
Di dalam mobil Kasih yang larut dengan perasaannya terlihat sedang menatap keluar melalui jendela mobil disampingnya. Salju yang tiba-tiba saja turun membuatnya sangat senang. Pikirannya tiba-tiba tertuju pada kehidupannya yang terasa sangat aneh dan ... Kacau. Entah sejak kapan Kasih tidak mengingat kehidupannya ini sangat tidak masuk akal baginya. Dirinya yang terbangun di sebuah rumah sakit dan secara tak sengaja bertemu dengan tuan Smith yang wajah istrinya sangat mirip dengannya dan tanpa sengaja merusak barang mahal milik pria itu lalu membuatnya harus terlilit hutang.
“Hah! Ya, ampun hidupku ini terlalu sulit untuk dimengerti. Hidupku seperti salju putih terlihat indah namun sangat dingin. Aku tinggal dalam keluarga Alexander yang luar biasa bahkan aku juga menerima gaji fantastis dari keluarga ini, sekilas kehidupanku terlihat indah akan tetapi, untuk apa hidup seperti itu jika keluargaku sendiri saja bahkan aku tidak bisa mengingatnya. Dimana mereka dan siapa mereka, aku ... Tidak tahu.”
Karena salju sedang turun jalanan menjadi sangat licin Kasih yang tidak berhati-hati turun dari mobil hampir saja tergelincir jika saja Tuan Smith tidak dengan sigap menanggkap tubuh mugil wanita itu.
“T-terima kasih. Aku baik-baik saja,” ujar Kasih seraya melepaskan dengan halus rangkulan Tuan Smith dari tubuhnya.
Kejadian itu dilihat oleh Ed lalu dengan ketus bocah genius itu berpaling pergi begitu saja.
“Tuan Muda, hati-hati licin.” John berlari berusaha menyusul Ed dengan perasaan khawatir.
“Nona Wendy, tolong bantu aku ...”
Tanpa aba-aba Tuan Smith menggenggam tangan Kasih membuat wanita itu seketika tercengang.
“Berjalanlah bersamaku.”
Baru akan menjawab perkataan Tuan Smith itu, tangan Kasih sudah ditarik karena Tuan Smith yang berjalan tiba-tiba.
“Bisakah kau melepaskan tanganku? Aku merasa risih.” Kasih menunduk menatap lantai yang sedang dipijaknya merasa malu terhadap tatapan orang-orang yang melihat kearahnya.
“Ada apa?” tanya Tuan Smith menghentikan langkahnya. “Kau tidak suka kugandeng?”
“Ah! Bukan begitu.” Kasih malah menjadi panik dengan ekspresi Tuan Smith yang terlihat seperti akan marah.
“Lalu?”
“Itu ...” Menarik nafas sejenak seraya menatap sekitarnya Kasih berbicara dengan nada pelan. “Apakah kau tidak merasa canggung? Semua orang sepertinya sedang melihat kita.”
“Kenapa dengan mereka. Biarkan saja. Apa perlu kubereskan mereka ... John!”
“Astaga! Ada apa denganmu. Jangan lakukan itu. Tidak perlu begitu,” potong Kasih panik.
“Lalu harus kuapakan mereka?”
“Tidak. Kau tidak perlu melakukan apapun pada mereka. Kau, hanya perlu melepaskan tanganku.”
“Ini?” tanya Tuan Smith sambil mengangkat tangannya yang sedang menggenggam tangan Kasih.
“Ya, benar.”
“Tidak!”
“Eh?! Apa maksdumu? Kenapa tidak mau melepaskan tanganku? Apa kau tidak malu dengan tatapan orang-orang itu?”
“Abaikan saja,” ujar Tuan Smith enteng.
“Dasar pria gila ini! Lepaskan tanganku aku merasa tanganku mulai kebas!” Kasih berusaha berontak namun Tuan Smith tetap keras kepala tak ingin melepaskan genggaman tangannya.
“Astaga! Pria gila ini benar-benar!”
