
Suasana kantor yang biasanya tampak tenang kini seketika berubah ramai karena mendapat pemberitahuan melalui mulut John yang sedang mengumumkan bahwa mulai sekarang Kasih yang adalah Nyonya Alexander, dinyatakan bergabung dengan perusahaan dan akan bekerja sebagai sekretaris khusus Tuan Smith.
“Apa yang terjadi? Seorang istri Bos akan bekerja bersama dengan kita sebagai seorang karyawan? Ya ampun aku sungguh tidak bisa mempercayai ini,” ucap salah satu karyawan menanggapi pemberitahuan tersebut.
“Yang benar saja. Sungguh sangat membingungkan. Untuk apa seorang istri Bos datang ke kantor untuk bekerja? Bukankah uang akan dengan mudah ia dapatkan karena ia adalah istri dari Bos kita? Untuk apa bersusah payah sampai seperti itu? atau jangan-jangan ....” Karyawan lain menimpali.
“Ia pasti seorang istri yang tidak disayangi oleh Tuan Smith. Maka dari itu sekarang ia disuruh untuk bekerja karena tuan Smith tidak ingin memberikan uangnya pada gadis itu dengan cuma-cuma.”
“Hah! kau benar. Itu pasti seperti itu. Kasihan sekali gadis itu, ia tidak disayangi oleh suaminya sendiri.”
Melinda yang juga berada di sana mendengar pembicaraan para karyawan itu.
“Jika tuan Smith tidak mencintai gadis bodoh itu, maka aku punya peluang untuk merebut posisinya,” katanya sembari berlalu pergi meninggalkan tempat itu.
Di toilet Melinda secara tidak sengaja bertemu dengan Kasih yang sedang mencuci tangannya. Perlahan Melinda berjalan mendekati Kasih.
“Halo,” sapa Melinda berpura-pura ramah.
Kasih tersentak. “Halo,” balasnya sembari melanjutkan mencuci tangan.
“Perkenalkan saya Melinda. Saya adalah kepala sekretaris, Nyonya.”
“Wow! Berarti kau adalah atasanku ya,” ujar Kasih mulai tertarik berbicara dengan wanita yang lebih tua dari dirinya itu.
Melinda tersenyum palsu merasa senang karena dengan mudah mendekati gadis ini. ‘Gadis bodoh yang sangat polos.’
Setelah pertemuan secara tidak sengaja di toilet itu akhirnya Kasih dan Melinda mulai saling berbagai cerita dan mulai akrab. Di kantin perusahaan mereka berdua duduk sambil menikmati makanan mereka.
“Aku sudah bekerja di perusahaan ini sangat lama, jika anda butuh bantuan tidak perlu sungkan padaku,” ujar Melinda berusaha akrab dengan Kasih. Kasih yang memanglah seorang gadis polos dan lugu akhirnya dengan mudah akrab dengan Melinda dan mulai menganggap Melinda sebagai orang yang baik.
“Terima Kasih, Nona Melinda.” Kasih tersenyum manis pada Melinda.
“Anda terlalu sungkan, Nyonya. Bukankah kita sekarang sudah berteman?”
“Ya! Tentu saja.” Kasih kegirangan dengan pernyataan Melinda yang menganggap dirinya sebagai temannya. “Mulai sekarang kita adalah teman.”
***
__ADS_1
Kasih tidak punya kegiatan maupun pekerjaan apapun dikarenakan tuan Smith sedang melakukan rapat dengan para bawahannya. Ruangan kerja tuan Smith sangat besar dan terletak dilantai paling atas gedung perusahaan maka Kasih merasa sangat kesepian karena ia sedang sendirian saja diruangan itu. berbagai hal telah ia lakukan saat ia sedang berada diruangan itu, ia merasa sangat bosan dan tak tau harus berbuat apa.
“Haaahh!!! Aku merasa sangat bosan!” desah Kasih bosan. Beberapa buku berserakan dimana-mana karena Kasih mencari-cari buku novel yang ia kira berada disalah satu deretan koleksi buku milik tuan Smith, suaminya.
“Entah apa bagusnya buku-buku membosankan ini.” Kasih memandang buku-buku itu. “Semua buku ini sangat berat bagiku, aku tidak mengerti sedikitpun isinya.”
Kasih lalu memanggil Dan dari ponselnya menyuruhnya untuk pergi ke toko buku agar membelikan beberapa buku novel romantis untuknya.
“Ini adalah pesanan anda, Nyonya.” Dan meletakkan beberapa novel yang diminta oleh gadis itu diatas meja kerja milik tuan Smith.
“Baiklah. Terima kasih. Kau boleh pergi.” Kasih sangat bersemangat meraih salah satu buku yang masih tampak tersegel itu, segera ia membuka segelnya lalu kemudian mulai membacanya dengan rona bahagia.
Saat Dan hendak berbalik keluar dari ruangan, seseorang mengetuk dan meminta izin untuk masuk ke dalam ruangan. Dan lalu membuka pintu seseorang itu ternyata adalah Nenek Kasih. Dan mempersilahkan Nenek Kasih untuk masuk dan ia sendiri keluar dari sana.
“Kau sungguh luar biasa. Demi melawanku, kau sampai menggunakan statusmu sebagai Nyonya Alexander. Kau sungguh tidak tau malu, Kasih!” cerocos Nenek Kasih pedas.
Kasih yang sedang berada dimeja kerja milik tuan Smith meletakkan buku novel yang tadi sempat ia baca. Ia memandang sang Nenek yang tengah berdiri sembari berbicara padanya.
“Halo, Nenek. Kau tidak bisa sembarangan berucap padaku. Apa kau lupa bahwa aku bisa saja membuatmu bangkrut seketika?” balasnya memasang wajah angkuh berharap ia tidak terlihat lemah dihadapan Neneknya.
