
Kasih sangat terkejut saat ia hendak keluar dari tempat persembunyiannya mendadak seseorang dari atas tempat tidur itu menatapnya namun ia tidak bisa melihat dengan jelas siapa orang itu karena kondisi ruangan yang sudah gelap. Dan parahnya lagi orang itu tiba-tiba saja menarik tubuh Kasih dan langsung menguncinya diatas tempat tidur dengan tubuh orang itu. ‘Matilah aku! Aku tertangkap basah tapi siapa orang ini apakah dia ....’
“Tuan Smith?!” Lampu menyala dan seketika ruangan menjadi terang Kasih sangat kaget melihat orang yang sedang berada diatasnya adalah Tuan Smith. “Lepaskan aku! Menyingkir dari tubuhku!” perintah Kasih sambil memberontak berusaha mendorong tubuh Tuan Smith namun tidak berhasil sedikitpun Tuan Smith tidak bergeming.
“Jika kau sangat menyukaiku kau tidak perlu sampai bersusah payah seperti ini. Aku bisa memberi apapun dengan sukarela padamu terutama ....” Tuan Smith melirik kebawah dengan tatapan menggoda dan Kasih mengikutinya saat sadar kemana arah tatapannya sontak Kasih semakin memberontak.
“Tidak! Apa-apaan arah tatapanmu itu!”
Tanpa membalas perkataan Kasih, Tuan Smith dengan santai menarik tangan wanita itu lalu menguncinya diatas kepala dengan satu tangan.
“Berhenti melakukan gerakan atau aku akan melakukan sesuatu,” ancam Tuan Smith yang sontak membuat Kasih seketika menutup mulutnya rapat.
“Anak baik,” kata Tuan Smith memuji seraya mengacak rambut Kasih dengan satu tangannya yang lain.
“Ii-ini tidak seperti yang kau pikirkan aku bisa menjelaskannya.”
Tuan Smith mengangguk sambil mendengarkan penuturan Kasih yang ia sendiri seakan sudah menduga wanita dihadapannya ini pasti akan mencari alasan konyol untuk menutupi kebohongannya.
“Memangnya apa yang kupikirkan? Apakah Nona pengasuh bisa menjelaskannya?” tanya Tuan Smith sengaja menekan sebutan pengasuh dalam kalimatnya.
‘Astaga! Astaga! Gawat! Kali ini aku benar-benar dalam masalah besar Tuan Smith menangkapku seperti menangkap seekor tikus yang akan mencuri keju darinya. Meski memang tampaknya itu memang ada benarnya juga akan tetapi aku sungguh tidak punya alasan bagus untuk dikatakan sekarang. Tidak bisa. Aku harus berpikir! Ayolah otakku biasanya kau begitu encer lalu kenapa disaat seperti ini malah eror mendadak. Kalau begini terus aku tidak bisa mengambil ponsel pria gila ini aku harus memikirkan sebuah cara!’
“Emmm itu, kurasa yang kau pikirkan sekarang adalah ....” Kasih tampak sedang berpikir keras mencari jawaban yang tepat untuk ia katakan pada Tuan Smith. Ia merasa sangat gugup apalagi Tuan Smith terus menatapnya dengan tatapannya yang menggoda. ‘Sialan! Aku tidak bisa berpikir lagi pikiranku benar-benar sudah buntu!’
“Kau ... terlihat sangat hot.”
“Hot?” ‘Panas?’ ulangnya dengan tatapan bingung sedangkan ia telah salahpaham dengan hot yang dimaksud oleh Tuan Smith. “Yah! Memangnya kau tidak bisa merasakannya?”
“Disini ....” Tuan Smith menunjuk dadanya.
“Ya.” Kasih mengangguk membenarkan ia tidak memperhatikan Tuan Smith sedang menunjuk dadanya ia mengira yang dimaksud adalah ruangan yang panas. “Sangat aneh jika kau tidak merasakan apapun.”
“Benar. Kau memang paling memahamiku.”
“Tentu saja. Hal sepele seperti ini bagaimana mungkin aku tidak mengerti. Kau tidak perlu cemas aku ini walau ingatanku hilang aku juga masih memiliki cukup kepintaran untuk digunakan,” kata Kasih panjang lebar. “Jadi, karena udaranya sangat panas bagaimana kalau kau menyingkir dariku, aku mau ... Apa yang kau lakukan?!”