Tuan Smith menulikan telinganya terhadap suara Kasih yang terus mengeluh agar genggaman tangan mereka dilepaskan lalu menyeret wanita itu masuk ke dalam toko perhiasan.
“Apa yang sedang kau lakukan sekarang? Kenapa memakaikan benda ini padaku? Aku tidak mau membelinya jadi ambil kembali,” ucap Kasih pada Tuan Smith yang dengan seenaknya memakaikan anting, gelang dan kalung padanya.
“Ini terlihat cantik padamu,” ujar Tuan Smith sambil tersenyum senang melihat semua benda mahal yang baru saja dipasangnya pada tubuh Kasih.
“Tentu saja cantik. Apa kau tidak melihat berapa harga dari barang-barang ini?” Kasih melihat label harga pada gelangnya dan merasa sangat terkejut setelahnya lalu ia bergegas memeriksa label harga pada perhiasan yang lainnya juga dan ia semakin bertambah kaget dibuatnya saking kagetnya ia sampai menelan ludahnya dengan susah payah. ‘Ya, Tuhan mengapa semua barang-barang ini begitu mahal sekali. Aku merasa sedang dirampok oleh toko ini.’
“Cantik, kan?” tanya Tuan Smith yang kemudian dijawab Kasih dengan anggukan saja karena wanita itu masih memikirkan betapa mahalnya perhiasan-perhiasan mewah dihadapannya itu.
“Baguslah kalau kau suka. Pelayan. Bungkus semua ini.”
“Ehhh?!!! Apa yang kau katakan?! Aku tidak ingin membelinya!” Kasih segera tersadar dari pikirannya dan sangat panik dengan ucapan Tuan Smith.
“Tidak perlu khawatir aku akan membayarnya untukmu.”
“Tidak. Tidak. Jangan lakukan itu,” ucap Kasih dengan cepat. ‘Barang semahal itu? Yang benar saja! Aku harus menghabiskan seluruh hidupku menjadi pengasuh putramu jika aku menyetujuinya.’
“Kenapa? Bukankah katamu itu cantik?”
“Aku memang berkata begitu tapi aku tidak bilang kalau akan membelinya.”
“Sudah kubilang aku yang akan membayarnya!”
“Tidak!”
“Kenapa?!”
“Aku tidak mau. Lagipula aku tidak cocok memakai barang mewah. Aku bisa alergi,” ucap Kasih memberi alasan seadanya. ‘Aku bisa alergi jika harus membayar barang mahal itu.’
“Alasan macam apa itu. Sangat tidak masuk akal!”
“Terserah! Pokoknya aku tidak menginginkan benda itu. Titik! Sekarang ayo pergi dari sini.” Kasih bersikeras lalu menyeret Tuan Smith keluar dari toko itu.
Baru saja bernafas lega sebentar Kasih seketika dibuat panik lagi oleh Tuan Smith yang tiba-tiba berhenti ke sebuah toko yang lain.
“Apa yang ingin kau lakukan lagi sekarang? Jika ingin berbelanja belilah untuk dirimu sendiri, tidak perlu membelikan apapun untukku,” ucap Kasih mencegah Tuan Smith yang hendak membeli perhiasan lagi untuk Kasih.
“Ada apa denganmu? Memangnya salah jika aku ingin membeli barang dengan uangku? Aku membelikanmu yang adalah istriku apakah itu salah?”
“Ah?” Kasih sontak terbengong mendengar Tuan Smith menyebutnya sebagai istrinya. ‘Dia ... Menganggapku Kasih istrinya.’
“Nyonya, Anda sungguh sangat beruntung suami Anda sangat mencintai Anda,” tukas pelayan toko itu memotong pembicaraan Kasih dan Tuan Smith.
“Maaf. Bukan seperti itu—“
“Suami Anda bersikeras untuk membelikan untuk istrinya. Benar-benar sangat romantis. Saya sangat terharu.” Kini seorang pelayan toko yang lain ikut memberikan komentarnya bahkan kedua pelayan itu terlihat sangat kagum pada sosok Tuan Smith.
