
“Ayo, cepat bangun! Kau tentu tidak ingin terlambat ke sekolah, bukan?” Suara Kasih menggema memenuhi seisi ruang kamar tuan muda kecil bernama Ed Alexander. Hari ini Kasih merasa ia sedikit merasa kesusahan membangunkan Ed Alexander, anak itu hampir tidak pernah sekalipun bangun terlambat bahkan sebelum Kasih datang untuk membangunkannya, bocah itu sudah terlebih dulu bangun.
Kasih menarik tirai yang menutupi jendela kamar membiarkan sinar mentari pagi masuk menerangi ruang kamar. “Wah! Udara pagi memang sangat nyaman.” Ditolehkannya wajahnya kearah ranjang dan mendapati bocah itu masih bergelut dengan selimut dan matanya yang masih menutup rapat seolah enggan untuk beranjak dari posisinya. Kasih berdecak kesal. “Entah apa yang dilakukan bocah kecil ini hingga ia tidak bisa bangun padahal sudah hampir jam 7. Tidak biasanya ia seperti ini apa dia bergadang semalaman?” gumam Kasih menebak-nebak sendiri keanehan yang terjadi dihadapannya.
Seuai bersiap memakai seragamnya Ed Alexander turun ke lantai bawah untuk ikut sarapan bersama. Langkahnya gontai menuruni tangga satu persatu hingga sampai ke meja makan. Disana sudah ada sang Ayah yang sedang menikmati sarapannya dengan tenang dan Kasih yang menatapnya dengan tatapan penuh tanya.
“Kau terlihat lemas, Ed. Apa kau sakit?” tanya Kasih yang sudah tidak dapat menahan rasa penasarannya dengan perubahan drastis Ed Alexander.
“Aku hanya mengantuk,” jawabnya singkat sambil mulai meminum segelas susu yang tersaji untuknya.
“Mengantuk? Apa yang kau lakukan semalaman hingga begitu mengantuk dipagi hari? Lihatlah kau bahkan sudah seperti seorang zombie dimataku.”
“Hanya membaca buku yang kau berikan padaku. Aku telah membaca semuanya lain kali berikan aku lebih banyak untuk dibaca. Harus kuakui seleramu dalam memilih buku cukup bagus, Nona pengasuh.”
Kasih membeku ditempat beberapa kali matanya mengerjap bingung dan tidak percaya. “Buku itu cukup banyak dan kau menghabiskan waktu tidurmu untuk membaca semuanya. Aku sungguh tidak percaya!” Ed Alexander hanya mengangkat bahunya acuh.
“Kau meminjamkan buku pada Ed? Buku apa itu?” sela Tuan Smith kemudian.
“Bukan apa-apa. Hanya beberapa buku dongeng anak.”
Mendengar itu refleks Tuan Smith seketika tersedak dengan makanannya sendiri. Matanya membulat tidak percaya. Bagaimana tidak pria itu memang tidak pernah mengijinkan anaknya membaca buku selayaknya anak seusianya ia akan memilihkan secara selektif buku yang hendak dibaca sang anak. Buku-buku cerita atau apapun yang tidak ada hubungannya dengan pengetahuan dan pelajaran tidak akan dipilihnya. Tuan Smith memang sengaja melakukannya untuk membuat sang anak fokus belajar saja dan didikan Tuan Smith itu berdampak pada sifat Ed Alexander yang pendiam dan kurang bisa bergaul.
Tuan Smith hendak memarahi Kasih atas kelancangan tersebut, amarahnya sudah sampai diubun-ubun terlebih Ed sampai tidak tidur demi buku-buku yang Kasih berikan. Guratan amarah diwajahnya memperlihatkan betapa marah dan kesalnya Tuan Smith saat ini, tangannya mengepal kuat menahan emosi.
“Apa kau tau apa yang telah kau lakukan itu?” tanya Tuan Smith menahan amarah yang bergejolak. TIdak ada satupun orang di mansion yang berani memberikan buku seperti itu pada Ed Alexander atau bahkan membiarkannya membaca buku tersebut. Mereka telah diperingati oleh perintah Tuan Smith maka tidak akan ada satupun yang berani melanggar.
“Apa?” tanya Kasih polos.
“Kau sudah memberikan barang yang tidak berguna padanya dan kau bahkan membuatnya menghabiskan waktu tidurnya hanya untuk sampah seperti itu!” omel Tuan Smith marah.
Kasih tertegun. ‘Apa barusan dia bilang? Apa telingaku tidak salah dengar? Dia bilang tidak berguna? Sampah?!’ mendadak emosi mulai membuncah. Ia merasa tidak terima buku-buku yang ia sukai malah dikatakan seperti itu oleh Tuan Smith.