“Diamlah.”
Kasih membeku bahkan bernafaspun terasa berat baginya. ‘Sisisituasi semacam apa ini?! Apa yang sedang dilakukan pria gila ini padaku?! Apa dia ingin ....’ Ia tidak berani berpikir lebih jauh ia takut. Sangat takut. Tuan Smith sedang menindihnya terlebih lagi pria itu sedang mengendus lipatan lehernya tanpa henti.
“Kasih?”
“Oh? Aa-apa?” kata Kasih gugup. ‘Apalagi sekarang? Pria ini aku bahkan tidak berani bernafas dibuatnya. Ya Tuhan kapan pria ini akan pergi?’
Tiba-tiba tanpa aba-aba sebelumnya tangan Tuan Smith bergerak meraih tangan Kasih dan membawanya menyentuh dada kirinya tempat jantungnya yang sedang berdegup berada.
“Disini.”
“Hah?” Kasih terperangah tidak mengerti. ‘Dasar pria gila! Tidak bisakah berbicara tidak ambigu seperti ini. Apa dia pikir aku ini peramal yang bisa membaca pikirannya hanya dengan satu kata darinya?! Huh! Sungguh tidak masuk akal!’ Disaat itu juga Kasih melirik benda yang ia cari. ‘Ketemu! Akhirnya aku punya kesempatan juga.’
“Apa kau tau, Kasih?” tanya Tuan Smith membelai lembut wajah Kasih. Wanita itu tidak terlalu menanggapi dirinya sibuk berusaha meraih ponsel yang terletak tak jauh dari dirinya.
“Kau terlihat sangat menggoda malam ini. Pakaian ini sepertinya aku harus membelikan lebih banyak untukmu. Lain kali kau harus lebih sering memakainya bila bersamaku.”
“Ah? Ya, ya begitulah. Beli saja. Beli saja apapun itu. Aku akan menurutimu,” Kata Kasih berbicara asal karena dirinya sedang sibuk menjulurkan tangannya menjangkau ponsel disebelahnya tanpa melihat ekspresi Tuan Smith yang menyeringai senang mendengar perkataan dari wanita itu.
__ADS_1
‘Sedikit lagi, ayolah! Sedikit lagi aku bisa meraihnya. Aku masih kurang dekat aku harus sedikit menggeser posisiku.’ Batin Kasih seraya menggeser posisinya lebih maju membuat tubuhnya lebih menempel dengan Tuan Smith hal itu membuat Tuan Smith berpikir Kasih sedang menggoda dirinya.
‘Sengaja berpakaian begini untuk menggodaku, gadis kecil ini sungguh berani.’
“Yes!” seru Kasih tanpa sadar ketika ia berhasil mendapatkan ponsel itu suaranya membuat Tuan Smith sontak mengernyit menatap dirinya bertanya.
“Yes! Yah aku sangat kepanasan apa kau tidak kepanasan? Sebaiknya kita pergi mandi saja tidak tau tubuh sudah sebau apa memang harus segera mandi agar kembali segar, “ tuturnya mengalihkan.
‘Ingin mandi bersama rupanya.’
Kasih menggigit bibir bawahnya merasakan suasana berubah sangat canggung karena Tuan Smith tidak menanggapi ucapannya barusan.
Glek! ‘
Astaga! Habis sudah. Kali ini aku benar-benar tamat.’
“Baiklah kalau begitu.” Tuan Smith seketika menegakkan tubuhnya lalu dengan cepat membuka bajunya dihadapan Kasih sontak membuat wanita itu melotot tidak percaya.
‘OH! MY! GOD!’
Dengan mulut terbuka lebar Kasih seolah tak percaya dengan apa yang tersaji dipandangannya saat ini. ‘Tubuh yang begitu sempurna sangat sia-sia jika dilewatkan.’ Seketika Kasih tersadar dan menutup mulutnya sendiri dengan kedua tangannya menyadari pikirannya sendiri. “Sedang apa kau kenapa mau buka baju?”
“Tentu saja mau mandi bukannya kau barusan berkata kau ingin mandi?” jawab Tuan Smith enteng lalu ia hendak membuka celananya juga alhasil hal itu membuat kasih memberontak sambil memukul-mukul Tuan Smith.