“Itu ....”
“Terima saja, Nyonya. Suami Anda sudah sangat berusaha untuk menyenangkan Anda.”
“Tapi—“ Kasih masih berusaha menjelaskan akan tetapi para pelayan itu malah langsung membawa barang-barang yang hendak dibeli oleh Tuan Smith ke kasir tanpa menunggu penjelasan darinya.
“Anda tenang saja, saya akan membungkus semua ini dengan cantik, Tuan.”
__ADS_1
“Hn, terima kasih.”
“Wah! Benar-benar sosok suami idaman sekali,” ujar pelayan toko itu kagum.
“Suami apanya? Si pria gi—“
“Kasih, dengarkan aku, apapun yang kau inginkan. Aku akan memberikannya untukmu. Apa saja! Beli apa saja yang kau mau. Jangan pedulikan apapun. Soal uang, aku akan memberikan sebanyak yang kau mau. Jadi, belilah apa saja. Mengerti?” Tuan Smith berbicara dengan nada serius seketika perasaan Kasih seperti diliputi awan tebal entah mengapa ia merasa sangat iri dengan istri Tuan Smith. ‘Sepertinya Tuan Smith sangat mencintaimu, Kasih. Kau sangat beruntung sekali dicintai seperti itu oleh pria gila ini. Hanya saja kau bukanlah aku dan aku tidak pantas menerima semua ini.’
“Ini barang-barang Anda. Terima kasih sudah berbelanja. Semoga anda semakin harmonis.” Kedua pelayan toko itu tersenyum ramah lalu memberi semangat pada Kasih dan Tuan Smith yang mereka sangka sebagai pasangan suami istri.
“Berikan padaku, biar aku yang bawa.” Tuan Smith meraih kantung belanjaan ditangan Kasih dan membawanya dengan tangannya kedua tangannya. Kasih terlihat pasrah saja ia seakan tidak punya niat untuk mencegahnya.
***
Disisi lain Ed Alexander dan yang lainnya sedang beristirahat disebuah toko makanan. Sementara dari kejauhan tampak Tuan Smith dan Kasih yang berjalan perlahan mendekat kearah mereka.
“Tuan ... Nona, Anda sudah kembali,” sapa John pada keduanya seraya membungkuk sopan.
“Nona, apa yang anda beli? Itu terlihat sangat cantik karena Andalah yang memakainya,” ujar Wendy memuji Kasih dengan perhiasan yang tadi dibelikan oleh Tuan Smith. Kasih terlihat sungkan ia merasa tak pantas menerima semua barang mahal itu hanya saja ia juga tak kuasa menolak Tuan Smith yang keras kepala.
“I-ini ... Bukan apa-apa hanya barang murah saja.”
“Woah! Nona, Anda terlalu merendah. Ini adalah perhiasan yang sangat mahal karena hanya dibuat dengan teknik khusus belum lagi batu-batu kristal yang digunakan adalah batu kristal yang langka. Anda benar-benar sangat pandai memilih,” tukas Wendy menjelaskan dengan rinci.
“Benarkah? Hehe. Kau ternyata tahu banyak tentang perhiasan.” Kasih tertawa hambar berusaha menutupi perasaan canggung dihatinya.
“Menyebalkan sekali. Apa kalian akan terus berbicara? Jika tidak ingin makan jangan membuat orang lain menunggu,” celetuk Ed bernada sarkas.
“Ed, jaga bicaramu!” seru Tuan Smith lantang. Dengan cepat Kasih menatap Tuan Smith mencegah pria itu melanjutkan amarahnya.
“Ya, benar. Ayo kita makan saja. Aku juga sudah merasa sangat lapar.”
Membuang mukanya dengan kesal Ed enggan bersitatap dengan Kasih.
‘Ya, Tuhan. Anak ini sungguh membenciku. Apa yang harus kulakukan padanya?’