“Kau mengatakan barang yang kuberikan itu adalah sampah tidak berguna?! Kau cari mati ya? Beraninya kau mengatai buku kesukaanku seperti itu. Tarik kembali kata-katamu atau aku akan membuatmu menyesal karena berkata seperti itu.” Pekik Kasih dengan suara lantang. Para pelayan termasuk John dan Wendy hanya bisa terperangah dengan keberanian wanita itu. Mereka semua tidak ada satupun yang berani bersuara maupun bergerak ditengah pertengkaran keduanya.
Brak!
Gebrakan meja makan terdengar membuat suasana semakin memanas. Kasih juga tidak mau kalah ia kemudian ikut menggebrak meja seperti yang dilakukan oleh Tuan Smith. Saling melempar tatapan sengitpun terjadi tak ada diantara mereka berdua yang berniat mengalah baik itu Kasih maupun Tuan Smith.
“Kau pria gila yang seenaknya, berani sekali kau menghinaku begitu. Minta maaf!” tuntut Kasih memasang wajah garang seraya berkacak pinggang.
“Apa kau gila?! Aku tidak mau!” tegas Tuan Smith tak mau kalah.
__ADS_1
“Kau!” Kasih melayangkan jari telunjuknya pada Tuan Smith dengan emosi yang meluap-luap bahkan kini dada wanita bertubuh lebih pendek dari Tuan Smith itu sedang naik turun menahan emosi yang sudah siap meledak.
***
Membuang mukanya kesal seraya memasang raut wajah masam. Wanita berambut hitam panjang itu ternyata masih marah, melipat tangannya di depan dada seraya menatap keluar jendela mobil melakukannya dengan sengaja menghindar dari pria yang duduk disebelahnya. Tidak ada satupun yang membuka pembicaraan membuat suasana canggung seketika tercipta hingga sampai dikantor.
Begitu kendaraan beroda empat itu berhenti tanpa basa-basi Kasih membuka pintu mobil sendiri lalu membantingnya dengan keras membuat John dan Tuan Smith tersentak kaget dibuatnya.
Tuan Smith tidak mengatakan apapun hanya menatap Kasih yang berjalan dengan marah sembari menghentak-hentakkan kakinya ke tanah. Wanita itu kelihatan begitu marahnya sampai-sampai tubuhnya mengeluarkan aura yang menyeramkan.
“Dasar menyebalkan! Pria gila itu aku sangat membencinya! Entah mengapa aku bisa terlibat dengannya benar-benar sebuah kesialan untukku. Selain tampan dan kaya, aku tidak bisa melihat kelebihan apapun darinya …”
Bruk!
Tubuh Kasih terpental menyentuh lantai yang dingin dirinya baru saja menabrak seseorang karena begitu fokus merutuki Tuan Smith. ‘Oh! Apa ini? apakah aku baru saja terkena karma karena merutuki pria itu dengan keterlaluan? Ck! Benar-benar menyebalkan!’ Tangan Kasih mengelus bagian bokongnya yang terasa sakit karena membentur lantai barusan tiba-tiba sebuah tangan terulur kehadapan wajahnya tanpa pikir panjang disambutnya uluran tangan itu dan segera bangkit berdiri.
“Kau baik-baik saja, Nona?” tanya orang itu.
“Tidak apa-apa ….” Kalimat Kasih menggantung diudara tubuhnya diam membeku tatapannya terpaku pada sosok dihadapannya. ‘Woah! T-tampan sekali!’
Bulu mata yang lentik dengan mata bulat yang bersinar sukses menyihir Kasih hingga membuatnya terpaku akan pesonanya. Belum lagi kulit kecokelatan pria itu sungguh eksotis cocok sekali dengan tubuhnya yang tinggi serta gumpalan otot itu bahkan tanpa sadar tangan Kasih bergerak sendiri seolah sedang meremas gumpalan menggemaskan itu.
“Oh?!” Kasih tersadar dari pikiran liarnya sesaat. ‘Astaga! Apa yang sedang kupikirkan? Apa aku sudah berubah jadi mesum? Mengerikan sekali.’ Kasih seketika merasa merinding sendiri dengan pikirannya.
“Kau tidak apa-apa?” tanya pria itu memastikan.
“Y-ya. Aku tidak apa-apa,” ucap Kasih memberikan senyum terbaik miliknya lalu semburat merah mulai menghiasi pipinya.
“Syukurlah kalau begitu,” pria itu tampak menghela nafas lega seraya tersenyum lembut membuat Kasih yang menyaksikannya seakan meleleh ditempat. “Ngomong-ngomong, apa aku bisa minta bantuanmu?” tanyanya kemudian.
***
“Tuan Smith akan datang sebentar lagi, silahkan menunggu,” ucap Kasih mempersilahkan pria yang tadi tak sengaja bertabrakan dengannya yang ternyata adalah tamu Tuan Smith untuk duduk disalah satu kursi di ruang kerja. Kasih terlihat girang sekali dirinya tak berhenti menebar senyum manisnya. Seolah musim semi baru saja dimulai dan bunga-bunga mulai bermekaran dimana-mana seperti itulah suasana hatinya saat ini sangat kontras dengan suasana hatinya pagi tadi.
