Cinta Itu Kasih

Cinta Itu Kasih
Episode 91 Ponsel Baru


__ADS_3

Pagi-pagi sekali Kasih bangun dan menyiapkan semua keperluan Tuan Smith dan si bocah menyebalkan. Begitulah Kasih memberi sebutan untuk bocah yang selalu bersikap dingin terhadap dirinya. Meski begitu, Ed Alexander tidak pernah menolak kehadiran Kasih hanya saja bocah itu sudah terlanjur berpikir bahwa Kasih akan merebut sang Ayah dan menggantikan posisi Ibunya yang sangat ia sayangi. Andai saja dia mengetahui fakta sesungguhnya bahwa Kasih adalah sosok Ibu yang selama ini ia rindukan pasti sikapnya tidak akan demikian dinginnya pada Kasih.


Para pelayan sudah berkali-kali menawarkan bantuan pada Kasih untuk membantunya. Hanya saja, ditolak oleh wanita cantik itu. “Ini hanya perkara kecil, kalian tidak perlu mencemaskan aku. Aku bisa melakukannya. Kalian sibuklah dengan pekerjaan kalian saja.” Begitu kata Kasih santai sembari melanjutkan kesibukannya menuangkan air panas kedalam cangkir untuk membuat kopi lalu membawanya dengan riang ke kamar Tuan Smith.


“Pria gila ini pasti belum juga bangun. Huh!” kata Kasih berdiri di depan pintu kamar Tuan Smith dengan secangkir kopi panas ditangannya.


Tok!


Tok!


Tok!


“Hei! Ini aku. Aku  membawa kopi untukmu. Apa kau sudah bangun?” tanya Kasih menunggu jawaban dari dalam kamar. Namun, setelah menunggu beberapa saat masih tidak ada juga jawaban Kasih akhirnya memutuskan menggerakkan handle pintu dan ternyata pintu kamar tidak terkunci.


“Pintunya tidak terkunci? Pria ini sedang tidur atau sedang pingsan? dipanggil dengan suara yang keraspun tidak bergerak sama sekali. Ya sudahlah, aku masuk saja.”


“Aku masuk, ya?” kata Kasih dengan suara lantang lalu masuk ke dalam.


Benar saja, setelah masuk kedalam kamar tampak Tuan Smith yang gagah berbalut piyama tidur sedang berbaring diatas ranjang king sizenya. Kedua matanya masih tertutup pertanda sang pria masih sedang berada dialam mimpinya.


Kasih terpaku menatap wajah pria tampan berwajah nyaris sempurna itu dari tempatnya berdiri. ‘Sial, kenapa pria ini sangat mempesona!’ rutuk Kasih dalam hati seraya menggigit kecil bibir bagian bawahnya. Ketampanan Tuan Smith seakan menyihir Kasih hingga lupa apa tujuannya pergi ke kamar Tuan Smith.


‘Astaga!” seketika Kasih tersadar dengan pikiran liarnya. “Apa yang sedang kupikirkan?! Bisa-bisanya aku memikirkan hal memalukan bersama pria gila ini. Apa yang barusan merasukiku? Apa aku sudah kehilangan kesadaranku?! Sadarlah, Kasih!’


“Apa kau sudah selesai?”


Seketika suara bariton Tuan Smith menyadarkan Kasih dari lamunannya dan tanpa sengaja menumpahkan sedikit cairan panas dari cangkir kepermukaan kulit tangannya hingga membuat dirinya meringis kesakitan.


“Auh! Panas!!!” Kasih merintih kesakitan sembari meniup tangannya yang dalam sekejap sudah memerah. Tanpa aba-aba Tuan Smith bangkit dari posisi tidurnya datang menghampiri Kasih.


“Dasar kau, ceroboh sekali!” kata Tuan Smith memarahi Kasih yang hanya bisa merengut kesal karena dimarahi.


