibunya itu khawatir akan dirinya.
“Aku tentu saja bahagia Bu, aku memiliki semuanya.” Ucap Kasih meyakinkan Ibunya. ‘Aku memiliki semuanya ... Semua yang orang lain inginkan, bukan yang kuinginkan. Uang, rumah mewah, mobil bahkan suami yang sangat tampan. Tapi aku harus kehilangan orang yang sangat aku cintai.’
Ibu Kasih memegang tangan Kasih mengusapnya lembut. “Syukurlah jika begitu. Ibu takut karena kau begitu cepat menikah ....”
“Ibu tidak usah cemas,” Kasih menggenggam erat tangan Ibunya dengan pandangan meyakinkan. “Aku sangat bahagia.” Tegas Kasih.
Ibu Kasih tersenyum lembut menanggapi perkataan putrinya itu.
“Ibu,” ucap Kasih sembari menyerahkan sebuah kartu berisi uangnya.
Ibu Kasih menatapnya bingung. “untuk apa ini?”
“Aku ingin Ibu dan ayah kembali membuka sebuah usaha. Itu adalah uang yang diberikan tuan Smith untukku. Ibu dan ayah bisa menggunakan uang itu,” ungkap Kasih menjelaskan maksudnya.
“Tapi ini .... “
“Aku mohon pada Ibu untuk tidak menolak Pemberianku ini. Uang ini tidak ada apa-apanya bagiku, Ibu tahu sendiri seberapa kayanya tuan Smith, bukan?” ucap Kasih meyakinkan sang Ibu yang kemudian mulai mempertimbangkan perkataan putrinya.
“Baiklah Ibu akan menerima ini jika begitu, Dan ... Ada satu hal yang perlu Ibu sampaikan padamu, Nak.”
“Apa itu, Bu? Bicaralah.”
Ibunya kemudian menceritakan perihal keberangkatan sang Ayah ke luar negeri selama waktu yang belum dapat dipastikan. Ibunya menjelaskannya secara rinci dan hati-hati karena ia sangat memahami karakter putrinya yang sangat menyayangi Ayahnya dan tidak terlalu menyukai sang Nenek.
Benar saja setelah mendengar penjelasan dari sang Ibu sontak Kasih menampilkan raut wajah kesal.
‘Aku harus berbicara dengan nenek.’
__ADS_1
BERSAMBUNG...