Wanita tua itu terlihat menahan amarahnya. “Anak kurang ajar!”
Amarah seketika menyelimuti sang Nenek. Ia menggeram kesal menatap kasih seakan ingin menguliti gadis itu. “Betapa kurang ajarnya anak ini, kau sungguh sama seperti ibumu!”
“Tutup mulutmu, Nek! Jangan buat aku semakin membencimu!” seru Kasih marah.
Bukannya berhenti Nenek Kasih malah semakin besar kepala. “Kenapa? bukankah itu benar? Kau pasti merasa sangat malu memiliki ibu seperti itu ....”
Plak!
Kasih segera bangkit dari duduknya lalu dengan cepat menampar wajah Neneknya.
“Kau?!” Tunjuknya marah sembari menempelkan tangannya pada pipi yang ditampar oleh Kasih. Nenek Kasih lalu bergegas menampar balik Kasih hingga membuat Kasih terlempar menabrak meja kerja Tuan Smith hingga beberapa benda diatas meja itu berjatuhan kelantai.
“Berani sekali kau menyentuhku! Dasar tidak tahu diri!”
Kasih menangis sembari memegangi wajahnya yang memerah bekas tamparan tangan sang Nenek.
__ADS_1
Dari ruangan rapat Tuan Smith yang sedang duduk mengikuti rapat sembari tetap mengawasi Kasih dari monitor CCTV seketika mendelik marah ketika melihat istrinya itu mendapat tamparan dari Neneknya. Kepalan tangan tuan Smith sontak mendarat diatas meja dihadapannya hingga pecah. John yang sedang melakukan presentasi saat itu berserta seluruh anggota rapat seketika terkaget. Mereka bergidik ngeri menatap sang Bos yang terlihat sangat marah.
“Tuan?”
“Berani sekali!” Tuan Smith menggeram marah sambil seketika berdiri dari duduknya. Para peserta rapat itu menatap kaget sang Bos yang terlihat mengerikan.
“Maafkan kami ....”
Tuan Smith tidak mengindahkan semua orang yang sedang membungkuk memohon maaf karena mengira sedang melakukan sebuah kesalahan fatal. Langkah kaki Tuan Smith yang lebar melangkah dengan penuh amarah menuju ke ruangannya dimana istrinya berada.
Pintu ruangan seketika terbuka lebar dengan kasar menampilkan Tuan Smith yang menatap penuh amarah pada sang Nenek yang terkejut melihat kedatangannya. Amarah Tuan Smith semakin memuncak saat ia melihat istrinya sedang menangis sembari terduduk dilantai.
Nenek Kasih sontak memucat pasi seluruh tubuhnya gemetaran ketakutan. ‘Tidak apa-apa aku tidak perlu takut, Tuan Smith tidak mungkin akan membela gadis kotor ini,’ gumam Nenek Kasih dalam hati menenangkan dirinya.
“Tuan ...” Nenek Kasih yang berjalan mendekatinya tidak digubris oleh Tuan Smith yang langsung melangkah kearah Kasih.
“Apa kau begitu bodoh?!” tanya Tuan Smith dengan tatapan marahnya pada kasih yang hanya bisa diam tidak menjawab sembari mengusap airmata dipipinya.
‘Heh! lihat saja cara Tuan Smith memperlakukan gadis menyedihkan ini, sangat jelas terlihat Tuan Smith tidak menyanyanginya. Sungguh kasihan!’
Hal tak terduga malah terjadi yang membuat Nenek Kasih bahkan Kasih sendiri terkejut. Tuan Smith mengangkat tubuh Kasih kedalam gendongannya. Kasih menatap wajah dingin Tuan Smith yang tidak bergeming sama sekali dengan tatapan tidak percaya. ‘Astaga! Pria gila ini. Apa yang sedang ia lakukan?!’
“Apa yang sedang kau lakukan?! Turunkan aku!” Kasih meronta-ronta sembari mendorong dada bidang Tuan Smith. Wajah Kasih seketika memerah sempurna.
Tuan Smith sama sekali tidak menghiraukan rontaan dari Kasih. “John!”
“Iya, Tuan.” John segera datang mendekat sembari sedikit membungkuk hormat siap menerima perintah.
“Usir wanita tua ini dari sini. Jangan pernah biarkan aku melihat batang hidungnya. Dan untuk kerjasama, batalkan semuanya. Blokir semua perusahaan yang berani untuk bekerjasama dengan perusahaannya,” tutur Tuan Smith bernada dingin. Seketika kedua bola mata Nenek Kasih membulat menatap Tuan Smith tidak percaya.
“Apa ... Apaan ini?!” katanya dengan nada kaget sembari menutup mulutnya yang terbuka lebar. “Anda akan membatalkan kerjasama hanya untuk gadis kecil menyedihkan ini?! sungguh tidak bisa dipercaya! Kerjasama ini bernilai triliunan dan anda ... membatalkannya begitu saja?!”
Tuan Smith seketika menatap tajam kearah sang Nenek. Tatapan mematikan yang sangat menyeramkan hingga membuat kedua lutut wanita tua itu lemas seketika.
“Gadis yang kau maksud itu ... adalah wanitaku, kau sudah berani menyentuhnya. Lihat berapa banyak harga yang harus kau bayar untuk itu,” ucap Tuan Smith tegas. Nenek Kasih tidak dapat mengatakan apapun selain menelan ludah takut.
“Apa-apaan ini ... ini tidak mungkin seperti ini. Kenapa bisa berakhir seperti ini?!” gumam Nenek Kasih dengan suara bergetar. Perlahan tubuhnya merosot ke lantai dengan tatapan tidak percaya.
__ADS_1
BERSAMBUNG...