“Aku sedang kesakitan, mana boleh kau begitu kejam masih saja memarahi orang. Benar-benar tidak punya rasa kasihan sama sekali. Menyebalkan!”


“Itu semua karena kecerobohanmu sendiri, lihat tanganmu ini. Jika terinfeksi, tanganmu bisa saja dipotong asal kau tahu itu!” ancam Tuan Smith dengan nada serius.


“Woah! Memang separah itu? bukankah hanya memerah saja? diberi salep sedikit juga akan segera se- “ Belum selesai berkata Kasih segera diseret oleh Tuan Smith kepinggir tempat tidur. Belum sempat protes Tuan Smith sudah menelpon John untuk membawakan kotak obat ke kamar.


“Astaga! Kau benar-benar! Tidak separah itu. Sungguh! Kau bersikap terlalu berlebihan,” ujar Kasih mengomel tapi sejak tadi omelan Kasih tidak digubris oleh Tuan Smith yang dengan hati-hati dan serius mengobati tangan Kasih.


John hanya bisa tersenyum dalam hati menyaksikan pemandangan dihadapannya. Betapa Tuannya itu mengkhawatirkan wanita cerewet ini. Dengan telaten dan penuh perhatian Tuan Smith yang dari tampilan luarnya selalu tampak dingin dan tidak peduli dengan sekitarnya sekarang ini terlihat sangat berbeda dari biasanya. Dihadapan gadis bernama Kasih pria itu akan bersikap sangat lembut meski kadang salah dimengerti oleh si gadis dan malah menganggap segala bentuk perhatian dari Tuan Smith sangat mengganggu baginya.


“Kau tidak perlu mengantarkan minumanku lagi,” ucap Tuan Smith sembari fokus membalut tangan Kasih dengan kain kasa.


“Eh? Kenapa begitu?” tanya Kasih tidak mengerti.


“Di rumah ini punya begitu banyak pelayan, kau bisa menyuruh salah satu dari mereka.”


“Jika aku tidak harus melayanimu, lalu aku harus melakukan apa? tidak mungkin kau akan menggajiku tanpa melakukan apapun, kan?”


“Siapa bilang kau tidak melakukan apapun?” tanya Tuan Smith balik membuat Kasih semakin bingung. “Kau bisa melakukan pekerjaan yang lebih penting.”


“Pekerjaan yang lebih penting?” tanya Kasih tidak mengerti. Tuan Smith tersenyum nakal menatap wajah polos Kasih.


“Contohnya … kau bisa memandikanku?”


Dengan cepat Kasih menarik tangannya yang masih digenggam oleh Tuan Smith hingga membuat gadis itu meringis karena lukanya yang baru saja dibalut itu ditarik dengan kuat. Wajah kasih berubah merah padam hingga ketelinga. Ia merasa sangat malu. ‘Pria gila ini sungguh tidak tau malu! Apa yang barusan ia katakana itu?! Memandikannya?! Apa dia sudah gila?!’


“Wajahmu itu sangat manis memerah seperti buah apel yang ranum. Aku jadi tidak sabar ingin ….”


“Ingin apa?!” Bentak Kasih dengan nada tinggi sembari bangkit berdiri dari posisi duduknya. Kini wajah gadis itu tampak lebih memerah dari sebelumnya bahkan kini terasa semakin panas dan hal itu terlihat jelas dimata Tuan Smith. “Kau sungguh pria gila yang tidak tau sopan santun! Bagaimana bisa kau berbicara tak senonoh seperti itu dihadapan seorang gadis polos sepertiku?!”


“Seorang gadis katamu?” Tuan Smith menganggkat sebelah alisnya seraya melirik wajah Kasih.


“Tentu saja, seorang gadis yang belum menikah disebut apalagi jika bukan seorang gadis.”


‘Gadis bodoh ini apa dia mengira dia adalah seorang gadis? Apa kau bercanda?! Kau adalah wanitaku. Istriku dan ibu dari anakku.’