“Nona, makanan disini sangat enak, loh. Anda harus mencobanya,” ucap Wendy seraya menarik kursi untuk Kasih duduk dan tak lupa ia juga menyodorkan buku menu menjelaskan satu per satu tentang hidangan yang ada di menu tersebut. Kasih tidak terlalu fokus mendengarkan Wendy dan malah sibuk memikirkan sikap Ed yang sangat membencinya. ‘Sebenarnya kenapa dia sebenci itu padaku.’
“Nona, jadi Anda akan makan yang mana?” tanya Wendy kemudian.
“Oh? Eh? Apa? Kau bicara apa? Maaf. Aku sedikit tidak fokus. Tolong pesankan hidangan favorit saja. Terima kasih.”
“Baiklah.”
Saat hendak menikmati hidangan yang sudah dipesannya tadi, Kasih sedikit kesusahan memotong cumi dipiringnya.
“Maafkan aku, makanan ini agak sedikit susah dipotong,” ucap Kasih tersenyum canggung suara gesekan alat makannya terdengar sangat nyaring membuat wanita itu merasa sedikit malu.
“Anda butuh bantuan? Saya—“
Tanpa aba-aba Tuan Smith mendahului Wendy mengambil alih piring Kasih lalu memotong cumi-cumi itu hingga menjadi potongan kecil agar mudah dimakan setelahnya menaruh kembali piring itu kembali ditempatnya.
“Makanlah.”
“Terima kasih,” ucap Kasih tersenyum canggung lalu mulai makan.
Ed yang melihat itu membuang wajahnya kearah lain sambil mendecih menampakkan kekesalan hatinya. Kasih tidak tau harus melakukan apa agar anak itu setidaknya tidak terlalu membenci dirinya.
“Wendy!”
“Ya, Tuan.”
“Antarkan Kasih.”
“Baik, Tuan.”
“Apa? Itu tidak perlu. Aku bisa sendiri,” tolak Kasih cepat sambil mengibaskan kedua tangannya. Tuan Smith melirik Wendy seakan mengerti dengan maksud tuannya itu, Wendy segera mengambil inisiatif untuk membujuk Kasih.
“Tidak apa-apa, Nona. Saya juga ingin pergi ke toilet. Biarkan saya pergi dengan Anda,” bujuk Wendy sambil menarik tangan Kasih pergi.
“Oh, kalau begitu baiklah.”
Kasih akhirnya mengalah dan membiarkan Wendy ikut bersamanya ke toilet. Namun, dipertengahan jalan Kasih meminta tolong Wendy untuk mengambilkan sebuah pembalut ditasnya.
“Sebentar, sepertinya aku lupa mengambil sesuatu.”
“Biarkan saya yang mengambilkannya untuk Anda, Nona.”
“Benarkah? Tapi aku jadi merepotkanmu, Nona Wendy.” Kasih merasa tidak enak hati namun Wendy terus memaksa.
“Baiklah. Tolong ya, dan terima kasih banyak, Nona Wendy.”
“Baik, Nona. Anda tunggulah disini sebentar saya akan segera kembali.”
“Um!” Kasih mengangguk seraya tersenyum.
Beberapa saat kemudian, saat sedang menunggu Wendy, seseorang menubruk tubuh Kasih dari belakang hingga membuatnya terjatuh kelantai.
“Kasih?”
“Oh?” Kasih terbengong karena merasa seseorang sepertinya mengenali dirinya. Namun ia sama sekali tidak mengenali orang itu. Orang itu adalah orang yang menyenggol dirinya.
“Itu benar kau, kan?” tanyanya lagi.
“Ya, benar. Apakah kau mengenalku?”
“Ya, ampun. Tidak kusangka akan bertemu denganmu disini. Apa yang sedang kau lakukan disini?”
“Aku? Aku sedang berlibur,” jawab Kasih singkat.
“Hah? Benarkah? Bukankah keluargamu sudah bangkrut. Bagaimana mungkin kau bisa berlibur ke sini.”