“Ahhhh!!!! Mesum gila!”
Setelah berhasil membebaskan diri Kasih kemudian bangkit hendak pergi meninggalkan kamar itu namun segera setelahnya tangan Tuan Smith meraih ujung baju milik Kasih dan dengan cepat membuat baju yang tipis itu tertarik hingga robek memperlihatkan bagian atas tubuh Kasih. Menyadari pakaiannya telah robek kasih semakin panik dengan cepat ia menutupi bagian dadanya itu dengan kedua tangannya.
“Kau! Kau! sudah gila, ya? Apa yang sedang kau lakukan?!” seru kasih sembari mengarahkan jari telunjuknya ke arah Tuan Smith.
“Tidak perlu aku bisa membelinya sendiri,” kata kasih lalu ia bergegas hendak pergi namun sekali lagi Tuan Smith menariknya hingga membuat ia kembali dan terjatuh diatas kasur empuk bersamaan dengan itu Tuan Smith bergerak mendekati Kasih.
“Kasih? Kau mau kemana?”
“Pergi! Memurutmu?!” kata Kasih dengan suara lantang lalu berusaha bangkit lagi namun sekali lagi Tuan Smith menariknya dan kali ini mengunci tubuh setengah telanjang wanita itu.
“Dasar orang gila! Mesum! Tidak bermoral! Sinting! Lepaskan aku!!!” teriak Kasih memberontak berusaha mendorong tubuh Tuan Smith menjauh darinya.
“Diam! Atau ...” Tuan Smith dengan sengaja mendekatkan bibirnya pada bibir Kasih membuat wanita itu bergegas menutup rapat mulutnya dengan kuat. Melihat tingkah Kasih yang demikian membuat Tuan Smith tersenyum senang ia telah berhasil membuat Kasih sangat ketakutan bila saja nantinya Tuan Smith akan tiba-tiba mencuri ciuman dari bibir manisnya. “Tampaknya kau sudah cukup banyak belajar dari pengalaman. Aku jadi tidak perlu mengajarimu lagi.”
“Jangan bercanda! Kau berbicara omong kosong. Aku tidak seperti yang kau katakan ....”
“Lalu?”
“Hentikan! Aku sudah muak dengan sikapmu ini Tuan Smith. Sekarang mari berhenti bersikap seperti dua orang mesum dan berbicara dengan posisi yang benar,” tegas Kasih memasang wajah serius.
“Menurutmu ... “ Tuan Smith semakin mempersempit jarak antara dirinya dan Kasih hal tersebut membuat tubuh Kasih seketika menegang. ‘ Ya Tuhan mengapa aku merasa situasi seperti ini sudah sering terjadi aku dan pria gila ini apakah kami berdua sungguh punya hubungan dekat di masa lalu sehingga ketika aku berada begitu dekat dengan dirinya aku sama sekali tidak merasa seperti sedang berada bersama dengan orang asing. Entahlah aku rasa segala hal menjadi sangat aneh.’
“Berhentilah melakukan hal yang menyebalkan aku sudah lelah meladeni sikap menyebalkanmu itu.”
“Apa kau tidak penasaran?”
“Penasaran? Tentang apa?”
“Tentang sesuatu yang selalu membuatku tidak nyaman. Sesuatu yang sangat mengganggu berada di sini.”
__ADS_1
Kasih mengernyit tidak mengerti. ‘Sesuatu seperti apa yang dimaksudkan pria gila ini apakah dia menderita penyakit jantung? Mungkin saja begitu kalau tidak mana mungkin dia menunjuk jantungnya dan mengatakan ia merasakan sesuatu yang tidak nyaman di sana. Yah! Pasti begitu aku sangat yakin. Kasihan sekali juga dia padahal dia sangat tampan usianya pun masih terbilang muda tapi sudah punya penyakit serius. Bisa saja ia begitu karena sangat menderita ditinggalkan oleh istrinya. Sungguh malang nasibmu Tuan pria gila.’ batin kasih menarik kesimpulannya sendiri.