‘Pria setampan ini baru pertama kali aku melihatnya. Senyumnya manis bahkan suaranya sangat lembut. Apa dia seorang dewa yunani kuno yang datang ke dunia ini? benar-benar romantis sekali.’ Kasih masih saja terus memperhatikan pria tampan yang duduk tenang disana. Senyuman Kasih tidak berhenti mengembang. Akan tetapi, Kasih merasa sedikit aneh entah mengapa ia merasa tidak asing dengan wajah pria dihapannya itu. Wajahnya begitu akrab dan sekelebat perasaan sedih seketika mengganjal dihatinya. Tangan Kasih menekan kuat dadanya untuk beberapa saat ia merasa dadanya seolah dihujam oleh sebuah pisau.
DIMANA?
Sempat ragu sejenak hingga kemudian Kasih akhirnya memutuskan untuk mengirimkan pesan singkat, teramat singkat pada Tuan Smith. ‘Aku terpaksa melakukan ini, aku tidak tega membuat pria tampan menunggu lama.’
Tak butuh waktu lama ponsel Tuan Smith berbunyi. Tuan Smith meraih ponsel dari sakunya lalu melihat pesan yang ternyata dari Kasih. ‘Pesan macam apa ini?!’ Ada perasaan kesal saat Tuan Smith membaca pesan singkatnya. ‘Dia jelas masih marah padaku, terlihat jelas ia ogah-ogahan mengirim pesan ini padaku.’
__ADS_1
ADA APA?
‘Ck! Yang benar saja. Bukannya menjawab pria gila ini malah menanyaiku kembali.’
KAU PUNYA SEORANG TAMU. TIDAK USAH MEMBALAS JIKA KAU MALAH MASIH INGIN BERTANYA SIAPA TAMU ITU. KARENA AKU TIDAK TAU DIA SIAPA.
Kasih membalas dengan ketus. Penasaran dengan si tamu yang dimaksud oleh Kasih dengan cepat Tuan Smith mengakses kamera pengawas dari ponselnya lalu melihat siapa yang sedang menunggu dirinya. Alangkah terkejutnya Tuan Smith saat melihat wajah si tamu yang adalah seorang pria yang lebih mengejutkannya lagi adalah si tamu memiliki wajah yang sama persis dengan pria yang dicintai Kasih. Rey Dinata Wijaya. Tubuh Tuan Smith membeku ditempat kedua pupilnya melebar ia sungguh terkejut dengan apa yang barusan dilihatnya. ‘Rey masih hidup?! Tidak mungkin! Aku melihatnya meninggal dihadapanku. Bagaimana bisa ….’
***
Brak!
Kasih terlonjak kaget bukan main saat pintu tiba-tiba dibuka dengan kasar oleh Tuan Smith. Matanya menatap nyalang pada si pelaku yang malah sibuk mencari-cari keseluruh penjuru ruangan membuat Kasih semakin kesal dibuatnya.
“Apa kau tidak bisa membuka pintu menggunakan tanganmu itu?! Kau sudah tidak membutuhkan tanganmu sampai kau harus membuka pintu menggunakan kaki?! Kau ….”
“Dimana?” tanya Tuan Smith mengabaikan perkataan Kasih sebelumnya.
“Apanya?!”
“Tamuku, dimana dia?”
“Sudah pergi.”
Tuan Smith mengernyitkan alis bingung. Kasih lalu mengeluarkan sebuah amplop besar berwarna cokelat dan menyerahkan pada Tuan Smith yang menatapnya dengan penuh tanya.
“Dia berkata dia akan kembali lagi lain waktu.”
“Sungguh? Dia hanya mengatakan itu? Tidak ada hal yang lain?” tanya Tuan Smith penuh selidik menatap Kasih dengan mimik wajahnya yang serius.
“Tidak ada, memangnya apa yang kau harapkan?”
“Tidak, bisakah kau pulang ke rumah sekarang? Aku akan menyusul nanti.” Air muka Tuan Smith seketika berubah terlihat jelas sekali pria itu sedang panik. Kasih yang kebingungan hanya bisa menatapnya dengan tatapan bingung. ‘Ada apa ini? kenapa tiba-tiba menyuruhku pulang duluan? Sungguh tidak biasanya.’
Meski ia merasa sangat bingung dan tidak mengerti dengan sikap tuan Smith yang mendadak berubah begitu, Kasih mau tidak mau hanya bisa menuruti perintahnya dan pulang bersama dengan Wendy.
“Nona Wendy, tidakkah tuanmu itu hari ini terlihat aneh sekali?” tanya Kasih memulai pembicaraan saat mobil melaju menuju arah perjalanan pulang ke mansion.
“Aneh?” ulang Wendy sebelah alisnya terangkat naik menatap bingung kearah Kasih.
BERSAMBUNG…
__ADS_1