“Aku adalah pengasuh. Aku ikut berlibur bersama keluarganya,” ucap Kasih menjelaskan.
“Wah! Kau sekarang bahkan sudah bisa bekerja, ya? Bahkan pergi berlibur ke tempat super mahal dengan keluarga majikanmu. Benar-benar hebat.”
“Kau ... Apa aku boleh tanya siapa namamu?”
__ADS_1
“Aku? Apa kau lupa denganku? Jangan berpura-pura bodoh. Terlebih setelah apa yang kau lakukan pada tunanganku. Rey.”
“Rey? Kau mengenalnya?”
“Tentu saja.”
“Kau bilang ... kau tunangannya?”
“Ya. Itu benar. Aku adalah tunangan Rey dan kau adalah wanita si perusak hubungan orang.”
“Apa maksudmu? Aku tidak mengerti.”
“Berhentilah bersikap pura-pura. Aku muak dengan sikapmu itu.” Wanita yang adalah Nirmala itu mulai bersikap agresif dengan mendorong-dorong Kasih dengan jari telunjuknya seolah Kasih adalah sebuah sampah yang menjijikkan baginya.
“Sebenarnya apa yang kau bicarakan? Aku sungguh tidak mengerti. Bisakah kau jelaskan perlahan?”
Plak!
Tanpa basa basi lagi Nirmala mulai menyerang Kasih. Mendorong tubuh Kasih hingga membuatnya terjatuh dengan keras ke lantai dan semua orang mulai mengerubungi mereka akan tetapi, tak satu pun dari orang-orang yang sedang menjadi penonton aksi kekerasan yang dilakukan Nirmala itu berusaha menolong. Mereka semua hanya melihat sambil bertanya-tanya apa yang sedang terjadi.
Saat Nirmala menarik rambut Kasih dan hendak menamparnya lagi Wendy yang baru saja tiba berteriak dengan suara lantang.
“Hentikan!”
Aksi itu terjeda. Nirmala melepaskan cengkramannya pada rambut Kasih.
“Nona, apakah Anda baik-baik saja?” ucap Wendy berlari membantu Kasih bangkit berdiri. Tatapan Wendy sangat khawatir terlebih bibir Kasih terlihat sedikit berdarah setelah menerima tamparan dari Nirmala tadi. “Bibir Anda berdarah ....”
“Aku tidak apa-apa.” Potong Kasih menenangkan Wendy.
“Nona, apa masalahmu?! Anda telah lancang berbuat kasar pada ....”
“Kenapa? Kau mau membelanya? Apa akhirnya wanita sialan sepertinya telah mempunyai seorang pahlawan sekarang? Hebat sekali! Benar-benar sungguh hebat. Setelah merusak hidup orang lain dan bahkan wanita ini sekarang telah memiliki seorang pembela disampingnya. Aku sangat terkesan entah apa yang diberikan wanita sialan ini padamu tapi kuperingatkan kau untuk berhati-hati padanya. Dia adalah wanita pembawa sial yang bisa membuatmu mendapat banyak masalah dalam seketika. Jadi, sebaiknya jauhi dia,” tutur Nirmala menghina Kasih.
“Kurang ajar! Jaga bicaramu jika tidak ....”
“Apa! Mau memukulku? Lakukan saja. Itupun jika kau berani.”
“Apa yang terjadi disini.” Suara baritone khas Tuan Smith terdengar dari barisan orang-orang yang menjadi penonton.
“Tuan ....”
“Tuan Smith?” tanpa sadar ucapan itu lolos begitu saja dari mulut Nirmala.
Tatapan Tuan Smith tertuju pada bibir Kasih yang berdarah. Lalu dengan cepat ia mendekat untuk memeriksa keadaan wanitanya itu.
“Bibirmu ....”
“Bukan apa-apa. Hanya terjadi kesalahpahaman saja,” ujar Kasih berbohong.