“Baiklah. Aku mengerti. Jika kau merasa kurang sehat kau bisa menghubungi dokter untuk memeriksa kondisimu kalau kau butuh bantuan kau bisa memintaku untuk membantumu. Tenang saja meskipun suatu hari aku tidak lagi berada di sini aku akan tetap membantumu sebagai seorang kawan dan sebagai orang yang telah menolongku selama ini. Anggap saja aku membalas jasa padamu,” ujar kasih sambil menepuk pelan pundak Tuan Smith.
“Apa yang kau katakan?” tanya Tuan Smith heran.
“Sudahlah tidak perlu sungkan padaku. Penyakitmu belum terlalu serius juga, aku yakin kau masih bisa disembuhkan. Lagipula, kau punya begitu banyak uang tidak mungkin kau tidak bisa membayar dokter terbaik di dunia ini untuk mengobatimu, bukan?”
“Hah???”
***
Kasih menghela nafas panjang setelah ia berhasil mendapatkan apa yang ia inginkan yaitu alamat Nirmala.
Lalu, Tuan Smith sendiri yang masih terbengong di dalam kamar tampak sedang memikirkan apa yang baru saja terjadi.
“Wanita bodoh ini benar-benar keterlauan, dia mempermainkanku dengan kepolosannya itu, padahal aku sudah sangat berterus terang menunjukkan ledakan hatiku ini padanya tapi dia malah ... ” keluh Tuan Smith pasrah. Ia merasa menjadi sangat bodoh setiap kali berhadapan dengan wanitanya itu.
Ponselnya berdering dilayarnya tampak sebuah icon pesan muncul.
Terlihat setelah menerima pesan masuk itu Tuan Smith segera bergegas meninggalkan kamarnya dan pergi entah ke mana.
“Wendy, sekarang saatnya.” Kasih memberi aba-aba sambil mengawasi tuan Smith yang baru saja pergi.
“Tapi, Nona ... Apa sungguh tidak apa-apa? Aku sangat takut terkena amukan tuan Smith,” ujar Wendy ragu-ragu.
“Kau tenanglah, Nona Wendy. Aku akan menanggung semuanya biar aku yang akan menghadapi si pria gila itu.”
“Ttapi ... Nonaa ....”
“Sudahlah. Jangan terlalu khawatir memang apa yang akan dilakukan pria gila itu sampe kau terlihat secemas itu. Aku akan mengatasinya, jadi jangan cemas.” Kasih kemudian berlalu disusul Wendy yang mau tak mau mengikut saja karena tidak sanggup menghentikan Kasih.
Di dalam taksi yang ditumpangi keduanya Kasih sangat tidak sabaran beberapa kali ia menyuruh sang supir mengemudi dengan cepat.
“Pak supir, tolong lebih cepat lagi. Aku sedang sangat terburu-buru. Nona Wendy tolong terjemahkan itu untukku.”
Wendy menurut saja ia berbicara dengan bahasa asing pada sang supir taksi lalu berbicara lagi pada Kasih menyampaikan apa yang dikatakan sang supir.
“Nona, supir bilang kita sudah dalam kecepatan maksimum takutnya jika menambah kecepatan lagi—“
“Tidak masalah. Tambah saja kecepatannya aku tidak ingin kehilangan jejak,” potong Kasih cepat.
Meski sedikit ragu namun akhirnya Wendy hanya bisa pasrah. Dengan bahasa asing yang dikuasainya ia kemudian berbicara kembali pada sang supir untuk melakukan apa yang diminta oleh Kasih.
Akan tetapi apa yang terjadi selanjutnya benar-benar tidak disangka oleh mereka semua. Mendadak mobil taksi itu oleng dan hampir menabrak mobil yang berada didepannya.
“Astaga! Apa yang terjadi?” ujar Wendy terkejut. “Nona, apa Anda baik-baik saja?”
Kasih tidak menyahut nafasnya tampak naik turun terlihat jelas ia sedang ketakutan setengah mati.
“Nona?” panggil Wendy menepuk-nepuk pundak Kasih namun masih belum ada jawaban. “Nona? Apa Anda baik-baik saja? Tolong jawablah saya, Nona.” Wendy menjadi panik seketika karena melihat Kasih yang sedang syok.
“Aku tidak apa-apa. Hanya kaget saja,” kata Kasih kemudian. ‘Apa ini? Kenapa perasaan ini sama seperti dimimpi waktu itu.’
Bersambung ...
__ADS_1