Cinta Itu Kasih

Cinta Itu Kasih
Episode 18 Masa Lalu Tuan Smith Part 2


__ADS_3

Setelah pertengkaran hebat yang terjadi.


Hubungan tuan besar dan Nyonya Alexander menjadi renggang. Tidak ada lagi


sapaan hangat dan candaan lucu yang biasanya dilakukan keluarga kecil itu


dipagi hari. Kini yang ada hanya kesunyian dan aura kebencian yang terus


terpancar dari sang ibu


“apa kau akan terus marah begini? Kau tidak


kasihan dengan anakmu yang terus kau abaikan?” samar-samar terdengar suara sang


Ayah dari lantai atas tempat kamar anggota keluarga berada. Smith yang sedang


menyantap sarapan paginya itu tertegun wajahnya seketika berubah sedih.


“aku sudah kenyang” ujar Smith bangkit lalu


bergegas meninggalkan meja makan dengan perasaan sedih bercampur kesal. John


yang berdiri disekitar situ hanya menatap tuan mudanya yang pergi berlalu.


“aku muak denganmu, aku ingin kita


secepatnya bercerai.” putus Nyonya Alexander dengan suara lantang.


“kumohon jangan seperti ini istriku, tolong


mengertilah keadaanku juga.”kata tuan besar dengan nada memohon”aku sudah


mengatakan padamu berkali-kali aku tidak mencintai wanita itu, aku mencintaimu.


Aku menikahinya hanya demi anak yang dikandungnya. Semua ini memang aku yang


salah. Maafkan aku, bisakah kau berikan aku kesempatan sekali lagi?”


“mencintaiku?”kata Nyonya Alexander bernada


dingin lalu mendengus kesal “setelah berselingkuh dariku kau masih berani


berkata kau mencintaiku? Sungguh luar biasa!!!”


“aku sungguh mencintaimu, istriku.


Tolonglah mengerti” ucap tuan besar menyakinkan. Diraihnya tangan sang istri


dan memohon “aku berjanji hanya akan membesarkan anak itu, anak itu tidak


berdosa. Akulah yang berdosa, tapi kumohon kau jangan menghukumku dengan pergi


dariku. Aku tidak bisa tanpa dirimu, aku sangat mencintaimu, istriku. Aku


mohon” sambil bersujud tuan besar terus menerus memohon pengampunan dari sang


istri bahkan ia sudah mulai meneteskan airmatanya.


Sang istri hanya terdiam menatap kosong


lurus kedepan mengacuhkan sang suami yang terus memohon pengampunan darinya.


Hatinya sudah sangat pedih tidak ada lagi yang dipikirkannya, pikirannya kini


sudah sepenuhnya kosong.


Menyadari sang istri tidak merespon tuan


besar lalu bangkit berdiri lalu memeluk tubuh istrinya sambil terus meminta


maaf, ia sepenuhnya menyesali kebodohannya.


“maafkan aku istriku. Maafkan aku. Aku


berjanji aku tidak akan pernah membuatmu menangis lagi. Kumohon berikan aku


kesempatan untuk memperbaiki kesalahanku, Hn? Ucap tuan besar pada istrinya


yang tampak diam saja tidak merespon samasekali. Ia hanya diam mematung dengan


tatapan kosong.


Keluar kamar, tuan besar bernapas lega


setelah sang istri kini sudah lebih tenang dan sedang tertidur dikamar mereka.


Tuan besar berniat turun kebawah menuju dapur hendak membuatkan makanan


kesukaan sang istri berharap dengan begitu bisa meredakan amarah sang istri.


Di dapur tuan besar tampak sudah memakai

__ADS_1


celemek dan siap untuk memasak. John datang menghampiri tuannya dan menawarkan


diri untuk membantu sang majikan, namun ditolak


“tuan besar, biarkan saya membantu anda”


Kata John sambil membungkuk sopan


“kau pergi saja John aku bisa mengatasinya.


kau tau Nyonya sangat menyukai cookie buatanku bukan? Aku akan membuatkannya


sendiri dengan kedua tanganku. Kau tidak perlu ikut campur.” Kata tuan besar


tersenyum, ia senang akhirnya sang istri sudah mulai tenang tidak histeris


lagi. Ia hanya berharap bisa segera berbaikan kembali dan segera melupakan


masalah ini.


Tuan besar memang ahli membuat cookie hal


itu terbukti dengan cookie buatan tuan besar yang sekarang berada dinampan yang


dibawanya. Keahliannya memang tidak setara dengan pembuat kue profesional namun


begitu, Nyonya sangat menyukai cookie buatan tuan besar. Sejak lama tuan besar


sudah sering membuatkan cookie untuk sang istri. Perasaan tuan besar saat ini


sedang baik, ia tampak bersemangat membawa cemilan kesukaan serta minuman


kesukaan sang istri tercinta.


“istriku, lihatlah apa yang kubawa


untukmu.” Ujar tuan besar duduk ditepi ranjang sembari meletakkan nampan yang


ia bawa diatas meja nakas samping tempat tidur.


Nyonya tampak tidak bergeming. Matanya


terpejam rapat dan tubuhnya tertutupi selimut tebal. Tuan besar mencoba


membangunkan Nyonya dengan memanggilnya dengan lembut


“istriku, bangunlah dulu. Kau belum makan


matanya “lihat, aku secara khusus membuatkanmu cookie kesukaanmu. Kau pasti


sudah sangat lapar, bangunlah dulu untuk makan.”


