
Tuan Smith menggeram marah membanting semua barang yang ada di hadapannya hingga semua pecahannya berserakan di lantai. Para pengawalnya tidak berani mengangkat kepalanya dan hanya bisa beringsut takut.
“Apa saja yang kalian lakukan menemukan lokasi mana keberadaan istriku saja kalian tidak becus?!” teriak Tuan Smith murka seraya membanting benda yang ada di tangannya hingga mengenai salah seorang pengawalnya.
“Tuan, mohon tenangkan diri anda,” ucap John menenangkan tuannya yang sedang mengamuk sembari memberi isyarat pada pengawal yang lain untuk membawa pengawal yang terluka pergi.
“Aku tidak mau tahu temukan lokasinya segara atau kalian semua kuhabisi.”
John sangat mengerti sifat tuannya itu apapun yang diucapkannya akan dilakukannya. Menemani sang Tuan selama bertahun-tahun membuatnya sangat memahami sifat dan karakter asli tuan Smith. Ia sudah sering sekali melihat bagaimana cara Tuan Smith mendisiplinkan para bawahannya. Membunuh bukanlah sesuatu yang asing baginya.
***
Beberapa orang bertubuh tegap menyeret tubuh Brandon menghadap sesosok pria yang menjadi otak dari penculikan Kasih serta menyusun sebuah rencana untuk balas dendam para orang yang telah membuatnya kehilangan segalanya.
“Apa yang kalian lakukan lepaskan aku! aku telah mengakui semuanya tolong ampuni aku jangan bunuh aku.” Brandon memberontak meminta dilepaskan namun diabaikan oleh kedua orang yang sedang menyeretnya itu. Tepat di hadapan seseorang yang misterius tubuh Brandon dilemparkan hingga terjatuh terjerembab.
“Tuan, tolong ampuni saya. Saya mengakui salah tolong jangan bunuh saya,” ucap Brandon memelas seraya memeluk kaki pria misterius itu.
Pria itu berbalik menghempaskan tubuh Brandon dari kakinya kemudian tersenyum sinis. Pria itu memiliki sosok tubuh yang tinggi dan rupawan berdiri dengan gagahnya di hadapan Brandon yang sedang kesakitan karena terhempas dengan keras.
“Jangan menyentuhku dengan tangan kotormu itu. Tenang saja aku tidak akan membunuhmu karena aku masih membutuhkanmu,” ucapnya dengan nada datar. Kemudian memberikan isyarat pada dua pria bawahannya untuk membawa Brandon.
Pemuda bernama Brandon itu berteriak ketakutan dan memohon ampun akan tetapi tidak ada yang memperdulikannya. Tubuhnya terus diseret menuju ke sebuah pintu tepat di hadapannya. Tangan kaki serta kepalanya ditutup dengan sebuah kain hitam lalu diseret masuk ke dalam ruangan itu dimana Kasih juga berada di dalam ruangan itu.
Selesai mendudukkan Brandon tepat disebelah Kasih para pengawal itu kemudian pergi begitu saja.
Kasih menatap bingung pada pemuda yang sedang disekap bersama dengannya. Mereka berdua tidak saling mengenal karena Kasih tidak melihat wajahnya terlebih lagi saat ini ia sedang mengalami amnesia demikian juga dengan Brandon yang sama sekali tidak mengenali bahwa seseorang yang berada disampingnya adalah Kasih.
“Lebih baik kau tenang tidak ada gunanya berteriak-teriak seperti itu mereka tidak akan mendengarkan,” kata Kasih pada Brandon yang terus berteriak meminta untuk dilepaskan. Sontak Brandon menyadari bahwa ada seseorang di sampingnya namun ia tidak mengenali suara itu.
“Siapa kau? Apa kau juga disekap sama sepertiku?” tanya Brandon dengan wajah yang tertutupi oleh kain hitam.
“Ya, seperti yang kau tahu aku di sini juga karena diculik oleh orang-orang yang tidak aku kenal.”
“Kenapa mereka menculikmu?” tanya Brandon ingin tahu.
“Entahlah aku tidak mengenal satupun diantara mereka. Aku sedang berada di mall dan tiba-tiba aku sudah dibawa ke sini. Ngomong-ngomong, Apa kau tahu kita sekarang ada dimana?”
“Entahlah. Aku juga tidak tau pasti kita sedang berada dimana. Sepertinya kita sedang berada di sebuah kapal.”
“Hah?! Kapal?” Kasih terperangah mendengar jawaban dari pemuda yang tak ia kenal itu.
__ADS_1
“Haish!!! Semua ini gara-gara si jalang itu! Hampir saja aku kehilangan nyawa gara-gara dia, lihat saja jika aku bertemu lagi dengannya aku akan memberi pelajaran padanya,” kata Brandon mendumel menyalahkan Kasih yang tidak ia sadari sedang berada disampingnya saat ini.
“Siapa orang yang kau maksud? Sepertinya kau sangat membencinya?”
“Itu bukan urusanmu! urusi saja urusanmu sendiri!”
‘Dasar menyebalkan Aku kan cuma ingin tahu. Tapi kenapa aku merasa dia tidak asing, ya?’
Di sisi lain pria misterius yang menjadi bos dari orang-orang yang telah menculik Kasih dan juga Brandon baru saja menerima informasi dari bawahannya hal itu membuatnya menyeringai licik.
“Jadi, mari kita lihat seberapa berharganya gadis itu untukmu, Tuan Smith Alexander.”
***
Suara deringan ponsel bergema menyela Tuan Smith. Diraihnya ponselnya itu lalu menyandarkan tubuhnya yang terasa sangat lelah di sofa.