“Jika sudah tidak ada urusan lagi, aku akan pergi dulu.” Kasih hendak pergi namun segera dicegah oleh Tuan Smith.


“Eh?” Kasih menghentikan langkahnya lalu menatap Tuan Smith dengan pandangan penuh tanya.

__ADS_1


***


Kasih terlihat buru-buru menghabiskan makanan dipiringnya lalu bergegas pergi. “Aku sudah selesai makannya, aku ada urusan sepertinya aku harus berangkat lebih dulu. Sampai jumpa.” Baru juga hendak pergi, ia segera dicegat oleh Jhon yang tiba-tiba sudah berdiri menghadang. Rencana Kasih yang dengan sengaja buru-buru menghabiskan makanannya agar tidak perlu berangkat bersama dengan Tuan Smith malah sekarang gagal karena Tuan Smith sudah mengantisipasi bahwa Kasih akan menolak perintahnya.


“Kau berangkat denganku. Jangan coba kabur!” kata Tuan Smith tegas.


“Aku bisa berangkat sendiri, tidak perlu merepotkanmu.”


“Apa aku berkata aku kerepotan?”


“Haish! Pokoknya aku bisa pergi sendiri kau tidak usah mengurusiku!”


Tuan Smith tidak mempedulikan gerutuan Kasih dan pergi menuju mobil yang terparkir dihalaman.


“Tidak usah pergi jika kau tidak mau masuk ke mobil sekarang,” ucap Tuan Smith bernada ancaman.


Menarik nafas panjang sambil menahan emosinya yang siap meledak kapan saja Kasih akhirnya menurut memasuki mobil. Namun ia merasa bingung karena pintu mobil dikursi samping pengemudi yang terkunci.


“Duduklah disini.” Kata Tuan Smith memberi perintah.


“Dasar pemaksa!” ucap Kasih menghela nafas kesal.


Mobil tiba dihalaman perusahaan keluarga Alexander. Kasih yang takut terlihat oleh para karyawan karena turun dari mobil Bos perusahaan tentu saja merasa risih. Dengan kedua tangannya ia berusaha menutupi wajahnya. ‘Haish! Pria gila ini sungguh menyusahkanku! Sudah kuminta untuk menurunkanku sebelum sampai digerbang kantor malah membawaku hingga ke depan pintu masuk. Apa dia ingin aku mati karena malu?! Sungguh menyebalkan!’


“Ayo turun,” ucap Tuan Smith seraya membukakan pintu mobil untuk Kasih yang masih terlihat sibuk menutupi wajahnya berharap tak ada satupun yang akan mengenali dirinya.


“Kau pergi lebih dulu saja, aku akan -“


Tanpa aba-aba tangan Kasih ditarik oleh Tuan Smith hingga gadis itu terhuyung keluar dari dalam mobil. “Apa yang sedang kau lakukan?!” tanya Kasih marah.


“Membantumu keluar,” ucap Tuan Smith bernada santai.


“Dasar pria gila! Jika ada yang mengenaliku dan bergosip tentangku aku sungguh akan –“


“Kasih!”


Sebuah suara memanggil namanya dari kejauhan yang seketika membuat Kasih terdiam membatu ditempatnya.


“Aku kira siapa tadinya aku ragu menyapamu … Ternyata beneran itu kau, Kasih?!” katanya sambil berjalan mendekat kearah Kasih dan Tuan Smith.


“Woah! Apa kalian berangkat bersama? Luar biasa! Ini benar-benar perkembangan yang bagus.”


“Hentikan ocehanmu itu dan segera masuk temui aku di kantorku,” Tuan Smith melenggang pergi.


“Ayolah! Kau sungguh tidak punya selera humor sama sekali. Sifatmu yang seperti itu akan membuat para gadis ketakutan.”


“Eum … Tuan Adam,” kata Kasih dengan hati-hati.


“Iya?”