Perkataan tuan besar samasekali tidak


mendapat respon apapun dari Nyonya Alexander yang masih betah menutup matanya.


“ada apa denganmu istriku, apa kau sakit”


gumam tuan besar yang tidak kunjung mendapatkan respon dari istrinya. Ia lalu


menempelkan punggung tangannya kekepala sang istri untuk mengecek suhu


tubuhnya. Kenapa kau dingin sekali, apa kau sakit? Bangunlah dulu aku akan


membantumu…” perkataan tuan besar terpotong tatkala matanya tidak sengaja


menangkap sebuah noda di Kasur yang membuatnya tertegun heran ‘noda apa itu?


Apa para pelayan sudah tidak berniat bekerja? Mengapa mereka membiarkan noda


itu ada dikasurku?!’ batinnya heran.


Perlahan tuan besar mendekat dan memeriksa


noda apakah itu. Betapa terkejutnya ia saat ia mendapati noda itu tampak


seperti sebercak darah segar. ‘darah?!’ sontak disibakkannya selimut yang


menutupi tubuh istrinya itu lalu ia terkejut bukan main saat melihat tubuh sang


istri sudah bersimbah darah.


“istriku, apa yang terjadi, kau….” Tuan besar


kaget bukan main melihat darah segar memenuhi tubuh sang istri. Sadar dari


keterkejutan yang sedang melanda dirinya tuan besar segera bergegas menuju


sebuah alat yang biasa ia gunakan untuk memanggil pelayan dari dalam kamar.


“John!!! Segera panggil dokter Leo kesini,

__ADS_1


segera!” ujar tuan besar panik.


Tidak butuh waktu lama dokter Leo yang adalah


dokter khusus keluarga Alexander datang dan segera memeriksa tubuh Nyonya


Alexander yang sudah dingin. Tuan besar yang berdiri disamping memandang sang


istri dengan cemas ia berharap sang istri tidak terjadi apa-apa. Namun…


“maafkan saya tuan…tapi Nyonya sudah tiada”


tutur dokter Leo hati-hati


Tuan besar nampak shock. Perasaan marah


bercampur sedih membuncah didadanya.


“apa yang kau katakan!!! Kau adalah dokter


yang kubayar mahal Leo, kau harus menyembuhkan istriku!!!” amuk tuan besar


sembari mencengkram kerah sang dokter. Dokter Leo hanya menggelengkan kepalanya


pelan. Mustahil  baginya untuk


membangkitkan orang yang sudah meninggal meski ia adalah dokter tehebat di dunia.


“harus! Kau harus menyembuhkan istriku. Ia tidak


boleh meninggalkan aku seorang diri. Aku tidak akan sanggup hidup tanpanya, aku


sangat mencintainya….maafkan aku istriku aku yang telah menyebabkan kau


menderita”racau tuan besar yang suaranya perlahan terdengar pelan bersamaan


dengan itu cengkraman tangannyapun ikut terlepas. Dipandangnya wajah sang istri


yang sudah pucat pasi air matanya tak lagi sanggup ia bendung, ia menangis


disamping mayat istrinya yang telah mengakhiri hidupnya dengan mengiris


pergelangan tangannya.


“aku yang telah membunuhmu istriku, aku


bersalah karena membuatmu menderita. Kau berhak untuk menghukum diriku tapi kau


malah pergi meninggalkan aku sendiri, kau sangat kejam sayang… tolong jangan


pergi. Bangunlah aku mohon padamu.” Tuan besar menangis menyalahkan dirinya


sendiri sembari menangkupkan kedua tangannya pada telapak tangan istrinya yang


telah tak bernyawa karena kehabisan darah. Dokter Leo dan juga John yang ada


disitu tidak sanggup berkata apa-apa keduanya hanya tertunduk sedih seperti


ikut merasakan perasaan kehilangan yang tengah dirasakan tuannya.


Penyesalan memang selalu datang terlambat. Tuan


besar tidak pernah menyangka jika sang istri akan bertindak sejauh ini. Hal yang


paling ditakutkan tuan besar selama ini ialah berpisah dari istri yang amat


disayanginya. Namun ia juga tidak boleh egois dengan menelantarkan anak dan


wanita itu, ia merasa harus bertanggung jawab atas mereka. Nuraninya tak kuasa


melihat anak yang juga adalah darah dagingnya itu hidup tanpa ayah dan wanita


yang tidak bersalah itu. Maka dari itu ia mengambil sebuah keputusan yang


akhirnya malah memperburuk situasinya. Kini hanya kepedihan dan luka mendalam


yang dirasakannya. Tidak hanya tuan besar yang kehilangan sang istri, namun


Smith muda pun tak kalah sedihnya dengan sang ayah. Smith yang notabene memang


lebih dekat dengan sang ibu, merasakan benar sakitnya ditinggal orang yang amat


ia sayangi. Mulai dari sinilah Smith tak suka bila berhubungan dengan wanita,


ia marah dengan wanita dan si anak yang sudah mengakibatkan ibunya menderita


dan memilih mengakhiri hidupnya. Baginya ia tidak pernah menganggap wanita itu


dan anak itu sebagai keluarganya. Smith membenci mereka yang telah membuatnya


kehilangan sang ibu.

__ADS_1


BERSAMBUNG…


__ADS_2