“Nona—“ Wendy berusaha menyela, namun dihalangi oleh Kasih.
“Aku permisi,” ucap Kasih sambil memungut pembalut yang tanpa sadar dijatuhkan Wendy saat membantu Kasih berdiri tadi. Lalu kemudian ia pergi begitu saja ke toilet.
Di dalam toilet itu Kasih membasuh wajahnya dengan air lalu menghapus noda darah pada bibirnya dengan tissu yang tersedia di tempat itu.
“Wanita itu tampaknya sangat membenciku, ia bahkan menyerangku tanpa ampun. Dia sepertinya sangat mengenalku dan dia bilang, dia tunangan Rey? sebenarnya seperti apa masa laluku.”
“Nona, apa Anda sungguh tidak apa-apa?” tanya Wendy menghampiri Kasih dengan raut wajah khawatir.
“Oh? Aku tidak apa-apa. Ayo, semuanya pasti sedang menunggu,” ujar Kasih mengalihkan seraya berjalan lebih dulu. Di depan toilet ternyata Tuan Smith telah berdiri menunggu dirinya. Kasih berusaha berpura-pura tidak melihatnya.
Tapi tiba-tiba Kasih dibuat sangat terkejut karena Tuan Smith yang mendadak sudah berdiri tepat di depannya hingga membuat Kasih tidak sengaja menubrukkan kepalanya didada pria itu.
“Astaga! Sakit sekali. Sebenarnya apa yang kau lakukan kenapa berdiri didepan jalan orang?!” ujar Kasih sambil mengusap keningnya yang terasa sakit.
Tuan Smith tidak mengubris keluhan Kasih dirinya sibuk memeriksa apakah wanita itu terluka atau tidak.
“Ceritakan.”
“Apanya?”
“Ceritakan apa yang terjadi barusan.”
“Tidak ada apapun hanya kesalahpahaman saja ...” ujar Kasih sambil lalu namun ditahan oleh Tuan Smith.
“Kau!” Tuan Smith sudah siap untuk memarahi wanita dihadapannya ini. ‘Wanita bodoh ini aku sungguh tak habis pikir dengannya. Padahal ia adalah wanitaku, milikku yang adalah seorang Tuan Smith Alexander yang dapat melakukan apapun untuknya. Tapi, apa ini? Dia ditindas oleh orang lain dan tidak berbuat apapun. Benar-benar tidak memberiku muka sedikitpun!’
“Ah! Tuan, Anda disini rupanya.” John datang menghampiri.
“Hn.”
“Saya sudah membereskan kejadian tadi, Tuan.” Jelas John.
“Bagus. Pastikan dia tidak akan pernah terlihat di kota ini selamanya.”
“Oh?” Kasih tercengang. “Apanya? Apa maksudmu itu?”
“Orang yang memukul Anda ... Saya sudah memastikan bahwa dia tidak akan pernah muncul di kota ini, Nona. Jika dia ingin bepergian ke kota ini dia akan langsung dicegat oleh petugas bandara.” Tutur John menjelaskan.
Kasih tergagu sejenak.
“Apa maksud anda orang itu dicegat masuk ke kota ini?” tanya Kasih memastikan.
“Ya, Nona.”
“B-bagaimana mungkin?”
“Tuan Smith yang memerintahkan seperti itu, Nona.”
“Tapi, apa sampai harus mencegat orang seperti itu? Bukankah itu sangat berlebihan? Bagaimana jika dia mungkin ingin menemui keluarganya disini. Kau tidak bisa membuat orang sampai sengsara seperti itu. Kau benar-benar ....”
“Itu bukan urusanku. Salahkan dirinya yang mencari masalah dengan orang yang salah,” ucap Tuan Smith acuh.
“Aish! Kau benar-benar keterlaluan se—“
“Kemarilah.” Tuan Smith menarik tangan Kasih pergi.
__ADS_1
“Hei! Apa yang akan kau lakukukan, dasar pria gila.”
Bersambung ...