“Eh?! Nyonya Alexander?” tanya Tuan Adam tercengang dengan pertanyaan Kasih yang tiba-tiba menanyakan siapa istri Tuan Smith.


“Em! Kau adalah adik dari Tuan Smith tidak mungkin kau tidak tahu menahu siapa istri dari kakakmu, bukan?”


‘Bukannya aku tidak mengenalnya, aku tentu saja mengenal siapa dirimu, Kasih. Hanya saja kakakku itu melarangku untuk mengungkap identitasmu. Bagaimanapun aku tentu harus menyelamatkan diriku dari amukan kakakku yang menyeramkan, maafkan aku kali ini aku tidak bisa membantumu.’


“Tuan Adam! Tuan Adam!” panggil Kasih dengan suara nyaring seraya melambaikan tangannya didepan wajah Tuan Adam hingga pria itu tersadar dari lamunannya.


“Itu, aku banyak sekali urusan. Aku akan menghubungimu lain kali, Kasih. Sampai jumpa!” tutur Tuan Adam secepat kilat mengambil langkah seribu meninggalkan Kasih yang terus memanggilnya.


“Apa-apaan itu tadi, kenapa bersikap misterius sekali. Aku jadi semakin penasaran dengan sosok Nyonya Alexander ini.”


***


Tok


Tok


Tok


“Tuan -“ Seketika langkah Melinda terhenti hatinya memanas saat melihat ternyata bukan Tuan Smith yang berada di kursi kerja milik Tuan Smith melainkan Kasih. ‘Berani sekali wanita sialan ini! aku saja tidak pernah duduk dikursi itu!’

__ADS_1


“Nona Melinda, apa ada yang bisa kubantu?” tanya Kasih sopan.


Melinda yang tersadar dari keterpakuannya segera menyelipkan rambut dibelakang telinganya untuk sekedar mengontrol perasaan marahnya. “Aku tadinya hendak menemui Tuan Smith untuk mengantarkan berkas ini, tidak kusangka aku malah melihatmu … Ah! sudahlah. Aku aku akan kembali lagi nanti –“


“Tidak apa-apa, titipkan saja padaku. Bukankah aku juga adalah sekretaris disini? Aku akan menyampaikan pesanmu pada Tuan Smith, Nona.” Kasih tersenyum manis sembari mengulurkan tangannya hendak meminta berkas yang dibawa oleh Melinda.


Dengan sedikit ragu dan kesal pada akhirnya Melinda memberikan berkas itu pada Kasih dan segera setelahnya ia pamit pergi meninggalkan ruang kerja sang Bos.


“Sekretaris katanya?!” katanya dengan nada marah. “Mana ada seorang sekretaris yang kerjanya sangat santai seperti dirinya itu. Dan lagi, aku adalah kepala sekretaris disini, seharusnya yang berada diruangan Tuan Smith adalah aku! Bukan dia! Hah! Menyebalkan!” Wanita cantik dan seksi itu segera meluapkan emosinya sesaat setelah ia menutup pintu ruang kerja Tuan Smith.


Kring!


Kring!


Kring!


“Halo?”


“Ah, pria gila ini sungguh menyusahkanku. Untuk apa tiba-tiba menelpon lalu menyuruhku pergi menemuinya di restoran padahal kita bisa saja makan di kantin kantor seperti biasa. Dia benar-benar merepotkan.”


Perlahan Kasih memasuki restoran yang tampak mewah itu sembari melempar pandangannya mencari keberadaan Tuan Smith yang ternyata tidak ada pengunjung lain selain mereka berdua di restoran itu. “Apa yang dilakukan pria gila ini kenapa restoran ini tampak sepi sekali.”


Seorang pelayan menghampiri Kasih kemudian menuntunnya ke meja Tuan Smith.


“Duduklah.” Kata Tuan Smith pada Kasih.


“Tempat ini terlihat sangat bagus, tapi kenapa tidak ada satupun pengunjung lain selain kita berdua disini?”