“Tuan Smith.” Netra indah milik Tuan Smith seketika melebar ia mengenali suara siapa ini.
“Max Julian!” geram Tuan Smith penuh tekanan. Suara di seberang sana terdengar tertawa meremehkan.
“Apa yang kau inginkan? Kenapa melakukan permainan licik seperti ini?”
“Menghadapi orang yang licik aku harus menjadi lebih licik. Kau sudah mengambil semuanya dariku kau telah membuat aku hingga sehancur-hancurnya. Sekarang, mari kita lihat akan jadi seperti apa dirimu setelah melihat aku menghancurkan istriku tercinta.”
Gebrak!
Meja di hadapan Tuan Smith telah hancur berkat layangan tinju luapkan dari amarahnya. “Yang telah menghancurkan hidupmu yang telah membunuh kedua orang tuamu adalah aku tidak ada hubungannya sama sekali dengannya. Jika kau ingin balas dendam lakukanlah padaku! Jika kau berani menyentuh istriku kau akan membayar berkali-kali lipat.”
“Huh? Apakah kau takut kehilangan istrimu Tuan Smith?” tanyanya sembari tersenyum menyeringai licik.
“Jangan berani menyentuh istriku atau aku akan membuatmu menderita untuk yang kesekian kalinya,” ucap Tuan Smith bernada dingin membuat Max sekilas terbayang akan Ibu dan Ayahnya yang telah meninggal ditangan Tuan Smith. Yah, pria tampan bak sosok malaikat itu adalah pembunuh kedua orangtuanya, dengan seluruh kekuasaan yang ia punya bukanlah hal sulit untuk menyingkirkan lawannya. Siapa yang tidak mengenal kebengisan serta kekejaman dari Tuan Smith Alexander? Pria berdarah dingin berwajah sempurna itu sekali mendengar namanya disebut semua orang akan bergidik ketakutan.
“Lakukan apa yang kuperintahkan jika kau masih ingin melihat istrimu, Tuan Smith.” Telepon berakhir. Tuan Smith menatap gambar Kasih yang tadi dikirim diponselnya dengan perasaan marah bercampur sedih. Di dalam hatinya ia sangat takut kehilangan Kasih meski ia sanggup membunuh siapa saja tapi, jika hal itu menyangkut orang yang ia kasihi maka dirinya tidak boleh sampai salah mengambil langkah.
‘Tunggulah aku Kasih. Aku akan datang menjemputmu.’
Kasih mulai merasakan tangan dan kakinya yang terikat sangat sakit. Sesekali ia meringis kesakitan merasakan kulitnya tertekan dengan tali yang besar.
‘Ugh! Tali-tali ini mengikatku terlalu kencang hingga membuat tubuhku terasa remuk.’
Pandangan Kasih menoleh kearah sosok pemuda disampingnya yang tak lain adalah Brandon namun ia tak mengenalinya.
__ADS_1
‘Siapa pemuda ini? Kenapa diculik sepertiku? Apa aku dan dia mempunyai hubungan?’
“Hei!” Panggil Kasih pada Brandon.
“Ada apa?”
“Siapa namamu?”
“Kenapa kau menanyakan itu? Apa aku mengenalmu?”
“Entahlah. Makanya aku menanyakannya!” ucap Kasih kesal. ‘Kenapa pemuda ini sangat menyebalkan sih? Tinggal menyebutkan nama saja begitu berbelit-belit.’
“Namaku Brandon.”
Nyut!
Rasa sakit berdenyut mendadak terasa menusuk dikepala Kasih hingga membuatnya melenguh kesakitan.
“Kepalaku,” lirih Kasih memijat kuat kepalanya yang seakan hendak meledak.
“Apa yang terjadi padamu?” tanya Brandon mendengar suara Kasih yang terdengar sedang menahan kesakitan.
“Tak apa. Aku hanya merasakan kepalaku sedikit sakit.” Kasih tidak ingin Brandon mengetahui keadaan dirinya yang sebenarnya. ‘Ada apa sih sebenarnya? Kenapa kepalaku sering sekali terasa sakit begini? Rasanya aku akan pingsan karena rasa sakitnya yang luar biasa.’
“Lalu kau?” Kasih tertegun.
“Apa?”
“Siapa, namamu?”
“Aku .... ”
Belum selesai Kasih berbicara, pintu tempat mereka berdua disekap terbuka dan masuklah beberapa orang berpakaian hitam.
Kasih dan Brandon bersiaga. “Apa yang kalian inginkan sebenarnya? Kenapa melakukan hal ini pada kami?” tanya Kasih.
“Diamlah dan menurutlah, Nona. Biarkan kami melakukan tugas kami dengan tenang.” Kasih yang tadinya hendak memberontak mengurungkan niatnya setelah mendengar perkataan salah seorang pria berpakaian hitam itu. Tepatnya pria bersetelan jas hitam.
“Kumohon lepaskanlah kami. Kami tidak akan melaporkan tindakan kalian. Kami berjanji,” pinta Kasih memohon.
“Lakukan saja apa yang diinginkan Bos kami jika kalian ingin selamat dan jangan coba membantah!”
Brandon yang wajahnya masih tertutupi oleh kain hitam yang dipasang oleh para penculik di bawa terlebih dahulu setelahnya saat Brandon sudah berada lebih jauh kain hitam itu dilepaskan oleh penculik akan tetapi Kasih tidak sempat melihat wajah Brandon yang langsung dipaksa untuk berjalan pergi tanpa memiliki kesempatan menoleh kearah Kasih.
“Kalian akan membawa kami kemana?” tanya Kasih menahan perasaan takut.
Penculik itu tidak menggubris dan segera menarik paksa lengan Kasih lalu menyeretnya.
Bersambung...
__ADS_1