“Tentu saja. Aku sudah memesan satu restoran ini hari ini.”


Kasih tercengang menatap tak percaya pada pria dihadapannya itu. “Sungguh?! Apa ada sesuatu yang istimewa terjadi hari ini?”


“Tidak ada,” jawab Tuan Smith singkat.


“Jadi, maksudmu tiap kali kau akan makan, kau akan memesan seisi restoran untukmu seorang?” tanya Kasih antusias. “Woah! Benar-benar royal sekali. Kau tidak seperti itu padaku saat menyuruhku menghabiskan makanan tempo hari.”


“Ck! Tentu saja hal itu berbeda. Sudahlah. Jangan dibahas lagi. Aku menyuruhmu kesini untuk memberikanmu ini.” Mengeluarkan sebuah kotak. “Kau harus selalu mengangkat panggilan dan pesan singkat dariku harus selalu kau balas. Aku tidak menerima penolakan apapun darimu.”


“Ada apa ini kenapa mendadak memberiku sebuah ponsel?” tanya Kasih sambil perlahan membuka kotak berisi ponsel baru itu.


“Tentu saja supaya aku tidak susah menghubungimu. Bodoh!”


Kasih merangut kesal. ‘Dia tiba-tiba begitu baik padaku, apa jangan-jangan ….’


“Jangan bilang aku juga harus membayar untuk ponsel dan juga makanan disini.” Tebak Kasih dengan tatapan menyelidik. “Aku tidak akan menerimanya, aku tidak mau menambah masa tahananku.” Kasih mengembalikan ponsel itu dan menyodorkannya pada Tuan Smith.


“Kau tenang saja, aku tidak akan melakukan itu. Semua ini gratis.”


“Benarkah?” Sinar mata Kasih seketika menjadi cerah. Dengan cepat ia mengambil kembali ponsel yang tadi sempat ingin ia kembalikan. “Kau harus memegang ucapanmu, ya. Aku tidak akan mengembalikan ponsel ini apapun yang terjadi nanti.”


“Ya. Kau boleh memilikinya. Jika kau ingin kau juga bisa memilikiku.” Ucap Tuan Smith menggoda.


“Dasar pria genit!” umpat Kasih kesal.


“Permisi makanan anda, Tuan dan Nyonya.” Pelayan yang tadi menyambut Kasih kembali dengan membawakan makanan serta minuman yang telah lebih dulu sudah dipesan oleh Tuan Smith sebelum Kasih tiba di restoran.


“Kebetulan sekali aku sudah sangat lapar dan semua makanan ini terlihat sangat menggiurkan. Aku akan makan dengan puas. Kau. Jangan menyesal karena mengajakku makan disini, ya.”


“Dasar, makanlah dengan perlahan semua ini milikmu.”


“Terima kasih. Selamat makan!” ujar Kasih riang.


***


Karina terlihat sedang sibuk sekali berbelanja. Ia sedang mencoba beberapa gaun dengan ditemani seorang pelayan yang membawakan barang yang akan dibeli olehnya. Kesibukan itu terjeda saat ponsel miliknya tiba-tiba berdering.


Setelah menerima panggilan telepon yang ternyata itu adalah Alysa adik dari sahabatnya yang tiba-tiba mengajak untuk bertemu, Karina bergegas pergi ke tempat dimana mereka bersepakat untuk bertemu. Di dalam kafe sudah ada Alysa dan jenny yang sedang menunggu dirinya.


Karina melambai dari kejauhan lalu kemudian bergegas menghampiri meja Alysa dan Jenny.


“Jadi, kalian sudah bertemu dengan Kasih?” tanya Karina kemudian.

__ADS_1


“Kak Karina sudah tau?” tanya keduanya bersamaan Karina tidak berkata hanya mengangkat kedua bahunya enteng.


BERSAMBUNG…


__ADS_2